Monthly Archives: October 2011

National Security, Global Security and Regional Security

Content: what’s the difference between NS, GS, and RS?
dan elaborasi NS, GS, dan RS

Sekuriti berkaitan erat dengan survival of the state. Penjelasan lebih mendalam terkait soal sekuriti dapat ditemukan dalam berbagai perspektif. Banyak bentuk sekuriti antara lain “National Security”, “global security”, dan “Regional Security”.

NS merupakan syarat utama untuk menjamin kelangsungan suatu negara melalui penyelenggaraan kapabilitas seperti power, eknomi, dan kekuatan politis dan penyelenggaraan diplomasi. Konsep ini pertama kali diperkenalkan oleh AS pasca PD II. Perkembangan variabel dalam NS antara lain melalui militer, yang sekarang meliputi rangkaian variabel non-militer. Aktornya berkembang dari state hingga non-state, non-governmental organisations dan lainnya. Lebih lanjut, liat tulisan Thomas Hobbes dan perjanjian Westphalia terkait konsep kedaulatan negara.

Regional Security, berkaitan dengan kapabilitas organisasi internasional dalam menjaga keamanan unit2 di dalamnya, misal negara. Regional security ini terwujud dalam beragam organisasi regional seperti CIS, ASEAN, EU, dan African Union.

Lalu bagaimana dengan global security, bisa ditemukan penjelasannya dalam organisasi internasional seperti PBB, ICRC, and else..

Keamanan Nasional (NS, National Security), Keamanan Global, dan Keamanan Regional

Keamanan nasional memiliki banyak definisi. Setiap definisi menyediakan beberapa variabel yang dapat dikonseptualisasikan. Salah satu cara menganalisa konsep keamanan nasional, keamanan global, dan keamanan regional ialah dengan menggunakan definisi dari perspektif Realis, Neoliberalis, maupun konstruktivis. Tujuan dari tulisan ini ialah di akhir pertemuan pembaca (baca mahasiswa kuliah Polkemin Univ Airlangga, pada 25 Oktober 2011) dapat memahami konsep keamanan skala nasional, internasional (baca global), dan regional menggunakan pendekatan definisi keamanan tradisional, keamanan kontemporer, dan keamanan konstruktivis.

Pendefinisian ini berasal : (1) pendekatan realis yang menekankan “nasional” sebagai negara, dan (2) pendekatan konstruktivis yang menekankan bahwa keamana yang dimaksud ialah keamanan sipil sebagai unit penyusun suatu negara. Oleh karena itu seringkali keamanan nasional didefinisikan sebagai proteksi terhadap negara dan warganegaranya à individu2nya.

Keamanan nasional didefinisikan sebagai sayarat yang itu menentukan kelangsungan negara (survival of the state)à Realis. Keamanan internasional (dan atau global) didefinisikan sebagai syarat yang menjamin perdamaian internasional melalui korporasi keamanan banyak negara (states and international peace)à neoliberalis. Keamanan regional didefinisikan sebagai syarat demi memaksimalkan kemakmuran suatu negara-negara dalam satu wilayah tertentu.

Tatanan dunia yang unipolar, bipolar, maupun multipolar hingga dunia yang terdiri dari peradaban-perdaban ikut menentukan perkembangan konsep keamanan (baik nasional, internasional, dan regional). Dalam tulisan Ferguson, keamanan global (internasional) dapat berasal dari keamanan nasional suatu negara. Hal ini mungkin terjadi pada negara sebagai hegemon atau sistem unipolar. Contohnya Amerika Serikat pada pasca Perang Dingin. Contoh kasus ialah serangan 9/11 pada 2001. Yang diserang ialah Amerika Serikat, tetapi kemudian Amerika Serikat mendeklarasikan “war on Terror” yakni memerangi teror di seluruh dunia secara global. pergeseran dari keamanan nasional menjadi keamanan internasional atau keamanan global menjadi mungkin apabila dilakukan dalam sistem unipolar. Dalam tulisannya Ferguson mengungkapkan kekhawatiran apabila unipolarism (hegemoni) tidak ada, maka keamanan internasional akan terancam. Banyak diskusi yang mengungkapkan bahwa kekhawatiran Ferguson tersebut merupakan pesimisime yang tidak perlu. Mengapa demikian? Dalam dunia multipolar saat ini yang mana terdapat beberapa negara dengan power yang sedang meningkat seperti negara berkembang justru dapat mengelola keamanannya sendiri dalam konteks regional. Hal inilahyang kemudian memunculkan “regional security”. Bukannya diakomodasi oleh satu negara sebagai hegemon, keamanan regional dikelola dalam organisasi regional yang mengedepankan norma-norma kerjasama demi menciptakan kestabilan di wilayah masing-masing. Inilah yang menjadi optimisme dalam konteks sekuriti apabila hegemon berkurang.

