Blog Archives

AFTA AND MERCOSUR AT THE CROSSROADS

“AFTA and MERCOSUR at the crossroads: security, managed trade, and globalization”

ASEAN dan MERCOSUR masing-masing menghadapi tantangan yang berbeda dalam menyiasati globalisasi, menyebabkan keduanya tidak berperan utuh sebagaimana yang dicita-citakan baik dalam hal keamanan yang cenderung natural dan perdagangan yang cenderung tenggelam oleh iklim dan kepentingan politik yang ada dalam internal rezim itu sendiri. Secara komparatif, fungsional ASEAN dan MERCOSUR yang demikian seakan masih belum seimbang dengan fungsionalisme Uni Eropa dalam setiap kegiatannya yang cenderung lebih banyak signifikan terhadap dunia global dan masyarakat internasional. Sebagai contoh, Uni Eropa berhasil membantuk Mexico keluar krisis—lemahnya mata uang peso di tahun 1994-1995. Sedangkan ASEAN gagal membantu negara anggotanya yang sedang terbelit krisis 1997-1998[1].

Sebaliknya, setelah peristiwa 11 September, jauh dari dampak positif diduga sebagai pusat perkembangan islam radikal yang terkait dengan terorisme global, ASEAN beralih pada isu keamanan, isu utama karena kerjasama ASEAN-asing dalam AFTA banyak ditentukan oleh kestabilan keamanan kawasan. Berbeda dengan ASEAN dan AFTA-nya, Amerika Selatan—lazim disebut Latin Amerika, menghadapi gelombang yang sama dimana perkembangan neoliberalisme menjadi batu sandungan terhadap kemajuan MERCOSUR—Common Market of The South. Namun, reformasi oleh Brazil-Argentina telah berhasil memodifikasi nilai-nilai yang ada dalam internal MERCOSUR, sehingga kini Mercosur menjadi lebih terbuka terhadap kerjasama asing, utamanya negara non-Mercosur.

Problems with Small Regional Free Trade Arrangements

Isu keamanan telah menjadi katalisator berkembangnya kerjasama yang lebih komprehensif di berbagai kawasan (Eropa Timur, Asia dan Eropa) pasca 9/11, demikian juga antaranggota ASEAN. Dalam usaha optimalisasi AFTA maka ASEAN mencari solusi guna menjamin keamanan kawasannya melalui kebijakan-kebijakan pemberantasan jaringan teroris dan Islam radikal yang mengancam. Sebagai tindak lanjut ASEAN mendirikan kerjasama secara khusus dalam bidang militer keamanan dan peningkatan kepercayaan masyarakat internasional dengan menjalin kerjasama dengan masyarakat internasional lain, Uni Eropa dan NAFTA.

Bertolak dari pengalaman masing-masing negara ASEAN yang pernah dipenetrasi oleh Komunisme, maka antikomunisme menjadi pertimbangan penting dalam menysun pakta kerjasama dengan beberapa negara berpengaruh. Masing-masing negara berpengaruh tersebut memiliki kepentingan berbeda terhadap ASEAN, misalnya China berusaha untuk menjauhkan pengaruh Amerika dengan melakukan strategi interdependensi perdagangan yang menyeluruh di seluruh ASIA; Jepang menanamkan pengaruh sama terhadap kawasan ASIA, utamanya ASEAN, tanpa harus terdesak oleh China; berbeda dengan keduanya, pasca 9/11 Amerika melihat pentingnya untuk melakukan kerjasama keamanan dengan negara-negara kawasan ASEAN dalam rangka memberantas terorisme menjadi prioritas utama politik luar negerinya.

ASEAN and MERCOSUR in the wind

Berdasarkan uraian di atas, hal tersebut mengakibatkan ASEAN seakan lebih rentan terhadap keamanan regional daripada isu-isu lain, termasuk perdagangan dan keuangan. Dengan kata lain, faktor keamanan kemudian menjadi pertimbangan yang lebih penting dalam konteks kerjasama ASEAN-AFTA karena selain ASEAN tidak mengantisipasi dampak perang terhadap terorisme global oleh Amerika dan sekutunya, keamanan merupakan isu paling populer dan ancaman paling dominan terhadap kestabilan ekonomi politik regional. Namun demikian, bukan sesuatu yang dibesar-besarkan jika kestabilan ekonomi politik regional ASEAN dan AFTAn ‘idealnya bergantung pada usaha Indonesia menstabilkan kondisi politik dan ekonominya mengingat kuantitas populasinya.

