Pemateri di IPPNU Ranting Kanigaran Tahun 2021


Pada sore hari 30 Agustus 2021 dilaksanakan kegiatan dengan mengundang Narasumber ibu Renny Candradewi yang juga berprofesi sebagai dosen Fakultas ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Panca Marga sebagai pemateri pada salah satu kegiatan bersama lembaga Dakwah Islam IPPNU kecamatan kenegaraan kota Probolinggo. Kegiatan ini dimulai pukul 16.00-17.30 WIB. Adapun yang menjadi tema kegiatan adalah bagaimana menjadi muslimah yang baik di era saat ini.

Pemateri menyampaikan bahwa menjadi muslim yang baik adalah menjadi seorang Muslimah yang dapat memperlakukan saudara Muslimnya maupun orang lain meskipun Nonmuslim dengan baik. Kemudian menyadari bahwa ketika seorang muslim yang lainnya itu senang maka sebagai Muslimah yang baik juga harus senang atas kabar tersebut. intinya adalah ketika orang lain bahagia maka kita harus merasakan bahagia bukannya bersifat atau bersikap sebaliknya seperti merasa iri dengki ataupun tidak suka. sikap sikap yang buruk yang demikian itu harus ditinggalkan. kita pun dalam situasi paling sulit menjadi Muslimah yang baik Adalah menjadi Muslimah yang selalu memiliki pemikiran yang positif kepada Allah Subhanahuwata’ala menjadi Muslimah yang Yang baik juga mengandung arti tetal konsisten dalam menerapkan menjalankan dan menunaikan pilar pilar agama Islam yakni rukun Islam dan rukun Iman. menjadi muslim yang baik juga harus menunjukkan Kepedulian apabila saudara muslim kita ditimpa bencana maupun saudara Nonmuslim kita ditimpa bencana, kita tetap turut peduli. artinya menjadi muslim yang baik itu muslim yang bisa mencerminkan apa yang di hatinya itu baik kemudian orang orang disekitarnya juga merasakan hal yang sama pak, tadi menyadari bahwa menjadi muslim yang baik daerah saat ini itu lebih sulit daripada Era sebelumnya. di mana saat ini di Era digitalisasi yang sangat berkembang pesat kita lebih mudah untuk mencaci orang lain kemudian memiliki pemikiran negatif terhadap apa yang dilakukan oleh orang lain dan itu sangat mudah sekali. Di Era sekarang ini kita akan lebih mudah menyakiti orang lain tanpa kemudian memikirkan dampak yang terjadi jadi menjadi. Muslimah yang baik adalah menyadari tantangan tantangan ini dan mencoba sebisa mungkin untuk tetap memiliki pemikiran yang positif serta di saat yang sama tidak mengganggu orang lain tidak membuat orang lain merasa tidak nyaman apalagi menyakiti saudara nya.

Webinar Untuk Siber Kreasi: Digital Skills dan Online Learning


Tanggal 21 Juli 2021 yang lalu telah dilaksanakan seminar nasional yang bekerja sama dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika dan berkreasi dalam menyelenggarakan suatu webinar nasional bertema kecakapan digital. Salah satu pembicara pada tanggal 21 Juli 2021 adalah pemaparan materi tentang kecakapan digital dan pembelajaran online.
Sebagai salah satu narasumber adalah Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Program Studi Administrasi Publik Universitas Panca Marga. Kecakapan Digital mengandung arti kecakapan yang meliputi kemampuan untuk menggunakan perangkat keras (hardware), perangkat lunak (software) sekaligus kemampuan untuk mengembangkan keduanya (brainware) untuk dapat menghasilkan suatu produk barang dan jasa digital. Dalam pemaparannya beliau juga menjelaskan pembelajaran jarak jauh yang dapat digunakan dan sedang trending saat ini. Pembelajaran Online ini dapat digunakan untuk membangun kecakapan seorang individu secara otodidak.
Pembelajaran jarak jauh tersebut meliputi kursus online yang diselenggarakan baik oleh institusi perguruan tinggi maupun bukan institusi perguruan tinggi. Kursus online yang diselenggarakan oleh perguruan tinggi dari jarak jauh menggunakan platform seperti Edx dan Coursera dan ideal. EDX adalah salah satu platform pembelajaran jarak jauh yang diselenggarakan oleh institusi Harvard dan MIT.  Coursera adalah paltform yang digunakan oleh institusi seperti Yale, Stanford dan University of Michigan untuk menyelenggarakan pembelajaran online bagi peserta non Mahasiswa. Beliau juga menjelaskan tentang berapa biaya minimal yang harus dikeluarkan untuk mendapatkan mengikuti kursus online tersebut sampai mendapatkan sertifikat yang diakui secara internasional.
Sertifikat inilah yang kemudian dapat digunakan untuk membangun portofolio agar memiliki dan menjelaskan deskripsi keterampilan yang dapat dilakukan oleh seorang individu. Selain menjelaskan tentang platform Bu Renny juga menjelaskan tentang pembelajaran otodidak yang dapat dilakukan lewat dan lain-lain yang dibangun oleh Indonesia. Buatlah pemain yang dibangun oleh Indonesia yakni dalam bentuk startup bisnis atau bisnis Rintisan indonesiaX kedua adalah platform bisa yang didirikan oleh perusahaan Rintisan yang dinamai Bisa.AI.
Berikut adalah dokumentasi kegiatannya:

