Blog Archives
STUDI POLITIK NEGARA ASIA TIMUR: CINA DAN TIBET
| Devania Annesya/ 070810535
Nurul Chintya Irada/ 070810719 |
Yurike F. Wahyudi/
070810026 Yoga Bisma/ 070710195 |
Rizki Rahmadini N/
070810510 |
Studi Politik Cina
Cina terdiri dari Republik Rakyat Cina (yang mencakup daratan Cina , Hong Kong dan Makau). Dari sudut pandang RRC, Taiwan masih termasuk dalam Republik Cina. The population of Mainland China, at over 1.3 billion, greatly exceeds that of the remainder of China.Some Taiwanese people do not consider themselves a part of the People’s Republic of China, although many consider themselves Chinese. Namun beberapa orang Taiwan tidak menganggap diri mereka bagian dari Republik Rakyat Cina, meskipun cukup banyak yang menganggap diri mereka Cina. Hal tersebut dapat ditilik kembali berdasarkan sejarah pembentukan Taiwan yang mana merupakan tempat pelarian Pemerintah Nasionalis di masa Revolusi 1949
Cina merupakan negara terbesar ke-4 di dunia dan mencakup daratan yang luas. Di sebelah timur negara Cina terdapat pantai Laut Kuning dan Laut Cina Timur. Di pesisir Laut Cina Selatan, lebih bergunung-gunung dan Cina bagian selatan didominasi daerah yang berbukit dan jajaran gunung yang lebih rendah. Di bagian tengah dan timur ditemukan 2 sungai utama dari Cina, yaitu Huang He dan Chang Jiang. Di sebelah barat terdapat jajaran gunung yang utama, khususnya Himalaya dengan titik tertinggi di Gunung Everest, dan ciri-ciri plato tinggi di antara daratan yang lebih kering dari gurun seperti Takla-Makan dan Gurun Gobi. RRC berbatasan dengan 14 negara: Afganistan, Bhutan, Myanmar, India, Kazakhstan, Kirgizia, Korea Utara, Laos, Mongolia, Nepal, Pakistan, Rusia, Tajikistan dan Vietnam.
Populasi Cina tahun 2005 adalah 2.183.136.031. sebagian besar kepercayaan yang dianut adalah taoisme sebesar 33% dan 59% tidak beragama (atheis), sisanya memeluk agama Islam, Kristian, dan Buddha. Mayoritas populasi (93%) bersuku bangsa Han. RRC telah mengambil kebijakan yang membatasi keluarga di perkotaan (etnis minoritas seperti Tibet dikecualikan) menjadi 1 anak dan keluarga di pedalaman 2 anak, saat yang pertama adalah wanita.
RRC pada mulanya berbentuk kerjaan dengan otoriterianisme kaisar sebagai titisan dewa di dunia yang patut dipuja melalui ritual dan symbol-simbol. Pada tahun 1911 sistem kerajaan di Cina, bernama Kerjaan Manchu, runtuh dan Konfusianisme tidak lagi digunakan ditandai dengan peristiwa May Fourth Movement di mana Cina mereformasi dengan paham Marxisme. Pada tahun 1927 Chiang Kai Sek membangun pemerintah nasionalis Cina dengan struktur pemerintahan modern. Sayangnya pemerintahan nasionalis di Cina tidak berlangsung lama dan di tahun 1949 terjadi Revolusi yang mana Mao Zedong berhasil menumbangkannya dengan program Great Leap forward.
Secara ekonomi, Republik Rakyat Cina mencirikan ekonominya sebagai Sosialisme dengan ciri Cina. Pada tahun 1976 ketika Cina dipimpin Deng Xiao ping, Cina mengakhiri isolasi yang dilakukan Cina terhadap bangsa barat (suku barbar) dengan mengacu pada pasar sosialis yang membuka investasi asing dan tekhnologi. Semenjak reformasi ekonomi di tahun 1978, Cina mengalami pertumbuhan ekonomi tercepat kelima dan pertumbuhan tercepat ekonomi mayor G20, eksporter terbesar di dunia, dan importer terbesar nomor dua. Industrialisasi yang berkembang telah mengurangi angka kemiskinan dari 53% di tahun 1981 ke 8% di tahun 2001.[1]
Sistem perpolitikan di Cina
Cina menyebut pemerintahan mereka sebagai sebuah negara Republik dengan ciri-ciri negara satu partai, demokratik diktator, sentralisme demokrasi, negara kesatuan, negara sosialis, dan merupakan negara komunis. Meski memiliki presiden, Cina juga memiliki sistem legislasi berupa parlemen yakni National People Congress (NPC) yang merupakan lembaga tertinggi dari pemerintahan, berkuasa menciptakan amandemen kostitusi, hukum, mengawasinya, dan merencanakan pengembangan sosial dan ekonomi, membatalkan regulasi, pemerintahan lokal, mengawasi pemerintahan lokal dengan kuasa menunjuk dan memindah proses pengambilan. Oleh karenanya tercipta kondisi semacam pemerintahan parlementer versus presidensial.
Arah kebijakan luar negeri Cina yang sekarang didasarkan pada konsep “kebangkitan cina yang damai”. Konstitusi yang digunakan adalah konstitusi 1982 yang merupakan revisi dari amandemen sebelumnya. Perubahan terpenting yang terjadi adalah penghapusan pemujaan terhadap Mao dan culture revolution. Namun perubahan ini masih tetap membuat kekuatan partai mengontrol jalannya pemerintahan melalui interlocking system dari personel partai dan struktur paralel pada partai negara. Seperti yang kita ketahui bahwa birokrasi Cina diisi oleh kaum elit (kepemimpinan/ posisi administrative dalam susunan organisasi), top elit (kader senior dalam partai dan pemerintahan), intermidiete-level (staf partai dan kantor pemerintahan), dan basic level (kade yang berurusan langsung dengan massa). Sementara kewenangan yudisialnya digerakkan oleh pengadilan masyarakat, perolehan masyarakat, dan kantor keamanan publik.
Dalam proses pemilihan umum Partai Komunis Cina mengatur proses pemilu pada semua level. Pemilihan lokal untuk konggres diperbolehkan namun frekuensi pemilu ditentukan oleh hakim. Dalam partai politik kekuasaan tertinggi untuk memerintah dan membuat kebijakan-kebijakan partai saat kongres partai sedang tidak aktif dilakukan oleh control comitee. The politburo menganut prinsip demokrasi sentral Lenin, keputusan partai dicapai melalui konsensus kelompok dan pemimpin diberi kuasa dalam jumlah kecil. Central party secretariat terdiri dari agen administratif dan agen staff.
