Category Archives: FIKSI DAN STORY

UBUR-UBUR KABUR : RUWETNYA CINTA SEGITIGA

Pengarang                   : Devania Annesya

Tahun terbit                 : 2011

Tebal buku                  : 186 halaman

Penerbit                       : Andi

Harga buku                 : Rp 28.000,-

Cinta, bagi Aurelia Aurita atau Aurel, adalah sesuatu yang membingungkan. Cinta pertama yang dia curahkan buat orang yang dia sayangi tak bahagia. Karena itulah, Aurel memutuskan tidak jatuh cinta lagi dengan pria mana pun. Dia juga memasang sederet criteria untuk calon pendamping hidupnya kelak. Tujuannya, dia tak terjatuh lagi dalam kehidupan asmaranya.

Namun apa mau dikata. Saat panah cupid menembus hatinya, Aurel pun akhirnya jatuh cinta lagi. Hal itu terjadi ketika dia dan teman-temannya sedang liburan bersama. Saat sedang berjalan-jalan sendirian, Aurel tak sengaja mendapati seorang cewek cantik meronta-ronta di tengah danau.

Cewek itu hampir tenggelam. Serta merta Aurel langsung berteriak-teriak mencari bantuan. Seketika itu juga sesosok cowo tampan berbadan tegap masuk ke dalam danau dan berenang selincah ikan menyelamatkan cewek tadi. Setelah beberapa saat kemudian, Aurel baru tahu bahwa keduanya kakak beradik.

Cowok yang barusan menyelamatkan adiknya itu telah membuat Aurel jatuh hati. Namanya Daniel Radyansyah. Cowok yang dingin, namun dapat membuatnya merasa hangat. Setelah kejadian itu, Aurel dan Daniel menjadi semakin dekat. Daniel pun merasakan perasaan yang sama pada Aurel.

Daniel juga hampir memenuhi semua criteria calon suami yang diidamkan Aurel. Sayang, terkadang Aurel masih suka gengsi mengakui segala kelebihan Daniel. Saat keduanya tengah merajut kisah kasih, tiba-tiba cinta pertama Aurel di masa lalu datang kembali.

Arlodi adalah cowok yang menjadi orang ketiga dalam hubungan Aurel dan Daniel. Cowok usil itu ternyata masih menyimpan perasaan yang buat Aurel. Hal inilah yang membuat Aurel bimbang. Saat bersama Daniel, dia merasa menemukan pilihan yang tepat. Namun saat Arlodi di sisinya, Aurel merasa cinta lamanya yang pupus seakan dapat dimulai lagi.

Di tengah kebimbangan itu, masalah lain terjadi. Ayah Daniel tidak menyetujui hubungan Aurel dan putranya. Semua itu membuat balada cinta Aurel makin berwarna. Aurel pun berharap jadi ubur-ubur yang bisa kabur dari masalah dan memilih satu lelaki terbaik. (cin/c9/kkn)

Cuek cuek tapi Butuh

Novel Ubur ubur Kabur yang menjadi buku utama Bookclub kali ini sukses memancing tawa bookaholic yang tediri atas Ochi, Nicky, Acil, dan Putri. Saat berdiskusi, mereka tak henti-hentinya tergelak menanggapi kisah cinta segi tiga si tokoh utama utama.

“Menurut aku, si Aurel ini sebenarnya juga suka sama Daniel. Hanya dia gengsi. Cuek-cuek butuh gitu deh,“ ujar Ochi mengawali pembicaraan. Aurel yang dimaksud Ochi adalah tokoh utama novel itu. Aurel punya nama panjang Aurelia Aurita (nama ilmiah ubur-ubur). Dia adalah cewek yang tidak pernah pacaran.

Dasarnya, Aurel merupakan gadis yang memiliki prinsip kuat. Dia berprinsip harus mendapatkan pendamping hidup yang pas di hati dan bisa menjaga dirinya. Sayang, selama 22 tahun hidupnya, dia belum pernah bertemu dengan cowok idaman.

Suatu hari, Aurel dipertemukan dengan Daniel Radyansyah. Cowok itu membawa Aurel ke cerita cinta penuh kejutan. Daniel digambarkan sebagai cowok cool, penyabar, ,apa, serta penuh tanggung jawab. Daniel menjadi tokoh favorit para bookaholic cowok.

“Aku suka sama tokoh Daniel. Dia punya karakter yang tegas dan simpatik. Dia beda sama Arlodi yang suka mengganggu,“ ujar Acil. Arlodi adalah cinta pertama Aurel pada masa lalu. Saat Aurel dan Daniel mulai dekat, Arlodi datang dan mengganggu hubungan keduanya.

Pendapat Acil langsung disetujui Dicky. Cowok ramah itu sepakat untuk menolak sikap usil Arlodi. Uniknya, dia juga sebel sama sikap Aurel yang terkesan nggak punya pendirian.

“Si Aurel ini kok kayak masih belum yakin sama perasaannya ya? Habis, dia kadang suka Daniel, kadang suka Arlodi. Kesannya plinplan gitu,” papar Dicky.

Pendapat Dicky disanggah Nicky. Menurut Nicky, Aurel pasti punya alasan yang kuat kenapa bersikap demikian. Selidik punya selidik, ternyata, Nicky pernah lho merasakan cinta segit tiga, seperti yang dialami Aurel. Wah, curhat colongan nih, hihihi…

“Hehehe… sebenarnya sih bukan curhat colongan. Menurut aku, semua orang pasti punya alasan kenapa sampai bisa bersikap bimbang seperti itu. Aku sih lebih milih Daniel daripada Arlodi,” jelas Nicky.

Kalau Acil nggak suka karena nyebelin, kali ini Nicky punya alasan sendiri. “Aku tuh sebel sama Arlodi karena namanya sama sekali nggak menarik. Nama kok kayak jam aja, arloji. Hahaha…” tuturnya. Para bookaholic pun terbahak saat mendengar celoteh Nicky.

Putrid yang sejak tadi diam nggakk mau ketinggalan comment. Dia menanggapi sifat perfeksionis Aurel dengan sudut pandang yang bijak. Terutama dalam memilih pendamping hidup.

