Category Archives: DEVANIA ANNESYA

essays are written under this writer belong to this category

KEBIJAKAN LUAR NEGERI SADDAM HUSSEIN TERKAIT INVASI IRAK KE KUWAIT TAHUN 1990: STUDI PERINGKAT ANALISIS INDIVIDU


Devania Anesya/ 070810535

Devania.annesya@gmail.com

 

Abstrak

Berdasarkan apa yang terjadi dalam hubungan internasional, pemimpin suatu negara seringkali bermain peran yang cukup penting dalam menentukan keputusan kebijakan luar negeri negara mereka. Kendati beberapa hasil kebijakannya menimbulkan sedikit konsekuensi dan seringkali terlupakan, dalam beberapa kasus, kebijakan mereka dapat menjatuhkan negara pada sebuah krisis atau bahkan perang yang besar. Salah satu dari kebijakan pemimpin yang membawa negaranya dalam sebuah krisis besar yang tidak mungkin terlupakan oleh siapapun adalah kebijakan Saddam Husein dalam menginvasi sebuah negara kecil kaya minyak di Timur Tengah, Kuwait. Saddam Husein, pemimpin Irak, menginvasi Kuwait di awal tahun 1990an, mennganeksasinya menjadi provinsi ke-19. Namun kemudian Amerika Serikat, di bawah kepemimpinan George H. W. Bush, memaksanya mundur dengan menghimpun seluruh koalisinya. Walaupun saat itu Irak memiliki kekuatan militer yang cukup kuat dalam wilayah regional, namun tentu saja Irak bukan tandingan bagi sebuah superpower seperti Amerika Serikat. Dalam paper ini, akan dijelaskan faktor-faktor apa yang mempengaruhi cara berpikir Saddam Hussein melalui peringkat analisis individu dalam menentukan kebijakan luar negerinya terkait invasi Irak ke Kuwait.

Keyword: Saddam Hussein, Irak, Kuwait, Amerika Serikat, minyak, invasi

 

Pendahuluan

Saddam Husein, pemimpin Irak, menginvasi Kuwait di awal tahun 1990an hanya untuk kemudian menghadapi kenyataan bahwa Amerika Serikat, di bawah kepemimpinan George H. W. Bush, memaksanya mundur dengan menghimpun seluruh koalisinya. Saddam Hussein paham benar bahwa Amerika Serikat jauh lebih kuat  dan lebih baik pula dalam persenjataan daripada Irak. Walaupun saat itu Irak memang telah memiliki kekuatan militer yang cukup kuat dalam wilayah regional, namun tentu saja Irak bukan tandingan bagi sebuah superpower seperti Amerika Serikat.

Beberapa pengamat kebijakan luar negeri atau pandangan dari para sejarawan, keputusan-keputusan yang dilakukan oleh pemimpin bermasalah karena sebagian besar mereka “seharusnya mengetahui lebih baik” (Breuning, 2007). Seringkali ditemukan keputusan-keputusan pemimpin dianggap “irrasional” dan pemimpin yang membuatnya dinilai sudah kehilangan kewarasannya atau mungkin saja terlalu bodoh untuk membuat keputusan. Namun selalu ada kejadian di mana pemimpin rasionalitasnya dipertanyakan, semacam kebijakan Saddam Hussein dalam invasinya ke Kuwait. Tulisan ini akan membicarakan faktor-faktor tersebut bahwa selalu ada alasan di balik tingkah laku seorang pemimpin dalam menentukan kebijakan luar negeri – seburuk apapun hasil kebijakan yang ia ciptakan.

 

  1. 1. Latar Belakang

1.1 Pemerintahan Saddam Hussein

Saddam Hussein adalah presiden kelima Irak dan merupakan anggota dari Partai Ba’ath Revolusioner yang mana membangun kekuatan jangka panjang di Irak (http://www.thefamouspeople.com/profiles/saddam-hussein-95.php). Sebagai presiden Irak, Saddam Hussein mengakselerasikan perjalanan negara pada pertumbungan ekonomi yang cepat dan mengusahakan kebijakan kepemimpinan sekuler dan modernisasi. Saddam membangun kekuatan selama mengontrol pemerintahan dan menekan segala bentuk gerakan-gerakan yang dianggap mengintimidasi negara atau kerjaannya.

 

Saddam Hussein disegani sebagai pahlawan karena keagresifannya melawan segala gangguan dari luar negeri yang terjadi di Irak. Saddam juga dipuji atas dukungannya pada Palestina kendati image-nya tetap mencurigakan dalam sudut pandang negara-negara Barat, khususnya Amerika Serikat (http://www.thefamouspeople.com/profiles/saddam-hussein-95.php). Pemerintah Amerika menganggapnya bertanggung jawab atas Perang Teluk dan dalam meningkatnya ancaman nuklir di dunia.

1.2 Kondisi Internal Irak pasca Perang Delapan Tahun Dengan Iran

Setelah merdeka dari Inggris, Irak terlibat terlibat perang dengan Iran pada tahun 1980-1988 terkait pertikaian perbatasan dan wilayah. Dan pada tahun 1990 Irak mengalami inflasi hingga 40 persen. Import penduduk meningkat hingga 12 juta trilliun, ditambah 5 trilliun dolar impor militer. Irak juga memiliki hutang dengan negara non-Arab sebesar 6-7 juta dolar per tahunnya (Polack, 2002). Sementara itu, pendapatan dalam negeri terbesar Irak, yakni minyak mentah (ladang minyak Irak sudah lama ditemukan oleh Inggris Raya pada tahun1927), mengalami kemerosotan harga karena ditemukan sumber minyak baru di Alaska, Laut Utara, dan negara bekas Uni Soviet.

Ditambah lagi negara-negara anggota OPEC, seperti Kuwait dan United Arab Emirates (UAE), memproduksi minyak dalam kuantitas berlebih dengan harga yang relatif rendah demi mencapai kebijakan jangka panjang – ketergantungan dunia pada minyak mereka. Sementara Irak yang berusaha membayar hutang-hutang perangnya melalui penjualan minyak dunia, Kuwait justru memproduksi minyaknya secara berlebih dan menyebabkan harga minyak global jatuh dari 22 dolar menjadi 16 dolar per barel.

 

Sembilan puluh persen pendapatan Irak berasal dari minyak, dan Saddam mengaku bahwa setiap 1 dolar jatuhnya harga minyak, berdampak sebesar 1 miliar dolar bagi pendapatan Irak dan ia memang benar. Pada musim semi 1990 Baghdad menghadapi masalah finansial yang sangat parah (Polack, 2002).

1. 3 Nilai Penting Negara-Negara Teluk Persia bagi Amerika Serikat

Teluk Persia menjanjikan ladang minyak baru bagi dunia pada masa Perang Dunia dan memberi suplai netral pada dunia. Pada 1909 Perusahaan Minyak Anglo-Persia (APOC) pertama kali mulai membangun pipa untuk mentransportasikan minyak dari sumurnya ke pelabuhan terdekat di Teluk Persia.

Merebaknya Perang Dunia Pertama di tahun 1914 membawa dunia pada permintaan minyak yang tinggi karena Angkatan Bersenjata mulai merubah kapal perang mereka dari yang berbahan bakar batu bara ke bahan bakar minyak. Serta karena mereka mulai menambahkan truk, tank, dan pesawat dalam peperangan mereka.

Setelah perang berakhir, permintaan terhadap minyak semakin bertambah hingga Perang Dunia II – mencapai 900 persen dari 21 tahun yang lalu (Yergin, 1991; Palmer, 1993) – yang membawa Amerika pada sentakan geostrategi pertama atas kawasan Teluk Persia yang merupakan daerah suplai minyak potensial. Pada tahun 1944, dalam laporan teknikal pemerintahan, Amerika melabeli Teluk Persia sebagai “pusat gravitasi” bagi perkembangan minyak (Yergin, 1991).

 

 

 

  1. 2. Problematik

Pertanyaan problematik yang mendasari adalah faktor-faktor apa yang mempengaruhi cara berpikir Saddam Hussein dalam menentukan kebijakan luar negerinya untuk menganeksasi Kuwait.

Saddam mengetahui bahwa Kuwait mengikat kerjasama ekonomi bersama Amerika Serikat dan paham benar bahwa Amerika Serikat jauh lebih kuat  dan lebih baik pula dalam persenjataan daripada Irak. Walaupun saat itu Irak memiliki kekuatan militer yang cukup kuat di kawadan, namun – tentu saja – Irak bukan tandingan bagi sebuah superpower seperti Amerika Serikat.

Tujuan dari tulisan ini adalah untuk memahami alasan-alasan dibalik kebijakan Saddam yang terkesan irrasional yang menyebabkan negara yang dipimpinnya jatuh pada suatu krisis yang parah, Perang Teluk II melawan seluruh koalisi yang dipimpin oleh Amerika Serikat.

 

 

 

 

 

 

  1. 3. Metodologi Riset

3.1 Tingkat Analisis

3.1.1 Individu

Tulisan ini menggunakan peringkat analisis individu untuk memfokuskan pada faktor individu, yakni Saddam Hussein dalam menentukan kebijakan luar negerinya. Melalui analisis peringkat individu, akan lebih menguntungkan dalam mengawali tulisan ini. Memahami bahwa para pemimpin yang membuat keputusan-keputusan tersebut juga manusia rasional yang mencoba mengusahakan sebuah kebijakan luar negeri yang baik (Tetlock, 1992).

Ada baiknya jika diansumsikan bahwa selalu ada sesuatu yang memotivasi pemimpin dalam kebijakannya tersebut, situasi apa yang mereka hadapi, dan faktor-faktor apa yang membuatnya menjadi kebijakan yang buruk. Dengan memahami latar belakang Saddam Husein, juga akan membantu dalam mendalami persepsinya dalam lingkungan politik internasional dan motivasi-motivasi di balik tindakannya.

3.2 Ruang Lingkup Riset

Tulisan ini menganalisa persitiwa yang terjadi sesaat sebelum Invasi Irak ke Kuwait untuk mengetahui kondisi awal antara Irak, Kuwait, dan Amerika Serikat sampai dengan Invasi Amerika ke Irak untuk menghentikan aneksasi Irak atas Kuwait pada awal tahun 1990 hingga 17 Januari 1991.

 

 

 

  1. 4. Problem Analisis

4.1 Latar Belakang Saddam Hussein

Saddam Hussein Abd al-Majid al-Tikriti lahir pada 28 April 1937 di Al Awja dekat kota Irak Tikriti dalam sebuah keluarga kesukuan al Bu Nasir, sejenis dari Sunni (Coughlin, 2003). Namanya, entah mengapa, memiliki arti yang tidak biasa, yakni “ia yang melawan”. Ayahnya Hussein Abid al-Majid meninggal jauh sebelum kelahirannya. Kemudian Ibunya Subha Tulfa al-Mussallat menikah lagi dengan Ibrahim al-Hasan yang dikenal dengan sebutan “Hassan si Pembohong”. Hassan dan keluarganya dilaporkan hidup sebagai preman lokal dan pencuri. Dari sini kita dapat memahami masa kanak-kanak Saddam sangat tidak menyenangkan. Beragam sumber menyebutkan Hassan Ibrahim seringkali memukuli Saddam dan memaksanya mencuri bersama anak dan sanak saudaranya (Polack, 2002).

Saat usianya mencapai 10 tahun, ia dikirim ke keluarga Ibunya di Baghdad, yakni pamannya, Khayrallah Talfah yang mana merupakan seorang mantan nasionalis militan Irak dan pendukung dari Partai Ba’ath Arab Revolusioner. Saddam melanjutkan pendidikannya dari sebuah sekolah nasional Baghdad ke Sekolah Hukum Irak. Ia belajar selama tiga tahun sebelum akhirnya keluar di tahun 1957 dan masuk ke Partai Ba’ath pan-Arab. Ia berteman dekat dengan anak Khayrallah Talfah, Adnan, yang kemudian lolos ujian masuk akademi militer sementara Saddam sendiri gagal (Polack, 2002).

Setelah keluar dari sekolah pada 1957, Saddam bergabung dengan Partai Ba’ath pan-Arab dan tenggelam dalam pikiran politik pamannya Khayrallah dan lingkungannya, serta sanak familinya yang seorang pejabat militer bernama Ahmed Hassan al-Bakr – seorang anggota penting dari Partai Ba’ath Irak. Ba’ath mengkombinasikan sosialisme dan Pan-Arabism dalam satu nebula dan seringkali filosofinya salingnya berkontradiksi yang menunjukkan kurangnya pendidikan dan rendahnya pengetahuan praktikal. Maka Saddam, karena keterbatasan pendidikan, uang, dan tingkah laku, saat itu ditempatkan di posisi bawah.

Pada 1958, monarki akhirnya ditumbangkan oleh Jenderal ‘Abd al-Karim Qasim yang ditunjuk dalam penyebaran ketidakpuasan pada pemerintahan karena kegagalannya memberikan dukungan Nasser Mesir ketika tengah berperang melawan Israel, Inggris, dan Perancis di Perang Sinai-Suez tahun 1965. Ketika Qasim meruntuhkan monarki, Saddam dan Ba’athis berbahagia namun nyatanya kemudian mereka berurusan dengan sang diktator baru.

Kunci dari Pan-Arabisme adalah mempersatukan seluruh negara Arab menjadi satu bangsa Arab besar dan cukup kuat untuk menghalau kekuatan Barat. Qasim menolak untuk bergabung dengan Pan-Arabis, Republik Arab Baru, yang mana Syria dan Mesir telah dibentuk di bawah kepemimpinan Gamal ‘Abd al-Nasser.  Qasim kemudian bertumpu pada Komunis Irak dan menganggap Partai Nasionalis dan Pan-Arabis sebagai musuh.

Pada 1959 Saddam berpartisipasi atas pembunuhan melawan Qasim. Ia menjadi tujuh anggota dari tujuh orang tim penyerang dan tugasnya adalah menembaki pengawal Qasim agar seluruh anggota bisa membunuh sang Diktator. Namun mereka gagal, di hari penyerangan Qasim telat datang. Dan ketika ia datang, Saddam begitu bersemangat hingga lupa akan tugasnya dan langsung menembak Qasim. Qasim terluka parah namun tidak terbunuh dan penjaga Qasim berhasil membunuh seorang dari tim pembunuh dan balik menyerang Saddam yang terluka. Saddam melarikan diri ke Syria dan kemudian ke Mesir di mana ia menghabiskan tiga tahun bersembunyi, mendebat politik, dan menunggu untuk kembali ke Irak.

Ba’ath akhirnya berhasil menumbangkan Qasim di 1963 dengan mengkombinasikan kekuatan dengan grup pejabat militer termasuk di dalamnya mantan anggota pemberontakan Qasim di tahun 1958, Kolonel ‘Abd as-Salim Arif. Saddam kembali ke Irak sebagai pengikut Hassan al-Bakr. Namun Ba’ath masih kesulitan dalam memerintah Irak sebab sesama Ba’ath sayap kiri dan kanan saling bertengkar dan usaha Bakr untuk memoderasi gagal. Divisi Bath membiarkan Kolonel Arif mengambil kendali pada awalnya untuk kemudian tahun depan “dibersihkan”. Partai Sayap Radikal dibersihkan, dan Bakr menjadi pemimpin dari Ba’ath Baru dengan Saddam sebagai tangan kanannya – seorang kejam yang Bakr percaya mampu bekerja tanpa lelah dan bisa melakukan “apa saja”. Saddam menghabiskan dua tahun di penjara sebagai hasil kerjanya pada Bakr.

Di awal tahun 1970an Saddam muncul sebagai pemimpin rezim eminence grise. Pada 1970, adalah Saddam yang bernegosiasi dalam “March Manifesto” yang terkenal, yang mana menjamin otonomi bangsa Kurdi sebagai jalan untuk mengakhiri perang gerilya sembilan tahun melawan rezim suksesi Baghdad. Pada 1974, Saddam pula yang memutuskan untuk tidak menepati March Manifesto dan menyerang Kurdi. Dan ia pulalah yang menegosiasikan Algier Accord yang memalukan dengan Shah Iran pada 1975, ketika perang Kurdis tengah berlangsung. Untuk itu semua, Saddam membawa Bakr untuk menjadi pemimpin de facto negara.