Kekhawatiran Ferguson, lahir bukan tanpa alasan. Ferguson melihat bahwa ketidakhadiran hegemon akan mengakibatkan tantangan-tantangan dalam mencapai keamanan internasional. yang mana (1) negara akan cenderung saling mengandalkan diri sendiri (self help) yang memungkinkan “keamanan suatu negara, ialah ketidakamanan bagi negara lain” (silakan dicari sendiri ini kutipan dari realis tulisannya siapa J ). Kedua, ketidakhadiran hegemon mengakibatkan tatanan internasional akan kembali ke jaman Westphalia yang mana dikelola oleh entitas serupa Christendom, atau dengan kata lain kembali menuju ke era “Dark Ages”. Dark Ages ini sendiri juga telah disinggung oleh Huntington, yakni Clash of Civilization. Tatanan dunia global terpecah dalam peradaban-peradaban yang saling bersengketa. Isu ini telah muncul pasca 2001, yang mana seluruh dunia sekarang dalam aksi WoT waspada dengan kebangkitan Islam sebagai kekuatan yang mengimbangi/ menantang hegemoni Barat.

Kekhawatiran Ferguson, juga terbukti, bahwa dalam tatanan dunia yang sekarang lebih cenderung multipolar saat ini, keamanan semakin sulit untuk dicapai. Misalnya keamanan lingkungan. Keamanan lingkungan sulit dicapai apabila hegemon sendiri menolak untuk terlibat. Contoh riil ialah stagnasi keputusan dalam Copenhagon Accord untuk menggantikan Protokol Kyoto yang berakhir pada 2012. Energy security ialah contoh lain bagaimana keamanan energi tercapai ketika ada hegemon yakni negara2 produsen minyak berkumpul dalam organisasi petroleum dunia (OPEC) untuk menjaga kestabilan harga minyak. Kestabilan dan ketersediaan energi merupakan isu sentral dalam energy security.

Pertanyaan selanjutnya? Apakah hegemoni Amerika Serikat telah berkurang? Siapakah yang mendukung sistem multipolar saat ini? BRICKS? EU, atau Civilization? Inilah yang menjadi isu sebenarnya dalam memprediksi keamanan nasional dan internasional maupun regional dalam hubungan internasional. berikut ialah ringkasan mengenai ketiga konsep diatas yang bisa dielaborasi lebih lanjut:

  National Security Global Security Regional Security
DOMAIN State States

Regional organization (ECOWAS, African Union, Liga Arab, ASEAN, Mercosur, dll)

MATTERS

Power, Military, Economics and exercising diplomacy

Multilateral Diplomacy

Diplomacy

WHAT AT STAKES?

Survival of The State

Peace and International Security

Wealth, establishing stabil international community, economics, cooperations

 

UN, GNB

CIS, ASEAN, MERCOSUR, dll

RINGKASAN

Keterangan:

Unipolar: bisa balance of power, concert of europe, atau hegemon

Bipolar: tatanan dalam CW

Multipolar: tatanan dunia kontemporer (neoliberalis)

World of Civilizations : tatanan dunia pasca 2001

Studi kasus

  1. War on Terrorismà dimension of power (military, and diplomacy)
  2. Bretton Woods à fixed exchange rate à floating exchange rate 9economic dimension
  3. Environment dimension     à Failed/ pending ( Copenhagen Accord and Kyoto Protocol) due to hegemony absence
  4. Energy securityà multipolar (OPEC)
  5. Regional Security à through regional organizations

Keamanan Energi China di Kazakhstan

Saat ini China telah menjadi negara dengan pertumbuhan ekonomi tercepat dan sedang mengalami apa yang dideskripsikan sebagai revolusi industri kedua. Konsekuensinya, kebutuhan energi China tumbuh lebih cepat daripada negara lain. Permintaan dan konsumsi energi membengkak utamanya di kota-kota industri dan komersial. Laporan International Energy Agency (2010) menyebutkan kebutuhan energi China akan melampaui kebutuhan energi negara-negara anggota OECD (Organization for Economic Co-operation and Development) pada 2020 (IEA, 2010: 7).