ASEAN merupakan regionalisme yang terbuka yang sangat bergantung pada kerjasama dari pihak asing, secara komparatif berbeda dengan MERCOSUR yang cenderung tertutup dan independen terhadap kerjasama dengan negara non-MERCOSUR. Hal ini yang mungkin mengakibatkan pertumbuhan ekonomi ASEAN lebih unggul daripada MERCOSUR[2].

MERCOSUR: the world third largest Free Trade Area

Kedudukan MERCOSUR dalam perdagangan internasional dan masyarakat internasional mulanya dinilai tidak terlalu signifikan dikarenakan MERCOSUR merupakan regionalisme yang tertutup dari bentuk kerjasama dengan negara non-MERCOSUR. Ketertutupan Latin Amerika tersebut tidak lagi menjadi hal yang esensial karena MERCOSUR lebih banyak digerakkan oleh aktivitas ekonomi Brazil dan Argentina yang melirik neoliberalisme Amerika sehingga mau tidak mau dolar kemudian diterima dalam intern MERCOSUR Latin Amerika, dengan kata lain Mercosur membuka diri terhadap kerjasama perdagangan internasional yang notabene menjadi lebih menguntungkan, utamanya jika kerjasama tersebut mampu mengeluarkan beberapa negara Latin Amerika dari krisis dan ancaman inflasi tinggi[3].

FDI (Federal Direct Investment) & FPI (Federal Portfolio Investment) : become a subtitute for Trade

Signifikasi FDI dan FPI bagi ASEAN dan MECOSUR adalah sebagai konektivitas atau jembatan yang menghubungkan keduanya dengan perdagangan internasional yang lebih menyeluruh. Dalam FDI dan FPI, keduanya merupakan implementasi kombinasi neomerkantilis (ASEAN) dan neoliberalis (MERCOSUR) sehingga keduanya dapat bersinergis langsung dengan iklim perdagangan masyarakat internasional yang serupa: Uni Eropa dan NAFTA.

SIMPULAN

Berbeda dengan Uni Eropa, ASEAN belum mampu membuktikan efektifitas asistensi permasalahan ekonomi negara-negara anggotanya, sementara MERCOSUR masih berhadapan dengan adaptasi dengan perdagangan internasional yang cenderung neoliberal sehingga sebagai managed trade (pasar regional masih dikendalikan oleh kebijakan-kebijakan regional); keduanya belum berperan maksimal sebagaimana cita-cita awal pembentukannya.

Keamanan dan stabilitas politik masih menjadi isu utama kemunduran pengaruh Asean terhadap perdagangan internasional. Merkosur masih baru terhadap perubahan yang diusung oleh Brazil dan Argentina. Kepentingan negara-negara ekonomi besar terhadap Asean dan Mercosur terletak pada Asean: rentan terhadap gelombang komunisme dan kawasan industri baru di Asia; Merkosur: perekonomian yang terbuka dengan diterimanya dolar sebagai alat transaksi perdagangan internasional di Latin Amerika. Baik Asean maupun Mercosur, keduanya berusaha untuk menyusun strategi guna menyiasati perubahan yang tidak siap diantisipasi selama proses globalisasi: Asean: menjalin kerjasama keamanan dengan Amerika sebagai upaya menciptakan confidence-building sessions; Merkosur: terbuka terhadap kerjasama dengan negara non-Merkosur.

OPINI

Adanya tantangan globalisasi domestik dan luar : komunisme, krisis ekonomi, inflasi tinggi; tidak menyebabkan Asean dan Mercosur menjadi pincang sebelah. Sebaliknya, keduanya berupaya menyusun strategi (neomerkantilisme & neoliberalisme) memanfaatkan globalisasi. Kemajuan Asean dan Mercosur tidak lepas dari kestabilan politik dan ekonomi aktor dominan di dalamnya: ASEAN-Indonesia, Mercosur-Argentina dan Brazil. Jika ASEAN, sejak mula terbuka terhadap kerjasama internasional, mengakibatkan pertumbuhan ekonomi kawasan yang lebih perpetual daripada Mercosur, namun demikian sedikit perubahan kebijakan perdagangan oleh Brazil-Argentina, memberi kontribusi yang irresistable. Dengan demikian, Asean dan Mercosur telah melakukan penyesuaian-penyesuai dengan mengkombinasikan kebijakan yang both neomerkantilis dan neoliberalis untuk meraih minimal cost dalam perdagangan internasional. Walaupun demikian, khusus bagi Asean, dikarenakan Asean merupakan rezim regional yang bergerak berdasarkan prinsip kedaulatan yang bersandar pada pemerintah dan pasar. Oleh karena itu, asean tidak akan mengalami perubahan yang signifikan sepertihalnya Merocsur, selama kedua kondisi di atas tidak berubah secara dramatik[4].