“Sayang, cinta nggak melulu bisa dimengerti secara logika dan lebih menuruti kata hati. Jadi, sebaiknya kita menggunakan dua hal itu jika nanti ingin mencari cinta sejati,“ jelas Putri. Jawaban Putri dibalas bookaholic lainnya dengan sahutan, “Cieeeee…“ (cin/c12/kkn)

“Overall, ceritanya nggak mengurangi keasyikan baca novel ini kok. Aku paling suka deskripsi tokohnya yang sangat detail.” (Putri Ayu S., ITS memberi skor 4 dari 5)

“Novel ini bagus dari segi cerita dan gaya bahasa. Meski ceritanya klise, pengarangnya bisa bikin novel jadi nggak boring.“ (Dicky Setiawan, SMAN 20 Sby memberi skor 4 dari 5)

“Ceritanya simpel dan klise. Cinta segitiga kan emang sering terjadi dalam kehidupan kita. Pengarangnya anak muda banget.” (Rossyta Wahyutiar, SMAN 4 Sby memberi skor5 dari 5)

“Meski berserita tentang cinta, novel ini menyelipkan humor-humor segar. Aku suka sama tokoh Daniel. Dia itu cool. (Jarul Maksum, SMAN 15 Sby memberi skor 4 dari 5)

“Judulnya bikin aku tertarik. Pas membaca, aku jadi merasa kayak tokoh utma. Aku juga pernah mengalami kisah seperti si Aurel.” (Nicky Y., SMA Muh 2 Sby Sby memberi skor 4 dari 5)

Diambil dari:

RESENSI JAWA POS SENIN, 31 JANUARI 2011 (BOOK CLUB, HALAMAN 38)

MENGULITI LOVERSUS


Judul                           : Loversus

Pengarang                   : Farah Hidayati

Penerbit                       : Atria

Kota                            : Jakarta

Tebal Buku                  : 216 hlm

Harga                          : Gretongan dari Serambi Ilmu. Yippie !

Pertama-tama, let’s judge the book by its cover, kenapa saya suka menilai buku dari kovernya? Sudah pasti karena kover berperan penting dengan penjualan buku. Saya sering dengar teman saya yang mengeluh merasa ditipu dengan kover buku yang bagus tapi isi yang tidak memadai. Ada lagi teman saya, Oki (nama sebenarnya), yang mengaku dirinya merelakan dirinya ditipu dengan membeli novel berinisial R terbitan Penerbit G dengan dalih kadung jatuh cinta sama kovernya. Saya, tak pelak, kepincut juga sama kover itu dan setelah membacanya, saya dan teman sekos saya, sebut saja Ajeng (nama sebenarnya lagi), kejang-kejang jama’ah. Geez… kover itu penting banget dalam masa depan buku, begitu saya berpikir. Kalau kovernya bagus biasanya penjualan bukunya juga ikut bagus.

Oke, kembali ke Loversus, kover di depan gambar dua cowok cewek saling memalingkan tubuh di sebuah pohon berbentuk cinta dengan akar menghujam tanah, dengan latar belakang warna orange. Kover belakangnya juga terdapat dua buah pohon berbentuk cinta dengan burung Elang yang terbang di antara keduanya. Identik dengan terbitan Atria pada umumnya, Loversus punya kover yang klasik dan menarik. Yah saya suka sekali yang tipenya seperti ini. Lovu lovu…

Sret! Buka halaman pertama, endorsement yang memikat, walau biasanya sering menjerat. Di sini ada Shita Hapsari (Interior Designer), Chrish Pudjiastuti (kepala Desk, Kompas), Shinta Karina (Novelis, contributor cerpen CosmoGIRL!), dan Ollie (penulis, pemilik Kutukutu-buku.com). Oke deh, untuk sementara, lolos sensor, kita jalan ke lay out…

Oh mamen, lucu sekali lay out buku ini! Ih, waow! Idih, ada ilustrasinya pula… kesannya gimanaaaaa. Font-nya pas, enak di mata, hampir tanpa kesalahan ejaan (kesalahan ejaan hanya saya temukan di halaman 101, kata yang seharusnya “layar” menjadi “layer”). Tepuk tangan… plok plok plok! Beruntung banget deh mbak Farah Hidayati – penulis Loversus – dapat orang-orang yang tepat. Atau sebenarnya tidak? Orang-orang yang tepat itu lah yang beruntung mendapatkan mbak Farah Hidayati? Oke, kita investigasi isi cerita!

Loversus menceritakan persahabatan antara Cinta dan Elang di SMA Tami (Taman Ilmu). Mereka dekat satu sama lain seperti satelit yang tidak bisa jauh dari orbitnya. Hingga akhirnya Cinta dekat dengan Keanu – cowok yang dikenal playboy di sekolahnya – dan Elang jadi sedikit cemburu. Di saat Cinta dan Keanu kencan, Elang mengirimkan sms yang membongkar latar belakang Cinta dengan maksud agar Keanu tidak mempermainkan Cinta namun Cinta malah salah paham dan mereka bertengkar. CETAR !!!

Kenapa? Kenapa? So ordinary, right? Hei… coba kita selami dulu. Jangan mentang-mentang teenlit trus dianggap murahan. Ndak boleh… ndak boleh…

Adegan pertama dibuka dengan Cinta yang mendatangi Elang untuk menanyakan kiriman dari Ibunya. Adegan ini sedikit aneh dan lebay tapi ya… it’s okay kalau bermaksud untuk menarik minat baca di awal cerita. Kemudian setting waktu loncat ke masa depan di mana keduanya tiba-tiba sudah bertengkar, dan sesekali loncat ke setting tempat di Macau, Cina. Bingung… pengen banting ini buku… tapi kok ya penasaran… saya baca lagi…

Yang pasti kita dibuat bertanya-tanya tentang ada apa di balik pertengkaran mereka berdua. Dua orang sahabat yang dulunya begitu dekat, kenapa sekarang seperti ada jurang di antara mereka? Misteri itu terbongkar di halaman 102. Saat itu saya langsung lompat ke halaman paling belakang: Tentang Penulis. Farah Hidayati: Juara I Sayembara Menulis Novel Remaja Ranesi 2005 dan Anugerah Adikarya IKAPI 2006 untuk cerita remaja terbaik kedua. Oh well, berpengalaman. Cerita biasa kalau disajikan dengan cara luar biasa, jadi luar biasa menarik kan? Mbak Farah sadar hukum ini dan berhasil memainkan plot dengan baik. Selamat! Plok plok plok!

