kolonialisme dan identitas di kawasan pasifik selatan


Identitas negara-negara Pasifik Selatan dapat dipahami menggunakan tiga pendekatan. Pendekatan pertama adalah pendekatan yang dikenalkan oleh Roger Keesing (1989) yang mana terdapat peta identitas yang terbangun sebagai reaksi terhadap kolonialisme di kawasan ini. Peta tersebut antara lain: (1) kelompok negara yang masih memegang nilai-nilai tradisional negara dengan sangat kuat, (2) kelompok negara yang memegang nilai-nilai spiritual, (3) wilayah negara yang masih dengan kejayaan masa lalu dan (4) wilayah negara yang mengadopsi nilai-nilai Barat lewat internalisasi budaya. Empat wilayah tersebut terbentuk menurut Keesing (1989) dari tingkat proses internalisasi budaya Barat atau Europesentrisme.
Pendekatan kedua adalah, pendekatan yang melihat bahwa proses kolonialisme ini ini masih berlangsung dalam bentuk terkiniyakni neokolonialisme. Secara sederhana, Lawson menjelaskan bahwa neo-kolonialisme “mengacu secara umum pada situasi di mana negara-negara yang relatif lebih kuat cenderung menjalankan kekuasaan ekonomi, budaya dan / atau politik atas negara-negara yang lebih lemah atau lebih kecil. Lewat pendekatan ini kita melihat bahwa negara maju masih terus meluaskan pengaruhnya hingga ke kawasan Negara Pasifik Selatan pengaruh ini ditanamkan secara tidak langsung dan cukup sistematis lewat bantuan asing. Bantuan asing diberikan kepada negara yang baru saja merdeka atau bebas dari kolonialisasi sebagai biaya untuk melakukan pembangunan selanjutnya dan menyelenggarakan negara dengan lebih baik bantuan asing ini membuat negara kawasan Pasifik Selatan terjebak pada ketergantungan. Ketergantungan yang dimaksud adalah ketergantungan pada ekonomi negara-negara yang memberikan bantuan sebagai salah satu resep pembangunan.

Ketergantungan ini adalah bentuk kolonialisme baru di era modern. Kolonialisme pada era sebelumnya sangat identik dengan tekanan dan tindakan operasi dari kependudukan dan penjajahan negara lain atas negara lainnya yang dianggap lebih lemah. Hal ini mengakibatkan tekanan langsung dari negara-negara maju untuk mendikte masa jabatan mereka dan menekan negara-negara Pasifik yang sedang berkembang. Sejarah neo-kolonialisme Sejarah mengungkapkan bahwa neo-kolonialisme di Bangka Belitung bukanlah fenomena baru seperti yang hadir di masa kolonial dalam kaitannya dengan sistem politik pulau kuno, yang disesuaikan untuk mengakomodasi sistem kolonial, mode produksi ekonomi yang bertransformasi, banyak nilai-nilai sosial diubah dengan datangnya kekuatan kolonial, dan meskipun telah menghapus kuk kolonial, Pasifik yang didekolonisasi telah menghadapi kesengsaraan sosial dan ekonomi. Telah terjadi konflik antara nilai-nilai tradisional yang dipaksakan oleh Barat di Pasifik dalam kaitannya dengan ketidakstabilan politik, pembangunan ekonomi, regionalisme dan melindungi penduduk asli pulau. Misalnya dalam politik, pemberlakuan Kongres, sistem Westminster di Kepulauan Pasifik dan kadang-kadang tumbuhberdampingan dengan mode pemerintahan adat tradisional. Selain itu, pemerintah pasca-kolonial biasanya menggabungkan unsur-unsur pemerintah Pasifik tradisional dengan sistem yang dipaksakan untuk membentuk bentuk pemerintahan sinkretis. Dari segi ekonomi, perekonomian penduduk pulau ini menghadapi kekurangan dana setelah merdeka, sehingga mereka mulai memanfaatkan aset keindahan alamnya dengan mengembangkan pariwisata. Namun untuk memajukan industri pariwisata, mereka membutuhkan investasi asing yang besar sehingga harus bergantung pada investasi asing, yang membuat negara tuan rumah dalam posisi rentan. Penanaman modal asing ini membuat banyak pemerintah negara kepulauan untuk mengembangkan kebijakan guna melindungi penanaman modal asing. Oleh karena itu, perlahan-lahan banyak negara kepulauan tidak memiliki neraca perdagangan yang menguntungkan. Hal ini semakin membuat mereka lebih bergantung pada bantuan luar negeri, dimulai dengan bantuan bilateral dimana pemerintah akan menyerahkan uang dari satu pemerintah ke pemerintah lainnya, dan kemudian berubah menjadi program bantuan multilateral dimana pemerintah donor memberikan dana dan barang kepada organisasi skala kecil berbasis regional di keyakinan bahwa ini akan menjadi bentuk bantuan yang lebih efektif dan langsung. Regionalisme neo-kolonialisme Untuk mengatasi masalah neo-kolonialisme, konsep regionalisme yang dikembangkan di Kepulauan Pasifik menyiratkan kerjasama regional dan saling ketergantungan. I.C Campbell menyatakan regionalisme menjadi “harapan untuk mengurangi ketergantungan pada kekuatan kolonial lama dan saling ketergantungan memiliki daya tarik menyerupai tatanan sosial tradisional dan masuk akal ”. Berkaitan dengan hal tersebut, terbentuklah South Pacific Commission pada tahun 1947 yang dibentuk untuk memberikan nasehat, mengkoordinasikan proyek-proyek yang dikembangkan dan melakukan penelitian dalam berbagai aspek administrasi dan pembangunan. Kerja sama di antara penduduk pulau mengarah pada perumusan Forum Pasifik Selatan pada tahun 1971. Ini adalah langkah signifikan untuk bekerja sama di antara penduduk pulau dalam hal-hal yang menjadi perhatian bersama. Forum Pasifik Selatan juga membentuk Biro Kerjasama Ekonomi Pasifik Selatan. operasi (1972). Forum ini memperoleh kekuatan dalam perjalanan menuju kemerdekaan banyak Kepulauan Pasifik. Campbell menyatakan forum tersebut bekerja untuk “mengurangi jarak antar pulau dan mendirikan jalur pelayaran untuk mengurangi ketergantungan pada perusahaan ekstra-regional”. Forum juga mendirikan Komisi Perdagangan Pasifik Selatan untuk mewakili kelompok pulau secara kolektif dalam mempromosikan ekspor. Forum tersebut mencoba untuk mengekang berbagai masalah Pasifik dan juga o angkat suara dalam masalah diplomatik. Demikian pula, kerjasama regional dikembangkan oleh Perjanjian Zona Bebas Nuklir Pasifik Selatan pada tahun 1985. Melawan neo-kolonialisme Untuk melawan bentuk baru kolonialisme atau neo-kolonialisme, para ahli percaya bahwa “penduduk pulau harus membuat keseimbangan yang baik antara kedaulatan negara, kerjasama regional dan eksternal yang berpengaruh “. Cara lain yang memungkinkan adalah dengan mengembangkan infrastruktur regional, aset ekonomi, dan industri spesifik sendiri untuk menghasilkan lebih banyak pendapatan agar tidak hanya mandiri tetapi juga mampu mengembangkan negara kepulauan mereka sendiri. Dengan demikian, penduduk Kepulauan Pasifik harus mencapai keseimbangan antara kedaulatan dan kerjasama regional untuk membangun bangsanya sendiri.

