China’s Oil Suply by Region (2009-2010)
Keamanan suplai energi China terkait minyak di Kazakhstan melalui CNPC dapat dipahami melalui kerangka utama keamanan energi yaitu availability, acceptibility, accessibility, dan affordability.[1] Pertama, availability menjelaskan minyak sebagai sumber energi yang dimaksud harus tersedia. Kaspia merupakan wilayah kaya sumber energi sekaligus paling dekat dengan China. Partner energi di wilayah Kaspia terdiri atas Kazakhstan, Turkmenistan, Kirgiztan, dan Uzbekistan. Meskipun terdapat beberapa negara produsen minyak di sekitar China—seperti Turkmenistan, Uzbekistan, dan Kirgiztan,[2] cadangan minyaknya tidak sebanyak Kazakhstan.[3] Cadangan minyak Kazakhstan menempati peringkat ke-11[4] seluruh dunia. Cadangannya mencapai jumlah 30 triliun barel[5] dan merupakan terbesar kedua di Asia Tengah setelah Russia. Dengan demikian, dari aspek availability, ketersediaan minyak yang melimpah membuat Kazakhstan potensial menjamin suplai minyak jangka panjang China.
Kedua, acceptibility menjelaskan bahwa minyak sebagai sumber energi yang dimaksud harus dapat diterima berdasarkan pertimbangan lingkungan maupun keamanan. Dari segi lingkungan, pembakaran batu bara cenderung lebih polutif daripada minyak. Selain itu, minyak memiliki lebih banyak keuntungan ekonomis daripada batu bara. Minyak lebih mudah diolah menjadi bentuk energi lain. Minyak lebih mudah disalurkan ke wilayah maupun provinsi dengan permintaan energi yang tinggi. Oleh karena itu, sumber energi minyak lebih diterima dari segi lingkungan dan keuntungan ekonomis daripada batu bara.
Accessibility menjelaskan bahwa sumber energi dapat diakses di luar hambatan-hambatan yang ada. Berdasarkan bagan 1.1, sebesar 44% minyak China berasal dari negara di Timur Tengah dan 27 % dari negara lain (Brazil, Libya, Angola, dan Sudan) harus melewati jalur laut yang memakan waktu lama. Selain itu, beberapa negara pemasok minyak penting di Timur Tengah yakni Saudi Arabia, Kuwait, Irak, dan Oman merupakan sekutu politik Amerika Serikat. Dengan demikian, dari segi aksesibilitas keamanan energi, maka pengalihan suplai minyak dari jalur laut ke jalur darat melalui Kazakhstan lebih menguntungkan.[6]
(meskipun SOPA/ PIPA ditangguhkan, saya mengalami kesulitan untuk mengupload gambar) silakan klik alamat tersebut apabila ingin melihat sumber suplai minyak China dari berbagai wilayah di dunia (2009)
Sedangkan affordability menjelaskan minyak sebagai sumber energi yang terjangkau dalam dalam biaya maupun daya beli. Sebagian besar minyak China, yakni lebih dari 62% (Saudi Arabia, Angola, Oman, Sudan, Kuwait, Brazil, Lybia, dan 19 % lainnya) harus disalurkan melalui kapal-kapal tangki minyak. Transportasi melalui kapal ini lebih beresiko dan memakan biaya lebih banyak.[7] Sedangkan, suplai minyak dari negara terdekat seperti Kazakhstan, Russia, dan Iran disalurkan melalui jalur pipa. Transportasi melalui pipa dianggap beresiko rendah daripada penyaluran melalui kapal-kapal tangki minyak. Transportasi batu bara selama ini selalu menggunakan jalur rel kereta api yang memakan biaya lebih mahal.[8]
[1] “Energy Security Indicators”, dalam http://www.google.co.id/url?sa=t&rct=j&q=energy%20security%20indicators&source=web&cd=9&ved=0CGkQFjAI&url=http%3A%2F%2Fwww.drustvo-termicara.com%2Fresources%2Ffiles%2F7fa5460.pdf&ei=-PoQT7u6PM2xrAfXl7npAQ&usg=AFQjCNGyy7ZInF5BAYTol4RGZ6ak8z7S3g&sig2=2FLZidVvbgL2iGGJYv49gw, diakses tanggal 14 Januari 2012
[2] China memperoleh minyak dari Kazakhstan, gas alam dari Turkmenistan, dan minyak dan gas alam dari Uzbekistan. Hamayoun Khan (2010), China’s Energy Drive and Diplomacy, h. 108
[3] Cadangan minyak Turkmenistan berada di peringkat 44 dengan jumlah cadangan minyak 600 juta barrel dan Uzbekistan di peringkat 47 sebanyak 594 juta barrel. Dengan cadangan minyak yang melimpah, maka Kazakhstan potensial menjadi partner energi China untuk menjamin kebijakan keamanan energi jangka panjang. EIA (2009), dalam http://www.eia.gov/countries/country-data.cfm?fips=CH#pet, diakses tanggal 7 Januari 2012. Meskipun Kazakhstan sekutu Rusia di CIS (Commonwealth of Independent States), Kazakshtan menerapkan kebijakan untuk menjalin hubungan diplomatis dan ekonomi dengan negara-negara internasional seperti China, Rusia, Amerika Serikat, Eropa dan Timur Tengah. Dalam kebijakannya, China menduduki prioritas pertama bagi Kazakhstan sebagai partner strategis. David Kuntz, “To enter club 50 by 2030 – Deutsche Allgemeine Zeitung”, April 2, 2007 dalam Hamayoun Khan, Op.Cit., h. 104
[4]“Kazakhstan: US Energy Information Administration”, dalam http://www.eia.gov/countries/cab.cfm?fips=KZ, diakses tanggal 2 Januari 2012
[5]Ibid.
[6] Xu Yi-chong, (2007) China’s Energy Security dalam Michael Wesley (2007), “Energy Security in Asia: Routledge Security in Asia Pacific Series” . London, Routledge, h. 66
[7] Bergerson AJoule dan Lave B Lester (n/a), Should We Transport Coal, Gas or Electricity: Cost, Efficiency & Environmental Implications, Carnegie Mellon University
[8] Ibid.
Posted on January 22, 2012, in Uncategorized and tagged CHINA, Energy Security, Kazakhstan, Oil, Petroleum, Supply. Bookmark the permalink. Leave a Comment.


Leave a Comment
Comments (0)