Dokumentasi Kehadiran Audiens

Brosur Promosi Kegiatan yang Dibagikan pada Audiens Menjelang Pelaksanaan Webinar

Kutipan Ketika Sesi Presentasi Berlangsung

Unduh Materi disini:
Materi Presentasi untuk Siber Kreasi 21 Juli 2021 Digital Skills & Online Learning

Praktik Paradiplomasi dalam Implementasi Kerjasama Smart City Pemerintah Kota Bandung dan Kota Seoul


Abstrak

Paradiplomasi populer di awal tahun 1980-an, ketika pemerintahan Kota Quebec memperkuat kerjasama dengan
pemerintahan daerah negara lain maupun aktor negara lain dalam hubungan internasional. Fenomena ini dikaji
secara mendalam oleh pakar diplomasi yakni Duchacek dan Soldatos yang kemudian praktiknya semakin luas
diimplementasikan dalam hubungan transnasional negara-negara di dunia. Hal yang sama juga dilakukan oleh
pemerintah Kota Bandung. Pemerintah Kota Bandung menjalani tahapan-tahapan perumusan kerjasama smart.
Proses penting dalam paradiplomasi ialah terjadinya komunikasi yang tertuang dalam proses advokasi kebijakan
dari pemerintah Kota Seoul melalui lembaga Knowledge Sharing Program (KSP) di bawah Kementerian Ekonomi
dan Keuangan Korea Selatan. Penelitian ini bertujuan untuk melihat pemerintah Kota Bandung sebagai entitas
subnational government melakukan diplomasi di luar konteks diplomasi tradisional yakni paradiplomasi dalam
mengimplementasikan kerjasama Smart City dengan Kota Seoul pada tahun 2016-2019. Penelitian ini dilakukan
menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kepustakaan. Metode studi kepustakaan bermanfaat
untuk mengumpulkan informasi sekunder yang dibutuhkan guna mendukung temuan dalam penelitian. Penelitian
ini menghasilkan peta kerjasama antara Kota Seoul dan Kota Bandung yang belum dibahas dalam penelitian serupa
menggunakan kerangka paradiplomasi yang menggabungkan konsep Duchacek, Soldatos dan Keohane. Peta
kerjasama dimaksud yakni penjelasan mendalam tentang smart city Kota Bandung yang meliputi Smart Branding,
Smart Living, Smart Environment dan Smart Government.

Abstract

Paradiplomacy was popular in the early 1980s, when the Quebec City government strengthened cooperation with regional governments of other countries and other state actors in international relations. This phenomenon was studied in depth by diplomacy experts, namely Duchacek and Soldatos, which was later implemented in practice in transnational relations between countries in the world. The same thing was done by the city government of Bandung. The Bandung City Government undergoes the stages of smart collaboration formulation. An important process in paradiplomacy is the occurrence of communication contained in the policy advocacy process of the Seoul City government through the Knowledge Sharing Program (KSP) under the Ministry of Economy and Finance of South Korea. This study aims to see the Bandung City government as a subnational government entity conducting diplomacy outside the context of traditional diplomacy, namely paradiplomacy in implementing Smart City cooperation with the City of Seoul in 2016-2019. This research was conducted using a qualitative approach with literature study methods. The literature study method is useful for gathering secondary information needed to support findings in research. This study produces a map of cooperation between the City of Seoul and the City of Bandung which has not been discussed in a similar study using a paradiplomation framework that combines the concepts of Duchacek, Soldatos and Keohane. The cooperation map referred to is an in-depth explanation of the smart city of Bandung which includes Smart Branding, Smart Living, Smart Environment and Smart Government.

