Devania Anesya/ 070810535
tika adalah segala hal mengenai prinsip moral dan aturan yang berlaku. Lalu apa hubungannya dengan penulisan sebuah disertasi? Sangat besar kaitannya sebab disertasi sangat terfokus pada tingkah laku periset terhadap orang lain dan pekerjaan mereka. Seorang periset tidak mungkim melakukam disertasinya dalam kekosongan. Periset akan benar-benar mendasarkan informasi dan idenya pada penyelesaian pekerjaan–yang diselesaikan orang lain–dan periset mungkin saja akan sangat berinteraksi dengan orang lain dalam jalur yang lebih personal selama riset dilakukan. Maka penting adanya untuk menghindari tindakan yang melanggar etika atas pekerjaan dan pengetahuan orang lain, mengganggu privasi mereka atau bahkan menyakiti hati mereka.
- Berterima kasih atas karya orang lain
Bagian terpenting dalam studi disertasi adalah untuk menemukan apa yang sudah ditulis oleh orang lain mengenai suatu subyek. Seorang periset mungkin saja perlu mengumpulkan dan melaporkan fakta-fakta dan ide-ide dari sumber yang sangat luas maka tidak perlu merasa bahwa apa yang periset tuliskan harus selalu murni original. Bahkan pemikir paling terkenal pun “menyandarkan diri pada sesuatu yang besar” untuk membuat penemuan mereka. Jean Renoir (1952), seorang produser film Prancis, mengekspresikan pandangan ini kerika ia berbicara dalam sebuah interview yang difilmkan terkait filmnya di tahun 1930, Une Partie de Campagne, yang berdasar pada cerita Guy de Maupassant. Bagaimanapun realita dalam pandangan “suatu kegiatan orang” dapat saja memberi inspirasi bagi periset asal orang tersebut mengetahui bahwa dirinya dijadikan obyek. Dengan demikian pendekatan kejujuran pun tercapai dan terdapat perbedaan yang jelas antara ide orang lain dan juga ide atau tulisan kita sendiri.
Plagiarisme atau sindikasi adalah hal yang sangat familier dalam sebuah disertasi atau riset. Namun ini mudah dibongkar dengan cara melacaknya melalui mesin pencari, Google misalnya. Solusinya terletak pada sistem referensi dan acknowledgment yang baik. Kredit akan ditambahkan jika seorang periset dapat memberikan bukti teks relevan dari banyak bacaan jadi tidak perlu merasa malu menyebutkan sumber-sumber. Ada dua cara dalam menghadapi karya orang lain yang ingin dimasukkan ke dalam disertasi, pertama dengan cara kuotasi langsung dan yang kedua adalah dengan paraprase. Cara ini dianjurkan oleh banyak sistem, salah satunya sistem Harvard.
Kemudian yang menjadi pertanyaan adalah dimanakah letak batasan antara paraprase–di mana referensi dicantumkan–dan tulisan periset sendiri yang berdasarkan pada pemikiran orang lain? Pada paraprase, periset dapat menggunakan sumber dengan sedikit–perubahan tata letak, memotong beberapa kalimat, dan lain sebagainya–asal diikuti dengan referensi. Namun dalam penulisan periset sendiri yang berdasar pada pemikiran orang, tidak bisa demikian. Untuk menghindari plagiarisme, periset harus membaca teks sekilas, meletakkannya, dan mengandalkan pada ingatan–berikut pemahaman sendiri–ketika menuliskannya lagi. Di sini, periset tidak perlu mencantumkan referensi.
Jika sebuah disertasi akan dipublikasikan maka ada batasan seberapa banyak kuotasi langsung atau material ilustrasi yang dapat digunakan tanpa meminta persetujuan dari penulis aslinya atau pemegang hak cipta. Namun bagi karya mahasiswa yang tidak dipublikasikan, tentu saja syarat ini tidak diberlakukan.
- Menghargai orang lain
Beberapa subyek disertasi juga memerlukan informasi dari orang lain, walaupun ia seorang ahli sekalipun. Kumpulan data tersebut bisa kumpulan hasil wawancara atau kuesioner, dan bisa juga hasil eksperimen. Terkait hal ini, periset diharuskan sensitif terhadap masalah privasi, keadilan, perizinan, keamanan, keaslian informasi, dan lain sebagainya.
Yang pertama, Partisipan memiliki hak untuk mengetahui alasan mengapa periset menanyakan pertanyaan dan digunakan untuk apa informasi tersebut. Maka periset diharuskan menjelaskan secara singkat sebelum wawancara dimulai.