Sistem Hukum di RRC
Tanggal 1 Oktober tahun 1949, Mao Zedong mengumumkan berdirinya RRT. Pada lima tahun pertama sejak berdirinya RRT, “Undang-Undang Dasar Republik Rakyat Tiongkok” diumumkan, di mana dalam UUD tersebut terdapat dua prinsip, yaitu peradilan independen dan penegakan hukum secara demokratis. Di samping pengumuman UUD pertama, diluncurkan pula ” Undang-Undang Organisasi Kongres Rakyat ” dan ” Undang-Undang Organisasi Mahkamah Rakyat “, sistem politik, aparat kekuasaan dan badan pengadilan akan beroperasi sesuai dengan undang-undang tersebut. Dengan demikian, tibalah periode emas pertama bagi pembinaan tata hukum Tiongkok.[2] Tahun 1978 adalah tahun yang sulit dilupakan dalam sejarah RRT. Kebijakan reformasi dan keterbukaan menyebabkan Tiongkok menempuh jalan negara perkasa. Tiongkok dengan tegas mengemukakan serangkaian kebijakan untuk mengembangkan demokrasi sosialis, serta membina tata hukum sosialis. Pembinaan tata hukum mulai memasuki periode emas yang baru seiring dengan pengumuman sejumlah undang-undang yang mengatur tindak pidana. Kini, Tiongkok telah membina sistem ilmiah yang tunggal dan berlapis dalam UUD dan “Undang-Undang Penegakan Hukum”, dengan tercatat 231 undang-undang yang berkaitan dengan UUD, antara lain undang-undang yang menyangkut bisnis, administrasi, sosial, ekonomi, dll. Dengan demikian, ekonomi, politik, kebudayaan dan kehidupan sosial akan beroperasi menurut undang-undang.[3] Sementara itu, hak asasi manusia mendapat jaminan hukum, Tiongkok tidak saja menghormati dan melindungi hak asasi manusia dan mendorong perkembangan usaha hak asasi manusia secara keseluruhan tetapi juga memungkinkan “negara menghormati dan melindungi hak asasi manusia” menjadi undang-undang yang memiliki efek hukum. Undang-undang yang berkaitan dengan perlindungan hak asasi manusia dan konvensi internasional yang sudah diratifikasi tercatat 250, termasuk undang-undang khusus untuk melindungi wanita, orang lanjut usia, orang belum dewasa, penyandang cacat dan etnik minoritas dan kelompok khusus lainnya.
Militer di RRC
Militer mempunyai kedudukan penting dalam perpolitikan Cina. Dapat kita lihat setiap budaya dinasti menggunakan kekuatan militernya untuk mendapatkan kekuatan dan di bawah Konfusianisme, militer harus tunduk pada kontrol birokrasi pusat.[4] Militer menjadi subyek yang mengendalikan birokrasi sipil. Perkembangan politik modern Cina hingga saat ini masih mempengaruhi kekuatan angkatan bersenjata dan organisasi militer
Dapat kita lihat dalam beberapa dekade terakhir ini Cina telah meningkatkan kekuatan militer sepenuhnya. Militer Cina adalah salah satu yang terbesar di dunia.[5] Cina pun tengah dalam perjalanan ke modernisasi dan peningkatan kekuatan militer dan peralatan. Sebagian besar militer Cina diimpor dari Uni Soviet. Cina ingin merombak kekuatan militer pada abad ke-21 ini dengan memperkenalkan satelit komputer dan senjata elektronik. Selain itu, Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) juga dibentuk untuk mempercepat moderninasi struktur militer di Cina. Anggaran pengeluaran militer Cina meningkat mencapai 12,6% pada tahun 2005. Cina pun telah berencana untuk meningkatkan anggaran dalam usahanya melakukan modernisasi total kekuatan militer.
Isu-isu kontemporer Cina dan kebijakannya
Republik Rakyat Cina terus tumbuh menjadi salah satu kekuatan dominan dalam sistem internasional kontemporer. Hingga saat ini jalur diplomasi RRC yang sebelumnya cenderung menghindari partisipasi RRC dalam isu-isu global telah beralih menjadi lebih aktif.[6] Terbukti dari keikut sertaan RRC dalam mengatasi permasalahan-permasalahan baik regional maupun internasional. Seperti dalam isu proliferasi nuklir Korea Utara. RRC mengeluarkan kebijakan untuk menghentikan ekspor minyak ke Korea Utara serta mengirimkan pasukan militer ke Korea Utara. Kebijakan-kebijakan tersebut bertujuan membatasi ruang gerak Korea Utara sehingga mampu mendorong dihentikannya proliferasi nuklir.
Keaktifan RRC dalam menekan proliferasi nuklir Korea Utara juga direfleksikan oleh usaha Korea Utara menyelenggarakan perundingan-perundingan seputar ketegangan antara Korea Utara dan Korea Selatan, dan usaha Wakli Menteri Luar Negeri untuk memediasi ketegangan Korea Utara dan Amerika Serikat seputar reaksi AS terhadap proliferasi nuklir Korea Utara. Dalam kasus proliferasi nuklir Korea Utara, RRC memiliki posisi yang strategis. Kekuatan ekonomi yang berkembang pesat memberikan ruang bagi RRC untuk menjadi salah satu kekuatan dominan dunia sehingga Amerika Serikat memandang perlu untuk mendekatkan diri dengan Cina. Sedangkan Korea Utara memang memiliki kedekatan khusus dengan RRC. Korea Utara yang berideologikan komunisme dari awal kemerdekaannya hanya menjaga hubungan diplomasi dengan negara-negara tertentu dan RRC adalah salah satunya.
Kemunculan RRC sebagai aktor internasional yang aktif tak terlepas dari gejolak-gejolak regional seperti permasalahan perbatasan. Kondisi geografis RRC yang berbatasan langsung dengan 14 negara di daratan Asia Timur, dan 7 negara yang dibatasi oleh wilayah perairan memberikan tantangan tersendiri bagi usaha integrasi RRC. Hingga saat ini usaha Taiwan untuk mendirikan entitas politik yang terpisah dari RRC masih menjadi salah satu isu utama bagi RRC. Pengakuan Taiwan tak juga diberikan oleh pemerintahan RRC, begitu pula dalam PBB. Keanggotaan RRC di PBB telah menggantikan posisi Republik Cina atau Taiwan. Hingga saat ini, pemerintahan RRC terus mempertahankan status daerah administrative spesial terhadap Taiwan.
Di level regional, RRC memainkan peran penting bagi negara-negara Asia Tenggara. Pemerintahan RRC terus berkontribusi dalam ASEAN Regional Forum. Hingga saat ini volume perdagangan luar negeri RRC di negara-negara Asia Tenggara terus meningkat. Menurut Medeiros dan Fravel (2003), peranan RRC dalam isu-isu global menunjukan karakter kebijakan luar negeri yang lebih konstruktif dan minim usaha-usaha konfrontasi. Kerjasama menjadi salah satu fokus RRC dalam mensukseskan kebijakan luar negerinya, baik di tingkat regional maupun internasional. kekuatan tak hanya di bidang ekonomi menjadi modal penting bagi pembangunan citra RRC sebagai salah satu emerging superpower dalam sistem internasional. Meskipun tindak kekerasan masih saja digunakan dalam usaha melawan tindakan separatisme Tibet.
Studi Politik Tibet
Pada abad ke 13, Tibet menjadi salah satu wilayah kekuasaan bangsa Mongol atau Cina Yuan yang gencar-gencarnya melakukan invasi di Asia Tengah. Hubungan diantara keduanya bisa dikatakan baik karena terdapat penetrasi Budha ke Mongol yang dipelajari oleh Kubilai Khan dan pernikahan Khan dengan Putri Tibet. Tahun 1368, kerajaan Yuan Mongol jatuh ke tangan bangsa Han. Kemudian diikuti dengan lepasnya Tibet dari kekuasaan Mongol. Pada Revolusi Cina 1911 dengan keruntuhan dinasti Qing merupakan momentum bagi Tibet untuk memproklamasikan kemerdekaan.