Cultural Turn


Perkembangan budaya dalam hubungan internasional terkait dengan cultural turn pada perang dingin
Cultural turn juga mengandung arti untuk membuat budaya sebagai fokus unit analisis untuk dapat menjelaskan hubungan internasional. Direktur British Council di Ukraina Simon Williams menyatakan budaya kini menjadi perangkat diplomasi untuk memperkuat soft power. Tujuan utamanya adalah untuk mengajak agar dapat lebih memahami kebijakan luar negeri suatu negara, utamanya negara yang sedang meluaskan diplomasi utamanya soft diplomacy (Williams, 2021). Bagi negara itu sendiri bermanfaat untuk dapat memperkuat posisinya dalam dalam struktur politik dan hubungan internasional. Secara empiris, cultural turn dijadikan metode bagi negara-negara maju dan memiliki power untuk mendapatkan pemahaman lebih baik tentang negara lain. Secara epistemologi, Cultural turn mengandung gerakan untuk membuat budaya sebagai fokus kajian dan eksplanasi. Cultural turn ini kemudian digunakan dalam metode untuk mengkaji upaya yang diperlukan untuk membangun perdamaian di suatu daerah yang berkonflik (Bräuchler, 2018)serta sebagai bahan kajian mendalam pada studi intelijen (Willmetts, 2019). Dengan demikian, terdapat tiga pendekatan untuk melihat cultural turn yakni: (1) sebagai metode, (2) sebagai perspektif, dan (3) sebagai means (sarana).
Cultural turn sebagai metode mengandung arti, menjadikan budaya sebagai salah satu kajian yang menjadi penting untuk dapat memahami hubungan internasional. Selama ini menggunakan perspektif arus utama, budaya belum pernah sekalipun mendapatkan tempat sebagai pusat kajian untuk dapat memahami pola-pola hubungan internasional. Cultural turn sebagai perspektif, mengandung arti kebijakan luar negeri suatu negara dapat dipahami sebagai refleksi dari budaya yang memengaruhinya. Dengan perspektif ini, maka kita dapat memahami bagaimana kebijakan luar negeri negara lain dapat mudah diterima jika diharmonisasikan dengan pola-pola budaya yang berkembang di negara tujuan.
Hal ini mendapatkan momentum ketika pada awal Amerika Serikat menginvasi Irak mendapatkan hambatan. Hambatan ini berasal dari penolakan warga Irak akan kedatangan Amerika Serikat. Untuk mengurangi hambatan ini, maka pakar antropologi kemudian diberdayakan untuk dapat menghasilkan kajian-kajian budaya yang dominan dan kuat yang dipegang oleh warga irak. Kajian ini kemudian menghasilkan pedoman yang digunakan pasukan AS untuk bisa membaur dengan warga Irak dan kemudian mendapatkan informasi strategis yang penting untuk dapat menggulingkan pemerintahan Irak (United States Department of the Army, 2007).
Perspektif cultural turn ini membantu bagi negara yang memerlukannya untuk dapat melakukan penetrasi pengaruh. Perspektif ini tidak lain berasal dari prinsip strategis yang berbunyi:

“know your enemy in order to defeat him/her’ (Bräuchler, 2018, hal. 8).”