Tahun 1977 Saddam menyarankan untuk menyerahkan kedudukan keduanya sebagai menteri pertahanan pada sepupu Saddam, Adnan Khayrallah, dan Bakr pun kehilangan ikatan jangka panjangnya dengan militer. Hanya tinggal menunggu waktu untuk kemudian pada 1979 Bakr dipaksa untuk mundur. Pada 16 Juli 1979 Saddam Hussein menjadi presiden Irak.

Sebagaimana idolanya, Josef Stalin, Saddam Hussein membangun partai dan pemerintahan yang diusahakannya penuh pengabdian dan tanpa ancaman pemberontakan. Kejadian paling terkenal dari pembersihan pertamanya adalah pertemuan anggota senior partai pada 22 Juli. Ia menyediakan Muhyi ‘Abd al-Husein Mashadi, seorang Sekretaris Jenderal RCC (Revolutionary Command Council) – yang mana secara terang-terangan menentang suksesi Saddam. Dalam kemunculan 21 detiknya, Mashadi benar-benar membayarnya dengan sangat mengerikan atas tindakan oposisinya. Dengan suara gemetar Mashadi membaca sebuah pengakuan panjang tertata terkait plot sokongan Syria dalam melawan bangsa yang dipimpinnya. Saddam kemudian mengambil alih podium dan membaca daftar ke-54 konspirator lainnya – kesemuanya berada dalam ruangan. Setiap nama yang disebut, penjaga besenjata mendatanginya dan membawanya ke auditorium untuk menemui “takdirnya”. Beberapa jatuh berlutut dalam tangis dan harus diseret secara kasar oleh penjaga.

Di hari yang sama Saddam juga mengadakan rapat di kangaroo court bagi pejabat tinggi untuk mengaku dosa. Atas tindakan mengerikan yang dilakukannya tersebut, Saddam meminta semua pejabat partai yang namanya tidak dipanggil untuk berpartisipasi dalam pasukan penembak yang  memberangkatkan para korban. Beberapa orang tidak sepakat dengan tindakan Saddam, seperti Kanan Makiya, “Tidak satupun dari Stalin maupun Hitler yang berpikir hingga detail seperti itu. Apa yang dalam ingin diterapkan dalam perlindungan Eichmann-like dalam ‘order from above’, dapatkah orang-orang tersebut menghargai masa depan jika mereka bahkan pernah sangat ingin menjatuhkan pemimpin merekka?… atas tindakan ini, kepemimpinan partai dipaksakan untuk menginvestasikan masa depan mereka pada Saddam” (Bengio, 1992).

Atas segala tindakan yang dilakukan Saddam, dapat kita ketahui bahwa image Saddam yang utama adalah berhati dingin dan mencoba menjadi diktator Irak, sebuah reputasi yang telah terlihat jelas melalui pembersihan brutal sebagai tangan kanan Bakr. Selama bertahun-tahun menunggu di sayap yang telah ia kembangkan sebagai sebuah metode untuk menempatkan kekuatannya, dan kemudian ia gunakan untuk memenuhi keinginannya. Ia telah sangat berhati-hati mempelajari metode Stalin (dan sedikit tambahan Hittler) dan

mempelajari bagaimana mengaplikasikan pada Irak, dan bahkan bagaimana mengembangkan mereka.

Ia menempatkan orang yang benar-benar sangat ia percaya pada kedudukan tertinggi militer internal. Ia memindahkan seseorang secara konstan di pangkat yang lebih rendah untuk mencegah mereka membangun segala macam loyalitas yang dapat digunakan untuk memimpin pemberontakan apapun. Ia membangun agen multipel dengan misi dan tanggung jawab berlebihan untuk menjamin bajwa tidak ada satu pun yang meleset, dan menciptakan persaingan yang memperkenankannya untuk bermain “satu grup lawan lainnya”.

Ia memusatkan segala kekuatan dan informasinya di tangannya sendiri sehingga tidak seorangpun mengetahui segala hal yang tengah terjadi di negara Irak. Dan ia menciptakan atmosfer kekejaman tanpa belas kasihan untuk menjamin Irak bebas dari segala teror sekecil apapun.

4.2 Hubungan Irak dengan Amerika Serikat Sebelum Invasi Irak ke Kuwait

Selama bertahun-tahun Irak dan Amerika Serikat sangat jarang berhubungan satu sama lain. Hari kejayaan Irak, kerajaan Persia, telah lama berlalu sebelum Amerika Serikat ada dan pada abad terakhir, Amerika masih muda dan cenderung terisolasi, Irak dipimpin oleh Turki Ottoman, yang mana hubungan dengan Amerika Serikat baru saja ada. Bahkan setelah jatuhnya kerajaan Ottoman setelah Perang Dunia I, dan terbentuklah negara Irak modern, Inggris lah (bukan Amerika) masih mendominasi perpolitikan di Irak. Maka nama Amerika Serikat masih terdengar asing bagi kebanyakan orang Irak.

Setelah Perang Dunia II, Washington hanya menaruh minat pada Arab Saudi dan Iran. Bagi Amerika saat itu, Irak saat itu merupakan negara radikal lemah yang berhubungan dekat dengan Rusia namun tidak terlalu mengancam. Tapi di tahun 1980 hubungan keduanya menjadi sangat “bermakna” dan keterbatasan hubungan keduanya yang selama ini diabaikan, salah perhitungan, dan mencurigakan, membawa membawa ketegangan satu sama lain.

4. 3 Invasi Irak ke Kuwait pada tahun 1990

4.3.1 Pandangan Saddam Hussein terkait Invasi ke Kuwait 1990

Dalam sebuah pertemuan dengan Duta Besar Amerika ke Irak, seorang diplomat Amerika, April Glaspie mengutarakan komentarnya yang kini menjadi pernyataan fenomenal bahwa “kita tidak ingin berkomentar terkait konflik negara-negara Arab sebagaimana masalah perbatasan Anda dengan Kuwait” (Woodward, 212). Saddam Hussein kemudian mungkin mengintrepetasikan pernyataan tersebut bahwa artinya Amerika Serikat tidak akan mengambil tindakan jika militer Irak menyerang Kuwait. Namun kenyataannya Amerika Serikat tidak bisa tinggal diam ketika Irak menjalankan perampasannya pada sebuah negara kecil – namun kaya akan minyak – tersebut.

Pertikaian perbatasan antara Irak dan Kuwait telah berlangsung lama sebelum Amerika turut campur antara hubungan keduanya. Namun invasi Irak ke Kuwait disebabkan, utamanya, oleh faktor ekonomi.

Pada tahun 1990, Irak mengalami inflasi hingga 40 persen. Import meningkat hingga 12 juta trilliun tahun ini, ditambah 5 trilliun dolar impor militer. Irak juga memiliki hutang dengan negara non-Arab sebesar 6-7 juta dolar per tahun (Polack, 2002). Sementara pendapatan dalam negeri terbesar Irak, yakni minyak mentah, mengalami kemerosotan harga karena ditemukan sumber minyak baru di Alaska, Laut Utara, dan negara bekas Uni Soviet. Ditambah lagi negara-negara anggota OPEC, seperti Kuwait dan United Arab Emirates (UAE), justru memproduksi minyak dalam kuantitas berlebih dengan harga yang relatif rendah demi mencapai kebijakan jangka panjang atas bertambahnya ketergantungan dunia pada minyak. Sementara itu sembilan puluh persen pendapatan Irak berasal dari minyak. Saddam mengaku bahwa setiap 1 dolar jatuhnya harga minyak, berdampak sebesar 1 miliar dolar bagi pendapatan Irak dan ia memang benar. Hasil dari ini semua adalah, pada musim semi 1990, Baghdad menghadapi masalah finansial yang sangat parah.

Merasa geram karena jumlah minyak berlebih di pasar dunia yang mana menyebabkan harga minyak global merosot dari 22 dolar per barel ke 16 dolar per barel, sekaligus untuk memperbaiki neraca devisa pada jangka panjang, Irak memutuskan untuk menambah area penambangangan minyaknya dengan menginvasi Kuwait dan menjadikannya provinsi ke-19.

Irak berbatasan langsung dengan Kuwait di sebelah selatan. Kuwait dikenal sebagai negara kaya minyak. (BBC News-Iraq country profile., 2009. http://news.bbc.co.uk/2/hi/middle_east/country_profiles/791014.stm akses 5 Maret 2010). Kapasitas produksi minyak Kuwait bila digabungkan dengan Irak mampu mencapai 20% kuota produksi OPEC dan 20% suplai minyak dunia. (BBC News- Kuwait country profile., 2009. http://news.bbc.co.uk/2/hi/middle_east/country_profiles/791053.stm akses 5 Maret 2010). Jika ia menganeksasi Kuwait, Saddam percaya, bahwa kekuatan ekonomi Irak akan menguat bahkan bisa menyaingi Arab Saudi.

Invasi Irak ke Kuwait dibuka dengan penyerangan berani dua brigade Pasukan Khusus Republik yang bergerak cepat untuk menguasai istana amir dan bank sentral Kuwait yang ia percaya akan menemukan tumpukan emas di sana. Sayangnya, kebanyakan warga Kuwait menginvestasikan uang mereka ke luar negeri, oleh karena itu Saddam hanya mendapatkan 2 trilliun dolar bullion emas Kuwait (Cigar, 1992 dan Friedman, 1991).

Kemunculan Pasukan Republikan di perbatasan Kuwait di pertengahan Juli menciptakan dilemma bagi pemerintahan Bush. Washington tidak menyukai tindakan Saddam dan ancamannya atas Kuwait (Bengio, 1991).

4.3.2 Respon Amerika Serikat atas Invasi yang Dilakukan Irak atas Kuwait

Invasi Irak ke Kuwait merupakan pukulan keras bagi administrasi Bush sebab merepresentasikan ancaman serius bagi kepentingan Amerika di wilayah teluk Persia, untuk menjamin agar minyak terus mengalir dan mencegah munculnya hegemoni musuh di region Teluk. Sebab jika Saddam berhasil menguasai Irak, ia akan menguasai 9 persen dari produksi minyak global, yang mana bisa disaingkan dengan Arab Saudi yang menguasai hampir 11 persen produksi minyak global. Sebagai tambahan, penempatan kekuatan militer Saddam di Kuwait dapat mengancam Arab Saudi untuk mengalami “Finlandized” – paksaan untuk mengikuti kebijakan harga minyak luar negeri yang didiktatori Baghdad. Dengan kata lain Saddam memiliki kapabilitas untuk megatur harga minyak global.

Ketakutan ini sampai pada 5 Agustus, tepat tiga hari setelah invasi yang dilakukan Irak pada Kuwait. Esok harinya Presiden Bush mendeklarasikan pada dunia bahwa invasi Irak pada Kuwait “tidak akan berlangsung lama” dan setelah mengadakan pertemuan dengan Richard Cheney – Menteri pertahanan AS – Raja Saudi, King Fahd, menyetujui Operation Desert Shield dengan mengirim 250.000 pasukan Amerika masuk untuk mempertahankan Saudi Arabia (al-Radi, 1998).

Pada 8 Agustus, bertepatan denga tibanya angkatan bersenjata dan udara Amerika tiba di Teluk Persia sebagai bagian dari Operation Desert Shield, Saddam dengan mudahnya mengumumkan bahwa Irak menganeksasi Kuwait dan menjadikannya provinsi ke-19.

4.3.3 Asumsi Saddam Hussein atas Invasi yang dilakukan Koalisi yang dipimpin oleh Amerika Serikat atas Irak

Pertama, Irak percaya bahwa koalisi multinasional Amerika Serikat kesemuanya secara politik rentan dan akan kolaps jika tekanan terjadi pada hubungan mereka yang paling lemah, utamanya koalisi anggota negara Arab. Saddam dan para penasehatnya percaya bahwa banyak negara Arab yang bivalent (mendua) atas nasib Kuwait, tidak menyukai dukungan Amerika Serikat atas Israel, dan sensitif atas paksaan”imperialis” di Timur Tengah (al-Radi, 1998).

Kedua, Saddam yakin bahwa Amerika Serikat tidak akan menoleransi biaya yang tinggi, dan khususnya yang menjatuhkan banyak korban, untuk meliberalisasi Kuwait. Ia percaya Kuwait tidak begitu penting bagi Barat – khususnya jika ia berjanji agar aliran minyak terus berjalan – dan percaya bahwa pelajaran yang dialami Amerika Serikat di Vietnam dan Lebanon di mana Amerika akan angkat tangan jika unit Amerika mengalami korban yang sangat banyak (al-Radi, 1998).

Ketiga Saddam percaya diri dalam perang Irak ke Kuwait, Amerika Serikat akan mengalami kekalahan yang serius sehingga mampu memaksa mereka ke meja bargaining. Sayangnya ia gagal memperhitungkan besarnya “jurang” perbedaan kualitas perlengkapan, taktik, dan personel antara smiliter Irak dan Barat (al-Radi, 1998).

Terakhir, Saddam percaya bahwa kekuatan udara akan berperan sedikit dalam perang dengan koalisi. Dalam sebuah siaran radio 30 Agustus, Saddam meyakinkan rakyatnya bahwa “Amerika Serikat bergantung pada pasukan udara. Dalam sejarah peperangan, pasukan udara tidak pernah menentukan perang. Mereka punya setidaknya 600 pasukan udara, semuanya buatan Amerika Serikat dan pilotnya mendapatkan pelatihan di Amerika Serikat. Mereka terbang ke Baghdad seperti awan hitam, tapi tetap tidak menentukan hasil akhir perang… Amerika Serikat bisa saja menghancurkan kota, pabrik, dan membunuh, namun tidak menentukan hasil akhir peperangan dengan angkatan udara.” (al-Radi, 1998).

Saddam begitu percaya diri bahwa strateginya tersebut akan berhasil dan tidak menganggap serius usaha internasional untuk menegosiasikan krisis tersebut. Pada musim gugur tahun 1990, proses resmi – dari Amerika Serikat, Liga Arab, Perancis, Rusia, dann banyak negara dan oraganisasi lainnya – tiba di Baghdad mencoba menyelesaikan perrmasalahan sesaat sebelum berperang. Dan tepat sebelum Operation Desert Shield dijalankan (sebulan kemudian), Baghdad menolak segala resolusi Dewan Keamanan PBB.

Masalahnya adalah bahwa keempat asumsi Saddam tersebut membuat strategi besarnya adalah sebuah kesalahan yang sangat besar pula. Koalisi tidak pernah berantakan. Begitu pula dengan korban perang, tidak ada yang memahami seberapa banyak jatuhnya korban jiwa dalam batas toleransi Amerika Serikat dan koalisinya. Dan angkatan bersenjata Irak menemukan diri mereka tak berdaya melawan seluruh pasukan bersenjata Amerika Serikat dan kerusakan yang dialami koalisi sangat sedikit dibandingkan asumsinya.

Dimulai pada 17 Januari 1991, koalisi yang dipimpin Amerika Serikat melepaskan 43 hari Operation Desert Storm. Koalisi angkatan udara dengan cepat mengacaukan jaringan komando dan kontrol Irak dan merusak pertahanan udara. Pasukan Irak sangat buruk dalam menerbangkan pesawat dan pesawat Amerika begitu saja menembak jatuh tiga lusin jet Irak sementara pesawat koalisi hanya kehilangan satu saja (Postol, 1992).

Penasehat militer Saddam memperhitungkan angkatan udara koalisi hanya akan bertahan 3-7 hari saja namun nyatanya mereka bertahan lebih dari sepuluh hari (wawancara dengan Taha Yasin Ramadan, Cairo al-Sha’b, 1992 dan Cigar, 1992).

Tidak butuh waktu lama bagi Irak untuk menyadari bahwa semuanya berada di luar perhitungan. Seminggu kemudian, Saddam memutuskan bahwa asumsi-asumsinya salah besar. Ia sempat berusaha meminta berunding karena terpojok secara militer namun Amerika Serikat menolaknya.