China telah mengakhiri kecukupan energinya sejak menjadi negara net importir pada tahun 1993. Untuk mengimbangi pertumbuhan ekonominya, kebijakan energi yang tepat sasaran dengan perubahan tersebut mutlak diperlukan. Akan tetapi situasi yang sedang dialami China saat ini menyebabkan ketahanan energi China terancam.

Pertama, permintaan akan energi China menjadi semakin meningkat bersamaan perdagangan internasional yang semakin terbuka. Posisi China sebagai aktor perekonomian dunia memegang peranan paling krusial. Apabila perekonomian China terganggu, dapat mengancam kestabilan perekonomian global.

Sektor energi memegang peran sama pentingnya dengan perekonomian. Akan tetapi, kebijakan pembangunan di sektor energi tidak mampu mengimbangi pertumbuhan ekonomi yang pesat. produksi minyak domestik China jauh tertinggal dari permintaan industri dan komersial. Produksi minyak untuk kebutuhan domestik China hanya 4.5%, tetapi konsumsinya menduduki peringkat kedua setelah Amerika Serikat (China Daily, 2007). Bahkan permintaan minyak China pada 2010-2010, mencapai 340 juta ton sementara produksi domestik hanyak bisa menyediakan 195 juta ton, sisanya China harus tergantung pada impor (Khan, 2010: 91-108).

Kedua, China sebagai pemain global baru berusaha memposisikan diri di pasar energi global saat ini. Pendekatan strategis kebijakan energi China ialah melakukan diversifikasi energi, perdagangan, pembangunan maksimal seluruh sumber energi domestik, pembukaan cadangan-cadangan energi strategis, mendirikan dan mengamankan rute perdagangan minyak, serta berinvestasi di produksi minyak luar negeri (Khan, 2010: 91-108).

Faktor gangguan lain ketahanan energi China ialah ketimpangan pembangunan infrastruktur seperti transportasi energi dari sumber energi domestik di Barat dan Utara dengan wilayah Selatan dan Timur yang lebih industrialis. Pada kenyataannya, transportasi energi menjadi persoalan mengingat buruknya infrastruktur di wilayah Barat dan Utara yang kurang berkembang. Perekonomian berkembang lebih pesat daripada pembangunan infrastruktur di sektor energi menimbulkan asimetri geografis ekonomi. Wilayah Selatan dan Timur (kota-kota di sepanjang pesisir pantai Timur dan Selatan China) tumbuh lebih berkembang. Persoalan geografi ekonomi ini kemudian memunculkan asumsi bahwa suplai energi lebih mudah diperoleh dari luar (asing) karena kemudahan akses yang dimiliki apabila pasar makin terbuka (IEA, 2010: 13).

Pembangunan cadangan minyak strategis di luar negeri sekaligus berinvestasi dalam pengembangan minyak di dalam negara produsen minyak telah dirintis sejak 1997 melalui dua perusahaan energi terbesar CNOOC dan CNPC. Investasi asingnya telah mencakup negara-negara di Timur Tengah, Argentina, Bangladesh, Kanada, Kolumbia, Ekuador, Indonesia, Kazakhstan, Malaysia, Mexico, Nigeria, Pakistan, Papua New Guinea, Peru, Russia, Thailand, Turkmenistan, Venezuela, dan Amerika Serikat.

CNPC misalnya bahkan semakin aktif menandatangani kontrak eksplorasi dan produksi dengan sedikitnya dua puluh negara. Sejak akhir tahun 1997, CNPC bahkan telah menandatangai konsesi bernilai lebih dari $ 8 juta untuk konsesi minyak di Sudan, Venezuela, Irak, dan Kazakhstan.

Dalam rangka melakukan diversifikasi energi yang berorientasi perdagangan sekaligus investasi, China kebijakan energi yang agresif. Kebijakan tersebut menempatkan keamanan energi China dalam jangka panjang di pasar energi global, yakni berorientasi mendapatkan lebih banyak impor minyak dari luar. Di wilayah Laut Kaspia, partner perdagangan terbesar di sektor energi setelah Saudi Arabia ialah Kazakhstan. Nilai energi yang diimpor China dari Kazakhstan sebesar $15 triliun pada 2010 (Khan, 2010: 6).

Kazakhstan menjadi salah satu target diversifikasi energi China karena beberapa keuntungan geopolitik. Pertama, negara ini dikelilingi oleh daratan dan berbatasan langsung dengan Rusia, China, Uzbekistan, dan Turkmenistan; sehingga transfer energi dari Kazakhstan ke China  memiliki rute terpendek. Sedangkan bagi China, wilayah kaya energi terdekat ialah Kaspia. Kedua, meskipun memiliki kedekatan sebagai sekutu Rusia, Kazakshtan menerapkan kebijakan untuk menjalin hubungn diplomatis dan ekonomi dengan negara-negara internasional seperti China, Russia, Amerika Serikat, Eropa dan Timur Tengah. Dalam kebijakannya tersebut, China menduduki prioritas pertama bagi Kazakhstan sebagai partner strategis karena keuntungan bagi perdagangan dan perekonomian Kazakhstan (David Kuntz, 2007 dalam Khan, 2010: 104).

