Kerangka Teoritis dan Kerangka Konseptual


Jadi hari ini kita akan membahas tentang kerangka konseptual Dan kerangka teoritis yang menjadi salah satu bagian penting sekaligus yang mesti ada dalam penelitian kualitatif.

Tulisan ini berdasarkan jurnal yang ditulis oleh Dickson Adom dan Emad Kamil Husain serta Joe Adu Agyem: link dokumen disini 


Kerangka teori dan kerangka konseptual memandu jalannya riset dan sekaligus menawarkan pondasi penting membangun kredibilitas riset tersebut secara kualitatif. Kedua istilah ini sering digunakan secara bergantian tanpa menyebutkan fungsi mendasarnya yang sebenarnya berbeda. Kerangka teoritis dan kerangka konseptual menjelaskan jalurnya riset dan menjadi dasar yang meneguhkan konstruksi teoritis atau bangunan teoritis suatu riset. Tujuan keduanya secara sederhana adalah untuk membuat temuan riset itu lebih bermakna sekaligus menghadirkan bangunan teoritis ruang lingkup yang lebih dapat diterima secara umum dan ilmiah. Keduanya juga berfungsi untuk menguatkan empirisme serta keluasan dan kedalaman riset. Dalam banyak tulisan suatu jurnal dalam suatu desain penelitian riset yang menggabungkan kerangka teoritis dan kerangka konseptual bersamaan dalam suatu bagian tulisan. Akibatnya seorang periset pemula seringkali menyamakan antara kerangka konseptual Dan kerangka teoritis padahal keduanya memiliki fungsi yang berbeda dan tidak sama.
Apa yang dimaksud dengan kerangka teoritis. Kerangka teoritis adalah cetak biru dari pedoman riset yg juga merupakan kerangka yang didasarkan pada teori yang sudah ada dalam suatu disiplin ilmu tersendiri dan terkait atau mencerminkan hipotesis dari suatu kajian. Kerangka teoritis bermanfaat untuk menjadi pedoman agar tidak menyimpang jauh dari batasan yang telah ditetapkan Secara teoritis agar kontribusi akhir dari resetnya memiliki nilai akademis. Kerangka teori adalah teori spesifik atau sejumlah teori terkait usaha yang telah dilakukan manusia yang bermanfaat bagi perkembangan suatu ilmu. Cara untuk membangun kerangka teoritis adalah berusaha untuk mengkaitkan seluruh aspek dari riset kerangka teoritis. Selain itu Mahasiswa juga disarankan untuk memilih teori teori yang relevan dengan ruang lingkup penelitian dan ruang lingkup unit analisisnya yang menjadi basis dari pengetahuan atas suatu fenomena yang hendak diinvestigasi. Mahasiswa juga diharapkan untuk membuat melakukan dan menerapkan secara unik teori yang dipilih dapat diterapkan dalam bangunan teoritis dari kajian yang tengah ia lakukan. 

Kerangka teori jelas tanpa perlu dibantah lagi menawarkan sejumlah keuntungan pada kerangka kerja riset. kerangka teori menyediakan struktur yang menunjukkan bagaimana periset menjelaskan kajiannya secara filosofis, epmistemologis, methoodolgi dan analitis. artinya dalam kerangka teori harus berisi tentang penjelasan bagaimana pengetahuan tersebut diperoleh, bagaimana asal usul pengetahuan tersebut diperoleh, bagaimana caranya, bagaimana metodologinya dan bagaimanan analisis dilakukan (menggunakan alat analisis apa). Kerangka teori juga bermanfaat untuk menghubungkan unit analisis (apa yang akan diteliti) dengan rumusan masalah serta pertanyaan penelitian (Research Question).  maka itu, kerangka teori seringkali memandu periset utuk mengenali pilihan dari desain riset yang diinginkan dan perencanaan analisis data yang dapat dilakukan. Jika kerangka teori telah memuat hal-hal wajib di atas, maka dapat disbeutkan bahwa bangunan kerangka teori yang telah disusun cukup kuat, cukup fundamental, dan secara signifikan berarti. jika suatu penelitian masih mengundang pertanyaan terkait kejelasan desain risetnya, metolodoginya dan perangkat analisisnya maka dapat dikatakan kerangka teori yang dibangun dan digunakan masih belum signifikan dan karena itu perlu ditinjau ulang dan dilengkapi. Kerangka teori harus bersuara dalam setiap proses riset yang telah dilakukan baik itu di bagian kajian pustaka, metodologi, presentasi, dan diskusi dari temuan riset sekaligus penarikan kesimpulan.