Kata kunci: paradiplomasi, kerjasama, smart city, sister city, pemerintah subnasional

baca selengkapnya di http://ojs.uma.ac.id/index.php/perspektif/article/view/%234850

kolonialisme dan identitas di kawasan pasifik selatan


Identitas negara-negara Pasifik Selatan dapat dipahami menggunakan tiga pendekatan. Pendekatan pertama adalah pendekatan yang dikenalkan oleh Roger Keesing (1989) yang mana terdapat peta identitas yang terbangun sebagai reaksi terhadap kolonialisme di kawasan ini. Peta tersebut antara lain: (1) kelompok negara yang masih memegang nilai-nilai tradisional negara dengan sangat kuat, (2) kelompok negara yang memegang nilai-nilai spiritual, (3) wilayah negara yang masih dengan kejayaan masa lalu dan (4) wilayah negara yang mengadopsi nilai-nilai Barat lewat internalisasi budaya. Empat wilayah tersebut terbentuk menurut Keesing (1989) dari tingkat proses internalisasi budaya Barat atau Europesentrisme.
Pendekatan kedua adalah, pendekatan yang melihat bahwa proses kolonialisme ini ini masih berlangsung dalam bentuk terkiniyakni neokolonialisme. Secara sederhana, Lawson menjelaskan bahwa neo-kolonialisme “mengacu secara umum pada situasi di mana negara-negara yang relatif lebih kuat cenderung menjalankan kekuasaan ekonomi, budaya dan / atau politik atas negara-negara yang lebih lemah atau lebih kecil. Lewat pendekatan ini kita melihat bahwa negara maju masih terus meluaskan pengaruhnya hingga ke kawasan Negara Pasifik Selatan pengaruh ini ditanamkan secara tidak langsung dan cukup sistematis lewat bantuan asing. Bantuan asing diberikan kepada negara yang baru saja merdeka atau bebas dari kolonialisasi sebagai biaya untuk melakukan pembangunan selanjutnya dan menyelenggarakan negara dengan lebih baik bantuan asing ini membuat negara kawasan Pasifik Selatan terjebak pada ketergantungan. Ketergantungan yang dimaksud adalah ketergantungan pada ekonomi negara-negara yang memberikan bantuan sebagai salah satu resep pembangunan.