Belakangan ini, pakar hubungan internasional utamanya yang bekerja di ranah studi strategis dan perdamaian disadarkan akan pentingnya budaya untuk dapat memahami tindakan negara dalam struktur politik internasional. Hal semakin menguat dengan adanya fakta bahwa semakin banyak studi keamanan dan strategis menggunakan riset-riset budaya dan lokal yang tertanam dalam masyarakat suatu wilayah negara tertentu. Peristiwa ini mengambil momentumnya saat pada kesuksesan Amerika Serikat menjadi tandingan kekuatan seberang – yakni “Timur” Uni Soviet sebagai suatu kekuatan yang unggul pasca akhir perang dingin.
Pakar seperti Francis Fukuyama menyebutkan bahwa liberalisme telah menjadi pemenang di atas sosialisme yang digadang-gadang sebagai kekuatan lawan. Selain itu, gugurnya Uni Soviet membuka pintu bagi Amerika Serikat untuk meluaskan nilai-nilai demokrasi di luar batas negaranya. Untuk memaksimalkan penyebaran prinsip demokrasi dengan lebih mudah, maka kajian tentang budaya dan lokal di negara lain dilakukan. Kajian ini kemudian semakin menguat dengan adanya mobilisasi antropologi untuk menghasilkan catatan penting tentang budaya dan lokal di negara lain. Cultural turn kemudian mengandung arti sebagai sarana yang digunakan oleh Amerika Serikat atau negara lainnya untuk menyebarluaskan ideologi politik, dan norma yang dianggap penting, misalnya norma demokrasi. Demokrasi menurut Amerika Serikat perlu disebarluaskan dengan tujuan mengurangi konflik. Ini selaras dengan salah satu teori yang dihasilkan dari kajian perbandingan politik bahwa negara demokratis cenderung tidak berperang satu sama lain (“Democratic theory,” 2021).
Ringkasan: Cultural turn mendapatkan tempat penting dalam hubungan internasional karena dua kondisi yakni: (1) Meningkatnya peran lokal dan budaya dalam penelitian dan studi perdamaian serta menempatkan reposisi budaya dan antropologi semakin diperlukan untuk dapat mewujudkan tujuan yang ingin dicapai, dan (2) kebutuhan mendesak untuk beralih pada pendekatan budaya dalam studi perdamaian (Bräuchler, 2018, hal. 10).

Sebutkan dan jelaskan 3 hubungan antar budaya populer dan politik dunia dan berikan masing masing 1 contoh

Response of racism in H&M case

Cultural is not opposed to politics. Culture is political, and politic is cultural.

Tidak mudah untuk menjelaskan kalimat sederhana ini. Penjelasan bisa dibangun dengan membaca bab 1 buku McAuley “An introduction to politics, state and society”.
Politis meminjam definisi politis dari McAuley (2003, hal. 4), politik merujuk pada potensi antagonisme yang melekat dalam hubungan manusia dan dapat memanifestasikan dirinya dalam berbagai hubungan sosial. Politik tidak terpisah dari aktivitas manusia. Maka itu, seharusnya tidak dipisahkan dan dibatasi pada praktik politik yang terbatas pada diskursus (wacana politik), institusi (kelembagaan) dan organisasi politik seperti pemerintahan dan partai politik, sebagaimana dikutip di bawah ini:

“… the political is not a separate area of human activity. Rather, it is an aspect of broader social relationships, and certainly not something that is, or should be, confined to political organizations, institution or government…” (McAuley, 2003, hal. 4).

Politik dekat dengan kegiatan manusia, lebih luas lagi, kegiatan banyak manusia yakni masyarakat. Masyarakat yang dimaknai sebagai sistem sosial yang terdiri atas keterkaitan struktur yang menghubungkan setiap individu. Masyarakat dapat dilihat sebagai suatu sistem sosial yang dapat dikenali perbedaannya lewat karakteristik struktur, kultur, dan politik (McAuley, 2003). Dengan demikian kita bisa mengkaji budaya sebagai unit menggunakan pendekatan politik. Ini kemudian yang membangun salah satunya luaran berupa budaya politik. Budaya politik mengandung arti sistem dari perilaku, nilai, dan pengetahuan yang dimiliki secara majemuk oleh suatu masyarakat (McAuley, 2003). Politik pun bisa dikaji dan dianalisis menggunakan pendekatan budaya. Unit analisis politik yang bisa dikaji meliputi, apa yang dikenalkan oleh McAuley, dengan wacana, institusi, organisasi politik maupun pemerintahan. Mengkaji wacana politik sebagai unit analisis, membawa kita pada pandangan bahwa politik di suatu negara akan lebih baik dijelaskan dalam konteks dan situasi yang berlaku di negara tersebut. Sebaliknya, wacana politik yang dimaknai menggunakan konteks dan situasi di luar negara itu terjadi membuka peluang cela akan adanya interpretasi yang tidak utuh atau tidak lengkap. Hal ini sesuai dengan metode yang dikenalkan oleh Minogue, dalam menganalisis perbedaan kontekstual despotisme pada perkembangan studi politik klasik dengan perkembangan studi politik kontemporer (Minogue, 2000, hal. 1).
Menurut Minogue, pemahaman awal tentang despotisme berasal dari kondisi empiris yang mana konteks despotisme lahir. Despotisme pada masa awal kelahirannya digunakan untuk menyebut suatu sistem tatanan yang lahir dari suatu pendudukan, penaklukan, melandaskan pada ketakutan dalam menjalankan pemerintahan dan tindakan. Sedangkan despotisme saat ini dimaknai dengan suatu pemerintahan yang diperintah rezim diktator dan totaliterianisme. Oleh karena itu, Minogue mengatakan politik itu begitu sentral dan melekat pada peradaban dimana maknanya berubah sering dengan perubahan dalam konteks dan kultur.

“… what this contrast reveals is that politics is so central to our civilization that its meaning changes with every change of culture and circumstance,” (Minogue, 2000, hal. 2).