Invasi Amerika Serikat dan aliansinya ke Irak pada 2003 menyebabkan Saddam Hussein tertangkap dan pemerintahannya runtuh. Kemudian ia dituduh bersalah atas pelanggaran kemanusiaan dan dihukum gantung pada 30 Desember 2006 (Schofield, 1994).

 

  1. 1. Simpulan

Breuning (2007) menyatakan bahwa kebijakan luar negeri pada dasarnya bersifat memiliki tujuan atau tindakan yang didasari oleh tujuan-tujuan tertentu. Itu artinya, seburuk apapun outcome yang dihasilkan oleh sebuah kebijakan sudah dipastikan memiliki alasan-alasan di balik proses pembuatan keputusan. Dalam kasus kebijakan luar negeri Saddam dalam menginvasi Irak terdapat beberapa alasan di balik itu semua kendati dalam proses mencapai tujuannya justru memberikan outcome yang sangat mengerikan bagi Irak.

Dalam kebijakan Saddam Hussein untuk menginvasi Kuwait, ia sebenarnya memiliki beberapa pilihan yang tersedia untuknya. Daripada menginvasi Kuwait, ia bisa saja mengusahakan beragam strategi untuk mencapai tujuannya, seperti menempatkan pasukan di perbatasan untuk menekankan ancaman – yang mana telah dicoba beberapa saat sebelumnya – atau beberapa bentuk diplomasi paksaan lainnya. Ia bisa pergi ke Liga Arab atau Organization of Petroleum Exporting Countries (OPEC) untuk menyatakan keluhannya. Ia juga bisa melakukan pertemuan dengan pemimpin Kuwait, mungkin disertai dengan pihak ketiga netral. Ia bahkan bisa menentukan untuk tidak melakukan apapun sama sekali. Intinya adalah bahwa sebenarnya ia bisa melakukan apapun yang berbeda dari apa yang telah ia lakukan.

Jika kata pilihan di sini diartikan sebagai kemungkinan-kemungkinan pilihan maka keputusan adalah pilihan yang telah dipilih. Itu artinya tidak ada satupun pilihan yang disebutkan di atas terkesan menarik bagi Saddam Husein. Setelah memahami bagaimana ia mengevaluasi pilihan-pilihannya, dapat disimpulkan bahwa pertama, adalah hasrat personal Saddam Hussein akan kekuatan, teritorial, dan minyak membuat dirinya beserta pasukan militernya menginvasi Kuwait. Kedua adalah pendudukan Amerika Serikat dalam kejadian di Rusia dan negara-negara bekas uni Soviet lainnya menciptakan sebuah kondisi power vacuum di Timur Tengah yang mana menciptakan kesempatan bagi Irak untuk menginvasi Kuwait. Ketiga, Irak – berdasarkan determinan negara yang dimiliki Irak pada masa permerintahan Saddam saat itu – adalah aktor terkuat dalam kawasan regionalnya (meski belum bisa disandingkan dengan kekuatan Amerika Serikat) – yang mana membuat Saddam percaya diri bahwa aneksasi Kuwait yang ia lakukan akan menjadi hal yang mudah dan menguntungkan bagi perekonomian Irak pada jangka panjang.

 

 

 

 

 

 

Wordcount: 4138

Referensi

Al-Radi, Nuha. 1998. Baghdad Diaries. London: Saqi Books, hal. 51.

BBC News- Kuwait country profile., 2009. http://news.bbc.co.uk/2/hi/middle_east/country_profiles/791053.stm (akses 16 Januari 2011)

BBC News-Iraq country profile., 2009. http://news.bbc.co.uk/2/hi/middle_east/country_profiles/791014.stm (akses 16 Januari 2011)

Bengio,Ofra. 1992. Saddam Speaks on the Gulf Crisis. Tel Aviv: Tel Aviv University, hal. 16-17, 164-171

Cigar, Norman. 1992. “Iraq’s Strategic Mindset and the Gulf War,” Journal of Strategic Studies, hal. 9-11

Coughlin, Con. 2003. Saddam The Secret Life. Pan Books, 2003 (ISBN 0-330-39310-3)

Friedman, Norman. 1991. Desert Victory. Annapolis, Md.: Naval Institute Press, hal. 66, 108-111

Palmer, Michael A. 1993. The Guardians of the Gulf: A History of America’s Expanding Role in the Persian Gulf, 1833-1992. New York: Free Press, hal. 1-12.

Pollack, Kenneth. 2002. The Threatening Storm: The Case for Invading Iraq. New York: Random Haouse, hal. 18, 13-38

Postol, Theodore A. 1991-1992.”Lessons of the Gulf War Experience with Patriot”, International Security, vol. 16, no. 3, hal. 119-171

Schofield. 1994. Documentary Studies in Arabian Geopolitics: The Iraq–Kuwait Dispute 1830–1994. Cambridge: Cambridge Archieve Edition

Yergin, Daniel. 1991. The Prize. New York: Simon and Schuster, hal. 135-139.

http://www.thefamouspeople.com/profiles/saddam-hussein-95.php

 

KISI KISI UTS METAN/ ANALISIS HUBUNGAN INTERNASIONAL

KISI2 UTS

SELUK BELUK RISET

Blaxter, Loraine, et. al. 2001. How to Research (terj.). Jakarta: Indeks

-          Blaxter (2001: 6) riset adalah cara yang terencana, yang penuh kehati-hatian, yang sistematis, dan dapat diandalkan untuk menemukan atau mendalami suatu pemahaman.

-          riset pada esensinya bersifat siklis sehingga dapat dimasuki dalam titik manapun dan oleh karenanya merupakan proses yang tiada akhir.

-          beberapa jenis riset, meliputi:

  1. Riset yang murni, terapan, dan strategis
  2. Riset yang deskriptif, penuh penjelasan, serta evaluasi
  3. Riset pasar dan akademis
  4. Riset yang menelusuri, mencoba, dan menyelesaikan permasalahan
  5. Riset yang samar-samar, adversarial, dan berkolaborasi
  6. Riset yang mendasar, terapan, instrumental. Bersifat partisipatif dan juga tindakan.

-          Metode merupakan cara tertata guna mencapai suatu maksud yang diinginkan. Metode penelitian adalah ilmu yang mempelajari cara yang digunakan untuk menyelidiki masalah yang memerlukan pemecahan.

-          Metodologi penelitian menuntun dan mengarahkan pelaksanaan penelitian agar hasil penelitian sesuai dengan realitas yang terjadi selama riset dilakukan.

-          Motivasi…

DASAR2 FILOSOFI RISET

Walliman, Nicholas. 2006. Your Graduate Dissertation. London: Sage

-          positivisme, relativisme, atau rekonsiliasisme

-          Dalam positivisme terdapat pula beberapa asumsi yang mengikutinya, yakni:

  1. Order: terdapat banyak pendapat bahwa jagad raya ini adalah sejenis order dan karenanya mungkin bagi kita untuk mencapai sebuah pemahaman dan mengijinkan kita untuk memprediksi. Namun harus diakui pula bahwa suatu fenomena seringkali terlalu rumit untuk dicari informasi yang cukup dan dipahami.
  2. Realitas eksternal: bahwa setiap orang berbagi realitas yang sama dan bahwa kita semua tidak hidup di dunia yang berbeda yang mengikuti aturan yang berbeda pula. Meskipun banyak yang memperdebatkan nature of reality ini, positivis percaya bahwa ilmu pengetahuan selalu dapat diverifikasi dan dibagikan.
  3. Reliabelitas: bahwa intelek manusia dan persepsinya bersifat reliable. Masing-masing dapat bergantung pada perasaan dan metode berpikir mereka.
  4. 4. Parsimony: bahwa penjelasan probability tersederhana adalah yang terbaik. Formula Einstein E= mc2 adalah contoh teori yang bagus.
  5. 5. Generalitas: bahwa hasilnya harus relevan tidak hanya satu kasus tertentu dalam satu waktu namun juga merupakan generalisasi dari lainnya.

-          Relativisme berpendapat bahwa manusia terikat dengan kejadian-kejadian di dunia dan itu membuatnya mungkin bagi setiap orang untuk berdiri di suatu sisi dan mengamati sebagian “dari kejauhan”.

-          parsimoni, relativis percaya hidup dan masyarakat tidak sesederhana dan seragam yang membuat penjelasan sederhana menjadi mungkin sebab simplikasi biasanya menyiratkan oversimplikasi. Sebab keunikan dari masing-masing manusia sangat sulit untuk memprediksikan masa depan dengan kondisi serupa.

-          rekonsiliasionisme mencoba menemukan jalan tengah. Mereka menegaskan bahwa kita dapat mengetahui sesuatu tertentu yang membuat prediksi menjadi mungkin, misalnya teknologi dan subjek sains, namun mereka masih tidak dapat mengelak bahwa manusia–dengan segala komplikasi dan kegagalan inherensinya–begitu banyak subjek yang masih perlu diperdebatkan dan dipandang dengan intrepretasi yang berbeda pula.

-          induksi dan deduksi

ETIKA DALAM RISET

Walliman, Nicholas. 2006. “What’s All This About Ethics?” dalam Your Undrgraduate Dissertation. London: Sage

common sense atau tindakan yang sopan, Beberapa memiliki karakter yang lebih formal dan membutuhkan usaha organisasional yang nyata untuk memenuhi requirement-nya

  1. Berterima kasih atas karya orang lain → sistem referensi dan acknowledgment → paraphrase dan plagiarism?
  2. Menghargai orang lain → 1alasan memewawancara, 2perizinan, 3anonimitas, 4perizinan 5pencantuman identitas, 6cek draft, 7keadilan, bias gender, 8tepat waktu, 9hidari 10perselisihan, 11terima kasih
  3. Kejujuran dan subyektivitas ilmuwan→ kesalahan atau mungkin “tindakan yang harus dihindari” oleh periset lain

 

 

 

PENELITIAN KUANTITATIF

Silalahi, Ulber. 2006. “Paradigma Penelitian” dalam Metode Penelitian Sosial. Bandung: Unpar Press

Blaxter, Loraine, et.al. 2001. “Tentang Metode-Metode” dalam How to Research : Seluk Beluk Melakukan Riset. Jakarta: Gramedia

-          metode riset kuantitatif digunakan dalam upaya untuk membangun hukum-hukum atau prinsip-prinsip umum. (Burns, 2002: 3).

-          Riset kuantitatif merupakan riset empiris di mana data adalah dalam bentuk sesuatu yang dapat dihitung/ angka (Punch, 1988: 4).

-          Paradigma kuantitatif terdapat dalam:

1. mencari fakta-fakta atau sebab-sebab dari fenomena nasional,

2. menggunakan cara-cara yang menonjol dan terkendali,

3. berjarak dengan data/ objek/ perspektif “orang luar”,

4. tidak mendasar dalam arti berorientasi untuk memverifikasi,

5. cenderung “mengurangi” minoritas, sebab berasal dari paradigma deduktif-hipotesis.

6. Paradigma kuantitatif berorientasi pada hasil,

7. dapat dipercaya sebab diikuti oleh data yang kuat dan dapat ditiru,

8. dapat digeneralisasikan – terkait dengan studi-studi multimasalah –,

9. partikularistik, dan

10. mengasumsikan realitas sebagai sesuatu yang stabil (Oakley, 1999: 156).

- kuantitatif: paradigma positivis ; penelitian kualitatif : paradigma fenomologis atau naturalistis.

- Paradigma postivis dinyatakan sebagai paradigma tradisional, eksperimental, atau paradigma empirisistis yang dikembangkan oleh para ahli sosiologi seperti Comte, Durkheim, dan Mill.

- Sementara paradigma naturalistik/ fenomologis → pendekatan konstruktivis, interpretatif, atau pasca-positivisme atau pasca-modern→ dianggap sebagai paradigma countermovement terhadap tradisi positivis pada abad ke-19 yang dikembangkan ahli sosiologi seperti Weber dan Kant (Creswell, 1994 : 49-50).

-          fenomena sosial itu memiliki pola dan tunduk pada hukum-hukum determinis seperti layaknya hukum-hukum yang mengatur ilmu alam

-          Proses penelitian kuantitatif menurut Bryman (2005: 63) : 1dari teori, 2hipotesis, 3research design, 4memilih research site(s), 5memilih subjek/ responden riset, 6mengumpulkan data, hipotesis, 7memproses data, 8menganalisa data, dan 9menuliskan kesimpulan – 10untuk kemudian kembali menjadi awal dari segalanya, teori.

-          Menurut Creswell memilih paradigma penelitian → peeliti merasa cocok dengan fokus masalah dan masalah penelitian (Hussey dan Hussey, 1977: 115) → jika sifat masalah yang diteliti oleh periset pernah diteliti oleh peneliti lain sehingga tersedia banyak bahan bacaan, variabel diketahui, dan tersedia teori-teori, maka paradigma kuantitatif jauh lebih cocok digunakan.

-          Sementara bagi sifat permasalahan yang bersifat eksploratif, variabel tidak diketahui, konteks penting, dan kurang teori dasar, paradigma kualitatif akan menjadi pilihan sangat tepat bagi periset.

 

 

 

 

 

PENELITIAN KUALITATIF

Blaxter, Loraine, et.al. 2001. “Tentang Metode-Metode” dalam How to Research : Seluk Beluk Melakukan Riset. Jakarta: Gramedia

-          kualitatif dapat diartikan sebagai penelitian yang menghasilkan data deskriptif menganai kata-kata lisan maupun tertulis, dan tingkah laku yang dapat diamati dari orang-orang yang diteliti (Taylor dan Bogdan, 1984: 5).

-          metode riset kualitatif menggunakan pendekatan naturalistik yang menekankan pentingnya pengalaman subjektif individu→ Fokus yang tertuju pada kasus individual dan bukan pada pembuatan hukum umum  (Burns, 2002: 3).

-          Paradigma kualitatif terdapat dalam:1 melihat pada perilaku pemahaman dari kerangka referensi milik para aktor-aktornya sendiri, 2observasi yang bersifat alamiah dan tidak terkendali, 3subjektif, dekat dengan data perspektif “orang dalam”, mendasar, 4beriorientasi terhadap penemuan, 5berhubungan dengan penyelidikan, 6cenderung melakukan ekspansi, deskriptif, dan induktif, 7berorientasi lebih pada prosesnya ketimbang hasil, data bersifat syah (nyata, kaya, dan mendalam), 8tidak dapat digeneralisasikan, 9bersifat holistik, dan 10mengasumsikan realitas yang dinamis (Oakley, 1999: 156).

MEMBANGUN KERANGKA TEORITIS

Silalahi, Ulber. 2006. “Paradigma Penelitian” dalam Metode Penelitian Sosial. Bandung: Unpar Press

-          kerangka teoritis adalah penjelasan teoritis atas maslah empiris dalam rumusan masalah penelitian.

-          Teori adalah suatu set proposisi yang menyatakan secara logis saling hubungan antara dua atau lebih konsep (variabel) untuk tujuan menjelaskan suatu fenomena atau hubungan antara satu fenomena tertentu untuk menjelaskan atau bahkan memprediksi gejala-gejala tersebut (Kerlinger, 1994).

-          Karakteristik teori menurut Creswell (1994) adalah : pertama, berisi konsep atau konstruk dan variabel ; kedua, dinyatakan dalam satu bentuk pernyataan hubungan yang secara umum dikenal sebagai proposisi ; ketiga, secara sistematis menunjukkan pola, sifat, arah, dan bentuk hubungan antarkonsep atau variabel ; dan keempat, bertujuan menjelaskan dan memprediksi suatu fenomena sosial tertentu.

-          peran teori:

1. memberi kerangka pemikiran

2. mengkonstruksi hipotesis penelitian,

3. sebagai dasar atau landasan dalam menjelaskan dan memaknai data atau fakta yang telah dikumpulkan,

4. dalam perumusan masalah penelitian, teori akan membantu mendudukkan permasalahan penelitian secara nalar dan runtut.

5. membantu mengkonstruksi ide-ide yang diperoleh dari hasil penelitian, sehingga konsep dan wawasannya menjadi lebih mendalam dan bermakna.