Bagaimana Berteori yang tepat?

Tidak ada cara instan untuk dapat berteori dengan tepat sehingga dapat dengan mudah menyusun kerangka teori tanpa melalui pemahaman yang utuh. dengan kata lain, tanpa membaca dengan mendalam, mustahil bisa meneliti kerangka teori kecuali melalui bantuan seseorang dengan tingkat pemahanan terkait dengan amsalah yang diteliti yang cukup luas. Lalu apa yang dapat dilakukan? jawabannya adalah memlihi kerangka teori membutuhkan pemahaman akan masalah yang diteliti, tujuan dari penelitian, singifikasi studi, serta pertanyaan penelitian dari riset itu sendiri. bagaimana dapat melakukannya? dengan melakukan observasi mendalam, dengan melakukan wawancara, dengan membaca literatur yang relevan, dan memperdalam tinjauan kritis yang dapat muncul dalam proses mencari dan mendalami studi yang dilakukan.

untuk mengetahui bahwa kalian tengah membangun teori yag kuat maka kalian harus dapat mengevaluasinya dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut:

  1. apa disiplin ilmu dari teori yang akan digunakan dalam studi?
  2. apakah teori yang digunakan telah sepakat dengan perencanaan metodologi yang peneliti usulkan?
  3. apakah teori yang akan dipilih telah dikembangkan dengan baik atau cukup berkembang dan matang?
  4. apakah sejumlah konsep atau prinsip-prinsip yangmuncul dalam teori telah memenuhi tujuan dari studi yang akan dilakuan
  5. .. berlanjut

Simon dan Ghost juga menyarankan beberapa poin yang dapat membantu Menyusun kerangka teori agar reset menjadi lebih berinformasi atau jelas. Salah satu kuncinya adalah dapat menjawab: (1) penting yang dibutuhkan untuk reset, (2) adanya indikator kunci resep yang lebih jelas, (3) membaca dan mengulas terus-menerus literatur terkait terkini dari topik yang digunakan jadi kata kunci pencarian, (4) daftar variabel dan konstruksi yang dapat dan relevan dengan yang akan dilakukan, (5) merevisi terus-menerus dengan menambahkan kata teori sebagai kata kunci untuk menemukan teori teori dan pakar teori dengan apa yang dipikirkan oleh peneliti, (7) mendiskusikan proposisi dari setiap teori dan menyoroti relevansinya dengan penelitian) mempertimbangkan teori alternatif yang dapat nantang perspektif dari peneliti, (9) mempertimbangkan batasan-batasan terkait dengan teori yang dipilih yang mana masalah diinvestigasi untuk dapat membantu mengatasi dan memberikan penjelasan yang logis.
Berikutnya akan diulas tentang posisi kerangka teoritis dalam suatu penulisan karya ilmiah seperti tesis dan disertasi serta penelitian.
Banyak peneliti maupun mahasiswa bertanya-tanya di mana sih letak teoritis itu sejatinya secara empiris. Perbedaannya tidak ada kesepakatan di antara para peneliti di mana dapat menemukan kerangka teoritis dalam suatu penelitian. Tapi semakin kita terbiasa membaca suatu jurnal ataupun mereview suatu penelitian maka dapat dengan mudah kita menemukan kerangka teori pada salah satu bagian tulisan. Tapi dalam jurnal ini maka dibahas secara spesifik dan diberitahu Di mana kita bisa menemukan kerangka teori dari suatu penelitian. Biasanya dalam suatu penelitian mahasiswa diminta untuk merumuskan kerangka teoritis pertama kali ketika topik dikenalkan atau dikonseptualisasikan.