Minogue kemudian menyarankan metodologi untuk memahami politik adalah dengan membebaskan diri kita dari keyakinan yang tidak mencerminkan keyakinan pada masa kini. Dengan demikian, Minogue menyarankan agar memaknai politik dengan keyakinan yang berlaku saat ini. Padahal keyakinan sangat dipengaruhi oleh sistem perilaku, kultur, nilai dan norma dalam masyarakat. Ini yang kemudian menjadikan peristiwa politik atau wacana politik menjadi tidak dapat dilepaskan dari budaya.
Menggunakan kerangka konseptual bahwa politik tidak lepas dari budaya dan sebaliknya, maka kita dapat menggunakannya untuk memberi pandangan pada peristiwa atau kasus serangan terhadap iklan H&M.
Dunia saat ini tengah hidup dalam perekonomian yang dijalankan dengan sistem kapital. Sistem ini disebut dengan kapitalisme. Kapitalisme mengandung arti bahwa modal (Capital) menjadi penggerak roda ekonomi yang penting. Bahkan modal berupa uang, menurut sosiolog George Simmel, adalah motivasi utama modernisasi. Modernisasi yang dimaksud adalah perubahan dari yang belum modern menjadi lebih modern dari sebelumnya. Namun demikian, terdapat variasi konseptualisasi modernisasi dari pakar seperti David Harvey, Anthony Giddens, Poggi hingga Ulrich Beck yang tidak dibahas pada bagian tulisan ini. Namun demikian, modernisasi memungkinkan suatu sistem yang berjalan dari kondisi yang terus menerus menjadi lebih efisien dan lebih efektif dengan tujuan untuk meningkatkan keuntungan lebih maksimal, hingga memanfaatkan sumber daya yang dimiliki, bisa tenaga kerja, sumber daya manusia dan alam, sebagai sumber keunggulan komparatif satu negara dari negara lain. Sistem kapitalisme memang tidak luput dari eksploitasi, alienasi, dan intimidasi yang menjadi ciri masyarakat modern yang pernah dikenalkan oleh Marx. Para pendukung kapitalisme dan pasar bebas yang menjadi aktualisasi liberalisme dengan kapitalisme sebagai mesinnya, melihat apa yang diiklankan oleh H&M adalah murni tidak ada maksud untuk kemudian mengangkat isu rasisme. H&M tersebut menjual iklannya di Afrika Selatan yang mana karena ingin menjadi lebih dekat dengan warga Afrika, maka mereka menggunakan model dari keluarga yang berkulit gelap. Warga Afrika Selatan yang mana kulit gelap adalah hal yang ditemukan setiap hari dan menjadi kebiasaan, tidak merasa iklan H&M suatu saat akan menjadi polemik global. Ini menjadi polemik global ketika orang di luar Afrika Selatan kemudian memaknainya dengan sudut pandang berbeda sehingga menjadikannya lebih sensitif. Audien global melihat tulisan pada jaket kaos dengan tulisan “Coolest Monkey” menjadi simbol rasisme. Ini sulit dihindari pasca kemenangan Perancis sebagai juara Piala Dunia Fifa pada tahun 2018 lalu. Sejak saat itu, serangan terhadap orang kulit gelap semakin menguat. Hal yang sama diamplifikasi oleh peristiwa tekanan yang dilakukan polisi Amerika Serikat terhadap sejumlah orang kulit hitam yang berujung fatal mendapatkan sorotan global. Salah satu peristiwa penting cermin racism adalah kematian George Floyd di tangan aparat hukum (“George Floyd: ‘Pandemic of racism’ led to his death, memorial told,” 2020). Sejak saat itu, rasisme menular di berbagai negara dan respon internasional semakin sensitif pada peristiwa ini yang mengecam segala bentuk rasisme terkecil sekalipun.

Referensi
Bräuchler, B. (2018). The cultural turn in peace research: Prospects and challenges. Peacebuilding, 6(1), 17–33. https://doi.org/10.1080/21647259.2017.1368158
Democratic theory. (2021). In obo. https://www.oxfordbibliographies.com/view/document/obo-9780199756223/obo-9780199756223-0162.xml
George Floyd: “Pandemic of racism” led to his death, memorial told. (2020, April 9). BBC News. https://www.bbc.com/news/world-us-canada-52928304
McAuley, J. W. C. N.-J. . M. 2003. (2003). An introduction to politics, state and society. Sage Publications.
Minogue, K. R. (2000). Politics: a very short introduction. In Very short introductions CN – JA66 .M55 2000. Oxford University Press.
United States Department of the Army. (2007). The U.S. Army/Marine Corps Counterinsurgency Field Manual. University of Chicago Press, Chicago.
Williams, S. (2021). Introduction to cultural relations and cultural diplomacy. https://www.youtube.com/watch?v=RexhhvpoC5w
Willmetts, S. (2019). The cultural turn in intelligence studies. Intelligence and National Security, 34(6), 800–817. https://doi.org/10.1080/02684527.2019.1615711

Pendekatan Materialis dalam Hubungan Internasional


Pada periode post war, titik awal bagi sebagian besar politik internasional selalu berkutat pada power dan kepentingan nasional. Power dipahami sebagai kapabilitas militer dan kepentingan nasional dipahami sebagai keinginan kuat akan kekuasaan, keamanan dan kemakmuran (kekayaan). In kemudian dikenali sebagai pendekatan realis. Sementara pendekatan ini mendapatkan pendukung, pada awal tahun 1980 an muncul tandingannya yakni neoliberal. Pendukung neoliberal kemudian berargumentasi bahwa institusi internasional juga memainkan peran signifikan dalam politik internasional. Pemikiran in dan pemikiran sebelumnya memiliki kebenaran relatif, tetapi keduanya bermanfaat memberi pengetahuan dasar tentang variasi yang dapat terjadi pada dunia internasional. Pendekatan yang meletakkan inti argumentasi berpusat pada power dan kepentingan nasional disebut dengan pendekatan materialis. Sebab itu power dan kepentingan nasional atau bahkan institusi disebut dengan faktor material yang mana kehadirannya cukup menentukan. 

lebih lengkap baca

Wendt, Alexander. Ideas all the way down?: on the constitution of power and interest.

Sudut pandang pembangunan berkelanjutan melihat tanggung jawab perusahaan dalam perspektif


pernahkah kalian memikirkan apa dampak adanya perusahaan pembangkit listrik bagi lingkungan terdekat masyarakat di sekitarnya? coba pikirkan? jangan pikirkan tentang pasokan listriknya karena itu sudah kebutuhan yang tidak bisa kita tinggalkan, tapi kita juga perlu memikirkan apakah masyarakat di sekitarnya telah cukup diuntungkan sebagai ganti dari adanya operasi perusahaan tersebut?

