Sekolah Dasar di Era Saat Ini yang Memprihatinkan (2010-2015)


Orang dewasa juga salah, selalu salah dalam memberi contoh di depan anak2. “Di situ kadang saya sedih”.

Saudara, teman, orang tua, paman atau bibi, orang tua kita, salah satunya berprofesi guru. Seringkali saya mengunjungi sekolah dasar tempat mereka mengajar untuk satu dan keperluan lain.

Aku sedikit tahu liarnya anak2 sekolah di kota kecil dengan keluarga rata2 ekonomi sangat sulit/ ada juga dari ekonomi mapan *ini bukan variabel yang menentukan – variabel paling menentukan adalah pengawasan orang tua di rumah seputar kegiatan anak dan teman2 di sekelilingnya.

Aku sudah mendengar dan menyaksikan betapa beringasnya anak sekarang bahkan sulit bagi guru yang hanya honorer digaji 100.000/ bulan, dan guru senior berdasarkan usia yang kesemuanya hanya berjumlah paling byak 12 untuk memantau seluruh siswa dari kelas I sampai kelas VI yang masing2 muridny bisa berjumlah 30-40 siswa.

Bagiku, mengatasi hanya ponakanku saja sudah kewalahan, apalagi puluhan siswa? Yang lebih memilukan, hal ini juga terjadi pada anak seorang kawan karib saya di sekolah dasar tempat saya dulu belajar. Astagfirullah. Nau’udzubillah. Dimana ia dipojokkan dan diseret ke kamar mandi lalu disana ia dibully oleh sekelompok siswa cewek – teman sekelasnya. Sangat memilukan.

Mohon pengertiannya dan cegah agar hal ini tidak terjadi di masing2 area di dekat kita. sebarkan kekhawatiran kita dengan memberikan contoh yang baik di depan anak2 kecil di sekitar kita. Saya sebagai orang dewasa saja masih (mewakili orang dewasa lainnya, yang berdasarkan pengmatan saya sehari-hari) masih sering memberi contoh yang kurang pantas pada anak2, misalnya bermain ipad atau game (pertarungan, combat, dll) di depan anak2 dan mnyaksikan sinetron yang tidak layak tayang di tengah2 jam anak2 belum tidur (sinetron yang berisi konten dewasa seperti pacaran, konflik rumah tangga, konflik antartetangga, dll), termasuk salah satu diantaranya mengutarakan kata kasar dan mengumpat di depan anak2 meskipun mereka adalah anak orang lain yang tanpa sengaja lewat.

[WARNING FOR ADULT CONTENTS AND VIOLENTS] If you’re under legal age to view this, please don’t click the link.

[PERINGATAN BERISI KONTEN DEWASA DAN KEKERASAN] Jangan klik link di bawah ini di depan anak-anak anda dan sekitarnya.

Link https://www.youtube.com/watch?v=ai9Rz29dFVg

Terimakasih.

Huru Hara di Ukraina November 2013 – Februari 2014


“Revolutions are much easier to make than to recover from.” – George Friedman, 2014

ditulis oleh Renny Candradewi P | find more writing about us JurnalPhobia

Huru hara yang telah berlangsung sejak November 2013 di Ukraina akhirnya menemui titik terang di awal tahun 2014 ini. Namun ini bukan berarti berakhir, banyak persoalan yang masih harus diatasi oleh pemerintah sementara (interim government) yang dipimpin oleh Aleksandr Turchynov. Persoalan menjadi tidak mudah saat publik Ukraina dihadapkan pada ancaman separatisme jika pemerintah mengambil langkah yang tidak sanggup mengakomodasi dua pengaruh besar (sphere of influence) Uni Eropa (UE) – United States (US) vis a vis Russia. Berikut penjabaran apa yang telah terjadi di Ukraina, semoga tulisan ini bisa dijadikan manfaat agar aksi demonstrasi dapat dilakukan untuk hal-hal yang benar-benar dan pertimbangan yang bermanfaat sekaligus mengakomodasi seluruh suara yang ada. Bukan sebaliknya, yakni menuntun negara pada hal yang lebih buruk dari keadaan sebelumnya, yakni uncertainties.


Latar Belakang Aksi Demonstrasi

Kerusuhan yang sudah berlangsung selama tiga bulan di Ukraina akhirnya menemukan titik terang, tapi belum benar-benar berakhir. Gelombang demonstran ini merupakan wujud protes yang menuntut Presiden Ukraina Viktor Yanukovych lengser pasca pembatalan UE Association Agreement pada 21 November 2013.

Demonstrasi yang tadinya berjalan damai menjadi demonstrasi berdarah akibat kekerasan yang berujung aksi brutal aparat keamanan. Nasib 45 juta rakyat Ukraina sedang dipertaruhkan oleh segelintir orang yang berdemo menduduki Independence Square dan gedung-gedung pemerintahan vital di sekitarnya di Ibukota Ukraina, Kiev.