Ketergantungan ini adalah bentuk kolonialisme baru di era modern. Kolonialisme pada era sebelumnya sangat identik dengan tekanan dan tindakan operasi dari kependudukan dan penjajahan negara lain atas negara lainnya yang dianggap lebih lemah. Hal ini mengakibatkan tekanan langsung dari negara-negara maju untuk mendikte masa jabatan mereka dan menekan negara-negara Pasifik yang sedang berkembang. Sejarah neo-kolonialisme Sejarah mengungkapkan bahwa neo-kolonialisme di Bangka Belitung bukanlah fenomena baru seperti yang hadir di masa kolonial dalam kaitannya dengan sistem politik pulau kuno, yang disesuaikan untuk mengakomodasi sistem kolonial, mode produksi ekonomi yang bertransformasi, banyak nilai-nilai sosial diubah dengan datangnya kekuatan kolonial, dan meskipun telah menghapus kuk kolonial, Pasifik yang didekolonisasi telah menghadapi kesengsaraan sosial dan ekonomi. Telah terjadi konflik antara nilai-nilai tradisional yang dipaksakan oleh Barat di Pasifik dalam kaitannya dengan ketidakstabilan politik, pembangunan ekonomi, regionalisme dan melindungi penduduk asli pulau. Misalnya dalam politik, pemberlakuan Kongres, sistem Westminster di Kepulauan Pasifik dan kadang-kadang tumbuhberdampingan dengan mode pemerintahan adat tradisional. Selain itu, pemerintah pasca-kolonial biasanya menggabungkan unsur-unsur pemerintah Pasifik tradisional dengan sistem yang dipaksakan untuk membentuk bentuk pemerintahan sinkretis. Dari segi ekonomi, perekonomian penduduk pulau ini menghadapi kekurangan dana setelah merdeka, sehingga mereka mulai memanfaatkan aset keindahan alamnya dengan mengembangkan pariwisata. Namun untuk memajukan industri pariwisata, mereka membutuhkan investasi asing yang besar sehingga harus bergantung pada investasi asing, yang membuat negara tuan rumah dalam posisi rentan. Penanaman modal asing ini membuat banyak pemerintah negara kepulauan untuk mengembangkan kebijakan guna melindungi penanaman modal asing. Oleh karena itu, perlahan-lahan banyak negara kepulauan tidak memiliki neraca perdagangan yang menguntungkan. Hal ini semakin membuat mereka lebih bergantung pada bantuan luar negeri, dimulai dengan bantuan bilateral dimana pemerintah akan menyerahkan uang dari satu pemerintah ke pemerintah lainnya, dan kemudian berubah menjadi program bantuan multilateral dimana pemerintah donor memberikan dana dan barang kepada organisasi skala kecil berbasis regional di keyakinan bahwa ini akan menjadi bentuk bantuan yang lebih efektif dan langsung. Regionalisme neo-kolonialisme Untuk mengatasi masalah neo-kolonialisme, konsep regionalisme yang dikembangkan di Kepulauan Pasifik menyiratkan kerjasama regional dan saling ketergantungan. I.C Campbell menyatakan regionalisme menjadi “harapan untuk mengurangi ketergantungan pada kekuatan kolonial lama dan saling ketergantungan memiliki daya tarik menyerupai tatanan sosial tradisional dan masuk akal ”. Berkaitan dengan hal tersebut, terbentuklah South Pacific Commission pada tahun 1947 yang dibentuk untuk memberikan nasehat, mengkoordinasikan proyek-proyek yang dikembangkan dan melakukan penelitian dalam berbagai aspek administrasi dan pembangunan. Kerja sama di antara penduduk pulau mengarah pada perumusan Forum Pasifik Selatan pada tahun 1971. Ini adalah langkah signifikan untuk bekerja sama di antara penduduk pulau dalam hal-hal yang menjadi perhatian bersama. Forum Pasifik Selatan juga membentuk Biro Kerjasama Ekonomi Pasifik Selatan. operasi (1972). Forum ini memperoleh kekuatan dalam perjalanan menuju kemerdekaan banyak Kepulauan Pasifik. Campbell menyatakan forum tersebut bekerja untuk “mengurangi jarak antar pulau dan mendirikan jalur pelayaran untuk mengurangi ketergantungan pada perusahaan ekstra-regional”. Forum juga mendirikan Komisi Perdagangan Pasifik Selatan untuk mewakili kelompok pulau secara kolektif dalam mempromosikan ekspor. Forum tersebut mencoba untuk mengekang berbagai masalah Pasifik dan juga o angkat suara dalam masalah diplomatik. Demikian pula, kerjasama regional dikembangkan oleh Perjanjian Zona Bebas Nuklir Pasifik Selatan pada tahun 1985. Melawan neo-kolonialisme Untuk melawan bentuk baru kolonialisme atau neo-kolonialisme, para ahli percaya bahwa “penduduk pulau harus membuat keseimbangan yang baik antara kedaulatan negara, kerjasama regional dan eksternal yang berpengaruh “. Cara lain yang memungkinkan adalah dengan mengembangkan infrastruktur regional, aset ekonomi, dan industri spesifik sendiri untuk menghasilkan lebih banyak pendapatan agar tidak hanya mandiri tetapi juga mampu mengembangkan negara kepulauan mereka sendiri. Dengan demikian, penduduk Kepulauan Pasifik harus mencapai keseimbangan antara kedaulatan dan kerjasama regional untuk membangun bangsanya sendiri.

Cultural Turn


Perkembangan budaya dalam hubungan internasional terkait dengan cultural turn pada perang dingin
Cultural turn juga mengandung arti untuk membuat budaya sebagai fokus unit analisis untuk dapat menjelaskan hubungan internasional. Direktur British Council di Ukraina Simon Williams menyatakan budaya kini menjadi perangkat diplomasi untuk memperkuat soft power. Tujuan utamanya adalah untuk mengajak agar dapat lebih memahami kebijakan luar negeri suatu negara, utamanya negara yang sedang meluaskan diplomasi utamanya soft diplomacy (Williams, 2021). Bagi negara itu sendiri bermanfaat untuk dapat memperkuat posisinya dalam dalam struktur politik dan hubungan internasional. Secara empiris, cultural turn dijadikan metode bagi negara-negara maju dan memiliki power untuk mendapatkan pemahaman lebih baik tentang negara lain. Secara epistemologi, Cultural turn mengandung gerakan untuk membuat budaya sebagai fokus kajian dan eksplanasi. Cultural turn ini kemudian digunakan dalam metode untuk mengkaji upaya yang diperlukan untuk membangun perdamaian di suatu daerah yang berkonflik (Bräuchler, 2018)serta sebagai bahan kajian mendalam pada studi intelijen (Willmetts, 2019). Dengan demikian, terdapat tiga pendekatan untuk melihat cultural turn yakni: (1) sebagai metode, (2) sebagai perspektif, dan (3) sebagai means (sarana).
Cultural turn sebagai metode mengandung arti, menjadikan budaya sebagai salah satu kajian yang menjadi penting untuk dapat memahami hubungan internasional. Selama ini menggunakan perspektif arus utama, budaya belum pernah sekalipun mendapatkan tempat sebagai pusat kajian untuk dapat memahami pola-pola hubungan internasional. Cultural turn sebagai perspektif, mengandung arti kebijakan luar negeri suatu negara dapat dipahami sebagai refleksi dari budaya yang memengaruhinya. Dengan perspektif ini, maka kita dapat memahami bagaimana kebijakan luar negeri negara lain dapat mudah diterima jika diharmonisasikan dengan pola-pola budaya yang berkembang di negara tujuan.
Hal ini mendapatkan momentum ketika pada awal Amerika Serikat menginvasi Irak mendapatkan hambatan. Hambatan ini berasal dari penolakan warga Irak akan kedatangan Amerika Serikat. Untuk mengurangi hambatan ini, maka pakar antropologi kemudian diberdayakan untuk dapat menghasilkan kajian-kajian budaya yang dominan dan kuat yang dipegang oleh warga irak. Kajian ini kemudian menghasilkan pedoman yang digunakan pasukan AS untuk bisa membaur dengan warga Irak dan kemudian mendapatkan informasi strategis yang penting untuk dapat menggulingkan pemerintahan Irak (United States Department of the Army, 2007).
Perspektif cultural turn ini membantu bagi negara yang memerlukannya untuk dapat melakukan penetrasi pengaruh. Perspektif ini tidak lain berasal dari prinsip strategis yang berbunyi:

“know your enemy in order to defeat him/her’ (Bräuchler, 2018, hal. 8).”

Belakangan ini, pakar hubungan internasional utamanya yang bekerja di ranah studi strategis dan perdamaian disadarkan akan pentingnya budaya untuk dapat memahami tindakan negara dalam struktur politik internasional. Hal semakin menguat dengan adanya fakta bahwa semakin banyak studi keamanan dan strategis menggunakan riset-riset budaya dan lokal yang tertanam dalam masyarakat suatu wilayah negara tertentu. Peristiwa ini mengambil momentumnya saat pada kesuksesan Amerika Serikat menjadi tandingan kekuatan seberang – yakni “Timur” Uni Soviet sebagai suatu kekuatan yang unggul pasca akhir perang dingin.
Pakar seperti Francis Fukuyama menyebutkan bahwa liberalisme telah menjadi pemenang di atas sosialisme yang digadang-gadang sebagai kekuatan lawan. Selain itu, gugurnya Uni Soviet membuka pintu bagi Amerika Serikat untuk meluaskan nilai-nilai demokrasi di luar batas negaranya. Untuk memaksimalkan penyebaran prinsip demokrasi dengan lebih mudah, maka kajian tentang budaya dan lokal di negara lain dilakukan. Kajian ini kemudian semakin menguat dengan adanya mobilisasi antropologi untuk menghasilkan catatan penting tentang budaya dan lokal di negara lain. Cultural turn kemudian mengandung arti sebagai sarana yang digunakan oleh Amerika Serikat atau negara lainnya untuk menyebarluaskan ideologi politik, dan norma yang dianggap penting, misalnya norma demokrasi. Demokrasi menurut Amerika Serikat perlu disebarluaskan dengan tujuan mengurangi konflik. Ini selaras dengan salah satu teori yang dihasilkan dari kajian perbandingan politik bahwa negara demokratis cenderung tidak berperang satu sama lain (“Democratic theory,” 2021).
Ringkasan: Cultural turn mendapatkan tempat penting dalam hubungan internasional karena dua kondisi yakni: (1) Meningkatnya peran lokal dan budaya dalam penelitian dan studi perdamaian serta menempatkan reposisi budaya dan antropologi semakin diperlukan untuk dapat mewujudkan tujuan yang ingin dicapai, dan (2) kebutuhan mendesak untuk beralih pada pendekatan budaya dalam studi perdamaian (Bräuchler, 2018, hal. 10).

Sebutkan dan jelaskan 3 hubungan antar budaya populer dan politik dunia dan berikan masing masing 1 contoh

Response of racism in H&M case

Cultural is not opposed to politics. Culture is political, and politic is cultural.

Tidak mudah untuk menjelaskan kalimat sederhana ini. Penjelasan bisa dibangun dengan membaca bab 1 buku McAuley “An introduction to politics, state and society”.
Politis meminjam definisi politis dari McAuley (2003, hal. 4), politik merujuk pada potensi antagonisme yang melekat dalam hubungan manusia dan dapat memanifestasikan dirinya dalam berbagai hubungan sosial. Politik tidak terpisah dari aktivitas manusia. Maka itu, seharusnya tidak dipisahkan dan dibatasi pada praktik politik yang terbatas pada diskursus (wacana politik), institusi (kelembagaan) dan organisasi politik seperti pemerintahan dan partai politik, sebagaimana dikutip di bawah ini:

“… the political is not a separate area of human activity. Rather, it is an aspect of broader social relationships, and certainly not something that is, or should be, confined to political organizations, institution or government…” (McAuley, 2003, hal. 4).