Berikut dalam tulisan ini saya akan bahas tentang bagaimana memaknai kehadiran operasional suatu perusahaan yang jelas-jelas merubah kesimbangan lingkungan di sekitar, menggunakan pendekatan pembangunan berkelanjutan utamanya dalam melihat dampak lingkungannya baik secara ekonomi, ekologi dan sosial menurut Rogers (2012) (Sachs, 2015).

Mari pahami perbedaan pendapat yang terjadi seputar kehadiran suatu perusahaan di suatu wilayah, lokasi, dan tempat yang mana masyarakat tinggal dan lingkungan tempat mereka mencari sandang pangan dan papan dengan bercocok tanam atau kegiatan lainnya sebagai mata pencaharian. Ada sejumlah perspektif untuk melihat hal ini dalam hubungan internasional ada perspektif mainstream seperti liberalisme, neoliberalisme, marxis, neomarxisme, realisme dan neorealisme dalam melihat masalah tersebut. Jangan heran dengan perbedaan masing-masing pandangan arus utama dalam teori hubungan internasional tersebut. Lihatlah pandangan tersebut memberi penjelasan yang bermanfaat dalam melihat situasi dan permasalahan yang muncul yakni tanggung jawab perusahaan.

tanggung jawab perusahaan ini banyak dimensinya banyak bentuknya dan banyak imlementasinya. ada yang skeptis bahwa tanggung jawab perusahaan ini tidak akan pernah dapat mengganti kerugian yang dialami oleh lingkungan. argumentasinya adalah lingkungan tidak akan lagi sama sperti dulu.

tapi ketika kita kemudian melihatnya dari sudut pandang ekonomi Rogers, maka kita berpikir ulang, bahwa tanggung jawab perusahaan bisa dipahami dengan memahami peruntungan dan kerugian. nama lainnya adalah cost benefit analysis. kalian bisa mengetahui dampak kehadiran PJB terhadap lingkungan menggunakan analisis dampak I (Impact) sama dengan PAT

jadi jawaban kalian atas pertanyaan saya adalah semuanya benar, semuanya bisa dipertimbangkan dan tidak ada yang keliru. jika ingin mengetahui tingkat dampaknya ya harus dihitung. hasilnya berapa maka itu akan menghentikan perdebatan apakah kehadiran pembangkit listrik memberikan dampak positif atau justru berdampak negatif. kalo nilainya sepuluh angka dibelakang koma, ya artinya punya dampak pada lingkungan tetapi tidak besar. jika nilainya samapi lebih dari seirbu misalnya, maka dapat dikatakan dampaknya pada lingkungan cukup besar. mungkin mengakibatkan kerusakan lingkungan karena tingkat konsumsi energi nya tinggi sehingga menghasilkan polusi partikel kecil yang dapat merusak paru2.

kalian sewaktu waktu cba ke parkiran pembangkit listrik, bawa mobil atau motor, tunggu saja sejam,apakah motor kalian mulai berdebu akibat partikel yang ada di udara akibat pembakaran batu bara

bilangke saya kalo motor kalian tetap kinclong biarpun sudah parkir berjam jam di pembangkit listrik

itu yang menjelaskan bahwa kehadiran perusahaan apapun bentuknya pasti akan memberikan dampak pencemaran lingkungan. persoalannya, apakah kita bisa menyimpulkan kerugian yagn diberikan perusahaan dengan memberi kapal untuk nelayan berlayar bisa mengurangi pencemaran lingkungan yang dihasilkan oleh kehadiran perusahaan tersebut?

Referensi

  • Burchill, S., Linklater, A., Devetak, R., Donnelly, J., Nardin, T., Paterson, M., Reus-Smit, C., & True, J. (2013). Theories of international relations. Macmillan International Higher Education.
  • Rogers, P. P., Jalal, K. F., & Boyd, J. A. (2012). An introduction to sustainable development. Earthscan.
  • Sachs, J. (2015). The age of sustainable development. Columbia University Press.

Analisis Data Kuantitatif Menggunakan SPSs dan Google Form


Pada tanggal 15 April 2021, saya sengaja menyelenggarakan seminar analisis data kuantitatif menggunakan spss. seminar ini diikuti oleh 175 peserta yang registrasi. namun pesertanya mencapai 45 orang yang sebagian bedar mahasiswa. mahasiswa memang menjadi sasaran kegjatan ini agar mereka dapat pengetahuan mendasar sebelum melkaukanriset data kuantiatif. saya sangat antusias dengan partisipasi peserta untuk saya kemudian menyelenggarakan seminar lainnya secara mandiri

Inovasi sektor publik


Sektor publik adalah tindakan yang dilakukan oleh pemerintah sebagai aktor untuk menjamin peningkatan kualitas terus menerus publik yang diselenggarakan oleh pemerintah. Tujuan utamanya adalah untuk menjamin masyarakat memiliki kebutuhan dan kebutuhan masyarakat itu dapat terpenuhi sesuai dengan tuntutan mereka. Patut dipahami bahwa tuntutan masyarakat ini sangat dinamis dan sangat kompleks sehingga kita harus menyadari bahwa pemerintah nasional maupun pemerintah di setiap daerah ini memiliki kompleksitas yang tinggi di setiap daerahnya. Misalnya pemerintah Indonesia di Indonesia itu terdapat ribuan pulau ratusan kota nanti budesa semuanya harus dapat diatur secara terorganisasi.

Sampai sekarang ini adalah hal yang sulit dilakukan jangankan pemerintah nasional bahkan pemerintah daerah pun kesulitan untuk bisa mengelola. Ayahnya dan menjawab setiap kebutuhan masyarakatnya itu memang sudah menjadi tugas pemerintah memang jika Pemerintah memang tidak mampu atau siapapun yang duduk di dalamnya itu tidak mampu ya dia harus cukup rendah hati untuk tidak berambisi menjadi seorang pemimpin daerah.