Kerusuhan ini berakar pada persaingan sengit dua kubu yang mempengaruhi jalannya pemerintahan dan kebijakan politik luar negeri Ukraina. Orientasi luar negeri Ukraina pun bercabang pada Barat, yakni UE dan US; dan Russia – Moskow. Parlemen sebagai dewan legislatif dan pemerintah sebagai lembaga eksekutif memiliki sifat yang bertolak belakang dan tidak dapat berjalan seiring. Parlemen cenderung condong pada kepentingan UE dan US, sementara pemerintah yang dipimpin oleh Presiden Yanukovych cenderung sejalan dengan kepentingan Russia. Puncaknya, Presiden Ukraina Viktor Yanukovych secara mengejutkan menolak bantuan yang diprakarsai oleh Uni Eropa pada November 2013 lalu, mengakibatkan mahasiswa Kiev turun ke jalan menuntut presiden mundur (BBC, Why is Ukraine in Turmoil, 2014).

Aksi demonstrasi ini tidak lepas dari geokultur penduduk Ukraina yang terbagi menjadi dua. Penduduk yang menempati Ukraina Barat berbatasan dengan Russia memiliki latar belakang sejarah dan bahasa yang secara kultural lekat dengan Russia. Oleh karena itu, penduduk Ukraina Barat menyangsikan langkah demonstran di Kiev yang mengatasnamakan suara bulat seluruh Ukraina.

Sementara itu, para demonstran yang mayoritas adalah mahasiswa di Kiev turun ke jalan mewakili banyak penduduk yang memilih untuk bergabung dengan Uni Eropa. Mereka sebagian besar bermukim di wilayah yang berbatasan langsung dengan negara anggota UE seperti Polandia.

Pemukulan dan penculikan demonstran pro-UE atau pro-oposisi membuat protes semakin berlanjut dan memanas. Pada 20 Februari 2014 tercatat sebagai demonstrasi paling berdarah di Ukraina. Kementerian Kesehatan melaporkan sekurang-kurangnya 77 orang tewas dalam demonstrasi tersebut dan 600 lainnya terluka dan beberapa lainnya ditemukan meninggal dunia akibat luka tembak dan menghilang.

Meskipun gelombang demonstran sudah usai dan perekonomian kembali lancar pasca penggulingan Presiden Ukraina Viktor Yanukovych, kini Ukraina menghadapi tekanan baru dari Russia yang kabarnya membatalkan dana talangan senilai 15 miliar AS. Selama ini Russia telah mengguyurkan pinjaman sebesar 3 miliar AS. Russia juga membatalkan diskon 30% harga gas yang dijual ke Ukraina. Akibatnya Ukraina harus membayar utang sebesar 1, 8 miliar dollar AS per bulan untuk gas yang diimpor dari Russia. Tak hanya itu, Russia juga akan mengancam menaikkan pajak ekspor Ukraina. Perlu diketahui, sejak lepas dari Uni Soviet pada 1991, hampir setengah perdagangan Ukraina mengalir ke Russia, terutama produk-produk baja dan alat-alat berat (BBC, Why is Ukraine in Turmoil, 2014).

Respon Barat

Melihat perkembangan politik Ukraina yang menuai berbagai ancaman dari Russia, sekutunya seperti Amerika Serikat dan Inggris segera merespon. Presiden Amerika Serikat Barrack Obama segera mengutus Wakil Menteri Luar Negeri Williams Burns terbang ke Kiev. Inggris juga mengutus Menteri Luar Negeri William Hague yang dijadwalkan untuk bertemu pemimpin baru dan perwakilan IMF di kota yang sama (BBC, Why is Ukraine in Turmoil, 2014). Pertemuan ini tidak lain akan membahas bagaimana negara-negara Barat akan menyelamatkan Ukraina dari Russia. Akan tetapi, banyak yang berspekulasi bahwa Ukraina akan mengalami kesulitan untuk menerima prasyarat yang diberikan oleh IMF. Beberapa analis seperti George Friedman dan Paul Craig Roberts yakin Ukraina tidak dapat memenuhi prasyarat yang diberikan.

Konsekuensi

Melunak nya demonstrasi di Kiev yang mendukung pemecatan mantan presiden Viktor, harus dibayar sama mahalnya dengan munculnya demonstrasi di semenanjung Crimea. Semenanjung Crimea dihuni oleh penduduknya yang mayoritas, hampir 60%, berbahasa Rusia. Mereka menentang pemerintahan baru Turchynov dan meneriakkan gerakan pro-Russia. Bahkan di beberapa tempat mereka mengganti bendera Ukraina dengan bendera Russia. Benturan pendukung Russia dan pro-UE pun terjadi, setidaknya seorang dilaporkan Tewa. Pemerintah setempat pun mengajak tokoh berpengaruh untuk membujuk warga di semenanjung Crimea untuk kembali ke rumah masing-masing dan tidak melakukan aksi demonstrasi lanjutan (Ukraine crisis: Turchynov warns of ‘separatism’ risk, 2014). Sejauh ini mantan presiden Viktor Yanukovych masih belum diketahui kabarnya ia tengah berlindung di pangkalan Angkatan Laut Russia di Sevastopol (BBC, Why is Ukraine in Turmoil, 2014).