Kerangka konseptual
Kerangka konseptual adalah struktur dalam tulisan yang memuat penjelasan terbaik dari kemajuan suatu pengetahuan dari suatu fenomena yang ingin biasanya kerangka konseptual terhubung dengan konsep dan riset empiris serta memuat teori penting yang digunakan untuk mempromosikan dan membuat tulisan menjadi lebih sistematis. Kerangka konseptual adalah penjelasan dari peneliti tentang pandangannya cara melihat suatu persoalan yang ingin diteliti dari suatu fenomena yang dipilih. Dalam suatu pendekatan kuantitatif menggunakan perspektif statistik maka kerangka konseptual biasanya mendeskripsikan hubungan antara konsep-konsep utama yang ingin dipelajari atau variabel-variabel yang ini di teliti kerangka konseptual biasanya disusun dengan struktur yang logis untuk membantu membuat gambaran kerangka konseptual ini bermanfaat untuk memudahkan peneliti lebih mudah mengelompokkan dan membangun pola serta mendefinisikan konsep dalam suatu rumusan yang ingin dipelajari. Ide yang digunakan satu sama lain yang saling berkorelasi.

 

 

Pembangunan Ekonomi Berkelanjutan


Tulisan ini adalah bagian dari materi yang diberikan pada mata kuliah teori-teori pembangunan. silakan disimak. Sumber:

Puspitarini, Renny. 2020. Pengantar Teori Pembangunan. Probolinggo: Universitas Panca Marga

Hanya dalam beberapa dekade; istilah sustainability (keberlanjutan) telah menjadi sorotan. Mulai dari suatu ide kecil menjadi pengarusutamaan yang menjadi fitur paling menentukan dalam realitas abad ke-21. Saat ini istilah keberlanjutan melingkupi pergeseran paradigma dalam memahami dunia dan tempat tinggal kita. Paradigma ini diatur untuk memiliki dampak fundamental dan masif dalam bagaimana kita mengatur dan mendesain sistem pada abad ke-21. Sebagaimana dapat memengaruhi seluruh aspek ekonomi.

Lingkungan mewakili ekosistem keseluruhan yang mana masyarakat bergantung pada banyak hal seperti air, materi, pangan dan energi. ketika kita bicara tentang lingkungan, sebenarnya kita sedang membahas kombinasi ekosistem alam dan ekonomi manusia. Apa yang disebut “sistem ekologi sosial”. Sifat alami sistem ekologi sosial telah berubah secara mendasar selama perjalanan sejarah manusia. Sejalan dengan perkembangan teknologi, lembaga, dan sumber energi baru. Perkembangan praktik pertanian tahunan ribu yang lalu mewakili perubahan dasar awal dalam dinamika ini. Bersamaan dengan kita menciptakan proses sistematis mengolah sumber daya alam berbasis teknologi pangan. Dalam perjalanan ini, manusia menyebar di seluruh penjuru benua.

Bentuk awal sistem pengelolaan pertanian berasal dari kegiatan berburu dan mengupumpulkan serta bermukim menetap. Kemudian tumbuh menjadi kelas sosial yang did dalamnya kehidupan urban berjalan. Pada akhirnya, terbangun apa yang yang disebut dengan peradaban besar. Sebelum era modern, orang-orang cukup sadar akan batasan-batasan yang dimiliki lingkungan. Interaksinya dengan sistem ekologi sosial, maka itu, berjalan dengan sangat lokal (dalam wilayah terbatas) dan alami. Mayoritas masyarakat tradisional adalah hasil dari proses panjang antara kebaikan dan lingkungan alam yang hidup berdampingan. yang telah menciptakan hubungan kuat keterbatasan apa yang secara fisik dan biologis berpeluang dan tidak. Mayoritas orang-orang menjalankan sistem bertani skala kecil. Sebagian besar produksi pertanian diperuntukan untuk keperluan rumah tangga. Intinya, Teknik bertani diadaptasikan dengan kondisi lingkungan dan lokal.

Kebangkitan era modern,selama 5000 tahun lalu membentuk dinamika dalam konteks hubungan antara manusia dan lingkungannya. tapi pergeseran dari dominansi pandangan modern religius ke pandangan ilmiah saintifik. datang sebagai sudut pandang baru dalam melihat alam dan lingkungannya.