Sayangnya, permainan plot cerita terhenti sampai sini saja, selanjutnya plot berjalan dengan normalnya (kecewa.com). Kemudian saya baca lagi. Dari sini konflik utama tentang love dan versus mulai disaingi oleh konflik tentang menghilangnya kiriman paket-paket dari Ibu Cinta yang bekerja sebagai TKW di luar negeri. Dan konflik yang saya paling sukai adalah konflik di halaman 171 ketika Cinta memergoki Ayahnya yang sedang berselingkuh dengan pegawai kantor tempat Cinta dan Ayahnya bekerja. Oh, love it so much! Di sini saya merasakan sekali feel Cinta yang kecewa, sedih, terkejut, tapi tidak berdaya.

Ending diakhiri dengan potongan-potongan cerita yang setting waktunya loncat-loncat sehingga membuat pembaca sedikit bingung. Namun tidak masalah buat saya kalau saja Potongan Lima: Yang Tak Sempurna tidak muncul dan membuat saya mengalami sindrom jangkrik… krik krik… krik krik…

Begini penggalan di halaman 216:

Potongan Lima: Yang Tak Sempurna

Dit! Dit! Hape Elang berbunyi. Dia melirik layar.

Klik tombol baca:

Aku di kostmu. Tapi katanya kamu belum balik. Nginap di mana kamu semalam?

Klik tombol balas:

To: Adindaku

Belum balik ke Jogja. Masih ada urusan di Jakarta. Nanti aku hubungi lagi ya!

Klik tombol kirim.

Huwe… Adinda itu adalah nama sahabat Cinta yang membantu Elang dalam berbaikan kembali dengan Cinta. Anehnya selama penceritaan dalam buku, sama sekali tidak diceritakan adanya benih-benih cinta di antara mereka. Sampai halaman 214 saja, novel ini masih membicarakan benih cinta antara Elang dan Cinta. Lha kok di akhir cerita malah Elang memanggil Dinda dengan sebutan Adindaku sih?

Iya tahu… tahu… kalau Elang jadian sama Cinta akan terkesan jadi it’s too good to be true atau jadi ending yang terlalu gampang diprediksi. Tapi, kalau gini ending-nya malah terkesan maksa banget. Menurut saya akan lebih baik kalau cerita ini hanya berakhir hingga Potongan Empat saja saat Elang sedang menulis jurnal Semesta Versus. Alasannya, ini novel teenlit jadi menurut saya tidak masalah kalau penulis terkesan menjual mimpi ke pembaca. I mean, apa sih yang salah dengan novel yang menjual mimpi? Biarpun saya sering menjerit: NGIMPIII!!! Pas lagi baca novel yang berakhir terlalu utopis, saya menjeriti itu lebih kepada diri saya sendiri daripada kepada novelnya. Kita membaca novel untuk belajar tentang sesuatu, untuk belajar bermimpi, dan meraihnya. Jadi apa salahnya?

Kalaupun ingin membuat ending yang unpredictable, seharusnya dalam cerita disisipkan cerita tentang benih-benih cinta di antara mereka agar ending menjadi masuk akal dan tidak terkesan maksa.com.

Akhir kata, kesan saya terkait novel ini: novel ini sepertinya dipengaruhi oleh gaya penceritaan novel trilogy Supernova-Dee. Dapat kita lihat beberapa tulisannya yang mirip dengan Dee, penyisipan puisi, penggunaan kata Semesta yang menjadi hobi Dee, dan karakter Elang yang sedikit mirip dengan Ferre (cowok cuek, dingin, teratur yang sebenarnya di dalam hatinya menyimpan jiwa pujangga).

Kelebihan dari novel ini:

-          saya suka sama plot di awal cerita yang menarik, an ordinary story with extraordinary plot. Walaupun banyak yang bilang membingungkan, saya ga peduli, saya suka. Titik. Mau apa lo? *gayaPreman

-          Permainan karakter Elang dan Cinta yang dari awal hingga akhir terjaga konsistensiya. Ini daya tariknya!

-          Keluarnya cerita dari klise teenlit pada umumnya.

-          Adanya informasi dan pengetahuan yang baru terkait isu TKW dan Go green! Lovu…

Kekurangan dari novel ini (menurut saya):

-          Kesalahan di halaman 61 : di sini dikatakan film Romeo & Juliet (1998) dimainkan oleh Leonardo DiCaprio dan Kate Winslet. Seharusnya bukan KW tapi Claire Dennis.

-          Ending yang kurang memuaskan.

Terima kasih sudah membaca resensi ini. Segala baik dan buruk yang saya beberkan di sini adalah murni pendapat saya pribadi sebagai pembaca tanpa ada maksud menghakimi. Kalau ada salah kata (ya ada lah. Sok imut kau!) saya mohon maaf. Bay baaaayyyyyyy!!!!

(S)TUCK EVERLASTING

 

Pengarang                     : Natalie Babbit

Tahun terbit                 : New York, 1975; Indonesia, Penerbit Atria, 2010

Penerjemah                  : Mutia Dharma

Tebal halaman             : 172 halaman

Harga                              : gretongan dari Serambi Ilmu. Yippie !!!
Bagaimana jika kau bisa hidup selamanya? — Itu adalah tagline dari novel klasik anak-anak dari TUCK EVERLASTING.

 

Kenapa? Merasa tidak asing dengan tagline tersebut? Mengingatkanmu dengan Edward Cullen dan Bella Swan?

Calm down, babe, novel ini diterbitkan tahun 1975 di New York. Tidak ada yang namanya plagiat dari novel Twilight Saga di sini. Dan yang pasti Tuck Everlasting, sebagaimana ciri khasnya sebagai cerita klasik, sangat kentara unsur originalitasnya sehingga Twilight Saga – ah lupakan saja novel teenlit itu! Patut dicatat, sepertinya saya masuk dalam golongan dari sedikit orang yang tidak menyukai novel Meyer-Twilight Saga yang sedang booming tersebut.