SUMBER

Guanshen, Lu. 2005. Assessment on Performance of ASEAN Economic Integration.

Jones, David Martin and MLR Smith. 2006. Asean and East Asian International Relations: Regional Delusions.Massachusetts : Edward Elgar Publishing Ltd.

Pang, Eul-Soo. 2004. AFTA and MERCOSUR at the crossroads: security, managed trade, and globalization.University of Colorado.


[1] Pang. 2004. p.122.

[2] Pang. 2004. p.138.

[3] Pang. 2004. p.137

[4] Guansheng. 2005.p.15

“AFTA and MERCOSUR at the crossroads: security, managed trade, and globalization”

“AFTA and MERCOSUR at the crossroads: security, managed trade, and globalization”

ASEAN dan MERCOSUR masing-masing menghadapi tantangan yang berbeda dalam menyiasati globalisasi, menyebabkan keduanya tidak berperan utuh sebagaimana yang dicita-citakan baik dalam hal keamanan yang cenderung natural dan perdagangan yang cenderung tenggelam oleh iklim dan kepentingan politik yang ada dalam internal rezim itu sendiri. Secara komparatif, fungsional ASEAN dan MERCOSUR yang demikian seakan masih belum seimbang dengan fungsionalisme Uni Eropa dalam setiap kegiatannya yang cenderung lebih banyak signifikan terhadap dunia global dan masyarakat internasional. Sebagai contoh, Uni Eropa berhasil membantuk Mexico keluar krisis—lemahnya mata uang peso di tahun 1994-1995. Sedangkan ASEAN gagal membantu negara anggotanya yang sedang terbelit krisis 1997-1998[1].

Sebaliknya, setelah peristiwa 11 September, jauh dari dampak positif diduga sebagai pusat perkembangan islam radikal yang terkait dengan terorisme global, ASEAN beralih pada isu keamanan, isu utama karena kerjasama ASEAN-asing dalam AFTA banyak ditentukan oleh kestabilan keamanan kawasan. Berbeda dengan ASEAN dan AFTA-nya, Amerika Selatan—lazim disebut Latin Amerika, menghadapi gelombang yang sama dimana perkembangan neoliberalisme menjadi batu sandungan terhadap kemajuan MERCOSUR—Common Market of The South. Namun, reformasi oleh Brazil-Argentina telah berhasil memodifikasi nilai-nilai yang ada dalam internal MERCOSUR, sehingga kini Mercosur menjadi lebih terbuka terhadap kerjasama asing, utamanya negara non-Mercosur.

Problems with Small Regional Free Trade Arrangements

Isu keamanan telah menjadi katalisator berkembangnya kerjasama yang lebih komprehensif di berbagai kawasan (Eropa Timur, Asia dan Eropa) pasca 9/11, demikian juga antaranggota ASEAN. Dalam usaha optimalisasi AFTA maka ASEAN mencari solusi guna menjamin keamanan kawasannya melalui kebijakan-kebijakan pemberantasan jaringan teroris dan Islam radikal yang mengancam. Sebagai tindak lanjut ASEAN mendirikan kerjasama secara khusus dalam bidang militer keamanan dan peningkatan kepercayaan masyarakat internasional dengan menjalin kerjasama dengan masyarakat internasional lain, Uni Eropa dan NAFTA.

Bertolak dari pengalaman masing-masing negara ASEAN yang pernah dipenetrasi oleh Komunisme, maka antikomunisme menjadi pertimbangan penting dalam menysun pakta kerjasama dengan beberapa negara berpengaruh. Masing-masing negara berpengaruh tersebut memiliki kepentingan berbeda terhadap ASEAN, misalnya China berusaha untuk menjauhkan pengaruh Amerika dengan melakukan strategi interdependensi perdagangan yang menyeluruh di seluruh ASIA; Jepang menanamkan pengaruh sama terhadap kawasan ASIA, utamanya ASEAN, tanpa harus terdesak oleh China; berbeda dengan keduanya, pasca 9/11 Amerika melihat pentingnya untuk melakukan kerjasama keamanan dengan negara-negara kawasan ASEAN dalam rangka memberantas terorisme menjadi prioritas utama politik luar negerinya.