Pengetahuan saintifik baru ini secara langsung diterapkan pada teknik dan lingkungan, yang berdampak pada kemunculan revolusi industri. Revolusi industri dimulai pada akhir abad ke-19 mewakili seluruh perubahan radikal antara masyarakat dan ekosistem. Pertanian eropa berubah pada era revolusi industri yang membuat mesin sangat potensial digunakan daripada menggunakan tenaga kerja dan ternak untuk pekerjaan pertanian seperti mengolah lahan dan panen. dimulai dari otomatisasi, serangkaian perubahan dapat ditelusuri dari kemampuan petani mengolah lahan yang lebih luas. Luas lahan dan produktivitas pertanian naik drastis akibat otomatisasi dikenalkan dalam sistem pertanian pada skala luas. Masyarakat luas telah berpindah dari bekerja di lahan menjadi pekerja sektor industri, Yang mana pasar barang dan tenaga kerja berasal dari struktur organisasi baru setiap harinya dan gaya hidup baru yang terpisahkan dari ekosistem lokal. Bagian terbesar dari perubahan dinamis ini adalah memanfaatkan sumber energi baru yang lebih powerful dari apapun yang pernah manusia gunakan untuk menjalankan perekoomian. Skala besar sumber energi batubara dan gas alam dialihkan ke proses produksi massal sebagaimana terjadi transisi dari proses kerja manual ke proses kerja menggunakan mesin. Perubahan awal teknologi dan ekonomi dalam masyarakat dan ekologi menempatkan perubahan serius seperti peningkatan skala ekonomi, komodifikasi organisasi melalui feedback yang saling terkoneksi terus menerus terjadi pada banyak negara di seluruh dunia. Meskipun nampak jelas bahwa revolusi industri seharusnya dapat mengakhiri dampak global terhadap bumi, menjadi kerdil di tengah pertumbuhan aktivitas ekonomi manusia baru terasa di tengah abad ke-20.. Banyak proses telah berubah, dimulai dari revolusi industri dimulai di tengah abad ke-19 telah mengarah pada perubahan pada populasi, ruang, dan konsumsi energi. Percepatan perubahan aktivitas ekonomi ini telah melahirkan era geologis baru yang banyak ilmuwan menamainya entropesin saat manusia dan aktivitas industri. telah menjadi pendorong utama perubahan dalam sistem.

Entropesin mewakili bentuk sistem ekologi sosial. Salah satu yang mengglobal di alam dalam skala yang belum pernah ada sebelumnya. Setelah 1950-an, perubahan pada sistem bumi menjadi terkait langsung dengan sistem ekonomi global. Ini adalah fenomena baru. Perubahan nyata dalam sistem ekologi sosial. salah satu yang masih belum kita pahami konsekuensinya. Hanya dalam beberapa dekade saja, kita telah bergeser dari tinggal dalam dunia yang sempit pada planet yang luas menjadi “tinggal dalam dunia yang terlalu besar dalam planet yang terlalu kecil”. Dan itu adalah perubahan yang luar biasa. Perubahan dari otomatisasi mesin, intervensi terbatas pada ekosistem menjadi dorongan perubahan utama dalam lingkungan biofisik di seluruh planet. Perubahan ini dan dampak ke depannya,tampak nyata  dari perubahan iklim yang saat ini kita saksikan. Melalui intervensi industri manusia, keseimbangan yang selama ini menjaga planet telah berkurang. baik di tingkat ekosistem lokal maupun di tingkat ekosistem global. keseimbangan yang rusak ini, membuat sistem menjadi lebih tidak stabil. dan akhirnya menghasilkan peristiwa ekstrim, yang ilmuwan menyebutnya “pemanasan global”. Entropesin adalah bukti bahwa era kestabilan geologis telah berakhir. bahwa intervensi manusia gagal untuk menstabilkan diri di tengah keseimbangan alam yang ada yang telah menguntungkan manusia. ekonomi global saat ini menjadi pendorong utama perubahan dalam ekosistem. “Proses pembangunan jembatan sebagai salah satu ikon meningkatnya interkoneksi dan aktivitas ekonomi manusia” dan “Proses penambangan yang merusak geologi bumi dan keseimbangan lingkungan di sekitarnya. Mengakibatkan lingkungan kehilangan daya dukungnya” menjadi intisari perubahan tersebut.

Proses pengerukan tanah untuk diambil mineralnya. proses perusakan keseimbangan alam yang berlangsung terus menerus guna memenuhi kebutuhan industri dan manusia”. Bentuk nyata dampaknya, perubahan iklim yang ditandai dengan semakin banyak badai dan tornado yang terbentuk. istilah keberlanjutan berasal dari bahasa latin sustainatel: menjaga dan maintain: memelihara Keberlanjutan mengandung arti kemampuan dari suatu sistem untuk bertahan dalam waktu tertentu.