6. teori memberikan acuan dan menunjukkan jalan berdasarkan pengalaman-pengalaman yang telah dilakukan para ahli

7. teori memberikan dasar-dasar konseptual dalam menyusun definisi operasional. Dari definisi operasional tersebut akan melahirkan indikator-indikator, dan dari indikator-indikator tersebut akan menghasilkan deskriptor-deskriptor, sampai pada akhirnya menghasilkan butir-butir pertanyaan atau pernyataan yang dipakai sebagai alat pengumpul data.

-          Teori yang ditulis oleh peneliti untuk menjelaskan gejala atau hubungan antara gejala yang menadi perhatian dinamakan kerangka teoritis atau kerangka pemikiran teoritis (Hussey dan Hussey, 1997)

-          Variabel independen dinamakan pula dengan variabel yang diduga sebagai sebab (presumed couse variabel) dari variabel dependen

-          Variabel dependen adalah tipe variabel yang dijelaskan atau dipengaruhi oleh variabel independen.

 

 

UAS KISI KISI BISNIS INTERNASIONAL UNAIR

EVALUASI DAN PEMILIHAN MODUS OPERANDI: CARREFOUR

@ Carrefour yang pertama kali dibuka pada 1960 kini adalah retailer terbesar di Eropa dan Amerika Latin serta kedua terbesar di dunia.

@ Carrefour meningkatkan pertumbuhannya selang 2006-2008: menentukan arah negara ekspansi dan di mana letak toko baru di setiap negara. Termasuk di dalamnya menentukan toko mana yang bekerja di bawah rata-rata dan menutupnya untuk mengalihkan keuntungan potensial di tempat lainnya. misalnya di tahun 2004, 7 toko di Spanyol, Argentina, dan Brazil ditutup.

@ Salah satu kunci dari keberhasilan Carrefour adalah pemilihan lokasi toko-toko mereka dan waktu yang tepat.

@ Operasi hypermarket Carrefour menuai sukses dari awal dan di tahun 2004 ia sudah mengoperasikan 178 hypermarket di seluruh Prancis. Waktu untuk memperkenalkan konsep hypermarket sangat lah sempurna. Operasi supermarket pada mulanya tidak terlalu berkembang di Prancis dan konsumen Prancis sering berbelanja berpindah-pindah outlet. Sedikit agen pengecer yang punya tempat parkir gratis sehingga mereka harus berbelanja lama dan berpindah-pindah toko. Di tahun 1963 banyak keluarga Prancis memiliki mobil, kulkas yang cukup besar untuk suplai mingguan, dan pemasukan tambahan untuk dibelanjakan ke barang non-food. Kemudian wanita-wanita Prancis mulai bekerja dan mereka menginginkan toko dengan satu pemberhentian saja. Itu sebabnya konsumen Prancis memilih hypermarket Carrefour yang menyediakan parkir gratis, dan harga diskon serta pilihan barang yang sangat beragam.

@ Carrefour dan operator hypermarket lainnya sempat menghadapi masalah terhadap ekpansi otoritas pemerintahan Prancis kala itu terkait pembatasan hypermarket baru untuk melindungi bisnis kecil, dan kesenjangan dengan daerah pinggiran → kemudian Carrefour memutuskan untuk beroperasi di luar negara secara internasional.

@ Saat Carrefour memasuki Spanyol dan Belgia, kedua negara tersebut tengah mengalami perubahan gaya hidup serupa dan mereka pun menuai sukses serupa seperti halnya di Prancis.

Sumber:

Wild, J; Wild, Kenneth L.; & Han, Jerry C.Y. 2008. International Business: The Challenges of Globalizations. New Jersey: Parson Prentice Hall

 

BAURAN PEMASARAN

@ menurut Kotler (1997:92) bauran pemasaran adalah sejumlah alat-alat pemasaran yang digunakan perusahaan untuk menyakinkan obyek pemasaran atau target pasar yang dituju.

@ Menurut McCarthy dalam bauran pemasaran (marketing mix) terdapat pembagian kiat pemasaran ke dalam 4 faktor yang disebut 4P (Kotler, 1992:92).

  1. Product (produk): sesuatu yang ditawarkan kepada masyarakat untuk dilihat, dipegang, dibeli atau dikonsumsi. Produk dapat terdiri dari product variety, quality, design, feature, brand name, packaging, sizes, services, warranties, and returns.
  2. 2. Price (harga): sejumlah uang yang konsumen bayar untuk membeli produk atau mengganti hal milik produk. Harga meliputi last price, discount, allowance, payment period, credit terms, and retail price.
  3. Place (tempat): berbagai kegiatan perusahaan untuk membuat produk yang dihasilkan/dijual terjangkau dan tersedia bagi pasar sasaran. Tempat meliputi antara lain channels, coverage, assortments, locations, inventory, dan transport.
  4. Promotion (promosi), yaitu berbagai kegiatan perusahaan untuk mengkomunikasikan dan memperkenalkan produk pada pasar sasaran. Variabel promosi meliputi antara lain sales promotion, advertising, sales force, public relation, and direct marketing. variabel promosi atau yang lazim disebut bauran komunikasi pemasaran (Kotler, 1997:604):
    1. Advertising, presentasi nonpersonal dan promosi ide, barang, atau jasa oleh sponsor yang ditunjuk dengan mendapat bayaran.
    2. Sales promotion, yaitu insentif jangka pendek untuk mendorong keinginan mencoba atau pembelian produk dan jasa.
    3. Public relations and publicity, yaitu berbagai program yang dirancang untuk mempromosikan dan/atau melindungi citra perusahaan atau produk individual yang dihasilkan.
    4. Personal selling, yaitu interaksi langsung antara satu atau lebih calon pembeli dengan tujuan melakukan penjualan.
    5. Direct marketing, yaitu melakukan komunikasi pemasaran secara langsung untuk mendapatkan respon dari pelanggan dan calon tertentu, yang dapat dilakukan dengan menggunakan surat, telepon, dan alat penghubung nonpersonal lain.

 

Sumber:

Daniels, et.al. 2007. International Business: Environment and operations. New Jersey: Pearson Prentice Hall

 

ORGANISASI DAN MANAJEMEN KORPORASI

@ Tipe kepemimpinan-manajerial (McDaniels & Gitman)

  1. Autokratik
  2. Partisipatif (Konsensus, consultatif)
  3. Free Rain (high tech firms, labs, colleges, and university)

@ Tipe tersebut kemudian diterjemahkan dalam suatu budaya yang berbeda di tiap negara: AS: Fordism, Jepang: Kaizen/ Lean Industry/manufacturing, Korea: Chaebolism.

@ Kaizen:Penyempurnaanberkesinambungan yang melibatkan semua anggota dalam hirarkhi perusaahaan, baik manajemen maupun karyawan (Dr. AB Susanto, Jakarta Consulting Group)

@ Fordism: Budaya bisnis yang menginspirasi untuk produktifitas tinggi dengan standarisasi output, serta spesifikasi kerja dari yang tertinggi sampai yg tidak terlatih. Hal ini dimaksudkan untuk mencapai efisiensi daripada pemaksimalan keuntungan. Reward material tinggi, tapi tidak pengambilan keputusan (Prof. Fred Thompson, Willametter University).

Sumber: Mbak Irfa ppt

@ Peran manajerial:

  1. Interpersonal: figurehead/ simbol, leader/ pemimpin, laiaison/ penghubung antara internal-eksternal,
  2. Informasi: memonitori/ pemantau/ pengawas, disseminator/ penyebar info, spokeperson/ juru bicara dan
  3. pengambilan keputusan: entrepreneur/ kreatif membuat ide dan kreasi, Disturbance Handler/ mencari solusi, Resource Allocator/ mengalokasikan sumber daya, Negotiator/ bernegosiasi

@ Manajemen→ proses mengarahkan pada perkembangan, perbaikan, dan alokasi sumber daya untuk mencapai tujuan organisasi.

@ Manajer→ orang-orang yang bertanggung jawab bagi perkembangan dan dalam melaksanakan proses manajemen.

@ fungsi manajer adalah merencanakan, mengorganisasi, memimpin, dan mengontrol (Pengukuran performa standart (target), Pengukuran performa, Membandingkan performa aktual dengan standart performa yang dikembangkan , Melakukan evaluasi, Menggunakan informasi)

@ Perencanaan: menentukan apa yang butuh untuk dilakukan, mengidentifikasi kapan dan bagaimana rencana dijalankan, dan menentukan siapa yang harus melakukannya→ strategis, taktikal, operasional, dan perencanaan berkelanjutan.

-          Perencanaan strategis terkait penciptaan perencanaan jangka panjang (1-5 tahun), tujuan ke luar, dan menentukan kebutuhan-kebutuhan sumber daya untuk mencapai tujuan.

-          Perencanaan taktikal adalah memiliki jangka waktu yang lebih pendek (kurang dari setahun) dan tujuannya lebih objektif yang mendukung tujuan strategis yang lebih strategis.

-          Perencanaan operasionalmenciptakan standar spesifik, metode, kebijakan, dan prosedur yang digunakan dalam area fungsional yang spesifik organisasi.

-          Perencanaan berkelanjutan mengidentifikasi tindakan alternatif dari situasi yang tidak biasa atau krisis.

@ Keahlian dalam manajerial dapat dipisahkan dalam tiga kategori dasar: teknikal, hubungan antarmanusia, dan keahlian konseptual.

  1. Teknikal:pengetahuan yang terspesialisasi, terkuasai, dan kemampuan untuk mengetahui bagaimana suatu berjalan
  2. Keahlian hubungan antarmanusia di dalamnya termasuk keahlian untuk memahami tingkah laku manusia, berkomunikasi secara efektif, dan memotivasi orang lain agar berhasil mencapai tujuan tertentu.
  3. Keahlian konseptual adalah kemampuan untuk melihat organisasi secara keseluruhan, memahami bagaimana setiap bagian dalam perusahaan saling bergantung satu sama lainnya, dan mengerti bagaimana organisasi berhubungan dengan lingkungan eksteralnya.

@ Top manejerial diharapkan lebih mampu menguasai kemampuan konseptual dan semakin ke bawah, low manejerial diharapkan  mampu menguasai teknikal

@ Peran manajerial dalam organisasi

  1. Merancang kelangsungan operasi perusahaan di masa mendatang
  2. Memberdayakan sumber daya semaksimal mungkin

@ Mengatasi permasalahan yang bersifat kritikal dan emergensi,

@ Sumber: McDaniels, et.al. 2008. The Future of Business. Mason: Thomson South Western

MANAJEMEN SDMANUSIA

@ Mengapa menggunakan ekspatriat: adanya tujuan yang ingin dicapai atau adanya masalah urgensi/ penting

@ Kelebihan ekspatriat:

  1. Lebih sesuai dengan perusahaan home krn sebelumnya mendapat pelatihan
  2. pengendalian dan koordinasi yang baik dalm DMP
  3. Untuk menghimpun kelompok eksekutif berpengalaman internasional

@ Kelemahan ekspatriat:

  1. Urusan perpindahan yang lama dan memakan banyak dana
  2. Pembiayaan keluarga ekspa yang mahal
  3. Tidak memahami betul budaya dan lingkungan host country

@ Kelebihan manajerial local

  1. biaya lebih terjangkau dalam masalah pengangkatan
  2. adanya promosi terhadap para manager lokal→ pengakuan lebih dari masyarakat
  3. lebih memahami budaya dan lingkungan host country

@ kelemahan manajer local

  1. pengendalian koordnisasi & DMP tidak sebaik ekspatriat
  2. cenderung tidak memiliki pengalaman secara internasional

@ gaji ekspatriat:

  1. Host based
  2. Homebased → gaji sesuai negara asal ekspatriat. Misal: ekspatriat AS mendapat bonus dan gaji lebih dari biasanya
  3. Headquarter

@ Hubungan Labour Union dan MNC

1. positif: semakin kuat LU semakin bagus bagi MNC karena dengan demikian ketersedian TK memadai dan mengetahui apa yang diinginkan TK negara tersebut → jepang berjalan harmonis

2. negative; semakin lemah LU semakin lemah tuntutan TK terhadap MNC, gaji lebih rendah: Irlandia (Daniels, 2007)

@ tiga tipe kebijakan penetapan staff dalam perusahaan internasional:

  1. Tipe etnosentrik (negara home perusahaan)
  2. Tipe polisentrik (host country native)
  3. Tipe geosentrik  (banyak negara yang penting pinter ekspatriatnya)

 

 

E-COMMERCE

@ Fungsi internet:

  1. sebagai alat strategi bisnis pemasaran.
  2. perusahaan menjadi lebih hemat dan semakin efektif.
  3. alat untuk meraih pasar baru.

@ Lebih terjangkau dalam masalah penyewaan tempat, pendanaan (produk bisa by demand), dan tenaga kerja

@ Implementasi internet-strategi

  1. Internet Product à meliputi kegunaan web-site sebagai elemen utama dalam promosi produk
  2. Channel Consideration with Internet Marketing à peningkatan efisiensi komunikasi antara seller dan purchaser → pembuatan catalog
  3. marketing tools à memungkinkan penjangkauan target market dengan lebih efisien dan dengan budget yang lebih kecil → memperhatikan jaringan yang digunakan untuk memasarkan barang tersebut di dunia maya
  4. Pricing

 

 

MANAJEMEN SDM

ETIKA BISNIS DAN CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY

@ British Pretoleum adalah perusahaan pertama yang pertama kali mengimplementasikan tanggung jawab sosial dengan cara membangun komitmen untuk menyelamatkan lingkungan hidup → Lord Jon Browne

@ CSR? Adalah singkatan dari Corporate Social Responsibility yang mana merupakan salah satu bentuk tanggung jawab perusahaan dengan cara melayani lingkungan hidup walau seringkali diartikan sebagai salah satu bentuk ajang marketing baru di abad 21.

@ pada dasarnya perusahaan hanya berdasar pada tanggung jawab ekonomi dan hukum

@ Tanggung jawab sosial adalah kepedulian perusahaan terhadap suatu isu sosial atau lingkungan.

  1. tanggung jawab etis (menentukan mana yang patut dan tidak patut dikerjakan)
  2. philanthropic responsibility/ kemanusiaan (tanggung jawab terhadap isu-isu kemanusiaan, misalnya bencana alam)

@  Dalam tanggung jawab sosial, terdapat tiga hasil:

  1. illegal dan bertanggung jawab, adalah ketika suatu tindakan melanggar hukum serta merugikan lingkungan sekitar, misalnya tower telkomsel yang dibangun di tengah-tengah pemukiman. Pemerintah lah yang menentukan apa tindakannya masuk dalam kategori legal atau tidak, dan kemudian mengusut permasalahan.
  2. tidak bertanggung jawab namun legal, contohnya sponsor-sponsor rokok di Indonesia yang menyeponsori banyak acara penting di Indonesia seperti olahraga, konser, dan lain sebagainya, bahkan sponsor ditayangkan melalui pesawat televisi di jam umumnya anak-anak melihat televisi.
  3. legal dan bertanggung jawab, adalah apa yang diharapkan, contoh realnya adalah Lifebouy yang sengaja menjual produknya lebih mahal namun konsumen diberitahu bahwa dalam setiap produk yang dibelinya ia turut menyumbang usaha kebersihan bagi toilet SD

@ stakeholder (adalah kepada siapa perusahaan harus bertanggung jawab, termasuk di dalamnya pegawai, konsumen, general public, dan investor)

@  1.Pertanggung jawab kepada pegawainya:

-       cara memastikan mereka mendapatkan pekerjaan dan menikmati hasilnya,

-       di beberapa firma yang baik, mereka bahkan dibebaskan untuk mengembangkan diri dengan memberikan inovatif-inovatif kepada perusahaan.

@ 2. pertanggung jawaban ke kostumer→  memuaskan mereka dengan produk dan jasa layanan perusahaan, menepati janji dan bersikap jujur.