Namun di tahun 1950 pemerintahan RRC mengambil alih Tibet melalui invasi militer. Pengambil alihan kekuasaan Tibet oleh RRC ditentang keras oleh masyarakat Tibet. Dengan diinspirasi semangat nasionalisme yang tinggi, masyarakat Tibet berusaha mendeklarasikan kemerdekaannya terlepas dari pemerintahan RRC. Masyarakat Tibet memandang kekuasan Cina di Tibet telah menghapuskan kebebasan universal di Tibet melalui ideogi komunisme Cina. Revolusi Kebudayaan di tahun 1966-1976 di Tibet dipandang turut ambil bagian dalam usaha pemerintah RRC menggerus nilai-nilai unik kebudayaan agama di Tibet yang sebagian besar menganut agama Budha, Islam, dan Kristiani.
Secara tradisional, menurut Eropa dan Amerika menganggap Tibet berada di Asia Tengah, meskipun peta saat ini menunjukkan kecenderungan mempertimbangkan Tibet untuk menjadi Asia Timur. Tibet memiliki beberapa gunung tertinggi di dunia. Salah satunya adalah Gunung Everest, 8.848 meter, merupakan gunung tertinggi di dunia, yang terletak di perbatasan Nepal. Beberapa sungai besar sumbernya di Plateau Tibet, ini termasuk Yangtze, sungai kuning, sungai indus, mekong, gangga, salween dan sungai Yarlung Zangbo. Sungai Yarlung Zangbo merupakan lembah terdalam dan terpanjang di dunia.
Penduduk Tibet terdiri dari orang Tibet terutama etnis dan beberapa kelompok etnis lain. Menurut tradisi asli, nenek moyang orang-orang Tibet, yang diwakili oleh enam golongan merah di bendera Tibet adalah Se, Mu, Dong, Tong, Dru dan Ra. Kelompok-kelompok etnis tradisional dengan penduduk yang signifikan atau dengan mayoritas kelompok etnis berada di Tibet (tidak termasuk wilayah sengketa dengan India) termasuk orang Bai, Blang, Bonan, Dongxiang, Han, Hui Cina, Lhoba, orang Lisu, Miao, Mongol, Monguor (Tu orang), menba (Monpa), Mosuo, Nakhi, Qiang, orang Nu, Pumi, Salar, dan isu Yi people. Proporsi penduduk Cina Han di Tibet adalah suatu politik yang sensitif dan diperdebatkan. Pusat Administrasi mengatakan bahwa RRC telah secara aktif dibanjiri pendatang Han Tibet dengan Cina untuk mengubah susunan demografis Tibet.
Seni budaya di Tibet merupakan representasi seni secara intrinsik yang terikat dengan Tibetan dan biasanya menggambarkan dewa-dewi atau variasi Buddha dalam berbagai bentuk dari patung-patung perunggu Buddha dan kuil-kuil. Arsitektur tibet mengandung pengaruh arsitektur oriental dan india yang mana mencerminkan pendekatan pada Buddha. Begitu pula dengan musik dan festival, keduanya cenderung mengandung unsur-unsur religius untuk menyembah sang Budha.
Sistem Militer di Tibet
Setelah Komunis berhasil menguasai Tibet pada 1950an, pemerintah Tibet pun menyerah pada tahun 1951 yang kemudian menandatangani suatu perjanjian yang salah satu isinya adalah pengambilalihan kontrol militer Tibet oleh Cina.[7] Unit militer Komunis mulai mencapai Lhasa pada bulan Oktober 1951. Pemerintah Cina membentuk sebuah komite administrasif militer serta markas militer di Tibet, di mana selain dari personil yang dikirim ke wilayah Tibet, penduduk lokal Tibet pun juga ambil bagian dalam kemiliteran tersebut tetapi harus mendapat persetujuan terlebih dahulu dari pemerintah Cina.[8] Partai Komunis Cina menunjang kekuatan militer di Tibet setidaknya sejumlah seperempat juta kekuatan, yang mengatur ketat wilayah Tibet. Militer dan polisi pada umumnya berpusat di Lhasa. Setelah hubungan India dan Cina yang kian membaik, Tibet sekarang telah berubah menjadi sebuah pangkalan militer yang kuat dengan 17 stasiun radar rahasia, 14 lapangan udara militer, 5 pangkalan rudal terletak di dekat perbatasan India, dan stasiun nuklir rahasia di dekat Danau Ko-Ko Nor.[9]
Sistem Hukum di Tibet
Pada sistem hukum Tibet yang lama, undang-undang pasal 13 dan 16 yang telah dilaksanakan beberapa ratus tahun di Tibet, membagi masyarakat menjadi 3 kelas dan 9 peringkat.[10] Kedudukan masyarakat sangat tidak merata di mata hukum. Banyak sekali kekerasan yang dialami oleh para budak. Tetapi ketika terjadi reformasi demokratis RRC, maka kedudukan budak pun mulai dihargai dan telah memperoleh hak politik mereka sebagai warga negara, yang telah dinyatakan dalam konstitusi dan hukum. Setelah berkembang selama beberapa tahun, Tibet baru telah membuat sebuah sistem hukum etnis yang mengatur “obyek-obyek” secara khusus, dengan menggunakan prinsip dan cara kerja legislatif. Peraturan sistem lokal ini menjadi karakter yang sangat kuat terhadap Tibet dan juga meningkatkan kerja sama, serta mengarahkan isi undang-undang negara dalam hal rezim, pembangunan ekonomi, pernikahan, pendidikan, bahasa dan huruf, keadilan, sumber daya alam, lingkungan, dan sebagainya.[11] Tibet pun sekarang semakin meningkatkan pendidikan hukum bagi masyarakatnya.
Isu-isu kontemporer Tibet dan kebijakannya
Kebijakan RRC untuk mengirimkan pasukan militer dan pendudukan Tibet dipandang oleh masyarakat Tibet sebagai kehancuran kemerdekaan dan kebebasan Tibet. Selain itu, pertikaian antara pasukan militer RRC dengan masyarakat Tibet telah melanggar Hak Asasi Manusia di Tibet. Masyarakat Tibet mengklaim kemerdekaannya berdasarkan Peace Convention antara RRC, Tiet, dan Inggris di awal tahun 1914 yang secara resmi mengakui Tibet sebagai negara berdaulat meskipun akhirnya di tahun 1950 RRC mengambil alih kontrol terhadap wilayah Tibet.
Hingga saat ini aksi separatisme Tibet terus memperoleh dukungan dari pihak internasional. Presiden Obama secara langsung menyampaikan kekagumannya kepada Dalai Lama, pemimpin spiritual Tibet, yang secara konsisten tidak menggunakan jalur kekerasan untuk mendapatkan pengakuan dunia Internasional terhadap kemerdekaan Tibet. Melalui Dalai Lama, Tibet terus berusaha untuk memperjuangkan kemerdekaannya tanpa menggunakan jalur militer. Kebijakan ini berkaitan langsung dengan ajara Budha tentang perdamaian dan harmoni yang merupakan ajaran dominan di Tibet.