ASEAN and MERCOSUR in the wind

Berdasarkan uraian di atas, hal tersebut mengakibatkan ASEAN seakan lebih rentan terhadap keamanan regional daripada isu-isu lain, termasuk perdagangan dan keuangan. Dengan kata lain, faktor keamanan kemudian menjadi pertimbangan yang lebih penting dalam konteks kerjasama ASEAN-AFTA karena selain ASEAN tidak mengantisipasi dampak perang terhadap terorisme global oleh Amerika dan sekutunya, keamanan merupakan isu paling populer dan ancaman paling dominan terhadap kestabilan ekonomi politik regional. Namun demikian, bukan sesuatu yang dibesar-besarkan jika kestabilan ekonomi politik regional ASEAN dan AFTAn ‘idealnya bergantung pada usaha Indonesia menstabilkan kondisi politik dan ekonominya mengingat kuantitas populasinya.

ASEAN merupakan regionalisme yang terbuka yang sangat bergantung pada kerjasama dari pihak asing, secara komparatif berbeda dengan MERCOSUR yang cenderung tertutup dan independen terhadap kerjasama dengan negara non-MERCOSUR. Hal ini yang mungkin mengakibatkan pertumbuhan ekonomi ASEAN lebih unggul daripada MERCOSUR[2].

MERCOSUR: the world third largest Free Trade Area

Kedudukan MERCOSUR dalam perdagangan internasional dan masyarakat internasional mulanya dinilai tidak terlalu signifikan dikarenakan MERCOSUR merupakan regionalisme yang tertutup dari bentuk kerjasama dengan negara non-MERCOSUR. Ketertutupan Latin Amerika tersebut tidak lagi menjadi hal yang esensial karena MERCOSUR lebih banyak digerakkan oleh aktivitas ekonomi Brazil dan Argentina yang melirik neoliberalisme Amerika sehingga mau tidak mau dolar kemudian diterima dalam intern MERCOSUR Latin Amerika, dengan kata lain Mercosur membuka diri terhadap kerjasama perdagangan internasional yang notabene menjadi lebih menguntungkan, utamanya jika kerjasama tersebut mampu mengeluarkan beberapa negara Latin Amerika dari krisis dan ancaman inflasi tinggi[3].

FDI (Federal Direct Investment) & FPI (Federal Portfolio Investment) : become a subtitute for Trade

Signifikasi FDI dan FPI bagi ASEAN dan MECOSUR adalah sebagai konektivitas atau jembatan yang menghubungkan keduanya dengan perdagangan internasional yang lebih menyeluruh. Dalam FDI dan FPI, keduanya merupakan implementasi kombinasi neomerkantilis (ASEAN) dan neoliberalis (MERCOSUR) sehingga keduanya dapat bersinergis langsung dengan iklim perdagangan masyarakat internasional yang serupa: Uni Eropa dan NAFTA.

SIMPULAN

Berbeda dengan Uni Eropa, ASEAN belum mampu membuktikan efektifitas asistensi permasalahan ekonomi negara-negara anggotanya, sementara MERCOSUR masih berhadapan dengan adaptasi dengan perdagangan internasional yang cenderung neoliberal sehingga sebagai managed trade (pasar regional masih dikendalikan oleh kebijakan-kebijakan regional); keduanya belum berperan maksimal sebagaimana cita-cita awal pembentukannya.

Keamanan dan stabilitas politik masih menjadi isu utama kemunduran pengaruh Asean terhadap perdagangan internasional. Merkosur masih baru terhadap perubahan yang diusung oleh Brazil dan Argentina. Kepentingan negara-negara ekonomi besar terhadap Asean dan Mercosur terletak pada Asean: rentan terhadap gelombang komunisme dan kawasan industri baru di Asia; Merkosur: perekonomian yang terbuka dengan diterimanya dolar sebagai alat transaksi perdagangan internasional di Latin Amerika. Baik Asean maupun Mercosur, keduanya berusaha untuk menyusun strategi guna menyiasati perubahan yang tidak siap diantisipasi selama proses globalisasi: Asean: menjalin kerjasama keamanan dengan Amerika sebagai upaya menciptakan confidence-building sessions; Merkosur: terbuka terhadap kerjasama dengan negara non-Merkosur.