@  3. pertanggungjawaban ke masyarakat → misal dengan membayar pajak tepat waktu sebagai warga negara yang baik, turut dalam perlindungan lingkungan, (misal Toyota yang mengembangkan renewable energy dalam produk terbarunya agar lebih ramah lingkungan), serta turut berkontribusi dalam berbagai isu kemanusiaan melalui dana, bantuan, produk, dan sukarelawan. Pada Agustus 2005 ketika Badai Katrina mengamuk, Abbot, Alcoa, british Petroleum, Dell, Disney, Intel, Motorolla, UPS, Walgreens, dll berkontribusi $100 juta.

@ 4. pertanggungjawaban perusahaan ke investor → Biasanya mereka mengurangi dana investasi pada perusahaan yang memiliki sejarah penyebab polutan, tembakau, persenjataan, dan lain sebagainya terkait masalah etika.

Sumber:

McDaniels, et.al. 2008. Making Ethical Decisions and Managing a Socially Responsible Business. Mason: Thomson South Western

 

 

 

UTS KISI-KISI BERDASAR SILABUS


1. Memahami Bisnis Internasional

- Pengertian binal dan ruang lingkupnya : Bisnis Internasional adalah bisnis yang kegiatan-kegiatannya melewati batas-batas negara. Ketika pasar domestik mengalami kejenuhan dan pertumbuhan penjualan mulai melambat, → mengembangkan bisnis di negara lain→ contoh, McDonald di Rusia, Nike merancang sepatu sepak bola untuk Brasil → memperluas pasarnya, mencari peluang untuk berkembang di negara lain, mengurangi ketergantungan ekonomi di negara asalnya serta mencapai produksi dan distribusi yang ekonomis → missal: General Motor Corp, seiring dengan penurunan pangsa pasar kendaran ringan di Amerika telah mengalihkan penjualannya ke Argentina, Polandia, Cina dan Thailand untuk model-model seperti Opel Corsa.

2. Lingkungan Eksternal Binal

- Pada tahun 1990, negara demi negara mulai mengadopsi mekanisme pasar yang mereduksi peran negara dalam perekonomian, meningkatkan stabilitas makroekonomi, dan meningkatkan pendapatan personal.

- Meningkatnya kekuatan beli konsumen membawa kesuksesan bagi banyak perusahaan multinasional→ misalnya McDonald → pembukaan cabang di Rusia 1990→ lima pasar paling menguntungkan di dunia setelah Inggris, Prancis, Jerman, dan Spanyol→ McDonald memecahkan tantangan lingkungan ekonomi USSR → dengan melakukan skoring suplai negara, mengkontrak beberapa item seperti susu, keju chedar, dan daging. Untuk meyakinkan bahwa kualitas suplai cukup memadai, mereka melakukan bantuan dan pendidikan bagi petani dan peternak agar mendapatkan produk sesuai standar mereka. Bagaimanapun seseuai dengan berjalannya waktu McDonald telah membantu mengembangkan pelayanan makanan di Rusia → menarik minat konsumen: dalam perayaan pembukaannya, McDonald tak hanya merefleksikan kentang goreng dan hamburger tetapi juga dipenuhi oleh simbol-simbol politis Soviet, yang kemudian teridentifikasi sebagai usaha Mikhail Gorbachev yang berusaha menggerakkan negaranya dari negara yang state-controlled menuju sebuah ekonomi pasar. → Mendapatkan tenaga kerja di Rusia sangatlah mudah karena dipengaruhi oleh angka pengangguran yang tinggi→          Saat pembukaan pertama McDonald di Rusia, Pengunjung terus menerus berdatangan walaupun harga dari sebuah Big Mac, kentang goreng, dan soft drink sebesar dengan rata-rata penghasilan orang Rusia per 4 jam! → pada perjalanannya McDonald masih terus betahan dalam beberapa krisis Rusia, misalnya pada keruntuhan Uni Soviet di tahun 1991 → Dari sini dapat kita pahami bahwa ketika sebuah perusahaan berencana untuk membuka bisnisnya ke negara lain, ia harus memperhatikan kesejahteraan, pendapatan, stabilitas, kemiskinan, dan lain sebagainya→ dengan menemukan jalan untuk beradaptasi, memahami, dan mengintrepetasikan perubahan dalam ekonomi pasar akan membawa perusahaan multinasional pada kesuksesan besar sebab Perubahan dalam lingkungan ekonomi dapat memberi efek terhadap perubahan beberapa karakteristik. Beberapa bersifat langsung dan beberapa berhubungan dengan lingkungan, perusahaan, dan kompetitor.

- manager memperhatikan dan mengukur kemakmuran suatu negara, pendapatannya, stabilitas sosio politik dan kulturnya, sekaligus tingkat kemiskinan dan sejenisnya[1] → Salah satu indikator pertumbuhan ekonomi ialah

1. Gross National Income (GNI). GNI mengukur pendapatan berasal dari total produksti domesti dan kegiatan produktsi internasional oleh perushaan nasional. Salah satu bagian penting GNI ialah Gross National Product (GDP). GDP adalah nilai dari semua barang dan jasa yang diproduksi dalam suatu batas wilayah negara dalam satu tahun, meliputi sejumlah yang dihasilkan oleh perusahaan nasional maupun perusahaan asing beroperasi lokal.

2. tingkat perubahan. Perubahan pertumbuhan ekonomi dalam kurun waktu tertentu dalam tahun menjadi indikator potensial menarik investasi asing

3. kekuatan daya beli

4. tingkat kualitas pertumbuhan manusia. Apabila perkiraan pertumbuhan manusia dinilai negatif, maka kemungkinan perusahaan itu hanya berinvestasi jangka pendek saja. Apabila sebaliknya, maka kemungkinan besar perusahaan tersebut berinvestasi jangka panjang.

- Fitur-fitur ekonomi ekonomi yang mempengarauhi investor asing dalam berinvestasi di negara tujuan.

1. inflasi. Hiperinflasi menyebabkan kecenderungan investasi jangka pendek dan mempengaruhi kemampuan daya beli konsumen

2. pengangguran. Pengangguran apabila tidak diatasi dengan insentif kebijakan yang tepat, pengguran menciptakan tekanan sosial, instabilitas politik, sekaligus menekan pertumbuhan ekonomi.

3. hutang. Hutang dideskripsikan sebagai kewajiban keuangan pemeirntah meliputi pinjaman dari warganegaranya, amaupun organsiasi asing dan pemerintah asing dan atau institusi internasional. Semakin besar kewajiban tersebut maka perekonomiannya makin tidak stabil.

4. Pertumbuhan ekonomi juga sangat ditentukan oleh pemerataan pendapatan (distribusi pendapatan). mereka berasumsi bahwa pemerataan pendapatan mencerminkan kesuksesan dan sustainbilitas pertumbuhan ekonomi nasional. Oleh karena itu, investor lebih positif berinvestasi di suatu negara yang mana tingkat perbedaan distribusi pendapatannya tidak terlalu signifikan.

5. kemiskinan. kemiskinan dinilai menimbulkan dampak negatif terhadap pertumbuhan ekonomi. Kemiskinan dapat menciptakan tindak kriminalitas sekaligus cermin berbagai dampak negatif ekonomi yang tidak bisa diantisipasi oleh negara.

6. keseimbangan pembayaran. Keseimbangan pembayaran umumnya berisi rekaman transaksi internasional suatu negara yang dilakukan oleh pemerintah, perusahaan maupun individu-individu. Balance of Payments (BOP) terdiri dari dua hal yakni current account dan capital account.

Diriview dari:

Wild, John J, Wild, Kenneth L., & Han, Jerry C.Y. 2008. International Business: The Challenges of Globalization. New Jersey: Pearson Practice Hall

3 & 4 PERDAGANGAN INTERNASIONAL I DAN II

-         Perdagangan internasional merupakan tempat di mana konsumen membeli barang dari produsen dari satu negara ke negara lain.

-         Aktivitas perdagangan internasional meliputi sekluruh kegiatan ekonomi global → Pelaku: aktor negara hingga nonegara.

-          Negara mendapatkan keuntungan berupa kenaikan pendapatan perkapita sekaligus pendapatan produk domestik (GDP)

-          Perdagangan internasional memperkenankan negara melakukan spesialisasi industri→  mengefektifkan, mengefisienkan sumber daya alamnya.

-          Bagi liberalisme: perdagangan bebas merupakan momen penting untuk pertumbuhan ekonomi. Akan tetapi, beberapa negara melihat konteks perdagangan internasional dengan konsep sebaliknya: cenderung membatasi perdagangan internasional dengan proteksionisme terhadap banjir impor, termasuk tarif import, kuota impor, antidumping, dan lainnya.

-          Globalisasi diyakini menguntungkan untuk meningkatkan ekonomi suatu negara.

-          apa yang membuat negara berkenan untuk melakukan perdagangan? Berikut penjelasannya → Perdagangan antar negara sudah merupakan bagian sejarah dunia → pertukaran kuda, teh dan budak antara China dan beebrapa daerah di Asia dan Eropa → Orang-orang ekonomi beranggapan bahwa perdangan terjadi secara natural ketika negara-negara menspesialisasikan industrinya.

-          Teori ekonomi menyatakan bahwa keuntungan komparatif di masing-masing era spesialisasi membuat negara semakin untung→ teori keuntungan komparatif, James Harrigan dan Egon Zakrajsek.

-          Apa itu perdagangan internasional: Transaksi perdagangan produsen-konsumen antarnegara (Jeff Borland, 2008), “Trading accross borders” (Donald E Ball, 2004)

-          Mengapa butuh Perdagangan?

  1. Produsen membutuhkan konsumen untuk membeli barang produksinya.
  2. Konsumen membutuhkan produsen untuk memenuhi kebutuhannya.
  3. Perbedaan endowment resourches
  4. Karena proses saling membutuhkan
  5. Perdagangan Internasional terjadi karena suatu negara tidak dapat memenuhi kebutuhan masyarakatnya sendiri
  6. Alasan Hubungan Antar Negara Dalam Pola Perdagangan (klasik): memperoleh strategi atau tujuan militer, mendapatkan tanah baru, dan bahkan dalam upaya menyebarkan pengaruh agama. (Jeff Borland, 2008)

-          Dasar Perkembangan Free Trade

  1. absolute advantage atau keuntungan absolut, efisiensi produksi melalui spesialisasi atas barang atau jasa akan menghasilkan harga produksi yang lebih murah dari pada kompetitor, sehingga keuntungan yang dapat diperoleh secara maksimal. (Adam Smith)
  2. keuntungan komparatif atau comparative advantage, yaitu negara masih dapat memperoleh keuntungan meskipun kompetitor mampu menghasilkan harga yang lebih murah. (David Ricardo )

-          Manfaat Fair Trade:

  1. Fair and stable prices
  2. Extra income
  3. Environmental stuff
  4. Stronger position in world markets
  5. Closer links between consumers and producers

-          Peran Negara dalam Perdagangan Internasional:

  1. Liberalis (Adam Smith) à tidak ada. Pasar sebebas-bebasnya! → Contoh kebijakan: monetaris model
  2. Neoliberalis (Keynes) à regulator, kontrol, pengawasan →  ISI (Import substitution industrialization)

REFERENSI

Borland, Jeff. 2008. ‘Internasional Trade’ dalam Microeconomics Case Studies and Application. Melbourne: Cengage Learning Australia

5. SISTEM KEUANGAN INTERNASIONAL (1)

- Fungsi Uang: 1 alat tukar, 2 sebagai store of value, dan 3 sebagai unit dalam akuntansi (Sobel, 2009: 263).

- beberapa cara dalam pengukuran suplai uang yaitu pertama,

1. M1 Money Supply (Sobel, 2009: 265), di mana dalam suatu pasar, uang tidak selalu digunakan sebagai alat tukar langsung untuk membeli barang atau jasa. Cek deposit adalah bentuk lain dari uang yang bisa digunakan untuk melakukan transaksi. Cek deposit adalah suatu alat pengganti sementara dari uang. Terdapat dua macam cek deposit yaitu unlimited deposit dan limited deposit. Jadi dalam pengukuran M1 terkait dalam tiga hal: suplai uang yang tersirkulasi saat ini, cek deposit, dan traveler’s check.

2. broader M2 money supply, yang terdiri M1 ditambah dengan saving deposit, time deposit kurang dari $100,000, dan money market mutual fund. Kemudian satu lagi inovasi yang ditemukan dalam mempermudah transaksi adalah kartu kredit – ketersediaan uang berdasarkan pinjaman.

- pentingnya Bisnis perbankan: Alokasi yang efisien yang dilakukan oleh bank untuk dana investasi merupakan sumber penting dalam pertumbuhan ekonomi. Oleh karena itu, pengawasan terhadap para peminjam dana harus dilakukan dengan benar oleh pihak bank, agar tidak terjadi kerugian yang akan ditanggung oleh bank tersebut.

- Sistem perbankan saat ini hampir sama dengan sistem goldsmith – yang memperluas penyebaran mata uangnya melalui pinjaman. Di Amerika misalnya, saat ini ia menggunakan sistem fractional reserve bank yang memperbolehkan bank menyimpan kurang dari 100% deposit mereka untuk digunakan dalam bentuk required reserve – vault cash dan lainnya.

- Industri perbankan juga memiliki perbedaan dengan sistem goldsmiths, diantaranya adalah aksi bank-bank individual itu, saat ini, diatur oleh bank sentral. Bank sentral diharuskan untuk mengikuti kebijakan yang dibuat untuk memajukan ekonomi yang sehat. Jika suatu bank gagal dalam melaksanakan kegiatannya, maka yang dirugikan tidak hanya pemilik bank dan pegawainya saja, namun juga para debitor yang terlibat dalam kegiatan bank tersebut. Untuk mengatasi kegagalan bank tersebut, pada tahun 1930an dibentuk FDIC (Federal Deposit Insurance Corporation), di mana para nasabah akan mendapatkan garansi dari transaksi yang dilakukan apabila bank tersebut mengalami kegagalan. Akhirnya, kegagalan bank pun jarang ditemui lagi.

- Keberadaan jumlah uang di sebagian besar negara biasanya dikontrol terutama oleh pemerintah lewat bank pusat. Tujuan utamanya adalah untuk meregulasi suplai uang dan menyediakan kebijakan iklim moneter yang terbaik bagi seluruh perekonomian. Pusat dari penciptaan kebijakan adalah – biasa disebut dengan – board of governors. Ia menyediakan aturan dan regulasi yang mempengaruhi di segala insttusi deposit. Diciptakan pula federal reserve district bank yang bertanggung jawab dalam memonitori bank komersial di daerah masing-masing.

- Salah satu fungsi bank sentral khususnya di Amerika Serikat adalah meregulasi arus uang di dalam negeri, karena itu, The Fed memiliki The Federal Open Market Committee sebagai komite pelaksana tata regulasi tersebut. Komite ini yang merumuskan kebijakan yang diambil bank sentral, apakah menjual atau membeli obligasi negara sebagai upaya mengatur arus uang. Karena besarnya pengaruh kebijakan yang diambil, komite ini terdiri dari 7 anggota Board of Governors, presiden dari bank sentral di distrik New York, dan 4 dari 11 presiden di distrik lain.

- Bank sentral ini harus bebas dari kepentingan, misalnya di AS, dengan cara: pertama, panjangnya masa tugas pejabat bank yang mengharuskan pejabat bebas dari tekanan politik. Kedua, setiap pejabat baru ditunjuk dalam masa 2 tahunan dan melampaui masa kepresidenan, sehingga The Fed memiliki wewenang sendiri dalam memutuskan. Ketiga, The Fed mampu menghasilkan aset sendiri tanpa bergantung alokasi dari budget pemerintah. Keempat, The Fed terbebas dari pemeriksaan audit dari General Accounting Office. Di Jepang, Inggris, dan Kanada, peran bank sentral juga terbebas dari pengaruh eksekutif dan legislatif di dalamnya. Akan tetapi, di negara-negara seperti Amerika Latin bahkan Indonesia sendiri, kebijakan politis elit seringkali mempengaruhi secara langsung kebijakan yang diambil bank sentral.