Kesimpulan
Dapat disimpulkan bahwa Cina adalah negara yang mempunyai penduduk paling padat sedunia dengan kebudayaannya yang telah berkembang selama hampir 4.000 tahun. Selama berabad-abad Cina berdiri berdiri sebagai suatu peradaban terkemuka, yang telah melampaui seluruh dunia dalam hal ilmu dan seni.[12] Tetapi pada abad ke-19 dan awal abad ke-20, negara tersebut dilanda kerusuhan sipil, kelaparan, kekalahan militer, dan pendudukan bangsa Asing. Setelah PD II, Komunis berjaya di bawah kepemimpinan Mao Zedong yang kemudian mendirikan sebuah sistem sosialis otokratis, di mana untuk memelihara kedaulatan Cina, Mao pun memberlakukan kontrol ketat terhadap kehidupan sehari-hari dan biaya hidup puluhan juta orang. Setelah 1978, penggantinya Deng Xiaoping dan pemimpin-pemimpin berikutnya berfokus pada pembangunan ekonomi berorientasi pasar, dan kemudian pada tahun 2000 output telah meningkat empat kali lipat. Untuk sebagian besar populasi, standar hidup telah meningkat secara dramatis serta diiringi dengan kontrol politik yang ketat. Sejak tahun 2004, Cina telah berdiri sebagai ekonomi terbesar kedua di dunia setelah Amerika Serikat.
Sementara itu Tibet yang merupakan wilayah yang terletak di bagian barat daya Cina pada dasarnya merupakan Daerah Otonomi Khusus RRC, yang juga disebut sebagai Xizang. Tibet memiliki ketinggian rata-rata 4.900 meter (16.000 kaki) sehingga dianggap sebagai daerah tertinggi di Bumi, dan dalam beberapa dekade terakhir Tibet disebut-sebut sebagai “Atap Dunia”. Tibet pada awalnya berkembang menjadi sebuah kerajaan yang independen pada abad ke-8 dan kemudian menjadi provinsi Cina pada abad ke-20 setelah adanya serbuan dan penguasaan oleh Cina.[13] Raja Tibet diberi gelar Dalai Lama, di mana Dalai Lama ke-14 yang sekarang adalah kepala temporal Tibet yang membantu rakyat untuk melindungi dan mempertahankan rezim demokratis. Tibet memiliki keindahan tetapi sangat sulit untuk dikunjungi karena seakan-akan terisolasi.[14] Tibet adalah wilayah yang memiliki situasi dan kondisi yang kontras, yaitu memiliki puncak bersalju dan gurun pasir, dataran tinggi gersang dan gunung-gunung yang berhutan, memiliki bentangan kosong tetapi juga memiliki kota yang padat, serta memiliki orang-orang sangat religius tetapi diperintah oleh pemerintah yang ateistik.[15] Peternakan hewan dan pertanian adalah dua kegiatan ekonomi utama di Tibet. Dalam beberapa tahun terakhir, Cina bahkan telah menghabiskan miliaran untuk meningkatkan prospek ekonomi Tibet dengan mendorong pariwisata dan perdagangan ke wilayah tersebut.
Referensi
Anon. A Brief Introduction to Tibet, n.d. [ebook online]. http://www.tibet.net/en/index.php?id=6&rmenuid=8 . diakses pada 15 Mei 2010
Anon. 2002. Building of Tibetan Legal System. [Internet]. Terdapat pada http://au.china-embassy.org/eng/zt/zgxz/t45482.htm. (Diakses 15 Mei 2010)
Anon. 2005. Cina. [Internet]. Terdapat pada Tiongkok Dalam 60 Tahun Terakhir. [Internet]. Terdapat pada
http://indonesian.cri.cn/281/2009/05/27/1s96960.htm. (Diakses 15 Mei 2010)
Anon. Cina Military. [Internet]. Terdapat pada http://www.mapsofworld.com/Cina/Cina-military/. (Diakses 14 Mei 2010)
Anon. n.d. Legal Materials on Tibet. [Internet]. Terdapat pada http://www.tibetjustice.org/materials/china/china3.html. (Diakses 15 Mei 2010)
Anon. 2010. Menuju Tata Hukum-Prestasi Pembangunan Tata Hukum Republik Rakyat. http://geography.about.com/library/cia/blcCina.htm. (Diakses 14 Mei 2010)
Anon. n.d. Tibet. [Internet]. Terdapat pada http://www.crystalinks.com/tibet.html. (Diakses 15 Mei 2010)
Fighting Poverty: Findings and Lessons from Cina’s Success (World Bank). Diakses 17 Mei 2010.
James C.F. Wan. 1947. Comparative Asia Politics: Power, Policy, and Change. Prentice Hall International Inc. p. 71
Matt Rosenberg. 2008. Tibet. [Internet]. Terdapat pada http://geography.about.com/od/specificplacesofinterest/a/tibet.htm. (Diakses 15 Mei 2010)
Medeiros, Evan and Fravel, Taylor. 2003. China’s New Diplomacy. [ebook online]. http://www.foreignaffairs.com/articles/59362/evan-s-medeiros-and-m-taylor-fravel/chinas-new-diplomacy diakses pada 15 Mei 2010
Tjeng, Lie Tek. 1983. Studi Wilayah Pada umumnya Asia Timur Pada Khususnya. Bandung: Penerbit Alumni
[1] Fighting Poverty: Findings and Lessons from Cina’s Success (World Bank). Diakses 17 Mei 2010.
[2] Anon. 2010. Menuju Tata Hukum-Prestasi Pembangunan Tata Hukum Republik Rakyat Tiongkok Dalam 60 Tahun Terakhir. [Internet]. Terdapat pada http://indonesian.cri.cn/281/2009/05/27/1s96960.htm. (Diakses 15 Mei 2010)
[3] Ibid
[4] James C.F. Wan. 1947. Comparative Asia Politics: Power, Policy, and Change. Prentice Hall International Inc. p. 71
[5] Anon. n.d. Cina Military. [Internet]. Terdapat pada http://www.mapsofworld.com/Cina/Cina-military/. (Diakses 14 Mei 2010)
[6] Medeiros, Evan and Fravel, Taylor. 2003. China’s New Diplomacy. [ebook online]. http://www.foreignaffairs.com/articles/59362/evan-s-medeiros-and-m-taylor-fravel/chinas-new-diplomacy diakses pada 15 Mei 2010
[7] Anon. n.d. Legal Materials on Tibet. [Internet]. Terdapat pada http://www.tibetjustice.org/materials/china/china3.html. (Diakses 15 Mei 2010)
[8] Ibid
[9] Ibid
[10] Anon. 2002. Building of Tibetan Legal System. [Internet]. Terdapat pada http://au.china-embassy.org/eng/zt/zgxz/t45482.htm. (Diakses 15 Mei 2010)
[11] Ibid
[12] Anon. 2005. Cina. [Internet]. Terdapat pada http://geography.about.com/library/cia/blcCina.htm. (Diakses 14 Mei 2010)
[13] Matt Rosenberg. 2008. Tibet. [Internet]. Terdapat pada http://geography.about.com/od/specificplacesofinterest/a/tibet.htm. (Diakses 15 Mei 2010)
[14] Anon. n.d. Tibet. [Internet]. Terdapat pada http://www.crystalinks.com/tibet.html. (Diakses 15 Mei 2010)
[15] Ibid
STUDI PERBANDINGAN POLITIK: CINA-JEPANG
Devania Annesya/ 070810535
| ASPEK | CINA | JEPANG | |
| Geografi | RRC adalah negara terbesar di Asia Timur, dan keempat terluas di dunia (9,596,960 km2) setelah Rusia dan Kanada.RRC berbatasan dengan 14 negara: Afganistan, Bhutan, Myanmar, India, Kazakhstan, Kirgizia, Korea Utara, Laos, Mongolia, Nepal, Pakistan, Rusia, Tajikistan dan Vietnam.