Kronologi

  • 21 November 2013 : Pemerintah mengumumkan pembatalan EU Association Agreement yang memicu ribuan orang turun ke jalan di Kiev,
  • 30 November 2013 : Polisi secara brutal melakukan penggerebekan dan penculikan sejumlah aktivis pro oposisi,
  • 17 desember : Presiden Rusia Vladimir Putin menawarkan bantuan pinjaman senilai 15 miliar dollar AS ke Ukraina sekaligus pemotongan pembelian impor gas dari Russia. Para demonstran menilai aksi ini sebagai usaha Russia untuk membeli Presiden Yanukovych,
  • 16 Januari 2014 : Parlemen mengesahkan Undang-Undang anti protes yang oleh oposisi disebut sebagai peraturan yang sangat brutal atau “draconian”. Pada akhirnya peraturan ini dicabut dari konstitusi,
  • 19-20 Januari : benturan antara aparat dan demonstran,
  • 22 Januari                 : dua orang demonstran ditemukan meninggal dunia karena luka tembak. Sehari kemudian, seorang aktivis ditemukan meninggal dunia diduga korban penculikan yang dilakukan oleh aparat,
  • 23-24 Januari : para demonstran menduduki gedung-gedung pemerintahan di kota Lviv, Ivano-Frankivsk, dan kota lain di Ukraina. Para demonstran juga mulai menyebar dan bergerak ke Timur,
  • 28 Januari : Perdana Menteri Mykola Azarov dan administrasinya meletakkan jabatannya atau “resign”,
  • 14-16 Februari : amnesti diberikan kepada demonstrasi yang menduduki gedung pemerintahan dan tuduhan terhadap demonstran yang ditahan dihilangkan,
  • 18 Februari : parlemen menolak perubahan konstitusi yang mengembalikan kekuasaan parlemen lebih besar daripada presiden. Akibatnya demonstrasi semakin memuncak,
  • 20 Februari : para demonstran menduduki Independence Square. Benturan antara aparat dan para demonstran tidak terelakkan, mengakibatkan 77 orang meninggal dunia dan 600 lainnya terluka (BBC, Why is Ukraine in Turmoil, 2014).

Konstitusi yang dilanggar

Gejolak politik di Ukraina menuai babak baru. Presiden Yanukovych berhasil digulingkan oleh aksi demonstrasi, bukannya oleh pemakzulan melalui rapat parlemen. Hal ini sudah tidak sesuai dengan konstitusi awal Ukraina yang mana konstitusi justru dilanggar oleh sekelompok “Kiev Students”. Sebagaimana George Freidman berpendapat dalam tulisannya,

“… to the extent that Ukraine had a constitutional democracy, that is now broken by people who said their intention was to create one.” (Freidman, 2014)

Hal kedua yang tidak sesuai dengan konstitusi adalah Menteri Luar Negeri Polandia, Perancis dan Jerman yang berhasil menegosiasikan solusi politik untuk Ukraina. Untuk pertama kalinya dalam dua dekade terakhir, menteri luar negeri dari negara lain (berkepentingan) untuk merumuskan nasib suatu negara.

Bagaimana dengan ide Ukraina untuk gabung dengan  Uni Eropa? Uni Eropa tentu saja harus mempertimbangkan ulang ide ini. Betapa tidak, Uni Eropa saat ini tengah menanggung beban beberapa negara yang secara ekonomi sedang sakit seperti Yunani, Spanyol, Irlandia dan negara lain yang ekonominya masih terseok-seok di tengah-tengah krisis ekonomi Uni Eropa yang belum sepenuhnya pulih. Jika Ukraina bergabung dengan Uni Eropa, Uni Eropa akan menerima beban yang lebih. Maka dari itu Uni Eropa sengaja menggunakan tangan IMF untuk menopang beban ekonomi Ukraina.

Meskipun ketiga negara tersebut diboncengi oleh kepentingan Barat, melalui Uni Eropa, untuk menggandeng Ukraina, nasib Ukraina ke depannya juga belum akan jelas. Jika Ukraina yang menyetujui proposal pinjaman Barat, maka Ukraina harus menerima prasyarat yang diajukan oleh IMF-sebagai alat untuk mempertahankan Ukraina agar tetap setia dengannya.

IMF mengajukan prasyarat pinjaman supaya keuangan Ukraina dapat direstrukturisasi ulang. Hal ini mengandung arti bahwa Ukraina harus bersedia menyerahkan otoritas keuangannya pada IMF. Belajar dari pengalaman beberapa negara yang menerima kondisi ini, maka saya simpulkan hal ini tidak akan berhasil pada Ukraina. George Friedman menyebutnya,

“Good intentions notwithstanding, the Ukrainians will not like the IMF deal.” (Freidman, 2014)

Apabila Ukraina memilih untuk bersikap neutral tidak memihak manapun, maka kurang lebih pemerintahan sementara ini akan melakukan kebijakan di tengah-tengah keadaan yang tidak ada bedanya semasa Viktor Yanukovych memerintah.