Kemudian mintalah perizinan sebab tidak semua orang merasa berkenan menjadi partisipan dari sebuah disertasi. Calon pasrtispan berhak menolak untuk berpartisipasi.
Akan lebih baik jika indentitas partisipan dianonimkan demi menghormati privasi dan agar kemungkinan kejujuran jawaban mereka menjadi lebih besar.
Jika anonimitas tidak memungkinkan demi jalannya riset maka periset wajib meminta persetujuan dari obyek yang diwawancarainya ketika nama mereka dicantumkan.
Yang kelima, baik adanya jika mengirimkan draft sebagian dari karya yang berisi pandangan atau informasi yang diberikan oleh sumber yang tertera kepada yang bersangkutan, menanyakan keakuratan argumen mereka dan apakah informasi tersebut diizinkan untuk dimasukkan dalam disertasi periset.
Kemudian keadilan menjadi penting adanya dalam sebuah riset yang berbentuk tes atau eksperimen sebab partisipan akan merasa dicurangi jika mereka merasa diperlakukan tidak sama atau diposisikan pada semacam ketidakberuntungan. Misalnya dalam suatu eksperimen yang mempengaruhi gerakan motorik, ada partisipan yang diperbolehkan menggunakan tangan kanan, namun ia diharuskan menggunakan tangan kiri untuk mendukung hasil riset yang periset harapkan.
Dalam penulisan ada baiknya untuk menghindari penulisan yang berbau seksisme. Misalnya bias maskulin yang kerap kali tersirat sementara teks terkait dengan keduanya, lelaki dan perempuan.
Yang kedelapan adalah jadilah tepat waktu, tepat tempat dan cepat tanggap sebab ketiganya penting dalam mendukung usahamu mengumpulkan beragam informasi. Perjanjian harus dibuat dan ditepati. Waktu sangatlah berharga bagi semua orang maka hargailah sebaik mungkin. Misalnya kamu perlu mewawancari seorang ahli (bisa saja ia orang bisnis yang sibuk). Kamu melakukan perjanjian namun kamu telat beberapa menit, bisa saja ia sudah pergi melakukan kesibukannya dan kamu akan kehilangan kesempatan untuk mewawancarainya.
Kemudian jadilah orang yang diplomatis dan hindarilah perselisihan. Untuk mendapatkan informasi yang sebanyak-banyaknya ada baiknya seorang periset lebih bersifat sensitif dan “merasakan” partisipannya. Hindarilah menjadi arogan dan tidak sensitif sebab itu akan membuat partisipan merasa dianggap bodoh atau konyol.
Yang terakhir namun yang terpenting dari segalanya adalah jangan lupa mengucapkan terima kasih, baik itu verbal maupun melalui tertulis–biasanya dalam kasus kuesioner atau surat izin untuk meminta informasi.
- Kejujuran dan subyektivitas ilmuwan
Menjadi jujur atas temuan, bahkan jika itu bersifat kontradiksionis terhadap keyakinan inti dari argumen periset sungguh merupakan sesuatu yang sulit namun penting adanya. Jika ada situasi yang tak terelakkan dalam riset, akan lebih baik jika periset mendiskusikannya melalui risetnya. Sebab dengan demikian maka kesalahan atau mungkin “tindakan yang harus dihindari” oleh periset lain–yang berniat melanjutkan riset yang dilakukannya–dapat benar-benar dihindari tanpa mengulangi kesalahan atau kejadian yang sama pada riset selanjutnya.
Selanjutnya setelah mengetahui kesemua etika dalam riset, dapat kita pahami bahwa beberapa dari masalah ini berdasar pada common sense atau tindakan yang sopan, seperti hubungan antarsatu dengan kolega lainnya dan juga orang lain. Beberapa memiliki karakter yang lebih formal dan membutuhkan usaha organisasional yang nyata untuk memenuhi requirement-nya, misalnya keberadaan sistematis semacam sistem referensi dan meminta perizinan untuk menggunakan informasi dan aktivitas. Saran terbaik bagi mahasiswa seperti kita sekarang ini–sebagai periset pemula–ada baiknya memperhatikan benar antara kuotasi, rangkuman, paraprase, dan semacamnya setiap kali menulis.
Sumber:
Walliman, Nicholas. 2006. “What’s All This About Ethics?” dalam Your Undrgraduate Dissertation. London: Sage