Sebagian besar berbukit dan berupa pegunungan |
Jepang merupakan negara kepulauan di Asia Timur dengan luas 377,944 km2. Terletak di ujung barat Samudra Pasifik, di sebelah timur Laut Jepang, dan bertetangga dengan Republik Rakyat Cina, Korea, dan Rusia. Pulau-pulau paling utara berada di Laut Okhotsk, dan wilayah paling selatan berupa kelompok pulau-pulau kecil di Laut Cina Timur, tepatnya di sebelah selatan Okinawa yang bertetangga dengan Taiwan. Sebagian besar pulau di Jepang bergunung-gunung, dan sebagian di antaranya merupakan gunung berapi. | |
| Demografi | Sensus 2000:1.242.612.2262 dengan kepadatan 140/km2Mayoritas populasi (93%) bersuku bangsa Han. RRC telah mengambil kebijakan yang membatasi keluarga di perkotaan (etnis minoritas seperti Tibet dikecualikan) menjadi 1 anak dan keluarga di pedalaman 2 anak saat yang pertama wanita. | Sensus 2004 127.333.002 dengan kepadatan 337,4/km298,5% Jepang, 0,5% Korea, 0,4% Cina, 0,6% lain-lain | |
| Religi | Budha | Budha, Shinto, Kristen | |
| Ekonomi | Republik Rakyat Cina mencirikan ekonominya sebagai Sosialisme dengan ciri Cina.Mata uang Renminbi (Yuan) | Sejak periode Meiji (1868-1912), Jepang mulai menganut ekonomi pasar bebas dan mengadopsi kapitalisme model Inggris dan Amerika Serikat. Mata uang Yen | |
| Sosial-budaya | Neo-Konfusianisme, Kong Hu Chu, Buddhisme, Taoisme | Buddhisme,Taoisme danKonfusianisme dari Cina | |
| Ideologi | Otokratis, komunis dan sosialis
|
Liberalis | |
| Sistem pemerintahan | Republik sosialisPresiden Hu Jintao
Perdana Menteri Wen Jiabao |
Monarki konstitusional, sistem parlementerKaisar Akihito
Perdana Menteri Yukio Hatoyama Jepang menganut sistem negara monarki konstitusional yang sangat membatasi kekuasaan Kaisar Jepang. Sebagai kepala negara seremonial, kedudukan Kaisar Jepang diatur dalam konstitusi sebagai “simbol negara dan pemersatu rakyat”. Kekuasaan pemerintah berada di tangan Perdana Menteri Jepang dan anggota terpilih Parlemen Jepang, sementara kedaulatan sepenuhnya berada di tangan rakyat Jepang. Kaisar Jepang bertindak sebagai kepala negara dalam urusan diplomatik. |
|
| Partai politik | pemerintahan satu partaiPartai Komunis Cina (CCP). | multipartai | |
| Militer | Cina mempunyai pasukan tentara terbesar di dunia, Pasukan Pembebasan Rakyat (People’s Liberation Army, PLA) | Jepang memiliki hubungan militer yang erat dengan Amerika Serikat, dan menjalankan kebijakan luar negeri berdasarkan pakta keamanan Jepang-AS |
Referensi:
- China.org.cn Situs resmi
- Kantei.go.jp – Situs web resmi kantor perdana menteri dan kabinet
- Sangi-in.go.jp – Situs web resmi Badan Penasehat
- Shugi-in.go.jp – Situs resmi Dewan Perwakilan
- www.gov.cn Portal Pemerintahan
PANDANGAN HIDUP DAN KEPERCAYAAN ORANG CINA: TAOISME, KONFUSIANISME, DAN BUDHISME
PANDANGAN HIDUP DAN KEPERCAYAAN ORANG CINA:
TAOISME DAN KONFUSIANISME
Devania Annesya
070810535
devania.annesya@gmail.com
Taoisme
Taoisme juga dikenal dengan Daoisme, diprakarsai oleh Laozi sejak akhir Zaman Chunqiu. Taoisme merupakan ajaran Laozi yang berdasarkan Daode Jing. Pengikut Laozi yang terkenal adalah Zhuangzi yang merupakan tokoh penulis kitab yang berjudul Zhuangzi.
Menurut ajaran Tao, manusia pada hakekatnya terlahir dalam keadaan suci dan baik. Jalan yang ditempuh untuk mempertahankan dan memelihara kesucian dan keadaan baik. Ia percaya jalan ini dapat menghindarkan manusia dari segala hal yang bertentangan dengan ritme atau irama alam semesta. Terdapat lima budi baik jalan Tuhan yakni:
- Berkelakuan ramah tamah
- Berkelakuan sopan santun
- Harus cerdas
- Harus jujur
- Harus adil
Taoisme berasalkan dari kata “Dao” yang berarti tidak berbentuk, tidak terlihat, tapi merupakan proses kejadian dari semua benda hidup dan segala benda-benda yang ada di alam semesta. Dao yang berwujud dalam bentuk benda hidup dan kebendaan lainnya adalah De. Gabungan Dao dengan De dikenal sebagai Taoisme yang merupakan landasan kealamian. Taoisme bersifat tenang, tidak berbalah, bersifat lembut seperti air, dan bersifat abadi. Keabadian manusia terwujud disaat seseorang mencapai kesadaran Dao, dan orang tersebut akan menjadi dewa. Penganut-penganut Taoisme mempraktekkan Dao untuk mencapai kesadaran Dao, dan menjadi seorang dewa. Taoisme juga memperkenalkan teori Yinyang, dalam Daode Jing Bab 42.
Secara terminologi, Yin dan Yang diterjemahkan sebagai negatif dan positif. Setiap benda bersifat dualisme yang terdiri dari unsur positif dan unsur negatif. Benda yang tidak memiliki unsur negatif dan positif, itu bermakna kosong dan hampa. Seperti halnya magnet, magnet mempunyai unsur positif dan negatif, kedua-duanya bersifat saling melengkapi. Magnet tanpa unsur positif, maka tidak terwujudnya unsur negatif. Itu bermakna bahwa magnet tidak akan terwujud jika tidak memiliki kedua unsur tersebut.
Konfusianisme
Konfusianisme adalah warisan dari Timur, suatu bentuk budaya yang mekanismenya untuk mengawasi tingkah laku masyarakat tersebut yang dilahirkan dan dibesarkan dibawah pengaruh budaya Konfusianisme yang menekankan pada kehidupan keluarga dan perkembangan pribadi. Budaya Konfusianisme ini adalah dasar yang unik dari tingkah laku/sikap masyarakat di Asia Timur, seperti halnya Kristen yang merupakan inti dari sikap masyarakat di Barat. Saat ini kita tidak dapat melupakan orang Asia-Amerika. Berdasarkan harian Washington Post, “Meskipun Orang Asia-Amerika hanya merupakan 2.4 persen dari populasi negara, mereka merupakan 17.1 persen mahasiswa di universitas Harvard, 18 persen di Massachussets Institute of Technology dan 27.3 persen di Universitas California -Berkeley. Di Universitas California- Irvine, 35.1 persen dari mahasiswanya adalah orang Asia-Amerika, bahkan perbandingan class barunya lebih tinggi : 41 persen. Sifat kerja keras orang-orang Asia merupakan warisan Konfusianisme secara umum, filsafat 5 abad sebelum masehi, orang Bijaksana dari Cina yang mengajarkan orang untuk menjadi sempurna hanya melalui pendidikan dan latihan (praktek). Khonghucu (Confucius) bukan hanya merupakan karakter pada masa lalu, beliau adalah kenyataan hidup dari masayarakat tersebut.