Russia tampak santai menyikapi gejolak demonstrasi di Ukraina. Menggunakan pendekatan berbeda yang pernah Russia lakukan terhadap Georgia, Russia menawarkan pinjaman sebesar 15 miliar AS, diskon harga impor gas dari Russia ke Ukraina, dan keringanan pajak ekspor Ukraina ke Russia. Sejak Viktor Yanukovych dilengserkan, kini Russia mulai hati-hati namun tetap terkendali dalam menyikapi Ukraina. Meskipun bentuk pinjaman di atas telah ditarik diganti dengan beragam ancaman ekonomi, kini Russia melihat langkah UE dan US dalam menyelamatkan Ukraina. Russia melihat kemungkinan parlemen akan menolak resep pemulihan ekonomi dari IMF dan meminta Russia untuk dana segar karena Ukraina akan mengalami default jika gagal bayar utang obligasi negara yang akan jatuh tempo dalam 2 pekan mendatang. Sebagaimana Presiden baru Ukraina Turchynov menyampaikan dengan tegas seperti dikutip oleh Kompas,

“negaranya tidak punya pilihan lain selain ‘mengemplang’ utang 13 miliar dollar AS jika negara Barat dan Dana Moneter Internasional (IMF) tidak turun tangan.” (Ukraina Butuh Tunai 35 Miliar, 2014)

Di bawah tekanan yang diberikan Russia, jika Ukraina berpaling pada negara UE dan US maka Ukraina akan menjadi beban ekonomi dengan segala ketentuan yang diberikan oleh Barat. Sementara, jika Ukraina berpaling pada Russia, maka Ukraina mengakui nasibnya yang tidak bisa memisahkan diri dari pengaruh Moskow. Sebagaimana Menteri Luar Negeri Russia, Sergei Lavrov, meyakinkan dunia internasional dengan tegas,

“We want Ukraine to be part of the European family in every sense of the word” (Ukraine crisis: Turchynov warns of ‘separatism’ risk, 2014).

Kesimpulan

Cukup mengesankan bagaimana sekelompok demonstrasi di ibukota Ukraina, Kiev, mampu menggulingkan Viktor Yanukovych. Ini adalah masa tersingkat bagi suatu demonstrasi untuk benar-benar berhasil menggulingkan pemerintah yang tengah berkuasa, pemerintah sah yang dipilih dari pemilihan umum. Padahal ini bukan demonstrasi yang mewakili keseluruhan suara nasional yang ada di Ukraina –lihat APA yang sekarang terjadi di semenanjung Crimea. Aksi demonstrasi antara pendukung pemerintahan sementara dengan mengibarkan bendera Ukraina dan demonstrasi yang mendukung Russia–mereka mengibarkan bendera Russia. Padahal Suriah masih bergejolak dengan peperangan antara pemberontak dan militer pemerintah Suriah.

Ada dua kepentingan besar di Ukraina yang tidak bisa dielakkan. Bagi Uni Eropa, Ukraina merupakan hal penting. Di sisi lain, Russia merasa Ukraina tidak Akan menjadi “lebih penting” jika bergabung dengan UE atau mendukung kebijakan US. Sebaliknya, Russia beranggapan bahwa seluruh negara pecahan Uni Soviet merupakan satu kesatuan dengan Russia dan oleh karena itu haram hukumnya bagi salah satu bila hendak keluar dari pengaruh Russia.

Ada banyak penjelasan kenapa Ukraina begitu penting bagi Russia, secara geopolitik maupun geostrategic Ukraina berada berdekatan dengan Moskow secara geokultur, sebagian penduduk Ukraina terutama bagian Barat (hampir 60% diantaranya) yang berdekatan dengan Russia merupakan penduduk dengan mayoritas berbahasa dan keturunan Russia. Mereka bekerja di sektor industri berat yang menjual hasilnya ke Russia. Tidak heran jika mereka mendukung Russia karena kesamaan tersebut dan nasib mereka ke depannya.

Sedangkan penduduk yang pro UE adalah penduduk yang berada di sebelah Timur dan sebagian wilayah kota Kiev. Dapat disimpulkan bahwa hanya separuh suara yang ada dalam demonstran yang berhasil (unexpectedly) menggulingkan presiden. Hal ini bisa dikatakan sangat tidak konstitusional karena demonstrasi berhasil menggulingkan presiden yang dipilih melalui pemilu tanpa harus melakukan pemilihan umum. Presiden Yanukovych sendiri telah mengajukan solusi untuk mempercepat pemilu ke parlemen, sayangnya parlemen menolak ide ini. Kedua, aksi demonstrasi juga berhasil menuntut agar tahanan politik Yulia Tymoshenko dibebaskan. Hal ini adalah hal tidak konstitutional kedua yang berhasil dilakukan tanpa melalui perdebatan yang panjang.

Karena hal itulah, ada sekelompok tentara bersenjata yang mengatasnamakan sebagai Right’s Sector (Sektor Kanan) untuk angkat senjata. Melalui juru bicaranya, mereka mengatakan ketiga tindakan itu tidak konstitusional. Sektor Kanan tidak memihak baik Russia maupun UE dan US. Salah seorang pemimpin sektor kanan yakni Aleksandr Muzychko, menegaskan netralitas,

“Jews and Russians until I die.” (Roberts, 2014)

Mereka menghendaki suatu negara yang utuh tanpa pengaruh dari negara-negara besar di sekitarnya. Bahkan ada juru bicara sektor kanan yang mengatakan, presiden selanjutnya akan berasal dari Sektor Kanan. Sebagaimana Muzychko mengatakan,

“The next president of Ukraine will be from Right Sector.” (Roberts, 2014)

Mereka juga menunjukkan kekecewaan mereka terhadap Yanukovych dan menuntut partai regional yang mendukung Yanukovych dibubarkan.