Inovasi sektor publik ini adalah sesuatu yang saat ini sedang mengemuka utamanya di tengah permasalahan yang sulit sekali untuk diatasi dan menuntut suatu solusi untuk dirumuskan. Inovasi hadir ditengah-tengah kita dalam beragam bentuk. Nemu hal yang sangat melekat pada pikiran kita adalah inovasi selalu melulu tentang menggunakan teknologi dan informasi mungkin untuk dapat mengelola kota maupun kabupaten atau wilayah yang dipimpin terpadu dan terkontrol secara Pusat. Pada hakekatnya inovasi bukan melulu tentang penggunaan teknologi dan informasi. Jika inovasi dipahami sebagai satu hal tentang melulu menggunakan teknologi dan informasi makan adopsi teknologi di satu wilayah ke wilayah lain atau di satu daerah ke daerah lain atau dari satu kota hanyalah bersifat menyalin saja.

Padahal inovasi dapat dilihat sebagai suatu inovasi kebijakan gimana kebijakan ini kemudian dirumuskan dan belum pernah ada sebelumnya dan berhasil untuk mengatasi masalah yang saat itu belum bisa di diselesaikan selama ini sebelumnya. Inovasi juga dapat dilihat sebagai suatu implementasi artinya bahwa implementasi suatu tindakan ini belum pernah dilakukan sebelumnya dan tidak memiliki hubungan dengan apa yang sudah berjalan sebelumnya. Inovasi juga dipahami sebagai suatu evaluasi yang mana membuka komunikasi dua arah antara misalnya sektor publik dengan sektor swasta maupun masyarakat dengan pemerintah. Sehingga inti dari evaluasi objek inovasi ini bisa mempercepat pembangunan.

Perubahan dan Inovasi

Jawaban dari pertanyaan itu adalah perubahan berbeda dengan inovasi. Inovasi adalah sesuatu yang bersifat benar-benar baru belum pernah diimplementasikan belum ada yang mampu mengimplementasikan belum ada yang menggagas dan belum pernah dicoba sebelumnya.

Hal-hal yang mempengaruhi perubahan dan inovasi secara global itu terdiri atas 1 perubahan ekonomi global pertumbuhan atau perkembangan teori manajerial secara terus-menerus, kemudian perubahan demografi, dan perubahan politik serta perubahan harapan-harapan dari masyarakat.

Perubahan juga adalah suatu fenomena luas yang melibatkan pertumbuhan dan perkembangan salah satu dari elemen layanan publik alamat layanan publik ini terdiri atas desain dari jasa atau layanan yang diberikan kepada publik struktur dari organisasi sektor publik manajemen dan dalam organisasi sektor publik keterampilan yang dibutuhkan untuk menyediakan dan mengelola pelayanan publik jadi hal-hal itulah yang perlu kita ingat ketika kita mempelajari perubahan sebaliknya inovasi itu adalah bentuk yang lebih spesifik dari perubahan dasarnya dia bersifat tidak ada keterkaitan dengan sistem yang sudah ada sebelumnya jadi dia bukan sebagai Legacy.

Daripada mencerminkan kelanjutan dari apa yang sudah berjalan atau yang sudah ada sebelumnya, inovasi adalah sesuatu yang mewakili ketidakberlanjutan atau lepas dari Legacy yang sudah ada.
Sebenarnya Ada banyak hal yang terlibat dalam mengelola Inovasi dan perubahan. Beberapa hal itu meliputi keterampilan keterampilan dari anggota individu yang terlibat dalam proses perubahan itu sendiri, dan isu keberlanjutan dalam perubahan itu.

Beberapa hal yang perlu kita kenali adalah terdapat perubahan yang terencana dan perubahan yang muncul begitu saja. Yang dimaksud dengan muncul begitu saja dan artinya itu sesuatu yang lahir begitu saja tanpa ada perencanaan tanpa diduga tanpa diprediksi. Hal ini terjadi karena situasi eksternal yang mempengaruhi layanan publik itu dan terjadi tiba-tiba. Salah satu hal yang paling mudah dapat kenali adalah adanya pandemi covid 19. Pemerintah nasional yang belum pernah memiliki pengalaman tertulis tentang cara untuk menghadapi suatu pandemi berbeda dengan negara maju lainnya seperti Amerika Serikat Inggris Perancis Italia Uni Eropa yang pernah mengalami pandemik pada tahun 1918 berada dalam situasi yang tidak punya pengetahuan sama sekali. Akibatnya adalah Indonesia merumuskan berbagai macam kebijakan menggunakan skema lebih baik ada daripada yang ada sama sekali meskipun mati kebijakan itu dirumuskan dengan pertimbangan yang dengan memperhatikan risiko lainnya. Apakah kita bisa menerima perkembangan nomenklatur kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah Indonesia mulai dari regulasi tentang anjuran untuk bekerja di rumah atau bekerja dari rumah atau work from home kemudian ada pembatasan sosial berskala besar atau psbb masyarakat PPKM dan juga pembatasan sosial berskala mikro. Itu adalah kebijakan yang dirumuskan di dekat ruang lingkupnya itu sangat luas artinya mengenai Kepada seluruh masyarakat secara luas seluruh bidang. Dan sedang dipengaruhi oleh adanya pandemi covid di bidang kementerian pendidikan terdapat kebijakan dan aturan pelaksanaan pembelajaran jarak jauh menggunakan segala media yang dapat digunakan. Maka kita mengenal beberapa tenaga pengajar di pendidikan tinggi menggunakan Google classroom.