Politik dekat dengan kegiatan manusia, lebih luas lagi, kegiatan banyak manusia yakni masyarakat. Masyarakat yang dimaknai sebagai sistem sosial yang terdiri atas keterkaitan struktur yang menghubungkan setiap individu. Masyarakat dapat dilihat sebagai suatu sistem sosial yang dapat dikenali perbedaannya lewat karakteristik struktur, kultur, dan politik (McAuley, 2003). Dengan demikian kita bisa mengkaji budaya sebagai unit menggunakan pendekatan politik. Ini kemudian yang membangun salah satunya luaran berupa budaya politik. Budaya politik mengandung arti sistem dari perilaku, nilai, dan pengetahuan yang dimiliki secara majemuk oleh suatu masyarakat (McAuley, 2003). Politik pun bisa dikaji dan dianalisis menggunakan pendekatan budaya. Unit analisis politik yang bisa dikaji meliputi, apa yang dikenalkan oleh McAuley, dengan wacana, institusi, organisasi politik maupun pemerintahan. Mengkaji wacana politik sebagai unit analisis, membawa kita pada pandangan bahwa politik di suatu negara akan lebih baik dijelaskan dalam konteks dan situasi yang berlaku di negara tersebut. Sebaliknya, wacana politik yang dimaknai menggunakan konteks dan situasi di luar negara itu terjadi membuka peluang cela akan adanya interpretasi yang tidak utuh atau tidak lengkap. Hal ini sesuai dengan metode yang dikenalkan oleh Minogue, dalam menganalisis perbedaan kontekstual despotisme pada perkembangan studi politik klasik dengan perkembangan studi politik kontemporer (Minogue, 2000, hal. 1).
Menurut Minogue, pemahaman awal tentang despotisme berasal dari kondisi empiris yang mana konteks despotisme lahir. Despotisme pada masa awal kelahirannya digunakan untuk menyebut suatu sistem tatanan yang lahir dari suatu pendudukan, penaklukan, melandaskan pada ketakutan dalam menjalankan pemerintahan dan tindakan. Sedangkan despotisme saat ini dimaknai dengan suatu pemerintahan yang diperintah rezim diktator dan totaliterianisme. Oleh karena itu, Minogue mengatakan politik itu begitu sentral dan melekat pada peradaban dimana maknanya berubah sering dengan perubahan dalam konteks dan kultur.

“… what this contrast reveals is that politics is so central to our civilization that its meaning changes with every change of culture and circumstance,” (Minogue, 2000, hal. 2).

Minogue kemudian menyarankan metodologi untuk memahami politik adalah dengan membebaskan diri kita dari keyakinan yang tidak mencerminkan keyakinan pada masa kini. Dengan demikian, Minogue menyarankan agar memaknai politik dengan keyakinan yang berlaku saat ini. Padahal keyakinan sangat dipengaruhi oleh sistem perilaku, kultur, nilai dan norma dalam masyarakat. Ini yang kemudian menjadikan peristiwa politik atau wacana politik menjadi tidak dapat dilepaskan dari budaya.
Menggunakan kerangka konseptual bahwa politik tidak lepas dari budaya dan sebaliknya, maka kita dapat menggunakannya untuk memberi pandangan pada peristiwa atau kasus serangan terhadap iklan H&M.
Dunia saat ini tengah hidup dalam perekonomian yang dijalankan dengan sistem kapital. Sistem ini disebut dengan kapitalisme. Kapitalisme mengandung arti bahwa modal (Capital) menjadi penggerak roda ekonomi yang penting. Bahkan modal berupa uang, menurut sosiolog George Simmel, adalah motivasi utama modernisasi. Modernisasi yang dimaksud adalah perubahan dari yang belum modern menjadi lebih modern dari sebelumnya. Namun demikian, terdapat variasi konseptualisasi modernisasi dari pakar seperti David Harvey, Anthony Giddens, Poggi hingga Ulrich Beck yang tidak dibahas pada bagian tulisan ini. Namun demikian, modernisasi memungkinkan suatu sistem yang berjalan dari kondisi yang terus menerus menjadi lebih efisien dan lebih efektif dengan tujuan untuk meningkatkan keuntungan lebih maksimal, hingga memanfaatkan sumber daya yang dimiliki, bisa tenaga kerja, sumber daya manusia dan alam, sebagai sumber keunggulan komparatif satu negara dari negara lain. Sistem kapitalisme memang tidak luput dari eksploitasi, alienasi, dan intimidasi yang menjadi ciri masyarakat modern yang pernah dikenalkan oleh Marx. Para pendukung kapitalisme dan pasar bebas yang menjadi aktualisasi liberalisme dengan kapitalisme sebagai mesinnya, melihat apa yang diiklankan oleh H&M adalah murni tidak ada maksud untuk kemudian mengangkat isu rasisme. H&M tersebut menjual iklannya di Afrika Selatan yang mana karena ingin menjadi lebih dekat dengan warga Afrika, maka mereka menggunakan model dari keluarga yang berkulit gelap. Warga Afrika Selatan yang mana kulit gelap adalah hal yang ditemukan setiap hari dan menjadi kebiasaan, tidak merasa iklan H&M suatu saat akan menjadi polemik global. Ini menjadi polemik global ketika orang di luar Afrika Selatan kemudian memaknainya dengan sudut pandang berbeda sehingga menjadikannya lebih sensitif. Audien global melihat tulisan pada jaket kaos dengan tulisan “Coolest Monkey” menjadi simbol rasisme. Ini sulit dihindari pasca kemenangan Perancis sebagai juara Piala Dunia Fifa pada tahun 2018 lalu. Sejak saat itu, serangan terhadap orang kulit gelap semakin menguat. Hal yang sama diamplifikasi oleh peristiwa tekanan yang dilakukan polisi Amerika Serikat terhadap sejumlah orang kulit hitam yang berujung fatal mendapatkan sorotan global. Salah satu peristiwa penting cermin racism adalah kematian George Floyd di tangan aparat hukum (“George Floyd: ‘Pandemic of racism’ led to his death, memorial told,” 2020). Sejak saat itu, rasisme menular di berbagai negara dan respon internasional semakin sensitif pada peristiwa ini yang mengecam segala bentuk rasisme terkecil sekalipun.