Ada banyak masalah di dalam negara Ukraina yang tidak bisa diselesaikan melalui secara one solution fits all. Ukraina merupakan negara muda yang terjebak di antara dua pengaruh besar wilayah di sekitarnya yakni Uni Eropa dan Russia. Secara ideologi, pemimpin Ukraina memiliki pikiran yang berbeda ada yang menggolongkan mereka sebagai neo-Nazis, liberals, dan Russia. Hal ini yang membuat keadaan politik di dalam negerinya kurang stabil karena perpecahan atau orientasi politik luar negeri yang gagal.

Daftar Pustaka

Telephone conversation with US President Barack Obama. (2014 , March 2). Retrieved March 3, 2014, from President of Russia: http://eng.kremlin.ru/news/6752

BBC NEWS. (2014, February 26). Retrieved March 3, 2014, from Ukraine Crisis: Rival Rallies of protesters in Crimea: http://m.bbc.com/news/world-europe-26353824#

Crimean Tatars deported by stalin rally against putin in crimea. (2014, Februari 27). Retrieved March 6, 2014, from Businessweek: http://www.businessweek.com/news/2014-02-27/crimean-tatars-deported-by-stalin-rally-against-putin-in-crimea

Russia G8 status at risk over ‘incredible act of aggression’ in Crimea, says Kerry. (2014, March 2). Retrieved March 3, 2014, from theguardian: http://www.theguardian.com/world/2014/mar/02/john-kerry-russia-putin-crimea-ukraine

(2014). Ukraina Butuh Tunai 35 Miliar. Jakarta: Koran Kompas.

Ukraine crisis: Turchynov warns of ‘separatism’ risk. (2014, February 25). Retrieved February 27, 2014, from BBC NEWS: http://www.bbc.com/news/world-europe-26333587

Ukraine MPs call on ICC to try Yanukovych for crimes against humanity. (2014, February 25). Retrieved March 3, 2014, from Euronews: http://www.euronews.com/2014/02/25/ukraine-mps-call-on-icc-to-try-yanukovych-for-crimes-against-humanity/

Ukraine’s crisis : the tale of two countries. (2014, March 1). Retrieved March 2, 2014, from the Economist: http://www.economist.com/blogs/easternapproaches/2014/02/ukraines-crisis

Allison, R. (1999). The Military and Political Security Landscape in Russia and the South. In R. Menon, Y. E. Federov, & G. nodia, Russia, The Caucasus and Central Asia: 21st Security Environment (pp. 27-28). New York: EastWest Institute.

BBC. (2014, Februari 22). Ukraine crisis: Opposition asserts authority in Kiev. Retrieved Februari 26, 2014, from BBC NEWS: http://www.bbc.co.uk/news/world-europe-26299670

BBC. (2014, February 22). Why is Ukraine in Turmoil. Retrieved February 26, 2014, from BBC NEWS: http://www.bbc.co.uk/news/world-europe-25182823

Bennet, D. (2014, March 1). Russian Troop Convoy on Road to Crimea’s Capital. Retrieved March 3, 2014, from ABC News: http://abcnews.go.com/International/wireStory/crimean-leader-claims-control-asks-putin-22729336?_ga=1.20388600.1532520994.1393844868

Charter, C. J., Magnay, D., & Eastwood, V. (2014, March 2). Ukraine Mobilizes Troops amid crisis with Russia. Retrieved March 3, 2014, from CNN.COM: http://cnn.com/ukraine-mobilizes-troops-amid-crisis-with-russia

Freidman, G. (2014, February 24). Geopolitical Weekly : Ukraine Turns From Revolution to Recovery. Retrieved February 27, 2014, from Stratfor Global Intelligence: http://www.stratfor.com/weekly/ukraine-turns-revolution-recovery?utm_source=freelist-f&utm_medium=email&utm_campaign=20140225&utm_term=Gweekly&utm_content=readmore

Guseinova, E. (2012). The Russia’s Interest Behind the Involvement in Georgia – Sough Ossetian Conflict. Central European University Nationlism Studies Program, 1-85.

Ioffe, J. (2014, March 1). Putin’s War in Crimea Could Soon Spread to Eastern Ukraine. Retrieved March 3, 2014, from New Republic News: http://www.newrepublic.com/article/116810/putin-declares-war-ukraine-and-us-or-nato-wont-do-much?_ga=1.41361378.1532520994.1393844868

Kocaman, Ö. (2007). Russia’s relations with Georgia in the South Ossetian conflict. Cilt:2, Sayi: 3, ss. 1-27, 2007, pp. 1-27.