 

Oke deh, dari tagline… anggap saja itu suatu kebetulan yang tidak mengenakkan karena ada kemiripan dengan Twilight Saga. Atau sebenarnya Twilight saga-lah yang terinspirasi dari novel ini? Heavenknows!

 

So, yang sedikit mengecewakan di sini justru terletak pada kover novel ini yang bergambar seorang gadis berusia 10 tahun tengah berpakaian mengerikan dengan seekor katak di pangkuannya dengan latar sebuah hutan. Oke saya tahu! Kover ini sangat merepresentasikan isi novel ini yang terkesan “dalam” dan “gelap”. Masalahnya adalah tipe kover seperti ini sungguh kurang komersil di Indonesia. Kover yang seperti ini bisa mudah tertimbun tumpukan kover-kover novel lainnya yang berwarna cerah, mencolok, dan berwarna-warni. Saya sangat menyayangkan hal ini karena biasanya saya adalah pengagum berat kover-kover buku Atria.

 

Menurut saya, kover yang menipu isi buku itu menyedihkan! Namun buku bagus yang tidak tersampaikan ke pembaca karena kover yang tidak mendukung, itu lebih menyedihkan lagi. Sebab TUCK EVERLASTING ini masuk dalam kategori buku bagus dalam list saya.

 

Oke, masuk ke bagian isi buku untuk “merobek-robek” daging buku ini.

 

Supaya kalian tidak bingung, saya akan berikan sinopsis cerita dari novel berjudul TUCK EVERLASTING ini – yang mana sudah difilm-kan oleh Disney tahun 2002 yang lalu dengan pemain Alexis Bledel. Jangan tanya film-nya seperti apa, bagus, keren, dan tonton saja sendiri lah… sebab di sini saya sedang konsentrasi meresensi bukunya. Wek!

 

TUCK EVERLASTING menceritakan tentang seorang gadis bernama Winnie Foster yang mana keluarganya memegang kepemilikan hutan Treegap. Suatu ketika ia merasa sangat bosan dan melarikan diri. Dan saat itu ia bertemu dengan seorang pemuda tampan yang tengah minum mata air di bawah pohon raksasa, Jesse Tuck. Di sana Winnie berusaha ikut meminum mata air tersebut namun kemudian dia malah “diculik” oleh keluarga Tuck. Kemudian dimulailah perkenalan Winnie dengan seluruh anggota keluarga Tuck yang abadi alias tidak bisa menua, tumbuh dan juga mati. Konflik terjadi ketika pria bersetelan kuning berusaha mengungkap rahasia keabadian keluarga Tuck. Mae Tuck – Ibu Jesse – terpaksa membunuh pria tersebut. Kemudian diceritakan bagaimana usaha Winnie dalam menyelamatkan Mae Tuck dan juga menutup rapat rahasia mata air abadi Treegap.

 

Kenapa? Keliahatannya seru kan? Itu baru sinopsisnya, mamen!

 

Prolog dibuka dengan tiga adegan random dalam satu waktu: Mae Tuck yang akan menjemput kedua anaknya (Miles dan Jesse Tuck), Winnie Foster yang tengah berada dalam puncak kebosanan, dan terakhir adalah ketika petang hari seorang pria bersetelan kuning mendatangi rumah kediaman Foster. Di sini yang menarik adalah cara pendeskripsian Babbit yang luar biasa mengagumkan. Di awal cerita ia sudah memperkenalkan konsep circle of life (lingkaran kehidupan) dengan menggunakan konsep bianglala. Babbit berusaha merepresentasikan konsep cerita yang terkesan sederhana namun memiliki makna yang sangat dalam.

 

Adegan paling lovu-lovu adalah adegan pertemuan Winnie dan Jesse yang (uhum) sangat dramatis. Jesse sedang sibuk meminum mata air dan mengelap bibirnya dengan lengan bajunya ketika mata mereka (uhum) bertemu di satu titik.

 

Namun ada yang membingungkan saya di halaman 55. Di sana dituliskan: “bumi yang indah membuka keempat sudutnya yang luas untuknya seperti mahkota bunga…”. Heh? Apa? Bumi punya empat sudut? Apa sih? Dan saya kemudian berusaha mendownload seri asli buku ini lewat Gigapedia namun gagal karena website gigapedia masih dalam perbaikan dalam batas waktu yang tidak ditentukan. Sepertinya saya memang harus membaca seri aslinya.

 

Kenapa saya merasa sangat penasaran?

 

Pertama, karena di sini banyak sentilan-sentilan kata yang membuat kita berpikir. Misalnya di halaman 6:

“kalau kaupikirkan, kepemilikan sebuah tanah adalah hal yang aneh. Sebenarnya, seberapa dalam tanah bisa kaumiliki? Jika seseorang memiliki sebidang tanah, apakah dia memilikinya sampai jauh ke dalam tanah, sampai ke inti bumi?”.

It makes me laugh and think in the same time, I have no idea!

 

Kedua, banyak quote menarik…

Misal hal 7: “sesuatu yang kaumiliki tidak pernah menarik-jika kau tidak memilikinya barulah ia menjadi menarik.”

Hal 135: “dia melihat seberkas cahaya putih. Itu petir. Lagi dan lagi, tanpa bersuara. Itu seperti rasa sakit, pikirnya.”

 

Terdapat pula adegan yang secara intrinsik  memberi pesan tentang hidup…

Misalnya adegan memancing Miles – kakak Jesse – dan Winnie yang mana Winnie mulai menyadari adanya circle of live. Harus ada yang mati dan hidup di dunia ini.

Serta perbincangan “dalam” antara Winnie dan Angus Tuck – kepala keluarrga Tuck – di danau tentang mata air, keabadian yang tidak semenggiurkan yang terlihat oleh banyak orang.

Semua dikemas dengan kemasan sederhana namun dengan “isi” ekstra. Mau bagaimana lagi, Babbit memang hebat dalam mengemas cerita serius dengan sentuhan ringan – sebagaimana endorsement dari CHICAGO SUN-TIMES.