Konfusianisme adalah kemanusiaan, suatu filsafat atau sikap yang berhubungan dengan kemanusiaan, tujuan dan keinginannya, daripada sesuatu yang bersifat abstrak dan masalah teologi. Dalam Konfusianisme manusia adalah pusat daripada dunia: manusia tidak dapat hidup sendirian, melainkan hidup bersama-sama dengan manusia yang lain. Bagi umat manusia, tujuan akhirnya adalah kebahagiaan individu. Kondisi yang diperlukan untuk mencapai kebahagiaan adalah melalui perdamaian. Untuk mencapai perdamaian , Khonghucu (Confucius) menemukan hubungan antar manusia yang meliputi Lima hubungan (Ngo Lun) berdasarkan Cintakasih dan Kewajiban. Peperangan harus dihindarkan; dan Persatuan Besar dari seluruh dunia harus dikembangkan.
Konfusianisme bukan satu-satunya yang disebut agama. Khonghucu sendiri sangat percaya kepada Tuhan dan mengajarkan Tao-nya yang membimbing umat manusia ke Jalan yang terang, dengan cara ini akan menyatu/manunggal dengan Tuhan, dengan tanpa mempertujukkan orang dapat membuktikannya; dengan tanpa menggerakkan orang membuat perubahan, dan tanpa berusaha orang dapat memperoleh hasil akhirnya. Ajaran Khonghucu adalah yang paling suci diantara ajaran suci, dan mungkin di atas semua agama dan tidak pernah bertentangan dengan mereka. Beliau percaya bahwa semua orang di dunia ini adalah bersaudara di bawah Tuhan Yang Esa.
Analisis
Pada dasarnya kepercayaan orang Cina pada umumnya didasarkan pada keyakinan bahwa di dunia ini manusia merupakan refleksi dari kehidupan alam semesta. Baik Konfusianisme maupun Taoismme, kedua lebih menekankan pada way of life, bagaimana seharusnya manusia hidup, berinteraksi dan saling menjaga suatu kondisi damai. Oleh karenanya banyak orang menganggap keduanya bias menjadi ajaran hidup atau filsafat daripada teologi kendati keduanya juga tidak melepaskan adanya ritual-ritual di dalamnya. Ini mungkin adalah sebuah alasan yang mempermudah kepercayaan ini masuk dan dipelajari oleh bangsa-bangsa lainnya sebagaimana di Indonesia sendiri. Pada kenyataannya bangsa Cina pada saat ini memeluk agama Kristem Protestan, Katolik, Budha, dan Hindu namun mereka tetap memegang erat ajaran hidup dan kepercayaan Taoisme dan Konfusianisme yang dipercaya akan menyeimbangkan kehidupan mereka
.
Referensi:
Tjeng, Lie T. 1983. Studi Wilayah pada Umumnya Asia Timur Pada Khususnya. Bandung: Penerbit Alumni
homepage://www.wam.umd.edu/-tkang, email: tkang@wam.umd.edu (diakses 22 Maret 2010)
http://www.taoist.org.cn/jingdian (diakses 22 Maret 2010)
HUBUNGAN INDONESIA DENGAN NEGARA-NEGARA BESAR (CINA DAN AMERIKA SERIKAT)
-note: this entry will be updated with the current issues ensuing the relations between the two ‘US and China’ deeply rooted in the concept of ‘economic, military, and globalizations’ how these creates the ongoing relations getting more complex and as globalization noted ‘sophisticated’-
Dalam segi internasional, Indonesia mengadakan hubungan dengan hampir semua negara di dunia dan dengan berbagai lembaga internasional yang penting. Di antara itu semua dapat dikatakan bahwa pada waktu ini Indonesia juga mengadakan hubungan dengan negara – negara besar seperti Amerika dan Cina.
Hubungan antara Indonesia dan Amerika adalah satu hal yang amat penting, baik bagi Indonesia maupun Amerika. Berbagai faktor menunjukkan, seperti faktor geostrategi dan faktor ekonomi, bahwa kedua negara berkepentingan memelihara hubungan yang baik dan lancar. Hubungan Indonesia dengan Amerika Serikat pada umumnya hangat dan ramah setelah pembentukan Orde Baru pada masa pemerintahan presiden Soeharto. Pada tahun 1991 perdagangan Amerika Serikat dengan Indonesia lebih besar daripada perdagangan dengan seluruh Eropa Timur. Meskipun mengaku nonalignment, Indonesia juga mengakui pentingnya kehadiran militer dan politik Amerika Serikat di Asia Tenggara dalam menjaga keseimbangan daerah kekuasaan. Amerika Serikat dilihat Indonesia sebagai landasan keamanan regional di Asia Tenggara dan mitra dagang utama.
Di sisi lain, hubungan bilateral Indonesia dengan Cina juga terus ditingkatkan mengingat posisi geografis dan politik negara dengan penduduk terbesar itu yang sangat strategis dan penting, di mana Cina juga merupakan salah satu negara besar di Asia. Indonesia dan Cina mendirikan hubungan diplomatik pada 13 April 1950. Hubungan bilateral mereka dikembangkan secara bertahap sejak dimulainya kembali hubungan diplomatik kedua negara. Sejak hubungan dirintis 1990 lalu, kedua negara memiliki hubungan emosional yang tinggi sehingga peningkatan kerjasama di berbagai bidang tidak bisa dihindari. Kedua negara saling percaya dan mendukung secara politis, di mana hal ini dapat dilihat dari segi ekonomi dan perdagangan, serta mengutamakan koordinasi dan kerja sama dalam permasalahan dalam maupun luar negeri. Fakta menunjukkan bahwa pengembangan hubungan Tiongkok-Indonesia adalah untuk kepentingan mendasar kedua negara dan bangsa tersebut, serta dapat bersifat kondusif untuk mempromosikan perdamaian, stabilitas dan kemakmuran kawasan dan dunia secara keseluruhan.
Indonesia-Cina
Hubungan Indonesia-RRC mencapai masa paling harmonis ketika masa pemerintahan Presiden Soekarno. Namun, setelah itu pemerintahan Presiden Soeharto memutuskan hubungan diplomatik kedua negara pada 1967, meskipun kemudian hubungan diplomatik tersebut kembali dihidupkan pada 1990. Sejak pergantian presiden pada 1998, hubungan kedua negara berangsur semakin membaik. Terutama setelah dicabutnya sejumlah larangan praktek tradisi Cina oleh Presiden Abdurrahman Wahid.
Jika dilihat dari jumlah penduduk dan luas wilayah, RRC merupakan negara terbesar di Asia. Jumlah penduduk yang besar menawarkan potensi pasar yang cukup luas. Negara tersebut juga dikenal kuat dalam bidang industri, perdagangan, dan keuangan. RRC telah mengalami transformasi besar pada dekade terakhir ini. Meskipun mayoritas dari 1,2 miliar penduduknya masih hidup dalam kemiskinan, RRC berada dalam langkahnya menjadi kekuatan ekonomi dunia terbesar. Maka, sangat penting bagi Indonesia untuk menjalin hubungan baik dengan RRC.