- Bagaimanakan Fed megatur suplai uang? Ada tiga cara: pertama melalui reserve requirement, open market operations – jual beli obligasi, dan yang ketiga adalah discount rate and federal fund ratepembayaran bunga pinjaman serta pengaturan jumlah uang yang beredar dengan memainkan tingkat bunga bank sentral terhadap bank umum. Bank umum terkadang mengalami kekurangan uang sehingga harus meminjam ke bank sentral. Untuk membuat jumlah uang bertambah, pemerintah menurunkan tingkat bunga bank sentral, serta sebaliknya menaikkan tingkat bunga demi membuat uang yang beredar berkurang. Peminjaman uang kepada bank sentral sifatnya hanyalah sementara.

- Perubahan nature of money saat ini bergerak menuju kepada penggunaan mata uang yang lebih sedikit. Beberapa negara Amerika mulai mengadopsi mata uang dollar AS, beberapa negara Eropa mulai mengadopsi Euro, dan negara-negara Asia semakin bergerak ke mata uang dominan Yen Jepang dan Yuan milik Cina. Dengan demikian perlahan-lahan dunia akan menciptakan harga yang lebih stabil, dan semakin mereduksi cost transaksi. Namun keburukannya, ia juga mereduksi reliabilitas terhadap beragam pengukuran suplai uang dan juga mengaburkan meaning of money.

Diriview dari:

Sobel, Russell S. 2009. Understandng Economic: Money and Banking System. Mason: South Western Cengage Learning

Keyword:

APA ITU UANG?

ž  Uang sebagai medium of exchange

ž  Uang sebagai store of value

ž  uang sebagai unit of account

BAGAIMANA SUPLAI UANG MEMPENGARUHI VALUE-NYA?

Keberadaan jumlah uang dikontrol terutama oleh pemerintah lewat bank pusat.

BAGAIMANA SUPLAI UANG DIUKUR

ž  Suplai uang M1

  1. Sirkulasi sekarang
  2. Deposit yang tersedia dalam institusi deposit
  3. Traveler’s check

ž  Suplai uang Broader M2

  1. Deposit yang disimpan
  2. Time deposit dalam institusi
  3. Money market mutual fund shares

ž  Kartu Kredit vs Uang à uang yg didapat dari pinjaman

BISNIS PERBANKAN

ž  Sistem perbankan merupakan komponen penting dalam pasar modal.

ž  Kegiatan yang dilakukan : membantu orang- orang yang ingin menyimpan uangnya ataupun membantu orang yang ingin meminjam dana untuk melakukan investasi pada suatu perusahaan.

ž  Sumber utama pendapatan bank berasal dari pinjaman yang mereka lakukan.

ž  Alokasi yang efisien yang dilakukan oleh bank untuk dana investasi merupakan sumber penting dalam pertumbuhan ekonomi.

FRACTINAL RESERVE BANKING

ž  Secara prinsip sistem perbankan saat ini sama dengan sistem goldsmith

ž  US saat ini menggunakan sistem fractional reserve banking à sistem yang memperbolehkan bank untuk menyimpan kurang dari 100% deposit mereka dalam bentuk vault cash dan lainnya à required reserved

BANK RUNS, BANK FAILURES & INSURANSI DEPOSIT

ž  Bank runs à kepanikan nasabah menarik uangnya karena kehilangan kepercayaan à sementara dalam fractional reserve, jumlah uang tidak memadai à Bank Failure

ž   Bank Failure di AS 1920-1930 à federal Deposit Insurance Corporation (FDIC) 1934 à menjamin deposit nasabah bank sampai batas 100.000 $ per akun à menambah kepercayaan

ž  Bank Failure sekarang jarang terjadi

FEDERAL RESERVE SYSTEM

ž  Structure of the Fed

ž  The Board of Governos

ž  The Federal Reserve District Banks

ž  The Federal Open market Committee

ž  The independence of the Fed

BAGAIMANA FED MENGKONTROL SUPLAI UANG

ž  Mengadakan reserve requirement

ž  Membeli dan menjual U.S Security di Open market

ž  Mengatur suku bunga  à discount rate dan federal funds rate

PERUBAHAN NATURE OF MONEY DI SELURUH DUNIA

ž  Euro à januari 2002, terdapat satu pertukaran mata uang antarnegara (12 negara) Eropa yang disebut Euro à diatur oleh bak sentral European Central Bank (ECB) à ECB juga mengatur kebijakan antar12 negara tersebut à tujuannya untuk mereduksi cost transaksi antarnegara, memciptakan harga yang stabil, dan men-challenge penggunaan dollar dan yen

ž  Pergerakan menuju currencies yang lebih sedikit à sepertinya dollar AS akan menjadi mata uang dominan di Amerika, Euro di Eropa, yen jepang dan yuan cina di Asia

Sobel, Russel S. 2009. Understanding Economic. Mason: South Western Cengage Learning

SISTEM KEUANGAN INTERNASIONAL (2)

-          Pasar uang bekerja dalam menyediakan mekanisme bagi mereka yang hendak meminjam atau mengivestasikan uang secara efisien[2]. Pasar uang bekerja dengan membantu individual maupun institusi untuk meminjam uang yang individual dan institusi lain berkenan meminjamkan[3]. Institusi tersebut dapat berbentuk bank komersial dan bank investasi.

-          Pasar uang bekerja sebagai gabungan peminjam dan pemberi pinjaman dalam pasar keuangan nasional yang berbeda.

-          Pebisnis umumnya tertarik mencermati nilai tukar dalam kurun waktu tertentu karena perubahan nilai tukar mempengaruhi secara langsung transaksi internasional[4].

-          Pasar finansial bergerak secara fenomenal sejak 1980 yang mana ideologi dominan yang berkembang saat itu berasal dari pemikiran Adam Smith tentang “invisible hand”

-          Wallstreet, Nasdaq, dan The City di London menjadi sentralisasi bursa saham dunia yang bergerak sangat dinamis. Angka transaksi uang yang beredar di pasar modal jauh lebih besar ketimbang yang berputar di masyarakat. Padahal, aset finansial hanya klaim di atas kertas atas aset riil dan aset produktif.

-          Pergerakannya yang sangat dinamis dengan ekuitas yang melebihi suplai uang yang beredar di masyarakat mengakibatkan transaksi antara konsumen dan produsen dalam dunia investasi mustahil terkontrol. Baik negara maupun organisasi internasional institusi moneter tidak memiliki kuasa dan wewenang untuk mengendalikan fluktuasi bursa saham → Greenspan (2007): terdapat keterbatasan regulasi karena regulator sering tidak mengetahui sumber krisis dan tidak tahu menahu. Bahkan bank Sentral Amerika, The Fed, tidak mampu menjelaskan apabila terjadi anomali pasar. Upaya mengatasi problema yang melanda sering dilakukan dengan data tidak lengkap, tidak akurat, tidak logis, dan tidak kuat secara hukum[5].

-          Kerja sama regulasi global dibutuhkan sebagai upaya antisipasi dampak negatif lalu lintas pasar global. Di sinilah urgensi peran pemerintah dan otoritas moneter guna memonitor dan mengendalikan pasar finansial global—seperti menetapkan capital control—untuk mendukung kebijakan ekonomi global[6].

Cahyono, Imam. 2008. Misteri Globalisasi Finansial. Kompas. [Online] 02 Januari 2008. [Dikutip: 25 Oktober 2010.] http://www.kompas.com/kompascetak/read.php?cnt=.kompascetak.xml.2008.02.01..

John D. Daniels, Lee H. radebaugh,, and Daniel P. Sullivan. 2007. International Business: environment and Operations. New Jersey : Pearson Prentice Hall, 2007.

 

7. PENANAMAN MODAL ASING LANGSUNG

Apakah FDI itu?

-       FDI (Foreign Direct Investment) atau investasi langsung luar negeri → sebuah perusahaan dari satu negara menanamkan modalnya dalam jangka panjang ke sebuah perusahaan di negara lain → perusahaan yang ada di negara asal (biasa disebut ‘home country’) bisa mengendalikan perusahaan yang ada di negara tujuan investasi (biasa disebut ‘host country’) baik sebagian atau seluruhnya→ Caranya dengan si penanam modal membeli perusahaan di luar negeri yang sudah ada atau menyediakan modal untuk membangun perusahaan baru di sana atau membeli sahamnya sekurangnya 10%.

-       FDI terkait dengan investasi aset-aset produktif, misalnya pembelian atau konstruksi sebuah pabrik, pembelian tanah, peralatan atau bangunan; atau konstruksi peralatan atau bangunan yang baru yang dilakukan oleh perusahaan asing. Penanaman kembali modal (reinvestment) dari pendapatan perusahaan dan penyediaan pinjaman jangka pendek dan panjang antara perusahaan induk dan perusahaan anak atau afiliasinya juga dikategorikan sebagai investasi langsung. Kini mulai muncul corak-corak baru dalam FDI seperti pemberian lisensi atas penggunaan teknologi tinggi.

-       Sebagian besar FDI ini merupakan kepemilikan penuh atau hampir penuh dari sebuah perusahaan. Termasuk juga perusahaan-perusahaan yang dimiliki bersama (joint ventures) dan aliansi strategis dengan perusahaan-perusahaan lokal. Joint ventures yang melibatkan tiga pihak atau lebih biasanya disebut sindikasi (atau ‘syndicates’) dan biasanya dibentuk untuk proyek tertentu seperti konstruksi skala luas atau proyek pekerjaan umum yang melibatkan dan membutuhkan berbagai jenis keahlian dan sumberdaya. Istilah FDI biasanya tidak mencakup investasi asing di bursa saham.

-       FDI memainkan peran penting dalam proses internasionalisasi bisnis. Perubahan yang sangat besar telah terjadi baik dari segi ukuran, cakupan, dan metode FDI dalam dekade terakhir. Perubahan-perubahan ini terjadi karena perkembangan teknologi, pengurangan pembatasan bagi investasi asing dan akuisisi di banyak negara, serta deregulasi dan privatisasi di berbagai industri. Berkembangnya sistem teknologi informasi serta komunikasi global yang makin murah memungkinkan manajemen investasi asing dilakukan dengan jauh lebih mudah.

-       Pengaruh terbesar FDI ini ada di negara-negara berkembang, dimana aliran FDI telah meningkat pesat dari rata-rata di bawah $10 milyar pada tahun 1970an menjadi lebih dari $200 milyar pada tahun 1999. Jumlah FDI di ‘Dunia Ketiga’ kini mencapai hampir seperempat FDI global. Di antara negara-negara lainnya, Cina adalah negara tuan rumah terbesar bagi FDI. Perusahaan-perusahaan multinasional besar dan konglomerat-konglomerat masih menjadi bagian terbesar dari FDI (sumber: UNCTAD). Negara-negara ASEAN dengan penghasilan menengah seperti Malaysia, Thailand, Indonesia, dan Filipina kini tengah menghadapi tantangan utama untuk meningkatkan daya saing dan daya tarik mereka sebagai tuan rumah bagi FDI dalam lingkungan ekonomi yang berubah dengan pesat.

-       Patut dicatat pula bahwa dana Bantuan Pembangunan Luar Negeri atau ODA (Overseas Development Assistance) dulunya adalah sumber utama dana pembangunan di banyak negara berkembang. Namun, pada tahun 2000 total ODA hanya tinggal setengah dari jumlahnya sebelum tahun 1990an. Pembiayaan swasta (privat), melalui FDI, telah menjadi sumber terbesar dari dana ‘pembangunan’. Peningkatan luarbiasa FDI ini adalah akibat dari pertumbuhan pesat perusahaan-perusahaan transnasional dalam ekonomi global. Dari hanya sekitar 7.000 perusahaan multinasional di tahun 1960, angka itu melejit melampaui 63.000 dengan sekitar 690.000 afiliasi atau cabang menjelang akhir tahun 1990an. Lebih dari 75% dari perusahaan-perusahaan ini berasal dari negara maju di Eropa Barat dan Amerika Utara, sementara perusahaan-perusahaan subsider(cabang)nya beroperasi di negara-negara berkembang seperti Indonesia. Inilah gambaran sektor privat yang diperkirakan menguasai lebih dari duapertiga perdagangan internasional.

-       Pemerintah sangat memberi perhatiaan pada FDI karena aliran investasi masuk dan keluar dari negara mereka bisa mempunyai akibat yang signifikan. Para ekonom menganggap FDI sebagai salah satu pendorong pertumbuhan ekonomi karena memberi kontribusi pada ukuran-ukuran ekonomi nasional seperti Produk Domestik Bruto (PDB/GDP), Gross Fixed Capital Formation (GFCF, total investasi dalam ekonomi negara tuan rumah) dan saldo pembayaran. Mereka juga berpendapat bahwa FDI mendorong pembangunan karena-bagi negara tuan rumah atau perusahaan lokal yang menerima investasi itu-FDI menjadi sumber tumbuhnya teknologi, proses, produk sistem organisasi, dan ketrampilan manajemen yang baru. Lebih lanjut, FDI juga membuka pasar dan jalur pemasaran yang baru bagi perusahaan, fasilitas produksi yang lebih murah dan akses pada teknologi, produk, ketrampilan, dan pendanaan yang baru.

-       Mereka yang menentang mencatat bahwa FDI memberi makna lain pada ungkapan “Berpikir global, bertindak lokal” (‘Think globally, act locally’). Mereka berpendapat bahwa FDI lebih menguntungkan negara asal (negara dari mana investasi itu ditanamkan) daripada negara tuan rumah (negara tujuan dimana investasi itu ditanamkan). Konglomerat-konglomerat multinasional dapat menggunakan kekuasaan mereka yang besar terhadap ekonomi-ekonomi yang lebih kecil dan lebih lemah. Mereka bisa menghabisi kompetisi lokal. FDI bisa membuat sebuah pabrik meningkatkan kapasitas produksi totalnya (seringkali juga dengan biaya yang jauh lebih rendah daripada di negara asalnya); membawa produknya lebih dekat ke pasar-pasar luar negeri; membuka kantor-kantor penjualan lokal di negara tuan rumah; berkelit dari berbagai ‘hambatan dagang’ (trade barriers) dan menghindari tekanan pemerintah luar negeri pada produksi lokal.

-       Lobi melawan FDI bisa dilakukan para pengkampanye dengan membuat perusahaan-perusahaan tersebut tahu risiko finansial atas investasi mereka dalam produksi yang tidak berkelanjutan secara sosial maupun lingkungan. Sejarah konflik atau catatan buruk pelanggaran hak asasi manusia di daerah tertentu negara tuan rumah dimana investasi asing hendak ditujukan membuat perusahaan lebih sulit mendapatkan jaminan atas risiko politik. Perusahaan multinasional seharusnya juga ditekan untuk mengadaptasi standar internasional tertinggi atas hak-hak masyarakat adat, dampak lingkungan, dan syarat-syarat kesehatan dan keselamatan kerja. Inisiatif-inisiatif PBB seperti Global Compact, Equator Principles, dan prinsip-prinsip tatakelola korporasi dari OECD bisa digunakan untuk membuat bank dan agen pembiayaan lain menghentikan pembiayaan investasi yang secara sosial atau lingkungan merusak. Banyak perusahaan lain kini mempunyai panduan tanggung jawab sosial korporasi-nya masing-masing. Aksi langsung di dalam dan di seputar berlangsungnya RUT (Rapat Umum Tahunan) pemegang saham perusahaan-perusahaan internasional juga terbukti menjadi alat yang efektif untuk menghasilkan publisitas.

-       Salah satu kemungkinan mempengaruhi investasi asing adalah dengan mendorong investasi etis atau investasi yang bertanggungjawab secara sosial, yang biasa disebut SRI (Socially Responsible Investment). Walaupun belum menjadi arus utama, pasar SRI telah meningkat secara berarti. Di Inggris, SRI telah mencapai £7,1 milyar. Di AS, skema investasi etis telah mencapai US$153 milyar menjelang tahun 2000, sebuah peningkatan pesat dari US$12 milyar pada tahun 1995. Menurut laporan, sekitar 12% dari investasi total yang dikelola di AS adalah bagian dari skema SRI.

Sumber:
www.going-global.com/articles/understanding_foreign_direct_investment.htm dan

www.jubileedebtcampaign.org.uk/

 


[1] Anonim. Environmental Economic. (unknown: unknown, 2010), p.xx.