Webinar Bedah Jurnal dan Tips Memahami Jurnal secara Instan


Poster Kegiatan

Pada hari Jumat, 19 Maret 2021, dilaksakan suatu kegiatan yang masih berkaitan dengan rangkaian penulisan secara ilmiah. Kegiatan ini diamai dengan “Bedah Jurnal dan Tips Memahami Jurnal secara Instan”. Kegiatan ini dibantu oleh seorang koordinator event yang bekerjasama dengan perusahaan yang bergerak di bidang Pengembangan dan Pelatihan Sumber Daya Manusia yakni PT Cipta Mulya Medika.

Terdapat 12 Mahasiswa yang hadir dan berasal dari dua universitas di Jawa Timur. Mahasiswa mendapatkan informasi yang disebarkan dari berbagai kanal media sosial dimana informasi dan poster di atas disebarkan. Harapannya mahasiswa dapat meningkatkan kemampuan berpikir ilmiah serta mendapatkan keterampilan teknik untuk lebih dapat mengembangkan diri.

Kegiatan ini dimulai pukul 8.00 am hingga 10.00. Pemateri memberikan apresiasi pada pimpinan Cipta Mulya Medika yang bersedia untuk memfasilitasi, ketua panitia yang berasal dari mahasiswa pemateri yang berkolaborasi mewujudkan acara ini sehingga terlaksana dengan baik dan seluruh peserta yang mengikuti dari awal sampai akhir.

Nantikan kegiatan kami berikutnya dalam waktu dekat. Dalam waktu dekat kami akan mengadakan:

a. Pelatihan Penulisa Jurnal menggunakan Mendeley

b. Analisis data kualitatif menggunakan Atlas.ti 8

c. Analisis data kualitatif menggunakan Nvivo 12

seluruh pelatihan ini diadakan tanpa dipungut biaya dan merupakan bagian dari pengabdian kepada masyarakat.

Seminar Penulisan Jurnal dan Artikel Menggunakan Zotero Tahun 2021


Pada tanggal 13 Maret 2021, dilaksanakan Seminar Penulisan Jurnal dan Artikel Menggunakan Zotero. Kegiatan ini diikuti oleh 22 mahasiswa dari Universitas Panca Marga Probolinggo, Universtas Tujuh Belas Agustus Surabaya (Untag) dan Universitas lainnya. Seminar dibuka mulai pukul 08.00 hingga 10.30 WIB. Seminar ini mengundang Bu Renny Candradewi Puspitarini, MA, sebagai narasumber. Seminar ini adalah bagian dari rangkaian kegiatan lainnya yang dilakukan untuk meningkatkan kemampuan dan keterampilan menulis dan berpikir ilmiah mahasiswa.

Cuplikan kegiatan

Kerangka Teoritis dan Kerangka Konseptual


Jadi hari ini kita akan membahas tentang kerangka konseptual Dan kerangka teoritis yang menjadi salah satu bagian penting sekaligus yang mesti ada dalam penelitian kualitatif.

Tulisan ini berdasarkan jurnal yang ditulis oleh Dickson Adom dan Emad Kamil Husain serta Joe Adu Agyem: link dokumen disini 


Kerangka teori dan kerangka konseptual memandu jalannya riset dan sekaligus menawarkan pondasi penting membangun kredibilitas riset tersebut secara kualitatif. Kedua istilah ini sering digunakan secara bergantian tanpa menyebutkan fungsi mendasarnya yang sebenarnya berbeda. Kerangka teoritis dan kerangka konseptual menjelaskan jalurnya riset dan menjadi dasar yang meneguhkan konstruksi teoritis atau bangunan teoritis suatu riset. Tujuan keduanya secara sederhana adalah untuk membuat temuan riset itu lebih bermakna sekaligus menghadirkan bangunan teoritis ruang lingkup yang lebih dapat diterima secara umum dan ilmiah. Keduanya juga berfungsi untuk menguatkan empirisme serta keluasan dan kedalaman riset. Dalam banyak tulisan suatu jurnal dalam suatu desain penelitian riset yang menggabungkan kerangka teoritis dan kerangka konseptual bersamaan dalam suatu bagian tulisan. Akibatnya seorang periset pemula seringkali menyamakan antara kerangka konseptual Dan kerangka teoritis padahal keduanya memiliki fungsi yang berbeda dan tidak sama.
Apa yang dimaksud dengan kerangka teoritis. Kerangka teoritis adalah cetak biru dari pedoman riset yg juga merupakan kerangka yang didasarkan pada teori yang sudah ada dalam suatu disiplin ilmu tersendiri dan terkait atau mencerminkan hipotesis dari suatu kajian. Kerangka teoritis bermanfaat untuk menjadi pedoman agar tidak menyimpang jauh dari batasan yang telah ditetapkan Secara teoritis agar kontribusi akhir dari resetnya memiliki nilai akademis. Kerangka teori adalah teori spesifik atau sejumlah teori terkait usaha yang telah dilakukan manusia yang bermanfaat bagi perkembangan suatu ilmu. Cara untuk membangun kerangka teoritis adalah berusaha untuk mengkaitkan seluruh aspek dari riset kerangka teoritis. Selain itu Mahasiswa juga disarankan untuk memilih teori teori yang relevan dengan ruang lingkup penelitian dan ruang lingkup unit analisisnya yang menjadi basis dari pengetahuan atas suatu fenomena yang hendak diinvestigasi. Mahasiswa juga diharapkan untuk membuat melakukan dan menerapkan secara unik teori yang dipilih dapat diterapkan dalam bangunan teoritis dari kajian yang tengah ia lakukan. 