Lally, K. (2014, March 1). Russian forces in Ukraine: What Does the Black Sea Flee in Crimea look like with Mark Galeotti. Retrieved March 2, 2014, from Washington Post: http://www.washingtonpost.com/world/europe/russia-decides-to-send-troops-into-crimea-what-does-the-black-sea-fleet-look-like/2014/03/01/38cf005c-a160-11e3-b8d8-94577ff66b28_story.html

LeVine, S. (2014, March 1). How Putin surprised the world after losing the war in Ukraine. Retrieved March 3, 2014, from Quartz Report: http://qz.com/182964/how-putin-surprised-the-world-in-ukraine-after-losing-the-war/

Lowrey, A., & Gordon, M. R. (2014, February 26). Policy Makers Devise Plans to Provide Money to Kiev. Retrieved March 3, 2014, from The New York Times: http://mobile.nytimes.com/2014/02/27/world/europe/policy-makers-devise-plans-to-provide-money-to-kiev.html?-r=0&referrer=

Michael, H. C. (2008). How Georgian NATO Membership Actually Serves Russian Interests. Retrieved March 3, 2014, from CGI Center on Global Interests Independent analysis for international challenges: http://www.globalinterests.org/2013/09/18/how-georgian-nato-membership-actually-serves-russian-interests/

Nichol, J. (2008). Russia-Georgia Conflict in South Ossetia: Context. CRS Report for Congress, 1-20.

Nichol, J. (2014). Congressional Research Service. Armenia, Azerbaijan, and Georgia: Political, 1-68.

Roberts, P. C. (2014, Januari 24). Democracy Murdered By Protest — Ukraine. Retrieved Februari 26, 2014, from OEN Opednews.com: http://www.opednews.com/articles/Democracy-Murdered-By-Prot-by-Paul-Craig-Roberts-Obama_Political_Protest_Revolution-140224-927.html

Trenin, D. (1996). Russia’s Security Interest and Policies in the Region. Brussels: VUB Press.

Tucker, J. (2014, February 28). 5 reasons I am surprised the crisis in Crimea is escalating so quickly. Retrieved March 3, 2014, from The Washington Post : Monkey Cage: http://www.washingtonpost.com/blogs/monkey-cage

find more writing about us JurnalPhobia

UJIAN TENGAH SEMESTER SEMESTER GASAL: TEORI PERBANDINGAN POLITIK


UJIAN TENGAH SEMESTER SEMESTER GASAL 2009/ 2010

Mata kuliah: SOP 231 Teori perbandingan politik (A & B)

Hari, tanggal: kamis, 29 Oktober 2009

Pukul : 09.30-11.00

Ruang : A 302, A303, A304, A305

Penguji: Kacung Marijan, Haryadi, Fahrul Muzaqqi, hari Fitrianto

(Kerjakan 4 soal dari 7 soal di bawah ini!)

  1. Sebut dan jelaskan faktor-faktor yang mempercepat studi perbandingan politik pasca Perang Dunia II!
  2. Ronald H. Chilcote membedakan antara comparative government dengan comparative politics. Uraikan perbedaan tersebut dengan menyertakan ilustrasi contoh!
  3. Sebut dan jelaskan kelemahan-kelemahan studi perbandingan politik lama dan usulan-usulan untuk mengatasi kelemahan-kelemahan itu!
  4. Jelaskan manfaat yang bisa didapat dari belajar comparative politics sebagai teori maupun metode!
  5. Jelaskan level-level teori makro, meso, dan mikro dalam studi perbandingan politik! Ilustrasikan pula contoh-contoh teori pada masing-masing level teori-teori itu!
  6. Jelaskan kerangka teori sistem david Easton, serta berikan ilustrasi berupa contoh kasus berkaitan dengan proses politik di Indonesia?
  7. Sebut dan jelaskan asumsi-asumsi utama teori fungsionalisme structural Gabriel Almond, konseptualisasi sistem dan fungsi-fungsi spesialisasi struktur di dalam sistem menurut kerangka teori fungsionalisme structural!

UJIAN TENGAH SEMESTER GASAL TAHUN 2008/ 2009: PENG FILSAFAT & LOGIKA (C & D)


UJIAN TENGAH SEMESTER GASAL TAHUN 2008/ 2009

MATA KULIAH: NOF 11 PENG FILSAFAT & LOGIKA (C & D)

HARI/ TANGGAL : JUM’AT, 31 OKTOBER 2008

RUANG : A-306, A-307, & A-308

WAKTU : 15.30 s/d 17.10 (100 MENIT)

SIFAT : TERBUKA

1. Ada perbedaan yang mendasar antara filsafat da ilmu pengetahuan. Apa perbedaan tersebut dan bagaimana implementasi dan implikasinya dari keduanya? (Nilai maks. 15)

Bagaimanakah kait hubungan runtut dari empat macam pengetahuan, dari “tahu akan”, ‘tahu bahwa”, “tahu mengapa” sampai dengan “tahu bagaimana” sebagaimana yang dikemukakan oleh Michael Polanyi (lihat Keraf, 2005:40) dalam profesi bidang keilmuan Saudara! (nilai maks. 25)

Berikan pula contohnya masing-masing 4 contoh suatu pernyataan yang dapat digolongkan sebagai pengetahuan apriori dan aposteriori! (nilai maks. 10)