 

Sayangnya terjemahan buku ini masih terkesan kaku. Dan juga terdapat beberapa kesalahan ejaan. Misalnya yang saya temukan:

  • di halaman 50 “akan akan”→ dobel “akan”-nya,
  • hal 97 “bersetelah” → yang seharusnya “bersetelan”,
  • hal 107 penggunaan “mengena” terkesan weird → coba kalau pakai kata “kena” saja?,
  • hal 110 istilah “mengeletar-geletar” juga aneh→ coba pakai “menggelepar” saja???

 

Saya sangat suka cerita seperti ini. Ini cerita yang membuat kita berpikir setelah membacanya. Bukan sampah setelah sekali pakai. Sekali baca langsung buang. Wesss… tanpa kesan tertinggal. Babay, sampah!!!

 

Dan endingnya… endingnya… endingnya… hiks hiks… I don’t wanna be a big spoiler, but… yang pasti endingnya… beautiful ending! Ending yang seharusnya terjadi. Winnie memilih jalan yang menurutnya paling baik atas pesan bijaksana Angus Tuck. Walaupun dia mencintai Jesse Tuck, walaupun mereka saling berjanji untuk suatu saat bertemu dan hidup bersama selamanya namun Winnie memilih untuk menghadapi hidupnya seperti seharusnya. Walaupun saya sedih, saya suka ending novel ini!

 

Twist novel ini adalah terkait:

siklus hidup, harus ada yang lahir, tumbuh, berkembang, tua, mati, dan kemudian digantikan oleh kehidupan yang baru. Dunia harus terus bergerak agar bisa terus diperbaharui dan oleh karena itu harus ada yang mati. Dan sebenarnya kematian itu bukan sesuatu yang patut untuk ditakuti dia hanya sesuatu yang harus dihadapi. Dan Natalie Babbit mengambil ikon keluarga Tuck untuk menggambarkan kondisi ini. Dan bahwa keabadian tidak selalu seindah ketika kita membayangkannya. Oh maaaiiii dalam sekaliiii

 

Kesan saya terhadap novel ini hanya satu: saya lebih setuju kalau novel ini diberi judul (S)TUCK EVERLASTING sebab alur cerita dalam novel ini akan membuat otakmu terperangkap kisah ceritanya… selamanya!

 

Ketika sang Superior melihat si Inferior

Ketika sang Superior melihat si Inferior
Saya melihatmu.
Ya, saya melihatmu.
Lalu kenapa?
Kenapa kamu begitu berusaha?
Saya dan kamu (saya rasa) sama-sama tahu di mana posisi kita dengan sangat jelas.
Lalu apa?
Apa maksudmu dengan pura-pura tidak sadar?
Mendongakkan kepalamu tinggi-tinggi seakan itu bisa membantumu sedikit lebih tinggi?
Kamu pikir (dengan otakmu yang inferior itu) kamu bisa mengelabuhi mata semua orang dengan sandiwaramu.
Kamu dengan segala usahamu, kamu sekarat…
Aku melihatmu sekarat dengan segala peluh di dahimu.
Kamu pikir dengan bekerja keras kamu bisa melampaui aku.
Kamu berharap dunia akan mengubah takdirmu hanya karena kamu menderita.
Lucu, kamu selalu bilang aku beruntung karena terlahir begini.
Mana ada hal lucu seperti itu? Mana ada keberuntungan yang sesempurna aku?
Aku membayar semuanya.
Dengan kepura-puraan, dengan kebencian, dan dengan segala keluhanmu yang membuatku muak.
Aku membayar kesuperioritasanku dengan segala “iri” di dunia.
Aku membayarnya seumur hidupku.
..
Ketika si Inferior memandang sang Superior
Saya memandangmu!
Ya, selalu memandangmu!
Kamu begitu sempurna!
Kenapa kamu bisa begitu sempurna tanpa harus berusaha sepertiku?!
Saya dan kamu (saya rasa) sama-sama tahu di mana posisi kita dengan sangat jelas.
Lalu apa?!
Apa maksudmu dengan tidak berpura-pura saja?! Bantulah aku sedikit untuk bertahan!
Kenapa kamu tidak mau sedikit saja menundukkan kepala?
Kamu pikir (dengan otakmu yang superior itu) kamu bisa menjatuhkan semangatku, kerja kerasku, dedikasiku, impianku!
Aku dengan segala usahaku, kamu tahu aku sekarat!
Kamu bisa melihatku sekarat dengan segala peluh di dahiku!
Aku memaksakan diri ‘tuk berpikir kerja keras bisa melampauimu!
Aku sangat berharap dunia akan mengubah takdirku karena aku sangat menderita!
Aku benci ketika menyadari keberuntunganmu terlahir begitu!
Mana ada hal mengerikan seperti itu?! Mana ada keberuntungan yang sesempurna kamu?!
Aku mengejar itu semua dengan susah payah!
Dengan kerja keras, dengan peluh, dan dengan segala senyum sinismu yang membuatku MUAK!
Aku mengejar kesuperioritasan dengan segala “energi” di dunia!
Aku mengejarnya seumur hidupku!

NB. Saya selalu percaya bahwa di dunia ini tidak pernah ada yang benar-benar “salah” yang ada hanyalah suatu kondisi di mana terlalu angkuh bagi kita untuk saling memahami.

PEMBICARAAN SENJA

Dia menatapku seakan aku orang lain yang baru dikenalnya. Begitu sibuk dengan pikirannya sendiri. Tentang aku. Tentang dia. Tentang kita. Sekarang dan dulu.

Meski aku menatapnya dengan mata yang sama, ia begitu percaya bahwa matanya yang dulu telah menipu.

Ia percaya aku yang sekarang bukan lah makhluk yang sama dengan yang ia temui. Dulu.

“Kamu berubah terlalu banyak,” katanya diantara raut senang, takjub, dan juga sedih.

“Aku tetap sama,”

Tapi ia bersikeras dengan pemikirannya, persepsinya dan ekspresinya yang dalam. Ia berkeras hati menilaiku sebagai “yang lain”.

Sekeras apapun aku mencoba, dia justru semakin menjauh. Semakin aku berusaha meyakinkan, ia semakin yakin bahwa dirinya tidak bisa lagi bersamaku.

“Apa kamu nggak suka aku yang sekarang?”

“Tentu saja suka. Kamu yang sekarang adalah yang lebih baik,”

“Jadi, apa salahanku?”