Naiknya Megawati ke kursi kepresidenan juga membawa upaya ke arah peningkatan hubungan kedua negara dengan lebih baik. Mulai dari pertemuan antara Presiden RRC Jiang Zemin dan Megawati pada pertemuan OPEC di Shanghai pada Oktober 2001 hingga menyusul kunjungan Perdana Menteri RRC Zhu Rongji ke Jakarta pada November 2001. Dalam kunjungan tersebut, dicapai banyak kemajuan baru dalam kerja sama kedua negara dalam berbagai bidang. Perkembangan besar terakhir dalam hubungan kedua negara tentunya adalah kunjungan Presiden Megawati ke RRC pada 24 hingga 27 Maret 2002 lalu. Dalam kesempatan itu, pemerintah Indonesia dan RRC sepakat untuk meningkatkan kerja sama politik dan ekonomi. Kesepakatan yang dicapai antara lain adalah pembukaan konsulat jenderal baru di sejumlah kota, baik di RRC maupun di Indonesia, dan pembentukan forum energi antara kedua negara. Presiden Megawati sendiri sangat optimis akan keberhasilan kunjungannya ini, dan menyatakan keyakinannya akan tindak lanjut dari sejumlah memorandum kerja sama yang telah dihasilkan selama kunjungannya tersebut.
Di era kepemimpinan Presiden SBY, beberapa Memorandum Of Understanding
(MoU) ditandatangani oleh pimpinan kedua negara (RI dan RRC). Cukup banyak nota kesepakatan berkenaan dengan pengembangan ekonomi, budaya serta pendidikan, yang telah disepahami oleh kedua belah pihak. Dalam konteks ekonomi, ditingkatkannya volume target perdagangan kedua negara, dari U$ 20 miliar pada tahun 2008, menjadi U$ 30 miliar pada tahun 2010, menghembuskan angin segar bagi hubungan perniagaan langsung antara kedua negara.
Pasca kunjungan kenegaraan Presiden SBY pada 27 Juli lalu, Indonesiapun berkesempatan untuk mempelajari keberhasilan RRC, dalam mengentaskan kebiasaan korupsi yang sebelumnya begitu merasuki masyarakat dan kalangan aparatur di sana. Yang menarik, pendekatan yang dilakukan oleh pemerintah RRC dalam mengentaskan kebiasaan korupsi itu adalah melalui culture approaching, pun punishment atau hukuman yang keras terhadap para pelaku korupsi. Selain penegakan hukum dan budaya bangsa yang begitu dijunjung tinggi oleh rakyat Cina, pendidikanpun menjadi sektor vital yang tak lepas dari perhatian pemerintahnya.
Bagaimanapun Republik Indonesia dan Republik Rakyat Cina ( RRC) merupakan suatu negara yang cukup besar dan cukup berpengaruh di Asia, karena kedua negara mempunyai pandangan yang sama dan saling memberikan dukungan difora internasional. Selain itu juga mempunyai komitmen yang sama khususnya untuk menciptakan stabilitas keamanan yang baik di kawasan Asia.
Hal tersebut dikemukakan Menteri Pertahanan Republik Indonesia (Menhan RI) H. Matori Abdul Djalil, Rabu (18/9/2009) saat menerima kunjungan kehormatan Menteri Pertahanan Nasional Republik Rakyat Cina (Menhannas RRC) Jenderal Chi Haotian, di Departemen Pertahanan RI Jl. Merdeka Barat 13-14 Jakarta Pusat. Pada kunjungan tersebut Menhan RRC disambut dengan upacara jajar kehormatan militer. Pertemuan berlangsung selama 30 menit tersebut, selain dibicarakan masalah stabilitas di kawasan Asia, juga dibicarakan berbagai hal antara lain hubungan dan kerjasama antara RRC dan Republik Indonesia khususnya dibidang pertahanan kedua negara yang selama ini telah terjalin dengan baik. (Sumber: Biro Humas Setjen Dephan)
Kerjasama di bidang pertahanan antara Indonesia dan RRC diwujudkan dengan cara kunjungan pejabat tinggi militer, siswa Lemhannas dan Sesko TNI ke Cina dan kunjungan pejabat militer Cina ke Indonesia. Sedangkan kerjasama dibidang pendidikan sejak tahun 2001 Indonesia telah mengirimkan dua orang perwira untuk mengikuti kursus Bahasa Cina ke RRC.
Indonesia-Amerika Serikat
Dalam keadaan internasional itu Indonesia mengadakan hubungan dengan hampir semua negara di dunia dan dengan berbagai lembaga internasional yang penting, salah satunya adalah Amerika Serikat. Hal itu tidak lepas dari kenyataan bahwa AS adalah negara dengan kekuasaan besar dan bahkan menjadi satu-satunya adikuasa.
Hubungan Indonesia – AS cukup kompleks. Hal itu disebabkan oleh banyak faktor, baik yang bersumber dari hakikat dan sifat Indonesia sebagai Negara-bangsa maupun sifat dan perkembangan AS sebagai Negara-bangsa.
Ketika belum merdeka bangsa Indonesia pada umumnya mempunyai pandangan amat positif terhadap Amerika. Itu disebabkan oleh banyak hal, antara lain karena AS dianggap bukan negara penjajah seperti Belanda yang menjajah Indonesia. AS juga dinilai positif karena orang Indonesia mendengar atau membaca betapa di AS banyak peluang untuk maju bagi semua orang. Banyak yang mengetahui cerita tentang orang-orang Eropa yang meninggalkan tanah asalnya untuk membuat kehidupan yang lebih baik di Amerika. Juga kenyataan bahwa AS adalah negara yang kuat dan kaya turut membangun citra positif dalam pikiran orang Indonesia terhadap Amerika.
Namun dalam masa pendudukan tentara Jepang atas Indonesia dalam Perang Dunia 2 Bung Karno sering berpidato yang kurang positif terhadap AS. Hal itu antara lain keluar dalam seruan yang cukup sering diucapkannya, yaitu Amerika Kita Seterika, Inggris Kita Linggis!. Akan tetapi seruan demikian lebih banyak karena usaha Bung Karno untuk mengamankan bangsa Indonesia dari tindakan dan perlakuan Jepang yang kejam. Itu sebabnya Indonesia setuju ketika pimpinan Komisi Tiga Negara yang bertugas menengahi konflik Indonesia-Belanda dipegang oleh AS, dengan Australia dan Belgia sebagai anggota Komisi lainnya. Namun pandangan positif bangsa Indonesia terhadap Amerika tidak sepenuhnya terbalas oleh sikap serta penilaian serupa dari Amerika terhadap Indonesia.
Dalam masa perang dingin Indonesia telah menentukan untuk menganut politik luar negeri yang bebas-aktif. Itu berarti bahwa Indonesia tidak berpihak kepada blok Barat maupun blok Komunis, tetapi mengambil sikap sama jauh dengan landasan kepentingan nasional. Sudah tentu sikap Indonesia itu tidak disenangi AS maupun Uni Soviet, terutama karena posisi geopolitik dan geostrategi negara Indonesia Itu merupakan alasan kuat bagi AS untuk lebih memihak Belanda sebagai anggota blok Barat dari pada mendukung Indonesia yang bersifat netral.
Dalam perkembangan selanjutnya hubungan Indonesia-AS tidak menjadi lebih mudah. Perang Dingin makin menguat sedangkan Indonesia telah menetapkan diri sebagai negara non-blok yang menganut politik luar negeri bebas-aktif. Bagi AS sikap non-blok (non-alignment) dinilai amoral, sebagaimana dinyatakan John Foster Dulles, menteri luar negeri AS pada tahun 1950-an. Mengingat pentingnya Indonesia dalam konstelasi internasional, baik karena jumlah penduduknya yang besar (pada tahun 1950-an sudah sekitar 150 juta orang), banyaknya sumberdaya alam yang dikandung buminya maupun karena berada di posisi silang yang amat strategis antara dua samudera dan dua benua, maka blok Barat dan khususnya AS berkepentingan Indonesia berada di pihaknya menghadapi blok Komunis.