OPINI

Adanya tantangan globalisasi domestik dan luar : komunisme, krisis ekonomi, inflasi tinggi; tidak menyebabkan Asean dan Mercosur menjadi pincang sebelah. Sebaliknya, keduanya berupaya menyusun strategi (neomerkantilisme & neoliberalisme) memanfaatkan globalisasi. Kemajuan Asean dan Mercosur tidak lepas dari kestabilan politik dan ekonomi aktor dominan di dalamnya: ASEAN-Indonesia, Mercosur-Argentina dan Brazil. Jika ASEAN, sejak mula terbuka terhadap kerjasama internasional, mengakibatkan pertumbuhan ekonomi kawasan yang lebih perpetual daripada Mercosur, namun demikian sedikit perubahan kebijakan perdagangan oleh Brazil-Argentina, memberi kontribusi yang irresistable. Dengan demikian, Asean dan Mercosur telah melakukan penyesuaian-penyesuai dengan mengkombinasikan kebijakan yang both neomerkantilis dan neoliberalis untuk meraih minimal cost dalam perdagangan internasional. Walaupun demikian, khusus bagi Asean, dikarenakan Asean merupakan rezim regional yang bergerak berdasarkan prinsip kedaulatan yang bersandar pada pemerintah dan pasar. Oleh karena itu, asean tidak akan mengalami perubahan yang signifikan sepertihalnya Merocsur, selama kedua kondisi di atas tidak berubah secara dramatik[4].

SUMBER

Guanshen, Lu. 2005. Assessment on Performance of ASEAN Economic Integration.

Jones, David Martin and MLR Smith. 2006. Asean and East Asian International Relations: Regional Delusions.Massachusetts : Edward Elgar Publishing Ltd.

Pang, Eul-Soo. 2004. AFTA and MERCOSUR at the crossroads: security, managed trade, and globalization.University of Colorado.


[1] Pang. 2004. p.122.

[2] Pang. 2004. p.138.

[3] Pang. 2004. p.137

[4] Guansheng. 2005.p.15

ASEAN AND THE ASEAN REGIONAL FORUM

“ASEAN and the Asean Regional Forum”

Pembentukan ASEAN sebagai rezim secara fungsional dan struktural merupakan reaksi dari adanya: (1) keinginan untuk menghindari konflik antarnegara sekawasan, (2) transformasi ‘lingkungan politik regional’ (pemerintah) negara-negara yang bertikai, dan (3) keinginan historis yang sama untuk bebas dari penjajahan, terbukti karena ide pendirian Asean semula berasal dari berbagai perjanjian-perjanjian rekonsiliasi regional untuk menjembatani konflik-konflik regional tersebut (misalnya Indonesia-Malaysia dan Manila-Malaysia) dengan perbaikan hubungan bilateral masing-masing.

Pada era perang dingin, kawasan Asia Tenggara dinilai rentan—karena pure—dari berbagai pengaruh politik, salah satunya peristiwa pendirian Konfederasi Malaysia yang ditentang oleh Indonesia karena dicurigai sebagai benih kapitalisme-westernisasi Inggris-Amerika: bentuk penjajahan baru. Pasca perang dingin, peran fundamental Asean sebagai organisasi regional dan rezim tidak lagi signifikan seperti ketika Asean pertama kali berdiri dimana kegiatan Asean hanya terfokus pada keinginan untuk menjalin kerjasama dalam bidang ekonomi semata—ini menjadi kelemhan ASEAN. Sehingga ketika bentuk penjajahan modern globalisasi mulai muncul disertai naiknya pamor China sebagai kekuatan baru ekonomi dunia—yang notabene menyerukan kesuksesan ekonomi sosialis-komunisnya, timbul kekhawatiran yang sama sebagaimana konflik Indonesia-Malaysia terdahulu mengenai pembentukan konfederasi Malaysia.

Oleh karena anggota Asean memiliki nilai yang dianut bersama yakni avoidance conflict, maka Asean membentuk forum internal: Asean Regional Forum guna menjamin keamanan secara kolektif yakni menghindari konflik (ancaman) disebabkan oleh globalisasi dan perkembangan ekonomi China, khususnya bagi kawasan Asean.

KEDUDUKAN ASEAN DALAM ARF (Asean Regional Forum)

ARF merupakan suatu forum yang dibentuk oleh ASEAN—dalam kaitan tersebut, ASEAN merupakan penggerak utama dalam ARF—pada tahun 1994 sebagai suatu wahana dialog dan konsultasi mengenai hal-hal yang terkait dengan politik dan keamanan di kawasan, serta untuk membahas dan menyamakan pandangan antara negara-negara peserta ARF untuk memperkecil ancaman terhadap stabilitas dan keamanan kawasan khususnya ARF dimaksudkan sebagai respon untuk menghindari konflik akibat penetrasi komunisme Beijing di Vietnam.