2. Uraikan suatu proses transformasi seperangkat informasi yaitu dari teori-hipotesis-observasi-generalisasi empiric sampai dengan teoritisasi kembali sebagaimana yang dikemukakan pada bagan/ struktur ilmu pengetahuan dari Walter L. Wallace dalam rangka membuktikan suatu teori Stimulus-Respon (Ketidakpedulian-unjuk rasa) terhadap masyarakat korban lumpur lapindo di porong-sidoarjo Jawa Timur, yang tiada lelah berunjuk rasa terhadap pihak-pihak yang bertanggung jawab terhadap nasib malang yang menimpa mereka. (Nilai maksimal 50)

UJIAN TENGAH SEMESTER (HI UNAIR 2008)


Semester Gasal 2009

Mat kuliah: SOP-241 Pemikiran Politik Barat (A&B)

Hari, tanggal: Senin, 2 Oktober 2009

Pukul: 09.30-11.00

Penguji: Dr. Dwi Widyastuti, Hari Fitrianto, Fahrul Muzaqqi

  1. Jika Aristoteles meletakkan demokrasi sebagai pilihan terakhir (terburuk) dalam klasifikasi mengenai negara yang baik dan negara yang buruk. Coba Anda jelaskan demokrasi yang didefinisikan oleh Aristoteles, berikut argumentasinya?
  2. Pada tahun 410, Kerajaan Romawi yang sangat besar, tumbang dengan dampak yang dramatis pada peradaban dunia. Coba Anda jelaskan bagaimana pendapat St. Agustinus terhadap fenomena kehancuran Kerajaan Romawi, dan kaitannya dengan konsep negara Surgawi dan negara Duniawi?
  3. Semangat Renaisance adalah menggugat dogmatika gereja, sehingga semangat pengetahuannya adalah menolak supremasi kekuasaan/ pengetahuan yang didasarkan pada zat-zat yang transeden (Tuhan). Selain itu, pembaharuan juga menjiwai semangat gerakan itu. Sebutkan tawaran metodologi yang benar-benar baru dikenalkan pada studi politik oleh Machiavelli?
  4. Semangat anti depotisme yang diusung Montesqueiu tentu sangat mempengaruhi pemikirannya ketika dia merumuskan prinsip separation of power, dimana kekuasaan oleh Montesqueiu dibagi dalam tiga kamar yang meliputi eksekutif, legislative, dan yudikatif. Separation of power ini dimaksudkan agar tiap lembaga mampu melakukan check and balance. Sebutkan asumsi dasar dan implikasi dari separation of power?
  5. Bagaimana perbedaan da ketertarikan karakteristik pemikiran politik barat dari era Yunani dan romawi klasik (yang direpresentasikan oleh Plato dan Aristoteles), Abad Pertengahan (yang diwakili oleh Agustinus dan Aquinas), dan Abad Pencerahan (yang ditandai oleh model pemikiran Machiavelli dan para pemikir sezaman maupun sesudahnya)?

ACTORS IN WORLD POLITIC


At the most general level, an actor in world politics has been defined as ‘any entity which plays an identifiable role in international relation’ (Evans and Nenham 1990, p.6)

This definition is so broad as even to encompass individuals. Although this inclusion is open to debate (Rossenau, 1990: Girrad, 1994), most authors reject it because the influence of individuals in international politics is most often incidental and tend to diminish over time (Taylor, 1984, p.20). In his seminal essay ‘The Actors in World Politics’, Oran Young (1972, p.140) offers a way out to refine the above general definition by defining an actor as: “any organized entity that is composed, at least indirectly, of human beings, is not wholly subordinate to any other actor in the world system in effective terms, and participate in power relationships with other actors.”

This definition suggests that to be considered an actor in world politics the entity under consideration needs to possess a degree of autonomy.

TYPES OF NON-STATE ACTORS

Non-state actors are non-sovereign entities that exercise significant economic, political, or social power and influence at a national, and in some cases international level.

  1. Non-Governmental Organization (NGOs). These groups are typically considered a part of civil society. A non-governmental organization is a legally constituted organization created by private organizations or people with no participation or representation of any government. In the cases in which NGOs are funded totally or partially by governments, the NGO maintains its non-governmental status in so far as it excludes government representative from membership in the organization. Example: Red Cross, Green Peace, etc.
  2. Multinational Corporation (MNCs). Multinational corporations are for profit organizations that operate in three or more sovereign states. The traditional multinational is a private company headquartered in one country and with subsidiaries in others, all operating in accordance with a coordinated global strategy to win market share and achieve cost efficiencies. A significant portion of the discussion, however, centered on the relatively recent “multi-nationalization” of state-owned enterprises, such as Russia’s arms-export monopoly Rosonboron export or Chinese oil company CNPC, which as state entities may or may not share the same incentives and goals as their private counterpart.
  3. The International Media. Example: BBC
  4. Armed Groups. Armed groups include for example rebel opposition forces, military, and warlords.
  5. Terrorist Organization. Including groups, such as Al-Qaeda. In addition to inflicting pain and damage and weakening the existing political order, terrorism, writes Hoffman, “is designed to create power where there is none or to consolidate power where there is very little. Through the publicity generated by their violence, terrorist seek to obtain the leverage, influence and power they otherwise lack to effect political change on either a local or an international scale.