Kerangka teori jelas tanpa perlu dibantah lagi menawarkan sejumlah keuntungan pada kerangka kerja riset. kerangka teori menyediakan struktur yang menunjukkan bagaimana periset menjelaskan kajiannya secara filosofis, epmistemologis, methoodolgi dan analitis. artinya dalam kerangka teori harus berisi tentang penjelasan bagaimana pengetahuan tersebut diperoleh, bagaimana asal usul pengetahuan tersebut diperoleh, bagaimana caranya, bagaimana metodologinya dan bagaimanan analisis dilakukan (menggunakan alat analisis apa). Kerangka teori juga bermanfaat untuk menghubungkan unit analisis (apa yang akan diteliti) dengan rumusan masalah serta pertanyaan penelitian (Research Question).  maka itu, kerangka teori seringkali memandu periset utuk mengenali pilihan dari desain riset yang diinginkan dan perencanaan analisis data yang dapat dilakukan. Jika kerangka teori telah memuat hal-hal wajib di atas, maka dapat disbeutkan bahwa bangunan kerangka teori yang telah disusun cukup kuat, cukup fundamental, dan secara signifikan berarti. jika suatu penelitian masih mengundang pertanyaan terkait kejelasan desain risetnya, metolodoginya dan perangkat analisisnya maka dapat dikatakan kerangka teori yang dibangun dan digunakan masih belum signifikan dan karena itu perlu ditinjau ulang dan dilengkapi. Kerangka teori harus bersuara dalam setiap proses riset yang telah dilakukan baik itu di bagian kajian pustaka, metodologi, presentasi, dan diskusi dari temuan riset sekaligus penarikan kesimpulan.

Bagaimana Berteori yang tepat?

Tidak ada cara instan untuk dapat berteori dengan tepat sehingga dapat dengan mudah menyusun kerangka teori tanpa melalui pemahaman yang utuh. dengan kata lain, tanpa membaca dengan mendalam, mustahil bisa meneliti kerangka teori kecuali melalui bantuan seseorang dengan tingkat pemahanan terkait dengan amsalah yang diteliti yang cukup luas. Lalu apa yang dapat dilakukan? jawabannya adalah memlihi kerangka teori membutuhkan pemahaman akan masalah yang diteliti, tujuan dari penelitian, singifikasi studi, serta pertanyaan penelitian dari riset itu sendiri. bagaimana dapat melakukannya? dengan melakukan observasi mendalam, dengan melakukan wawancara, dengan membaca literatur yang relevan, dan memperdalam tinjauan kritis yang dapat muncul dalam proses mencari dan mendalami studi yang dilakukan.

untuk mengetahui bahwa kalian tengah membangun teori yag kuat maka kalian harus dapat mengevaluasinya dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut:

  1. apa disiplin ilmu dari teori yang akan digunakan dalam studi?
  2. apakah teori yang digunakan telah sepakat dengan perencanaan metodologi yang peneliti usulkan?
  3. apakah teori yang akan dipilih telah dikembangkan dengan baik atau cukup berkembang dan matang?
  4. apakah sejumlah konsep atau prinsip-prinsip yangmuncul dalam teori telah memenuhi tujuan dari studi yang akan dilakuan
  5. .. berlanjut

Simon dan Ghost juga menyarankan beberapa poin yang dapat membantu Menyusun kerangka teori agar reset menjadi lebih berinformasi atau jelas. Salah satu kuncinya adalah dapat menjawab: (1) penting yang dibutuhkan untuk reset, (2) adanya indikator kunci resep yang lebih jelas, (3) membaca dan mengulas terus-menerus literatur terkait terkini dari topik yang digunakan jadi kata kunci pencarian, (4) daftar variabel dan konstruksi yang dapat dan relevan dengan yang akan dilakukan, (5) merevisi terus-menerus dengan menambahkan kata teori sebagai kata kunci untuk menemukan teori teori dan pakar teori dengan apa yang dipikirkan oleh peneliti, (7) mendiskusikan proposisi dari setiap teori dan menyoroti relevansinya dengan penelitian) mempertimbangkan teori alternatif yang dapat nantang perspektif dari peneliti, (9) mempertimbangkan batasan-batasan terkait dengan teori yang dipilih yang mana masalah diinvestigasi untuk dapat membantu mengatasi dan memberikan penjelasan yang logis.
Berikutnya akan diulas tentang posisi kerangka teoritis dalam suatu penulisan karya ilmiah seperti tesis dan disertasi serta penelitian.
Banyak peneliti maupun mahasiswa bertanya-tanya di mana sih letak teoritis itu sejatinya secara empiris. Perbedaannya tidak ada kesepakatan di antara para peneliti di mana dapat menemukan kerangka teoritis dalam suatu penelitian. Tapi semakin kita terbiasa membaca suatu jurnal ataupun mereview suatu penelitian maka dapat dengan mudah kita menemukan kerangka teori pada salah satu bagian tulisan. Tapi dalam jurnal ini maka dibahas secara spesifik dan diberitahu Di mana kita bisa menemukan kerangka teori dari suatu penelitian. Biasanya dalam suatu penelitian mahasiswa diminta untuk merumuskan kerangka teoritis pertama kali ketika topik dikenalkan atau dikonseptualisasikan.

Kerangka konseptual
Kerangka konseptual adalah struktur dalam tulisan yang memuat penjelasan terbaik dari kemajuan suatu pengetahuan dari suatu fenomena yang ingin biasanya kerangka konseptual terhubung dengan konsep dan riset empiris serta memuat teori penting yang digunakan untuk mempromosikan dan membuat tulisan menjadi lebih sistematis. Kerangka konseptual adalah penjelasan dari peneliti tentang pandangannya cara melihat suatu persoalan yang ingin diteliti dari suatu fenomena yang dipilih. Dalam suatu pendekatan kuantitatif menggunakan perspektif statistik maka kerangka konseptual biasanya mendeskripsikan hubungan antara konsep-konsep utama yang ingin dipelajari atau variabel-variabel yang ini di teliti kerangka konseptual biasanya disusun dengan struktur yang logis untuk membantu membuat gambaran kerangka konseptual ini bermanfaat untuk memudahkan peneliti lebih mudah mengelompokkan dan membangun pola serta mendefinisikan konsep dalam suatu rumusan yang ingin dipelajari. Ide yang digunakan satu sama lain yang saling berkorelasi.