ARF merupakan satu-satunya forum di level pemerintahan yang dihadiri oleh seluruh negara-negara kuat di kawasan Asia Pasifik dan kawasan lain seperti Amerika Serikat, Republik Rakyat China, Jepang, Rusia dan Uni Eropa (UE). ARF menyepakati bawa konsep keamanan menyeluruh (comprehensive security) tidak hanya mencakup aspek-aspek militer dan isu keamanan tradisional namun juga terkait dengan aspek politik, ekonomi, sosial dan isu lainnya seperti isu keamanan nontradisional.

Tujuan ARF antara lain mengembangkan dialog dan konsultasi konstruktif mengenai isu-isu politik dan keamanan yang menjadi kepentingan dan perhatian bersama, serta memberikan kontribusi positif dalam berbagai upayan untuk mewujudkan confidence building dan preventive diplomacy di kawasan Asia Pasifik.

EVOLUSI ARF—Asean Regional Forum

Semenjak pendiriannya di Bangkok, Juli 1994, ARF telah mengalami suatu proses evolusi yang terdiri atas (1) pemajuan peningkatan kepercayaan antarnegara peserta; (2) pengembangan diplomasi pencegahan dan (3) elaborasi mengenai pendekatan untuk pencegahan konflik. Sehingga sebagai suatu forum dialog, ARF memiliki peran instrumental bagi penciptaan dan pengembangan transparansi, peningkatan kepercayaan dan pengertian sehingga dapat menghindarkan atau mengurangi rasa saling curiga dan salah pengertian antara negara peserta. Hal inilah yang dimaksudkan dapat meningkatkan perdamaian, keamanan, dan stabilitas nasional.

SIMPULAN

Adanya berbagai kecurigaan terhadap ancaman bentuk penjajahan baru khususnya pada masa perang dingin, menjadi sumber konflik sehingga timbul rasa curiga antarnegara-negara di kawasan Asia Tenggara dimana beberapa negara seperti Malaysia, Singapura, Filipina: condong pada kapitalisme-westernisasi, berseteru dengan sisanya yang condong pada komunisme (Indonesia, Vietnam dan Kamboja). Berangkat dari ide untuk mengaburkan konsep kapitalisme dan komunisme dalam negara-negara satu kawasan, maka dibentuklah Asean. Walaupun demikian, meskipun transformasi politik terjadi pada hampir semua peserta Asean membawa perbaikan hubungan bilateral masing-masing, ancaman dari luar tetap eksis (ancaman tersebut antara lain adalah pengaruh globalisasi dan kemajuan pesat perekonomian China yang dikenal sosialis-ekonomis). Sehingga, Asean perlu mendirikan suatu forum kerjasama yang didalamnya mendukung keamanan secara kolektif guna menghindari konflik akibat pengaruh persebaran komunisme di Asean; forum tersebut yakni ARF. Metode dan pendekatan yang digunakan ARF antara lain meliputi partisipasi dan kerjasama aktif, penuh serta seimbang dimana ASEAN menjadi penggerak utama ARF. Oleh karena itu, pendekatan yang dianut oleh ARF bersifat evolusioner dan berlangsung dalam tiga tahap besar, yaitu Confidence Building,, Preventive Diplomacy, dan Conflict Resolution yang menjadi norms dan principles dalam rezim ARF di dalam ASEAN.

OPINI

Meskipun ARF masih relatif baru, namun akhir-akhir ini ia telah menjadi kontributor berharga bagi pemeliharaan harmoni dan stabilitas di kawasan Asia Pasifik. Kinerja ARF dilengkapi oleh entitias non-pemerintah dalam lingkup ARF. Kepentingam ARF antara lain untuk menciptakan forum dialog yang terintegrasi dalam ARF serta adanya kepentingan bahwa Asia Tenggara merupakan kawasan yang esensial dalam beberapa dekade mendatang dikarenakan potensinya sebagai kawasan berkembangnya industri baru dunia—new industrial world. Oleh karena itu, banyak negara-negara tertarik pada ARF[1].


[1] Sumber

Emmers, Ralf. 2004. The Formation and Institutional Evolution of ASEAN and the ARF: dalam ‘Cooperative Security and the Balance of Power in ASEAN and the ARF’. New York.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 151 other followers