Ketiga, Kazakhstan mempunyai deposit minyak dan gas melimpah dengan konsumsi energi terkecil mengingat jumlah penduduknya yang sedikit sehingga menjadi partner potensial dalam sektor energi di kawasan Kaspia. Keempat, Kazakhstan merupakan aktor utama di sektor energi di wilayah Kaspia. (apakah energi Kazakhstan paling murah daripada di Timur Tengah?). Pada tahun 2007,  (Khan, 2010: 104). Berkaitan dengan hal itu suplai energi dari Kazakhstan membantu China mengurangi ketergantungan suplai energi dari Timur Tengah yang mencapai 30% persen 2007 (Khan, 2010: 105).

Kebijakan pemerintah Beijing terkait persoalan energi masih sangat minimal. Sektor energi masih dikendalikan secara terpusat oleh pemerintah yang mana alokasinya diserahkan sepenuhnya pada perusahaan nasional negara atau SOEs (State Owned Enterprises) yang secara politik makin berkembang, makin besar dan makin mudah mempengaruhi pembuatan keputusan di tingkat pusat. Di China dua perusahaan besar sektor energi ialah CNOOC (China National Offshore Oil Corporation) dan CNPC (China National Petroleum Corporation). Karena perusahaan nasional masih mendominasi perekonomian China dan sektor energinya, maka peran perusahaan nasional tersebut dalam politik energi akan semakin signifikan.

Hubungan kebijakan energi dengan perusahaan minyak nasional China cukup erat. Minyak bukan lagi sebagai komoditas ekonomi, tetapi juga komoditas politik. Di balik kompetisi untuk berebut minyak, terdapat kompetisi antar perusahaan minyak besar. Dibalik kompetisi perusahaan minyak besar terdapat kompetisi negara produksi dan konsumen minyak. Pola konsumsi minyak China bergeser orientasi dari suplai domestik ke import. Dengan demikian perubahan kebijakan yang terjadi selama proses tersebut menjadi menarik untuk diulas. Dilatarbelakangi oleh dua hal utama di atas China menerapkan kebijakan yang lebih integratif dalam sistem energi global. Pendekatan strategis politik energi China dapat dilihat melalui signifikasi State Owned Enterprises (SOEs) yang semakin krusial, diwakili oleh CNPC di Kazakhstan, yang berfungsi sebagai salah satu perangkat untuk menjamin keamanan suplai energi dari wilayah Kaspia ke China.

Dengan demikian, dilatarbelakangi oleh dua hal pokok di atas yakni perekonomian dan geografi ekonomi mendorong pemerintah China mengeluarkan kebijakan energi yang spesifik. Kebijkan tersebut meliputi integrasi kebijakan diversifikasi energi dan perdagangan sekaligus investasi dalam produksi minyak di luar negeri. Penjelasan-penjelasan seperti faktor kedekatan geografi, karakter energi, dan tingkat konsumsi yang rendah, menggerakkan pembuat kebijakan energi di China membidik Kazakhstan sebagai target mendapatkan deposit energi dari wilayah Laut Kaspia. Pendekatan kebijakan energi ini dimanifestasikan melalui pendirian perusahaan energi China CNPC (China National Petroleum Corporation) di Kazakhstan sejak 1997 hingga sekarang yang mana terus menerus semakin signifikan hingga 2011. Bahkan CNPC memegang peran signifikan di berbagai ekplorasi dan produksi minyak di Kazakhstan dengan saham AktobeMunaiGas (eksplorasi minyak terbesar keempat di Kazakhstan) yang dimiliki mencapai lebih dari 85.42 % , 60% sahama di PetroKazakhstan, memiliki 100% saham di North Buzachi Oilfield dan lainnya (Anonim, 2007). Hal ini menunjukkan bahwa perdagangan dan investasi kini menjadi elemen utama dalam setiap kebijakan kerjasama energi China.

 

Amineh, Mehdi, Parvizi & Houweling, Henk. 2003 I. The Geopolitics of Power Projection in US Foreign Policy: From Colonization to Globalization, in “Perspectives on global development and technology”, Vol. 2, Issue 3/ 4, h. 339 – 389.