As a ‘weapon weak’, terrorism is deployed by groups to gain media attention and visibility as the first step in gaining “name recognition” within the international community.

Even if acts of terrorism are universally commended, they can stimulate media coverage of an issue and provide an opening for the more moderate cause is being promotes. In this regard one must note that one of the observable outcomes of 9/ 11 has indeed been a spotlight of media attention on the Middle East and Isla, and an opening  for more moderate voices to have their grievances at least publicly considered and deliberated, to a much greater extent than had been possible prior to 9/ 10.

  1. Criminal Organization. Example of the criminal organizations is drug cartels such as the Gulf Cartel.
  2. Religious Groups. Politically active organization based on strong religious conviction.

The Quaker is quite active in their international advocacy effort and their supportive role at International conference.

  1. Transnational Diaspora communities. A Diaspora is a transnational community that defined itself as a singular ethnic group based upon its shared identity. Ethno-political groups: common nationality, language, cultural tradition, kinship ties.
  2. Certain Individuals/ Super-empowered individuals is a person who have overcome constraints, conventions, and rules to wield unique political, economic, intellectual, or cultural influence over the course of human events. They generated the most wide-raging discussion. “Archetypes” include industrialists, criminals, financiers, media moguls, celebrity activists, religious leaders, and terrorists. The ways in which they exert their influence (money, moral authority, expertise) are as varied as their fields of endeavor. As bounded by seminar participants, this category excludes political office holders (although some super empowered individuals eventually attain political office), those with heredity power, or the merely rich or famous. This includes an individual such as Victor Bout.

REALIST AND LIBERALIST

The realist perspective acknowledges the existence of non-state actors, but argues that they are peripheral to the international security environment as compared to states. Security threats emanate primarily from states and are responded to primarily by states. Power is treated as an attribute that is distributed across unitary state actors who must each prioritize their own security interest. When realist does look explicitly at the activities of non-state actors, they often view them as being mere extensions of existing configurations of state power and capabilities. The realist lens suggests a particular response is to either refocus attention on threats from states, treat violent non-state actors as proxies for state interest, or to view non-state actors as being “state-like”. The overall policy response is therefore to combat terrorism as one would combat security threats emanating from state through a military response.

In the Liberal Perspective, non-state actors have figured much more prominently in their view of the international security environment. Liberals view power as being distributed not just across state, but also embedded in other entities such as international institution and NGOs. Their view of power is multidimensional, with an emphasis on the “soft power” of economic factors or the power of ideas, in addition to military power. In this world-view, non-state actors have been largely assumed to play a stabilizing role in the international system as extensions of domestic interest groups, or as members of a global civil society that can contribute to international stability by performing tasks such as monitoring human rights violations and assisting in post-conflict reconstruction and development.

THE EFFECT OF NON-STATE ACTORS ON THE WESTPHALIAN STATE MODEL

The proliferation of non-state actors in the post-Cold War era has been one of the factors leading to the theorizing of the Cobweb paradigm in international Politics. Under this paradigm, the traditional Westphalian non-state is experiencing an erosion of power and sovereignty, and non-state actors are part of the cause. Facilitated by globalization, NSAs have challenged nation-state borders and claims to sovereignty. MNCs are not always sympathetic to home country’s or host country’s national interests, but instead loyalty is given to the corporation’s interest. NGOs are challenging the nation-state’s sovereignty over internal matters through advocacy for societal issues, human right, and the environment.

Many armed non-state actors, opposition group, that operate without state control and are involved in trans-border conflicts. The prevalence of these groups in armed conflicts has added layers of complexity to traditional conflict management and resolution. These conflicts are often fought not only between non-state actors and states, but also between non-state actors. Any attempts at intervention in such conflicts has been particularly challenging given the fact that international law and norms governing the use of force for intervention or peacekeeping purposes has been primarily written in the context of nation-state. So, the demands of non-state actors at the local and international level have further complicated international relations.

REFERENCES:

–          Rochester, Martin. J. 2002. Between Two Epochs: What’s Ahead for America, the World, and Global Politics in the Twenty First Century. NJ: Prentice Hall

–          Davies, Thomas Richard. 2007. The Possibilities of Transnational Activism: the Campaign for Disarmament between the two World War. ISBN 9789004162587

–          Stone, Diane. 2004. Transfer Agents and Global Networks in Trans-nationalization of Policy. Journal of European Public Policy, 11 (3) 2004: 545-66

–          Glasius, M; Kaldor, M; Anheier, H. 2006. Global Civil Society. London: Sage

–          Rossenau, JN. 1990. Turbulence in World Politics. New York: Harvester Wheatsheaf

–          Smith, S. 1989. Paradigm Dominance in International Relation: The Development of International Relation as a Social Science, in H. C. Dyer & l. Mangaserian (eds) The Study of International Relation: The State of the Art. London: Mc Millan

–          http://docs.lib.duke.edu/igo/guides/ngo/define.htm.worldbankdefiningNGO

–          http://www.Ise.ac.uk/collections/CCS/pdf/int-work-paper.pdf(100KB)

–          http://www.intractableconlict.org