“Tidak ada. Kamu cuma… berubah”

“Tapi aku yang sekarang adalah aku,”

“Aku tahu,”

“Trus kenapa?”

“Karena kamu… cuma berubah. Cuma hidup.”

“Lalu?”

“Aku akan tertinggalkan oleh perubahanmu itu,”

“Aku tidak pernah sekalipun berniat begitu!”

“Kondisinya sudah berubah. Aku lah yang nggak lagi mampu mengejarmu,”

Aku selalu ingin bersamanya. Selalu. Bisakah aku kembali tanpa melepas semua yang telah aku capai? Bisakah?

“Kalau mau kita bersama, kamu harus jadi yang seperti dulu,”

“Kalau begitu aku akan seperti dulu!”

“Kalau begitu aku nggak akan suka kamu. Aku suka kamu yang terus berubah,”

“Tapi aku yang terus ‘berubah’ ini nggak mampu membawamu pergi bersamaku,” erangku.

“Aku cuma bilang kita nggak bisa bersama, bukan berarti kita harus berakhir,

11.30, sehabis ujian mandarin

Untuk para sahabat. Saat kita berpisah/ kehilangan orang yang kita sayangi, bukan lagi kuantitas hubungan yang kita perlukan melainkan kualitas.

DUA: Butuh lebih dari satu hati untuk saling memahami

Kamu sangat suka berhitung. Tiap hari, jam, menit, dan detik yang kita lalui bersama. Kamu tidak mau melewatkan satu momen penting pun tanpa berhitung. Semua bagimu bagaikan rentetan angka-angka yang berderet indah dan mengingat setiap detil adalah keahlian terbaikmu.
Saat kita duduk berdua di bawah taburan bintang langit malam itu, gadis sepertiku pastilah suka menekuri perasaan. Mengira-ngira perasaan satu sama lain. Dan pada umumnya kamu akan berusaha menanggapi perasaanku dengan cara-cara yang (juga umumnya) dilakukan seorang cowok pada gadisnya. Tapi kamu tidak. Kamu bukan cowok pada umumnya. Kamu unik dengan caramu sendiri. Kamu sibuk memperkenalkan macam rasi bintang, berpresentasi, dan berfantasi andai kamu berada diantara bintang-bintang tersebut. Lalu kemudian kamu sibuk dengan tebaran angka di kepalamu, menghitung berapa kiranya jumlah bintang malam ini dan berapa besar probabilitas terjadinya gerhana di sepuluh tahun mendatang.
Bisa berjam-jam kamu sibuk denga mimpi-mimpimu. Kamu hanya berbaring diam dan itu memberiku kesempatan untuk memahamimu. Aku paham sunyi adalah nyanyian favoritmu, dalam diam kau bisa menciptakan duniamu sendiri dan menguasai setiap detail di dalamnya. Kamu dan mimpimu adalah hal terindah yang pernah aku pahami dengan benar.
Tapi kemudian obsesimu terhadap angka-angka semakin menguat. Kamu marah saat aku terlambat beberapa detik saja untuk mengucapkan selamat ulang tahun. Kamu mengabaikan setiap kali aku berusaha memamerkan muka-muka konyol untuk mengalihkan konsentrasimu terhadap mereka dan kamu selalu mengernyitkan dahi setiap aku bicara tentang hati dan perasaan. Mungkin bagimu aku sudah seperti alien yang butuh transleter super canggih hanya untuk berkomunikasi satu sama lain.
Malam ini ketika semua keberanianku terkumpul, aku mencari jawaban atas sebuah pertanyaan penting. Bukan sesuatu detail seperti kapan tanggal ulang tahunku, berapa tanggal jadian kita, atau (bahkan) berapa jumlah pertambahan berat badanku bulan ini. Karena aku tahu kamu pasti bisa menjawab kesemuanya dengan tepat dan sempurna. Aku hanya menanyakan padamu pendapatmu tentang aku, kamu, kita.
Kamu (lagi-lagi) menatapku dengan alis terangkat satu seakan itu adalah pertanyaan terbodoh yang pernah kamu dengar.
“Tentu saja kita ini seperti angka dua,” katanya sambil menggelengkan kepalanya atas tingginya tingkat ketololan pertanyaanku ini
“Angka dua?” ulangku.
“Ya. Dimana-mana satu tambah satu sama dengan dua, kita. Apalagi yang perlu dipertanyakan tentang itu hm?”
Hanya itu jawaban yang kamu berikan. Lalu kamu kembali menyibukkan diri dengan dunia rekaanmu.
Kamu tampak semakin dekat dengan impianmu sekaligus semakin jauh dari gapaianku. Kamu bahkan sudah mulai lupa bahwa aku di belakang berlari mengejarmu, berusaha menyejajari langkah-langkahmu yang lebar.
Dalam kesuperioritasan otakmu kita hanya serupa angka DUA yang bisa dengan mudah dikalahkan oleh angka TIGA, EMPAT, LIMA, ENAM, TUJUAH, DELAPAN, SEMBILAN, dan seterusnya…
Bagiku kamu sudah sekarat dan aku akan menyusulnya perlahan di dalam. Dan hatiku terus gemetar, ketakutan dikejar oleh pelbagai pertanyaan:
Harus bagaimana ketika kamu sudah “mati”? Harus bagaimana agar aku bisa “menghidupkanmu” kembali? Sementara aku, kamu, kita sudah memiliki definisi tersendiri tentang makna “hidup”? Bagimu “hidup” adalah ketika kamu bisa menggapai semua impianmu dan bagiku “hidup” adalah ketika aku bisa terus bersamamu. Haruskah aku “membunuhmu” agar kau bisa kembali “hidup” dalam versiku? Atau aku harus “membunuh” diriku agar kamu bisa terus “hidup” dalam versimu???
Sungguh butuh lebih dari satu hati untuk saling memahami…
Karena kalau sendiri, siapa yang akan menjawab semua pertanyaan-pertanyaan itu?

Dunia Bosan

Pernahkah kau mendengar cerita tentang seseorang yang mati karena bosan? Kurasa aku bisa sedikit menguraikannya.