David Kuntz. To enter club 50 by 2030 – Deutsche Allgemeine Zeitung, April 2, 2007 dalam Khan, Hamayoun. “China’s Drive and Diplomacy”. 2010, h. 104

Horsnell, P. 2000. The Probability of Oil Market Disruptions: with an Emphasis on the Middle East.  Houston: Rice University/ James Baker III Institute for International Affairs: 2002 dalam Clingendael International Energy Programme (CIEP), 2002, “The Study on Energy Supply Security and Geopolitics”, final report, January 2004, h. 1-279

IEA. 2010. China’s Worldwide Quest for Energy Security. IEA: IEA, pp. 1-80

Judson, Ruth A, Richard Schmalensee dan Thomas M Stoker. 1998. Economic Development and the Structure of the Demand for Commercial Energy. Washington: MIT Center for Energy and Environmental Policy Research, April 1998, pp. 1-16; Ruth A Judson, 1999, dalam Clingendael International Energy Programme (CIEP), 2002, “The Study on Energy Supply Security and Geopolitics”, final report, January 2004, h. 1-279

Judson, Ruth A, Richard Schmalensee dan Thomas M Stoker. 1998. Economic Development and the Structure of the Demand for Commercial Energy. Washington: MIT Center for Energy and Environmental Policy Research, April 1998, pp. 1-16

Khan, Hamayoun. 2010. International Review. China’s energy drive and Diplomacy., h. 6, 91-108

Medlock III, Kenneth B. 2009. The Economics of Energy Supply. Dalam Joanne Evans dan Lester C Hunt. 2009. “International Handbook on The Economic of Energy”. Chelthenham: Edward Elgar Publishing Limited, h. 51

Meidan, Michal. 2008. Energy Security Visions From Asia and Europe: Perceptions and Misperceptions in Eurpe and ‘the China factor’. London: Palgrave Macmillan, h.39

P. Andrews-Speed, J. X. Liao and R. Dannreuther, The Strategic Implications of China’s Energy Needs, Adelphi Paper No. 346 (Oxford: Oxford University Press, 2002)., dalam  Meidan, Michael. 2008. Perception and Misperceptions of Energy Supply Security in Europe and the “China Factor”. [pengar. buku] Energy Security: visions from Asia and Europe. Antonio Marquina. New York : Palgrave Macmillan, 2008.

Tatsu Kambara dan Christopher Howe. 2007. China and The Global Energy Crisis: Development and Prospects for China’s Oil and Natural Gas. Chelthenham : Edward Elgar Publishing, p. 48

Thomas G. Moore and Dixia Yang, “Empowered and restrained: Chinese foreign policy in the age of economic interdependence,” in Lampton, The Making of Chinese Foreign and Security Policy, pp. 213–14.

Wang, Haijiang Henry. 1999. China’s Oil Industry and Market. Oxford: Elsevier Ltd, h. 4

Xu Yi-chong. 2007. China’s Energy Security dalam Michael Wesley. 2007. “Energy Security in Asia: Routledge Security in Asia Pacific Series” . London: Routledge., h.66

Zha, Daojiong. 2005. China’s energy Security and Its International Relations

Zha Daojiong. 2006. China’s Energy Security: Domestic and International Issues., vol 48, no. 1. Spring 2006., h. 185

“Zhongguo gaoding 21 shiji shiyou zhanlu¨e” (“China outlines 21st century oil strategy”), Zhongxinshe (China News Service), 11 November 2002, CI dalam Erica S Downs. 2004. “The Chinese Energy Security Debate”. The China Quaterly, h. 6

 

Sumber Internet

  1. CNPC in Kazakhstan” dakan http://www.cnpc.com.cn/eng/cnpcworldwide/euro-asia/Kazakhstan/, diakses 18 September 2011

 

  1. “National Development and Reform Commission”. 2011., dalam http://en.ndrc.gov.cn/brief/default.htm, diakses
  2. “Country Comparison: Oil-proved Reserves”, dalam https://www.cia.gov/library/publications/the-world-factbook/geos/kz.html, diakses 11 Oktober 2011
  3. “Country Profile: Kazakhstan”, 2011, dalam https://www.cia.gov/library/publications/the-world-factbook/rankorder/2178rank.html?countryName=Kazakhstan&countryCode=kz&regionCode=cas&rank=11#kz, diakses 11 Oktober 2011
  4. China Daily, 2007, dalam Hamayoun Khan, China’s Drive and Diplomacy, 2010

 

 

 

 

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 151 other followers