[2] John D Daniels, et.al, (2007), International Business: Environment and Operations, Prentice hall, New Jersey, p. 248

[3] Ibid., p. 248

[4] Ibid., p. 269

[5] Ibid., Imam, (2008), Misteri Globalisasi Finansial

[6] Ibid., Imam, (2008), Misteri Globalisasi Finansial

 

MENCIPTAKAN KEPUTUSAN ETIS DAN MENATA TANGGUNG JAWAB BISNIS SOSIAL

 

Devania Anesya/ 070810535

 

British Pretoleum adalah perusahaan pertama yang pertama kali mengimplementasikan tanggung jawab sosial dengan cara membangun komitmen untuk menyelamatkan lingkungan hidup. Lord Jon Browne, sebagai pemimpin perusahaan terbesar di dunia nomor dua, masuk ke dalam jajaran 100 orang paling berpengaruh versi majalah Times Inggris.

Jadi, apakah yang dimaksud dengan CSR? Adalah singkatan dari Corporate Social Responsibility yang mana merupakan salah satu bentuk tanggung jawab perusahaan dengan cara melayani lingkungan hidup walau seringkali diartikan sebagai salah satu bentuk sarana promosi baru di abad 21.

Tanggung jawab sosial adalah kepedulian perusahaan terhadap suatu isu sosial atau lingkungan. Jika pada dasarnya perusahaan hanya berdasar pada tanggung jawab ekonomi dan hukum, ada tanggung jawab lain di atas itu semua, yakni tanggung jawab etis (perusahaan diharapkan mampu menentukan mana yang patut dan tidak patut dikerjakan) dan philanthropic responsibiliter/ tanggung jawab kemanusiaan (yakni tanggung jawab perusahaan terhadap isu-isu kemanusiaan, misalnya bencana alam).

Dalam tanggung jawab sosial, terdapat tiga hasil: illegal dan tidak bertanggung jawab, tidak bertanggung jawab namun legal, dan legal sekaligus bertanggung jawab. Dalam illegal dan bertanggung jawab, adalah ketika suatu tindakan melanggar hukum serta merugikan lingkungan sekitar, misalnya tower telkomsel yang dibangun di tengah-tengah pemukiman dan menyebabkan beberapa penduduk sekitar mengalami kerusakan fisik/ mental adalah contoh dari tindakan ini. Pemerintah lah yang menentukan apa tindakannya masuk dalam kategori legal atau tidak, dan kemudian mengusut permasalahan. Dalam kategori kedua, tidak bertanggung jawab namun legal, contohnya dapat kita lihat dalam sponsor-sponsor rokok di Indonesia yang menyeponsori banyak acara penting di Indonesia seperti olahraga, konser, dan lain sebagainya, bahkan sponsor ditayangkan melalui pesawat televisi di jam umumnya anak-anak melihat televisi. Dan yang terakhir, legal dan bertanggung jawab, adalah apa yang diharapkan, contoh realnya adalaha Aqua yang sengaja menjual produknya lebih mahal namun konsumen diberitahu bahwa dalam setiap botol produk yang dibelinya ia turut menyumbang satu liter air bersih bagi penduduk yang kesusahan.

Kemudian apa saja pertanggung jawaban yang harus diberikan oleh stakeholder (adalah kepada siapa perusahaan harus bertanggung jawab, termasuk di dalamnya pegawai, konsumen, general public, dan investor)? Pertanggung jawab kepada pegawainya adalah dengan cara memastikan mereka mendapatkan pekerjaan dan menikmati hasilnya, di beberapa firma yang baik, mereka bahkan dibebaskan untuk mengembangkan diri dengan memberikan inovatif-inovatif kepada perusahaan. Yang kedua adalah pertanggung jawaban ke kostumer, yakni dengan cara memuaskan mereka dengan produk dan jasa layanan perusahaan, menepati janji dan bersikap jujur. Yang ketiga adalah pertanggungjawaban ke masyarakat. Ada beberapa cara dalam menjalani tingkah laku ini, misal dengan membayar pajak tepat waktu sebagai warga negara yang baik, turut dalam perlindungan lingkungan, (misal Toyota yang mengembangkan renewable energy dalam produk terbarunya agar lebih ramah lingkungan), serta turut berkontribusi dalam berbagai isu kemanusiaan melalui dana, bantuan, produk, dan sukarelawan. Pada Agustus 2005 ketika Badai Katrina mengamuk, Abbot, Alcoa, british Petroleum, Dell, Disney, Intel, Motorolla, UPS, Walgreens, dll berkontribusi $100 juta.

Yang terakhir adalah bentuk pertanggungjawaban perusahaan ke investor. Adanya investasi sosial yang mana membatasi investasi keamanan pada perusahaan yang diyakini investor terkait tanggung jawab etis dan sosial mereka. Biasanya mereka mengurangi dana investasi pada perusahaan yang memiliki sejarah penyebab polutan, tembakau, persenjataan, dan lain sebagainya terkait masalah etika. Beberapa batasan juga diberikan pada pemerintah, biasanya ketika pemerintah melakukan pendanaan pada perusahaan persenjataan. Namun beberapa investor lainnya merasa bebas membeli keamanan negaranya.

Akhir kata, CSR adalah sesuatu yang memiliki berbagai pemahaman dalam menjalankan dan mencapai tujuannya. Beberapa mengatakan itu adalah suatu bentuk kepedulian, beberapa itu adalah suatu bentuk pengembalian, dan sisanya menganggap CSR tak lebih dari salah satu bentuk ajang promosi yang efektif. Di luar itu semua, penulis berfikir cukup sederhana bahwasanya CSR adalah apa yang harus dan seharusnya diberikkan perusahaan kepada lingkungan karena perusahaan (dalam tindakan pertanggungjawaban ekonominya) turut menyumbang dalam berbagai masalah kerusakaan lingkungan yang merugikan masyarakat pada umumnya.

 

Sumber:

McDaniels, et.al. 2008. Making Ethical Decisions and Managing a Socially Responsible Business. Mason: Thomson South Western

 

ORGANISASI DAN MANAJEMEN KORPORASI

 

Devania Anesya/ 070810535

 

Manajemen adalah proses mengarahkan pada perkembangan, perbaikan, dan alokasi sumber daya untuk mencapai tujuan organisasi. Manajer adalah orang-orang yang bertanggung jawab bagi perkembangan dan dalam melaksanakan proses manajemen. Ketakutan utama fungsi manajer adalah merencanakan, mengorganisasi, memimpin, dan mengontrol. Dengan menggunakan empat fungsi tersebut, manajer akan bekerja untuk meningkatkan efisiensi dan keefektifan pegawai mereka, proses, proyek, dan organisasi secara keseluruhan.

Perencanaan adalah menentukan apa yang butuh untuk dilakukan, mengidentifikasi kapan dan bagaimana rencana dijalankan, dan menentukan siapa yang harus melakukannya. Manajer menggunakan empat macam tipe perencanaan: strategis, taktikal, operasional, dan perencanaan berkelanjutan. Perencanaan strategis terkait penciptaan perencanaan jangka panjang (1-5 tahun), tujuan ke luar, dan menentukan kebutuhan-kebutuhan sumber daya untuk mencapai tujuan. Perencanaan taktikal adalah memiliki jangka waktu yang lebih pendek (kurang dari setahun) dan tujuannya lebih objektif yang mendukung tujuan strategis yang lebih strategis. Perencanaan operasional menciptakan standar spesifik, metode, kebijakan, dan prosedur yang digunakan dalam area fungsional yang spesifik organisasi. Perencanaan berkelanjutan mengidentifikasi tindakan alternatif dari situasi yang tidak biasa atau krisis.

Lalu apakah fungsi utama manajer dalam sebuah organisasi? Organisasi terkait mengkoordinasi dan mengalokasi sebuah sumber daya firma untuk melaksanakan perencanaan. Di dalamnya meliputi pengembangan sturktur bagi orang-orang, posisi, departemen, dan aktivitas firma. Fungsi ini terpenuhi dengan memisahkan/ menentukan tugas divisi pekerja, mengelompokkan kerja, dan pegawai.

Manajer memiliki beberapa tipe kepemimpinan dalam sebuah organisasi yang mana sikapnya berisi nilai, dan standar perilaku yang mana bisa dibedakan dari satu organisasi dengan organisasi lainnya. dalam peran sebagai informal, manajer juga berperan sebagai pengumpul informasi, distributor informasi, atau juru bicara perusahaan. Sebuah peran interpersonal manajer adalah berdasar pada beragam interaksi dengan orang-orang. Pada beberapa situasi, manajer bahkan dibutuhkan untuk berperan sebagai sosok pemimpin dalam sebuah perusahaan.

Keahlian dalam manajerial dapat dipisahkan dalam tiga kategori dasar: teknikal, hubungan antarmanusia, dan keahlian konseptual. Area pengetahuan yang terspesialisasi, terkuasai, dan kemampuan untuk mengetahui bagaimana suatu berjalan adalah keahlian teknikal. Keahlian hubungan antarmanusia di dalamnya termasuk keahlian untuk memahami tingkah laku manusia, berkomunikasi secara efektif, dan memotivasi orang lain agar berhasil mencapai tujuan tertentu. Keahlian konseptual adalah kemampuan untuk melihat organisasi secara keseluruhan, memahami bagaimana setiap bagian dalam perusahaan saling bergantung satu sama lainnya, dan mengerti bagaimana organisasi berhubungan dengan lingkungan eksteralnya.

 

 

Sumber:

McDaniels, et.al. 2008. The Future of Business. Mason: Thomson South Western

 

NEW ZEALAND AND ITS EXERNAL RELATIONS (A BRIEF)

 

Devania Anesya/ 070810535

In the early days of the New Zealand colony it was accepted readily enough that the British Government should continue to be responsible for external trade and foreign relations. In 1869 and 1870 colonial irritation with British policy over Maori affairs and the conduct of the Maori Wars led to mutters of independence, separation, and even of neutrality in a war caused by British policy. Imperial concessions in 1870, however, were a sign of increasing British sympathy for its colonial connections, and marked the beginning of a period during which New Zealand loyalty to the “motherland” was unquestioned. In the expansive 1870s New Zealand leaders began to look with interest on the Pacific Islands to the north.

Economic growth in New Zealand has been underpinned by exports, especially of food and fibre products. While more than 80 percent of NZ exports are accounted for by firms in the manufacturing sector, nearly two-thirds of the exports are based on food, fibre and forestry products[1].

Talk about market in NZ, because shoppers who spend more on groceries each week are also more loyal to their main store, it is logical for supermarkets to attempt to increase store loyalty. However, despite these attempts, the proportion of high loyalty customers in New Zealand supermarkets is virtually the same, once market share is taken into account.

New Zealand supports efforts to strengthen the rule of law at the international level, including through an effective network of multilateral legal instruments to combat terrorism. It is therefore appropriate that we move now to become party to International Convention, which builds upon a group of first-generation international anti‑terrorism instruments which New Zealand has already ratified. Those were more situation-specific multilateral treaties (eg. hostage-taking, hijacking) whereas this Terrorist Financing Convention is a second-generation treaty that deals principally with the forms of terrorism covered by these earlier treaties and targets the financing of terrorist acts covered by them[2].

Geographically, New Zealand is isolated from the rest of the world. This is why then much of New Zealand’s foreign policy is focused on the Pacific region, particularly Polynesia and Melanesia. Just like Australia, New Zealand gazed Pacific region as their strategic importance-territory. Pacific region has strategic sea route for New Zealand and the islands located in this region are protective shield for their defense.[3] This is why then since New Zealand became one of British colony; New Zealand is ambitious to take control in Pacific region. Since then, New Zealand plays an active role in Pacific affairs; though New Zealand policies towards the islands have evolved markedly from the colonial period to the present.

In 1971, New Zealand joined the other independent and self-governing states of the South Pacific to establish the South Pacific Forum (now known as the Pacific Islands Forum), which meets annually at the “heads of government” level. Through SPF, New Zealand played a key role in setting up a nuclear-weapon-free zone in the region. Looking at the history, the states in the Pacific region became concerned with nuclear weapon issues following the nuclear detonations over Hiroshima and Nagasaki, when the region became a testing ground for such weapons. The Pacific Island countries, besides being concerned with nuclear testing in their region and its vicinity, were also worried about the dumping of nuclear wastes at sea, fearing radioactive contamination of the marine environment. The SPF took up the issue in 1975 in response to a proposal by New Zealand calling for the setting up of a nuclear-weapon-free zone (NWFZ) in the region.[4]

Meanwhile, New Zealand’s role in the Pacific Islands’ trade has been that of a supplier of agricultural products, essential foods, and, more recently, manufactured consumer goods. In turn, the Pacific Islands have supplied New Zealand with tropical fruits, sugar, and copra.

One of agreement made by New Zealand and Pacific Island countries is Pacific Agreement on Closer Economic Relations or PACER for short. PACER is basically an agreement between Australia, New Zealand and 14 Pacific Island countries.[5] It was endorsed at the meeting of the Pacific Islands Forum in Nauru in 2001. PACER provides an initial trade agreement between Pacific Island countries and promised to initiate negotiations for free trade agreement with Australia and New Zealand by 2011.

In April 2008 New Zealand and China signed the New Zealand–China Free Trade Agreement (FTA) in Beijing. The two countries have also concluded an Environment Cooperation Agreement (ECA) and a Memorandum of Understanding on Labour Cooperation (MOU). Subject to ratification, the agreements are expected to enter into force by 1 October 2008.

The main values for New Zealand in entering into the FTA and associated instruments are:

  • Increased access for New Zealand trade and investment, which will contribute to growth, jobs and higher living standards
  • The framework the FTA establishes for resolving trade and investment issues that may arise in the future
  • The framework established by the MOU and the ECA for discussing and cooperating on labour and environment issues
  • The support the treaties give to New Zealand’s objective of broadening and deepening relations in Asia and with China in particular
  • The support the FTA gives to New Zealand’s wider trade policy interests in strengthening economic integration in the Asia-Pacific and multilaterally
  • The FTA’s assistance in raising the commercial profile for New Zealand companies in China.[6]

The FTA is expected to have an overall positive effect on the New Zealand economy, with gains to GDP, trade and welfare. The FTA is expected to deliver economic benefits through the removal of tariffs and the reduction of other impediments to bilateral trade and investment between New Zealand and China over time.

 

References:

Hamid, Zulkifli. 1996. Sistem Politik Pasifik Selatan. Jakarta: PT Dunia Pustaka Jaya

White Paper Our Future with Asia, 2007,  available on the MFAT website (www.mfat.govt.nz ) [accessed 27 Desember 2010]

Iyer, Kris. 2010. The Determinants of Firm-Level Export Intensity in New Zealand Agriculture and Forestry [online] available at http://www.eap-journal.com.au/archive/v40_i1_05-iyer.pdf [accessed 27 Desember 2010]

http://www.mfat.govt.nz/Treaties-and-International-Law/03-Treaty-making-process/National-Interest-Analyses/0-Supression-of-Financing-Terrorism.php [accessed 27 Desember 2010]

http://www.forumsec.org.fj/resources/uploads/attachments/documents/PACER.pdf ,[accessed on 25 December 2010]


[1] Kris Iyer. 2010. The Determinants of Firm-Level Export Intensity in New Zealand Agriculture and Forestry [online] available at http://www.eap-journal.com.au/archive/v40_i1_05-iyer.pdf [accessed 27 Desember 2010]

[2]Anon. 2010. International Convention for the Suppression of the Financing of Terrorism [online] available at http://www.mfat.govt.nz/Treaties-and-International-Law/03-Treaty-making-process/National-Interest-Analyses/0-Supression-of-Financing-Terrorism.php [accessed 27 Desember 2010]

[3] Zulkifli Hamid. 1996. Sistem Politik Pasifik Selatan. Jakarta: PT Dunia Pustaka Jaya

[4] Zulkifli Hamid. 1996. Sistem Politik Pasifik Selatan. Jakarta: PT Dunia Pustaka Jaya

[5] Anon, Pacific Agreement on Closer Economic Relations (PACER), [online] http://www.forumsec.org.fj/resources/uploads/attachments/documents/PACER.pdf ,accessed on 25 December 2010

[6] As outlined in the 2007 White Paper Our Future with Asia, the Government supports regional integration in Asia and sees it as a big opportunity for New Zealand’s economic transformation and for linking New Zealand’s growth to the growth of Asian economies. Our Future with Asia is available on the MFAT website (www.mfat.govt.nz).