Dan dia berkata padaku:
Aku merasa dilemahkan oleh kebosanan. Mungkin itu karena “mereka” tahu “mereka” tidak atau belum bisa memuaskan hasrat keingintahuanku dan “mereka” terlalu takut untuk menerima predikat MEMBOSANKAN. “Mereka” berusaha sebisa mungkin untuk membuatku bosan dengan harapan aku mau menundukkan kepala. Tapi, maaf, aku justru melihat sebaliknya. Aku melihat apa yang – selama ini – “mereka” sembunyikan dariku.

Aku menjawab:
Mungkin mereka hanya takut. Takut padamu yang terlalu “tahu”…

Dia mengelak:
Apa menjadi “tahu” akan mencitakan ancaman bagi lainnya untuk kehilangan harga diri “mereka”? Apakah “mereka” merasa itu bisa dirampas begitu saja?
Seakan-akan aku akan membuat “mereka” yang kurang tahu tak berdaya. “Mereka” begitu hebohnya membangun dinding yang sangat tinggi agar tidak dapat tertengok apalagi dimasuki olehku. Berbondong-bondong memakai pakaian tertutup hanya agar aku tidak bisa melihat “mereka”. Lalu “mereka” sibuk bertanya-tanya akan apa yang aku pikirkan tentang mereka.
Apakah mereka “merasa” terlalu esensial untuk menjadi bahan pikiran olehku!? Percayalah, tidak pernah ada orang yang memikirkan diri sendiri lebih dari diri mereka sendiri.

Aku menghela nafas:
Ya, karena hanya diri sendiri yang tahu kelemahan dan kekurangan yang sebenarnya. Lalu menertawakannya atau justru paranoid jika keburukannya terlihat???
Tahukah, hal sama juga terjadi padaku? Tapi aku lebih memilih menertawakannya bersama para sahabat lalu memperbaikinya sembari terus melanjutkan perjalananku.

Lalu dia berkata lagi:
Dan akhirnya aku sadar. Aku telah dilemahkan oleh kebosanan-kebosanan yang “mereka” ciptakan untuk membuatku bosan berjuang. Sementara dunia ini terus berjalan. Orang hebat terus lahir dan tercipta atas hasrat mereka sendiri. Kalau berhenti aku akan tertinggal sendiri dalam “dunia bosan”! Dan sama saja aku bunuh diri perlahan!!!

Aku mengerti sekali. Aku tahu rasanya tertinggal di belakang, maka aku membalas perkataannya:
Ya, hanya orang yang terus berjalan yang bisa mengikuti perputaran dunia. Hanya mereka yang terus maju yang bisa melihat dunia lebih luas lagi dan memandang hidup sebagai sebuah perjalanan menyenangkan yang cukup dengan dijalani dengan petualangan dan tangis tawa. Tanpa harus terus merasa paranoid atas kekurangan diri sendiri. Walau itu artinya akan banyak yang harus kita korbankan untuk mimpi-mimpi kita.

Dan pada akhirnya kami menyadari kesalahan kami dan berkata pada “dunia bosan”:
Maaf, karena kami tidak bisa diam dan menunggu.
Maaf, karena kami tidak sempat turut membangunmu, Dunia Bosan.
Maaf, karena kami terlalu berani mengambil resiko atas apa yang telah kami pilih.
Dan maaf, karena kami telah berjalan jauh di depan dan hanya rela berhenti sejenak untuk menengok ke belakang…

01.15, sekarat dalam kebosanan…

Pengelana dan ‘Sang Batas’

Dan akhirnya pengelana itu sampailah pada batas yang diimpikannya. Batas yang tiap malam hadir dalam tidurnya yang lelap.

Sang Batas berdiri dengan angkuh di tempatnya.

Pengelana itu menyapa sang Batas dengan ramah, ia tak tahan lagi ingin mengajaknya bicara. Karena tak semua orang bisa mencapai sang Batas. Tidak semua orang sempat berbicara dengannya sebelum ajal menjemput.

Pengelana berkata, “Hai, senang sekali bertemu denganmu yang banyak dibicarakan orang.”

Sang Batas menatap si Pengelana dengan tatapan bermusuhan. “Kau datang hanya untuk melewatiku? Seperti orang-orang lainnya?”

“Ya, tentu saja!”

“Kau tiba di sini dengan harapan bisa melampauiku, kan?”

“Tentu saja!” jawabnya lagi dengan lantang.

“Kau merasa hebat?”

“Aku hanya ingin melihat pemandangan yang terbentang di balik kekokohanmu, Batas.
Hanya itu. Aku hanya ingin melihatnya dalam hidupku yang singkat ini,”

“Apa yang kau lihat tidak akan seindah yang kau bayangkan. Sungguh kau sampai di sini hanyalah sebuah keberuntungan saja,”

Dan dia terjebak dalam batas yang tidak mau untuk dilampaui. Batas itu menahannya untuk melihat dunia. Sang Pengelana merasa sangat sedih. Ia telah menjelajahi hutan dan menyebrangi banyak sekali samudra demi bertemu dengan sang Batas. Batas yang memisahkan dunianya dengan dunia di luar Batas tersebut.

Ia telah berusaha keras melupakan nyamannya kasur dan hangatnya kasih sayang keluarga. Ia tulikan telinganya dari tangisan orang-orang yang dicintainya hanya untuk mengejar sang Batas. Namun ketika sampai, rupanya ia terlalu angkuh untuk dilampaui.

Sang Pengelana sebenarnya hanya ingin melampaui sang Batas dengan rasa hormat. Ia ingin Batas merestui keinginannya untuk melewatinya. Karena Batas telah berdiri di sana bertahun-tahun lamanya. Ia lah satu-satunya yang telah melihat baik buruknya dunia dan hanya dia lah yang mampu menerjemahkan makna di dalam setiap peristiwa di dunia ini. Ia tahu segalanya. Hanya dia yang tahu. Sang Batas.

“Hanya aku yang tahu betapa jahatnya dunia ini,” katanya defensif ketika melihat sang Pengelana dengan keras kepalanya menunggu di perbatasan, berharap sang Batas rela untuk dilampaui.