Referensi
Bräuchler, B. (2018). The cultural turn in peace research: Prospects and challenges. Peacebuilding, 6(1), 17–33. https://doi.org/10.1080/21647259.2017.1368158
Democratic theory. (2021). In obo. https://www.oxfordbibliographies.com/view/document/obo-9780199756223/obo-9780199756223-0162.xml
George Floyd: “Pandemic of racism” led to his death, memorial told. (2020, April 9). BBC News. https://www.bbc.com/news/world-us-canada-52928304
McAuley, J. W. C. N.-J. . M. 2003. (2003). An introduction to politics, state and society. Sage Publications.
Minogue, K. R. (2000). Politics: a very short introduction. In Very short introductions CN – JA66 .M55 2000. Oxford University Press.
United States Department of the Army. (2007). The U.S. Army/Marine Corps Counterinsurgency Field Manual. University of Chicago Press, Chicago.
Williams, S. (2021). Introduction to cultural relations and cultural diplomacy. https://www.youtube.com/watch?v=RexhhvpoC5w
Willmetts, S. (2019). The cultural turn in intelligence studies. Intelligence and National Security, 34(6), 800–817. https://doi.org/10.1080/02684527.2019.1615711

Pendekatan Materialis dalam Hubungan Internasional


Pada periode post war, titik awal bagi sebagian besar politik internasional selalu berkutat pada power dan kepentingan nasional. Power dipahami sebagai kapabilitas militer dan kepentingan nasional dipahami sebagai keinginan kuat akan kekuasaan, keamanan dan kemakmuran (kekayaan). In kemudian dikenali sebagai pendekatan realis. Sementara pendekatan ini mendapatkan pendukung, pada awal tahun 1980 an muncul tandingannya yakni neoliberal. Pendukung neoliberal kemudian berargumentasi bahwa institusi internasional juga memainkan peran signifikan dalam politik internasional. Pemikiran in dan pemikiran sebelumnya memiliki kebenaran relatif, tetapi keduanya bermanfaat memberi pengetahuan dasar tentang variasi yang dapat terjadi pada dunia internasional. Pendekatan yang meletakkan inti argumentasi berpusat pada power dan kepentingan nasional disebut dengan pendekatan materialis. Sebab itu power dan kepentingan nasional atau bahkan institusi disebut dengan faktor material yang mana kehadirannya cukup menentukan. 

lebih lengkap baca

Wendt, Alexander. Ideas all the way down?: on the constitution of power and interest.

Sudut pandang pembangunan berkelanjutan melihat tanggung jawab perusahaan dalam perspektif


pernahkah kalian memikirkan apa dampak adanya perusahaan pembangkit listrik bagi lingkungan terdekat masyarakat di sekitarnya? coba pikirkan? jangan pikirkan tentang pasokan listriknya karena itu sudah kebutuhan yang tidak bisa kita tinggalkan, tapi kita juga perlu memikirkan apakah masyarakat di sekitarnya telah cukup diuntungkan sebagai ganti dari adanya operasi perusahaan tersebut?