 

UNDERSTANDING NEW ZEALAND: DOMESTIC POLITICS AND NATIONAL ECONOMY

 

Devania Anesya/ 070810535

New Zealand is an island country in the south-western Pacific Ocean comprising two main landmasses (the North Island and the South Island), and numerous smaller islands, most notably Stewart Island/Rakiura and the Chatham Islands. The indigenous Māori language name for New Zealand is Aotearoa, commonly translated as “land of the long white cloud”. The Realm of New Zealandalso includes the Cook Islands and Niue (self-governing but in free association); Tokelau; and the Ross Dependency (New Zealand’s territorial claim in Antarctica).

Domestic politics

New Zealand enjoys a parliamentary representative democratic monarchy that closely resembles the pattern of the Westminster system. Although it has no codified constitution, the Constitution Act 1986 is the principal formal statement of New Zealand’s constitutional structure. The constitution has been described as “largely unwritten” and a “mixture of statutes and constitutional convention (http://www.economist.com/countries/NewZealand/profile.cfm?folder=Profile-Political%20Forces).

Queen Elizabeth II is the head of state and is titled Queen of New Zealand under the Royal Titles Act 1974. She is represented by the Governor-General, whom she appoints on the exclusive advice of the Prime Minister   (http://www.royal.gov.uk/MonarchAndCommonwealth/NewZealand/TheQueensroleinNe). The current Governor-General is Anand Satyanand.

Though the head of the estate is Queen Elizabeth II, the actual power rests with the Prime minister who is assisted by a Cabinet that is drawn from an elected parliament. In practice the all the official business in run in the name of the queen. All the functions of the monarchy are carried out by the Governor – General who is appointed by the monarch as advised by the Prime Minister.

As there is no written constitution which is based on a mixture of various documents, the Treaty of Waitangi and constitutional conventions. The cabinet is the senior policy making body and is responsible to the parliament. The Governor General has been bestowed with the power to appoint and dismiss the Prime Minister. He can also dissolve the parliament.

New Zealand enjoys a unicameral legislature known as the House of Representatives. it is the system of mixed member proportional voting system that is prevalent in the country. The highest court on New Zealand is the Supreme Court of New Zealand. The High Courts deal with the civil and the criminal matters. There are also Appellate Courts.

The current Prime Minister is Helen Clark who is the leader of the Labour party and the leader of the opposition is National a party leader John Key.

National Economy

New Zealand is a modern and a prosperous country that has an estimated GDP of $101.685 billion. The developed economy of New Zealand has a high standard of living with GDP per capita estimated at $26,400 while Australian figures are $31,900.

The GDP of the country has been estimated at $26,400. The Human Development Index has ranked the country 20th in the world and it is 15th as rated by the Economist’s 2005.  New Zealand is heavily dependant on trade. Of the total agricultural produce New Zealand exports almost 20% of the whole. The principal exports include agriculture, horticulture, fishing and forestry.

Historically, New Zealand enjoyed a high standard of living which relied on its strong relationship with the United Kingdom, and the resulting stable market for its commodity exports. New Zealand’s economy was also built upon on a narrow range of primary products, such as wool, meat and dairy products. High demand for these products created sustained periods of economic prosperity, such as the New Zealand wool boom of 1951.

The country in its initial days experienced a high standard of living but when United Kingdom joined the European Community in 1973 the country saw a major crisis. Since 1984 there were major reforms introduced restructuring the entire economy. A sort of liberalized free economy became the order of the day. The tertiary sector is the largest sector in the country that is followed by the secondary sector. The primary sector comes at last contributing only 4.7%. The current economic objectives pursued b y the government is building a ‘knowledge economy’.

Since 1984, successive governments have engaged in major macroeconomic restructuring, transforming New Zealand from a highly protectionist and regulated economy to a liberalised free trade economy. These changes are commonly known as Rogernomics and Ruthanasia after Finance Ministers Roger Douglas and Ruth Richardson.

The current government’s economic objectives are centred on pursuing free-trade agreements and building a “knowledge economy”. On 7 April 2008, New Zealand and China signed the New Zealand China Free Trade Agreement, the first such agreement China has signed with a developed country (http://www.nzherald.co.nz/trade-deal-with-china/news/article.cfm?c_id=1501819&objectid=10502506&pnum=0.).

 

References:

“Queen and New Zealand”. The British Monarchy.http://www.royal.gov.uk/MonarchAndCommonwealth/NewZealand/NewZealand.aspx. Retrieved 20 Desember 2010

Fran O’Sullivan with NZPA (7 April 2008). “Trade agreement just the start – Clark”The New Zealand Heraldhttp://www.nzherald.co.nz/trade-deal-with-china/news/article.cfm?c_id=1501819&objectid=10502506&pnum=0. Retrieved 20 Deseber 2010.

http://www.economist.com/countries/NewZealand/profile.cfm?folder=Profile-Political%20Forces. Retrieved 20 Deseber 2010.

http://www.royal.gov.uk/MonarchAndCommonwealth/NewZealand/TheQueensroleinNe. Retrieved 20 Deseber 2010.

 

 

 

UNDERSTANDING NEW ZEALAND: SOCIETY, CULTURE, AND ECONOMY

 

Devania Anesya/ 070810535

New Zealand is an island country in the south-western Pacific Ocean comprising two main landmasses (the North Island and the South Island), and numerous smaller islands, most notably Stewart Island/Rakiura and the Chatham Islands. The indigenous Māori language name for New Zealand is Aotearoa, commonly translated as “land of the long white cloud”. The Realm of New Zealandalso includes the Cook Islands and Niue (self-governing but in free association); Tokelau; and the Ross Dependency (New Zealand’s territorial claim in Antarctica).

New Zealand is notable for its geographic isolation; it is situated about 2,000 kilometres (1,200 mi) southeast ofAustralia across the Tasman Sea, and its closest neighbours to the north are New Caledonia, Fiji andTonga. During its long isolation New Zealand developed a distinctive fauna dominated by birds, a number of which became extinct after the arrival of humans and the mammals they introduced.

The North and South Island are separated by Cook Strait, 20 km wide at its narrowest point. The total land area is 26.021 km2. The country extends more than 1,600 kilometres (990 mi) along its main, north-north-east axis, with approximately 15,134 km (9,404 mi) of coastline (The World Factbook, 2008).

The dramatic and varied landscape of New Zealand has made it a popular location for the production of television programmes and films, including the Lord of the Ringstrilogy and The Last Samurai. The South Island is the largest land mass of New Zealand, and is divided along its length by the Southern Alps. There are 18 peaks over 3,000 metres (9,800 ft) the highest of which is Aoraki/Mount Cook at 3,754 metres (12,316 ft). The North Island is less mountainous but is marked by volcanism. The highly active Taupo volcanic zone has formed a large volcanic plateau, the North Island’s highest mountain, Mount Ruapehu 2,797 metres (9,177 ft).

 

Population of New Zealand is approximately 4.3 million (Stats.govt.nz, 2010),of which approximately 78% identify with European ethnic groups. The indigenous Māori are the largest minority. Asians and non-Māori Polynesians are also significant minority groups, especially in urban areas. The most commonly spoken language is English. The term Pākehā usually refers to New Zealanders of European descent, although some reject this appellation, and some Māori use it to refer to all non-Māori and non-Polynesian New Zealanders (Ranford, 2008).  Most European New Zealanders are of British and Irish ancestry, although there has been significant Dutch, Dalmatian (Carl, 2007), Italian, and German immigration together with indirect European immigration through Australia, North America, South America and South Africa (http://www.teara.govt.nz/en/new-zealand-peoples, 2010).

New Zealand is culturally and linguistically part of Polynesia, forming the south-western anchor of the Polynesian Triangle, much of contemporary New Zealand culture is derived from British roots. It also includes significant influences from American, Australian and Māori cultures, along with those of other European cultures and – more recently – non-Māori Polynesian and Asian cultures. Large festivals in celebration of Diwali and Chinese New Year are held in several of the larger centres.

Cultural links between New Zealand and the United Kingdom are maintained by a common language, sustained migration rom the United Kingdom, and many young New Zealanders spending time in the United Kingdom on their “overseas experience” (OE).

Meanwhile Māori culture has undergone considerable change since the arrival of Europeans; in particular the introduction of Christianity in the early 19th century brought about fundamental change in everyday life. Māori culture has significant differences, for instance the important role which the marae and the extended family continue to play in communal and family life. Māori still regard their allegiance to tribal groups as a vital part of personal identity, and Māori kinship roles resemble those of other Polynesian peoples.

New Zealand has a modern, prosperous, developed economy with an estimated GDP (PPP) of US$119.549 billion (2010). The country has a relatively high standard of living with an estimated GDP per capita of US$31,067 in 2010, comparable to that of Southern Europe (http://www.imf.org/external/pubs/ft/weo/2010/01/we, 2010).

Historically, New Zealand enjoyed a high standard of living which relied on its strong relationship with the United Kingdom, and the resulting stable market for its commodity exports. However, in 1973 the United Kingdom joined the European Community which effectively ended this particularly close economic relationship between the two countries.

Since 1984, successive governments have engaged in major macroeconomic restructuring, transforming New Zealand from a highly protectionist and regulated economy to a liberalised free-trade economy. These changes are commonly known as Rogernomics and Ruthanasia after Finance Ministers Roger Douglas and Ruth Richardson.

Agriculture has been and continues to be the main export industry in New Zealand. In the year to June 2009, dairy products accounted for 21% ($9.1 billion) of total merchandise exports (http://www.stats.govt.nz/Publications/BusinessIndicators/global-nz-jun-09/key-points.aspx, 2009) , and the largest company of the country, Fonterra, a dairy cooperative, controls almost one-third of the international dairy trade (http://www.fonterra.com/wps/wcm/connect/fonterracom/fonterra.com/home/frequently+asked+questions/, 2009).

References:

The World Factbook. CIA. 2008.  http://books.google.co.nz/books?id=5lc9jxSKfuEC&pg=PA421&lpg=PA421. p. 421. Retrieved 22 Desember 2010.

Ranford, Jodie. “‘Pakeha’, Its Origin and Meaning”. maorinews.com. http://maorinews.com/writings/papers/other/pakeha.htm. Retrieved 22 Desember 2010.

“New Zealand Peoples”Te Ara – the Encyclopedia of New Zealand.http://www.teara.govt.nz/en/new-zealand-peoples. Retrieved 22 Desember 2010.

Walrond, Carl (21 September 2007).“Dalmatians”Te Ara – the Encyclopedia of New Zealand.http://www.teara.govt.nz/en/dalmatians. Retrieved 22 Desember 2010.

“World Economic Outlook Database—April 2010″IMF.http://www.imf.org/external/pubs/ft/weo/2010/01/weodata/index.aspx. Retrieved 22 Desember 2010.

“Global New Zealand – International Trade, Investment, and Travel Profile: Year ended June 2009 – Key Points”Statistics New Zealand. June 2009. http://www.stats.govt.nz/Publications/BusinessIndicators/global-nz-jun-09/key-points.aspx. Retrieved 22 Desember 2010.

Frequently Asked Questions,  http://www.fonterra.com/wps/wcm/connect/fonterracom/fonterra.com/home/frequently+asked+questions/ Fonterra website. Retrieved 22 Desember 2010.

 

AUSTRALIAN EXTERNAL RELATIONS: SPECIAL RELATIONS WITH THE UNITED STATES

 

Devania Anesya/ 070810535

Australia has a strategic location and geography since the mid-1980s. Its location isolated from world trouble spots and the fact that it is an island continent are said to provide certain strategic and tactical advantages which is contributed to its defensibility. The Labour government’s 1987 defense White Paper noted that Australia… naturally protected by vast ocean surrounds and the inhospitable tracts of our own country to the north and north-west… combine to provide with natural defences against conventional attack (Beazley, 1987).

The 1994 defence White Paper again warned that at some time in the future armed force could be used against us and (so)… we need to be prepared to meet it (White Paper, 1994).  This is in spite of the fact that white Australia has never seriously been threatened has said we are unlikely to be for at least the foreseeable future. Such continuing, obsessive, and arguably, irrational fear of military attack has its root in white Australia’s own history and experiences.

Australia has always been a frightened country (Renouf, 1979 and Pons, 1994) by the constant fear of attack or conquest by external and predominantly Asian countries. Australia beliefs that she cannot defend herself against these perceived threats, that’s why she led Australia’s policy makers to look to great and powerful friend for reassurance and protection.  As a consequence, Australia has become a dependent ally (Bell, 1988), borrowing from and ever supportive of the policies and practices of its principal benefactors, and ready to dispatch military forces overseas in support of their imperial objectives (Andrews, 1979; Millar, 1991; and Watt, 1968).

The notion of keeping Australia safe created by maintaining its surrounding region as an Anglo-Australian and later United States-Australian preserve was not restricted to colonial times. It is important to remember that when United States dominance was arguably most legitimate, constructive, and benign in the first couple of decades after the Second World War, it was widely perceived to have assumed a hegemonic position that transcended national interest to provide international public good (Kindleberger, 1973).

Since the Second World War, relations with United States have assumed an increasingly prominent position in the construction of economic and security policies in Australia. Sentiment toward the United States has generally been positive. However, self declared ‘war on terrorism’ of United States and Australia’s participation in a conflict with Iraq in particular, has subjected the relationship to widespread scrutiny and criticism. The Australian Labor Party (ALP) has moved to qualify its support, some senior Labor figures have launched fairly splenetic attack on American foreign policy and the Howard government’ support of it (Price, Lewis, and Kerin, 2003).

Even before 11 September 2001 and the subsequent reordering of American foreign policy, the Howard government’s expectations about what the bilateral relationship with the United States could deliver looked likely to prove a triumph of hope over experience: a glance at the recent historical record suggested that the benefits likely to accrue to Australia were likely to be the modest at best. But if we examine closer, more exclusive relationship with the United States may have a significant and generally negative impact on Australia’s long term place in the region, its economic position, its political independence, and even domestic security.

In economic relations with United States, Australia is one of a select band of countries that actually runs a trade deficit with the United States. While American markets have played a pivotal role in underpinning the export-led development of much of region and more sustaining a faltering global economy through seemingly insatiable consumer-led demand, Australia has not been a major beneficiary of either of these developments. There is a range of visible and invisible trade barriers that discriminate against Australian-based producers (Beeson, 2003).

Australia-New Zealand-US alliance, ANZUS was plainly a gesture loaded symbolic than strategic significance, as Australia could add nothing material to America’s overwhelming and increasing military dominance (Brooks and Wohlforth, 2002) but it was a gesture that continued an Australian tradition with a respected heritage. Difficult to say anything sensible about the intelligence benefits but with the sort of threat Australians obviously did face in Bali, this sort of information was either inadequate or not acted upon (Walker, 2002). Indeed, White (2002, 254) argues that it is Australia that is out of step with contemporary strategic realities and that far from being an irresponsible free-rider. We can se that the Howard government’s enthusiastic support for the United States generally and for the ‘war on terror’.

Clearly, Australia has a limited capacity to influence American foreign policy. The United States’ present determination to use its overweening power to pursue more narrowly defined and supported objectives means that policy makers in allied countries like Australia need to balance what are debatable short-term domestic pay-offs against the long-term stability of the International system (Beeson, 2003). But in both of the most important elements of its bilateral relationship, economics and security, Asutralia is clearly disadvantaged by America’s willingness to exploit its overwhelming political, economic, and strategic leverage.

 

References:

Beeson, Mark. 2003. Australia’s Relationship with the United States: The Case for Greater Independence. Queensland: Australian Journal of Political Science, University of Queensland

Cheeseman, Graeme. –. Australia: the White Experience of fear and Dependence.

 

 

 

 

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 151 other followers