“Benar. Tapi hanya kamu juga yang tahu betapa indahnya dunia di luar sana,”

“Jadi kamu pikir aku begitu egoisnya menyimpan keindahan itu sendiri? Apa yang tidak aku ceritakan padamu dan yang lainnya? Aku menyuguhkan dunia dalam kata-kata indah di mana kau bisa setiap saat mendengarnya dalam dongeng sebelum tidurmu. Aku menyajikan dunia tanpa kamu harus mengecap rasa pahitnya. Aku tidak akan membiarkanmu yang polos dan lugu ini untuk melampauiku. Karena begitu kau keluar dari batas ini, aku tidak akan bisa lagi menolongmu. Dan kamu tidak akan bisa lagi kembali dalam hangatnya kasur sembari mendengarkan dongeng-dongeng dariku. Kamu akan sendiri. Kamu akan tersesat atau bisa saja kamu tewas dimakan hewan buas!!!”

“Aku… tahu… aku telah meninggalkan banyak hal untuk sampai kemari. Aku tak mau pulang dengan tangan hampa,”

“Lihat, betapa keras kepalanya, pengelana zaman sekarang? Mereka begitu angkuh dan percaya diri, padahal ia tidak tahu apa-apa tentang dunia. Polos. Lugu.”

“Aku sama sepertimu. Begitu angkuh dan percaya diri, padahal waktu juga telah menggerogoti atom-atom dalam tubuhmu. Padahal hujan rintik-rintik saja telah membuatmu gemetar. Padahal kau hampir roboh tertiup angin. Tapi kau masih berkeras di tempatmu. Memaksaku untuk tetap di sini, di tempatku, di batas ini! Seakan kau sengaja membiarkanku memperhatikammu yang perlahan-lahan digerogoti waktu dan menunggumu roboh dalam suatu tiupan angin yang keras.”

“KURANG AJAR SEKALI KAMU!!!”

“Aku bisa saja merobohkanmu saat ini juga, Batas!” terkam sang Pengelana dengan geram. “Tapi aku… tidak bisa melakukannya. Kamu adalah pelindungku ketika aku masih lemah. Kamu lah yang selama ini berdiri di barisan paling depan hanya untuk menutupi pandanganku dari hal-hal kejam di dunia ini. Aku menyukaimu. Sangat menyukaimu. Jadi aku mohon, biarkan aku melampauimu. Biarkan aku melihat dunia dengan mata kepalaku sendiri. Relakan aku tersesat atau bahkan dimakan hewan-hewan buas. Biarkan aku melampauimu dan berkelana. Biarkan aku menciptakan sebuah dongeng yang nantinya bisa kuceritakan pada anak dan cucuku. Biarkan aku menjadi ‘batas selanjutnya’ untuk dilampaui oleh generasi setelah kita. Aku… sebenarnya… hanya ingin menjadi sepertimu. Menjadi ‘Batas’…”

Bersamaan dengan pengakuan sang Pengelana. Hujan turun dengan derasnya. Petir menyambar-nyambar.

“Bagaimana kalau begitu kamu keluar, kamu tersambar petir, lalu mati?” kata sang Batas.

“Maka aku akan mati dengan bahagia,”

“Lalu bagaimana kalau aku bersikeras menahanmu di sini?”

“Maka akan semakin banyak pengelana yang datang dari seluruh penjuru dunia untuk merobohkanmu,”

“Lalu bagaimana kalau aku kini membiarkanmu melampauiku?”

“Maka kamu akan menjadi hal terindah dalam hidupku yang singkat.”

Ya, si Pengelana telah mendedikasikan seluruh hidupku untuk melampaui sang Batas. Sang Batas tahu itu. Dari kejauhan ia bisa melihat betapa sang Pengelana kecil dulu begitu antusias mendengar dongeng-dongeng. Mengurangi waktu bermain bersama kawan-kawannya hanya untuk membaca buku yang tak terhitung jumlahnya tentang ‘Dunia di luar Batas’.

Ketika kawan-kawan seusianya sibuk bermain petak umpat, ia lihat si Pengelana kecil mati-matian mencerna setiap detail kata. Ketika kawan-kawannya telah terlelap dalam belaian sang Bunda, si Pengelana kecil sibuk dengan cermat memperhatikan dongeng-dongeng yang tengah diceritakan sang Bunda dan menghapal tiap bait, kalimat, dan kata darinya. Dan ketika kawan-kawannya saat ini terlena dalam kenyamanan rumah, ia dengan keras hati meninggalkannya dan pergi menemui sang Batas seorang diri.

“Masaku telah berakhir ya?” lirihnya kemudian. Sang Batas akhirnya tersenyum dan berkata dengan sangat hangat, sama hangatnya ketika ia tengah berdongeng. “Begitu kau sudah lelah berkelana dan memutuskan untuk kembali pulang, maukah kau ceritakan dongeng-dongengmu padaku?”

“Ya,”

Lima belas tahu kemudian, sang Pengelana kembali dan menemukan sang Batas telah rata oleh tanah. Ia tidak sempat memenuhi janjinya. Tapi ia tahu apa yang harus ia lakukan. Ia memutuskan untuk menjadi ‘Batas yang baru’, yang butuh usaha yang sangat keras bagi lainnya untuk melampauinya. Sangat keras. Jauh lebih keras dari ‘Batas yang lama’.

Dan si Pengelana pun berdiri kokoh di sana, menggantikan ‘Batas yang lama’. Melindungi kaki-kaki yang lemah dari segala mara bahaya. Dan mengeluarkan ujian-ujian yang sangat sulit bagi yang ingin melampauinya. Ia dedikasikan seluruh hidupnya untuk berdongeng tentang bagaimana dunia ini begitu indah sekaligus sangat berbahaya. Dan ia memperhatikan kaki-kaki yang lemah itu perlahan-lahan menapak kuat di tanah. Ia menunggu kepala-kepala yang dulunya tunduk ketakutan padanya untuk melawan tatapan matanya dan berkata, “Biarkan aku melampauimu, hai, Batas!”

18.00, ditengah kesibukan belajar untuk ujian esok hari dan kopi (ehem, katanya sibuk? masih sempat2nya bikin kopi sambil nulis yang lain?haha, pura2 ga sadarlah…)
Diperuntukan para Pengajar, yang selama ini telah mendedikasikan hidupnya untuk menjadi ‘Batas’ bagi orang-orang keras kepala sepertiku. Terima kasih dan maaf.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 151 other followers