Hubungan Indonesia dengan AS mengalami perubahan positif ketika pada tahun 1965 Indonesia dapat mengalahkan pemberontakan komunis kedua dan mengakhiri riwayat Partai Komunis Indonesia (PKI) yang telah menjadi partai komunis terbesar di dunia di luar negara komunis. Meskipun selalu ada insinuasi, baik dari pihak pendukung PKI maupun dari AS sendiri, bahwa tindakan Indonesia itu merupakan hasil dari pengaruh AS, namun dalam kenyataan Indonesia telah bertindak sepenuhnya karena kehendak sendiri untuk menyelamatkan kepentingan nasionalnya. Namun demikian, Indonesia tetap negara non-blok dengan politik luar negeri bebas aktif.
Kemenangan AS dalam perang dingin dan runtuhnya Uni Soviet membawa AS pada ambisi untuk memimpin Dunia atau malahan menjadi satu Empire yang menguasai dunia. Sikapnya terhadap dunia makin keras untuk mengikuti kehendaknya. Kalau sebelumnya AS berhati-hati sikapnya terhadap negara lain, khususnya non-blok, karena khawatir negara itu berpihak kepada blok Komunis, setelah kemenangannya AS tidak perlu lagi khawatir dan dapat mengambil sikap keras sesuai kepentingannya. Perubahan sikap AS itu mau tidak mau juga berpengaruh terhadap hubungannya dengan Indonesia. Tidak mungkin kepentingan AS yang cenderung kepada perwujudan hegemoni dunia, akan terus sama atau sejajar dengan Indonesia yang menganut politik bebas aktif. Sebab itu dalam periode tahun 1990-an makin nampak bahwa AS kurang menyukai perkembangan Indonesia dan berusaha mempengaruhi terjadinya perubahan sesuai dengan kepentingannya.
Itu terbukti ketika Indonesia mengalami Krisis Moneter pada tahun 1997. IMF yang boleh dikatakan dikendalikan pemerintah AS bukannya membantu Indonesia mengatasi masalahnya. Sebaliknya banyak keputusan IMF malahan makin mempersulit Indonesia, sebagaiman juga dikatakan oleh pengamat internasional. Malahan ada yang mengatakan bahwa mungkin saja krisis ekonomi di Asia Timur diciptakan AS demi kepentingannnya. Akibatnya terjadi kegagalan ekonomi kepemimpinan Soeharto pada tahun 1998. Maka Indonesia tidak hanya diliputi krisis ekonomi, tetapi juga krisis politik.
Maka terbuka peluang yang lebar bagi AS untuk mewujudkan kehendaknya, yaitu mempengaruhi perkembangan di Indonesia sesuai dengan kepentingannya.
Sikap Amerika terhadap Indonesia makin tajam ketika negara itu mengalami serangan pada 11 September 2001 terhadap World Trade Center di New York dan Pentagon, sedangkan penyerangnya adalah teroris Islam yang bergabung dalam organisasi Al Qaeda di bawah pimpinan Osama bin Laden. Meskipun Indonesia menyatakan dukungannya kepada AS yang kemudian melancarkan War on Terrorism, namun hubungan menjadi makin sulit. Hal itu terutama disebabkan karena Indonesia adalah negara dengan penduduk Muslim terbanyak di dunia dan telah terjadi perkembangan yang kurang baik pada sementara warga Muslim Indonesia. Ternyata telah terbentuk organisasi Jemaah Islamiyah di Asia Tenggara yang melibatkan warga Msulim Indonesia, baik sebagai pimpinan maupun anggota. Dan nyata sekali bahwa ada hubungan dekat antara Jemaah Islamiyah dan Al Qaeda.
Analisis
Tidak dapat dipungkiri bahwa salah satu hal terpenting dalam peningkatan hubungan antardua negara adalah kerja sama ekonomi. RRC bersama Korea Selatan dan Jepang sejauh ini merupakan tiga negara di Asia dengan perekonomian yang besar dan kuat. Hal ini juga yang menjadi salah satu basis pembentukan kerja sama yang lebih luas dalam ASEAN, yaitu yang disebut dengan ASEAN+3. Serta AS sebagai basis pembentukan kerjasama yang lebih luas dari ASEAN+3, yakni masyarakat internasional.
Maka, di tengah kondisi internal negara seperti sekarang ini, ada baiknya Indonesia meningkatkan hubungannya dengan negara-negara kuat di dunia. Hubungan atas dasar saling menghormati kedaulatan masing-masing. Semakin baik pula bila hubungan bilateral itu dapat dikembangkan dalam konteks kawasan, selama itu dapat mendukung politik luar negeri Indonesia.
Dalam konteks ini, Indonesia perlu secara bijaksana mengantisipasi setiap perubahan global yang terjadi dengan pesat. Dari situ, Indonesia dapat memetik banyak pelajaran berharga. Misalnya dari RRC, terutama bagaimana negara tersebut seakan kebal menghadapi badai internasional setelah peristiwa 11 September, dan terus tumbuh menjadi salah satu negara paling berpengaruh di dunia.
Meski demikian, Indonesia tidak diperbolehkan meninggalkan prinsip kehati-hatian dalam politik luar negerinya, karena jelas baik RRC mapun AS juga memiliki motivasinya sendiri dalam menjalin hubungan baik dengan negara-negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Seperti yang terungkap di KTT ASEAN lalu, RRC gencar mempromosikan dibukanya suatu koridor perdagangan dengan Asia Tenggara, dengan kata lain menerima RRC sebagai bagian dari kawasan perdagangan bebas. Usulan tersebut memang dapat menjadi kesempatan besar bagi ASEAN untuk memulihkan perekonomian yang tengah lesu, karena pembukaan hubungan itu akan membuka jalan pada 2 miliar konsumen Cina dan perdagangan dua arah yang bernilai sangat besar. Tetapi di sisi lain, terdapat ancaman dari usulan RRC ini, karena dikhawatirkan aliran produk dari RRC akan mengancam industri ASEAN. Dan juga dikhawatirkan RRC memiliki motivasi untuk mengeruk keuntungan sebesar-besarnya dari ASEAN melalui koridor perdagangan tersebut. Maupun bagaimana menanggapi isu demokrasi AS. Andai kata pemerintah Indonesia dipimpin secara kuat dan efektif, mungkin sekali persoalan dapat lebih dibatasi. Akan tetapi Reformasi yang tidak kunjung menghasilkan kepemimpinan efektif dan kuat akan berpengaruh sekali terhadap perkembangan bangsa yang membawa kemajuan bagi rakyat. Sebab sebenarnya pihak AS tidak berkurang usahanya untuk mewujudkan maksudnya, yaitu membentuk hegemoni di dunia. Hanya Indonesia yang kuat dan mantap yang dapat memelihara hubungan yang harmonis dengan AS, karena negara itu mau tidak mau harus mengakui kekuatan dan kemantapan Indonesia dan terpaksa menyesuaikan diri pada kenyataan bahwa Indonesia kuat.
Sumber
- Koran Tempo, April 1, 2002
- http://www.pelita.or.id/baca.php?id=11822 (diakses 17 november 2009)
- http://www.antara.co.id/print/?i=1188469808 (diakses tanggal 17 november 2009)
- http://www.dephan.go.id/modules.php?name=News&file=article&sid=4788 (diakses tanggal 17 november 2009)