Berikut dalam tulisan ini saya akan bahas tentang bagaimana memaknai kehadiran operasional suatu perusahaan yang jelas-jelas merubah kesimbangan lingkungan di sekitar, menggunakan pendekatan pembangunan berkelanjutan utamanya dalam melihat dampak lingkungannya baik secara ekonomi, ekologi dan sosial menurut Rogers (2012) (Sachs, 2015).

Mari pahami perbedaan pendapat yang terjadi seputar kehadiran suatu perusahaan di suatu wilayah, lokasi, dan tempat yang mana masyarakat tinggal dan lingkungan tempat mereka mencari sandang pangan dan papan dengan bercocok tanam atau kegiatan lainnya sebagai mata pencaharian. Ada sejumlah perspektif untuk melihat hal ini dalam hubungan internasional ada perspektif mainstream seperti liberalisme, neoliberalisme, marxis, neomarxisme, realisme dan neorealisme dalam melihat masalah tersebut. Jangan heran dengan perbedaan masing-masing pandangan arus utama dalam teori hubungan internasional tersebut. Lihatlah pandangan tersebut memberi penjelasan yang bermanfaat dalam melihat situasi dan permasalahan yang muncul yakni tanggung jawab perusahaan.

tanggung jawab perusahaan ini banyak dimensinya banyak bentuknya dan banyak imlementasinya. ada yang skeptis bahwa tanggung jawab perusahaan ini tidak akan pernah dapat mengganti kerugian yang dialami oleh lingkungan. argumentasinya adalah lingkungan tidak akan lagi sama sperti dulu.

tapi ketika kita kemudian melihatnya dari sudut pandang ekonomi Rogers, maka kita berpikir ulang, bahwa tanggung jawab perusahaan bisa dipahami dengan memahami peruntungan dan kerugian. nama lainnya adalah cost benefit analysis. kalian bisa mengetahui dampak kehadiran PJB terhadap lingkungan menggunakan analisis dampak I (Impact) sama dengan PAT

jadi jawaban kalian atas pertanyaan saya adalah semuanya benar, semuanya bisa dipertimbangkan dan tidak ada yang keliru. jika ingin mengetahui tingkat dampaknya ya harus dihitung. hasilnya berapa maka itu akan menghentikan perdebatan apakah kehadiran pembangkit listrik memberikan dampak positif atau justru berdampak negatif. kalo nilainya sepuluh angka dibelakang koma, ya artinya punya dampak pada lingkungan tetapi tidak besar. jika nilainya samapi lebih dari seirbu misalnya, maka dapat dikatakan dampaknya pada lingkungan cukup besar. mungkin mengakibatkan kerusakan lingkungan karena tingkat konsumsi energi nya tinggi sehingga menghasilkan polusi partikel kecil yang dapat merusak paru2.

kalian sewaktu waktu cba ke parkiran pembangkit listrik, bawa mobil atau motor, tunggu saja sejam,apakah motor kalian mulai berdebu akibat partikel yang ada di udara akibat pembakaran batu bara

bilangke saya kalo motor kalian tetap kinclong biarpun sudah parkir berjam jam di pembangkit listrik

itu yang menjelaskan bahwa kehadiran perusahaan apapun bentuknya pasti akan memberikan dampak pencemaran lingkungan. persoalannya, apakah kita bisa menyimpulkan kerugian yagn diberikan perusahaan dengan memberi kapal untuk nelayan berlayar bisa mengurangi pencemaran lingkungan yang dihasilkan oleh kehadiran perusahaan tersebut?

Referensi

  • Burchill, S., Linklater, A., Devetak, R., Donnelly, J., Nardin, T., Paterson, M., Reus-Smit, C., & True, J. (2013). Theories of international relations. Macmillan International Higher Education.
  • Rogers, P. P., Jalal, K. F., & Boyd, J. A. (2012). An introduction to sustainable development. Earthscan.
  • Sachs, J. (2015). The age of sustainable development. Columbia University Press.

Analisis Data Kuantitatif Menggunakan SPSs dan Google Form


Pada tanggal 15 April 2021, saya sengaja menyelenggarakan seminar analisis data kuantitatif menggunakan spss. seminar ini diikuti oleh 175 peserta yang registrasi. namun pesertanya mencapai 45 orang yang sebagian bedar mahasiswa. mahasiswa memang menjadi sasaran kegjatan ini agar mereka dapat pengetahuan mendasar sebelum melkaukanriset data kuantiatif. saya sangat antusias dengan partisipasi peserta untuk saya kemudian menyelenggarakan seminar lainnya secara mandiri