Sesuatu disebut berkelanjutan dapat dipahami dari efisiensi terus menerus dalam arti sejauh mana efektif suatu organisasi beroperasi dalam lingkungannya. Ketika suatu sistem tidak berjalan efisien, maka ia akan mengkonsumsi lebih banyak sumber daya yang ada dan memproduksi lebih banyak entropi/ sampah/ buangan. sehingga disebut tidak lagi berkelanjutan atau “unsustainable”.

Keberlanjutan adalah apa yang kita sebut kehadiran fitur dalam seluruh sistem yang utuh. tentang semua hal bekerja bersamaan agar dapat berfungsi secara efektif menghasilkan suatu luaran/ outcome/ hasil. Contohnya pada mobil listrik tidak cukup berkelanjutan jika daya yang diperlukan berasal dari batu bara. sebaliknya, jika kita bangun pemukiman yang mana penghuninya harus berkendara jauh untuk dapat menjangkau tujuannya, maka tidak dapat disebut cukup berkelanjutan. Karena kita hanya memaksimalkan keuntungan kita sendiri tanpa memaksimalkan keseluruhan lainnya. Hal ini dikarenakan, keberlanjutan adalah seputar hubungan antara seluruh sistem dan lingkungannya yang mana tidak dapat dicapai jika hanya memaksimalkan satu fungsi secara individual. sebaliknya, membutuhkan pengamatan bagaimana sistem keseluruhan bekerja. Bagaimana seluruh bagian terikat satu sama lain, untuk dapat menghasilkan suatu sistem yang berjalan dan berkelanjutan. Hal ini yang menyebabkan sustainability hadir sebagai tantangan pada kerangka lembaga kita saat ini. Pendekatan tradisional yang diambil dalam manajemen diurai dalam beberapa bagian. Menganalisa bagian-bagiannya dan menimbang jika semua bagian berjalan dengan baik. Maka ecara keseluruhan juga akan berfungsi dengan baik. Dalam sistem, pendekata reduksi ini dapat berjalan. tetapi ada sejumlah hal yang lebih rumit dalam skala ekonomi dan rantai pasok global yang artinya menimbang bagaimana seluruh bagian saling terkait.

Jika kita ingin mencoba membuat rantai pasok lebih efisien, sejauh kita dapat menempatkan bisnis/ industri secara terpisah-pisah.koordinasi yang terpisah-pisah. Jika kita fokus pada bagian terkecilnya, kita hanya bergeser dari persoalan pada keseluruhan organisasi dan kita mendapatkan hasil yang tidak efektif. yakni hasil yang tidak sustainable. manajemen era industri, metode, dan struktur lembaga yang kita warisi saat ini sangat analitis. mengurai persoalan, menemukan jalan keluar dan menyusunnya kembali dengan utuh. Sustainability merupakan pendekatan kompleks dan holistik (menyeluruh) yang tidak cocok dengan metode terdahulu.

Meskipun mengoptimalkan seluruh bagian, terlihat penting dalam banyak kondisi. Didesain untuk dapat mengelola seluruh sistem yang diperlukan untuk mendapatkan hasil keseluruhan yang lebih berkelanjutan. Baik kita tengah membicarakan ttg keberlanjutan dengan ttp memperhatikan kondisi alami lingkungan maupun institusinya. Sustainability yg tadinya menjadi nilai dan intisari dari keseluruhan sistem menjadi secara sistematis langka.

Review “The Clash of Civilization?” Samuel Huntington (1993), “the Clash of Civilization”, Foreign Affairs, Vol. 72, No. 3. H. 22-49


GQ: Are we running in a clash of civilization? Can civilizations clash? If not civilizations, then what?

Secara singkat Samuel Huntington menyatakan politik dunia memasuki fase baru yang mana persaingan tidak lagi terjadi antara bangsa-negara maupun empires. Sebaliknya, persaingan maupun perang dihasilkan dari benturan peradaban. Sumber konflik tidak lagi meperebutkan wilayah maupun sumber daya alam, tetapi sumber konflik terletak pada persinggungan peradaban di daerah yang Huntington sebut fault lines.

Yang disebut peradaban oleh Samuel Huntington ialah persamaan umum yang dimiliki oleh kelompok kultur. Hal ini meletakkan peradaban lebih tinggi dari kultur. Menurut Huntington, partisipan peradaban dapat mencakup beberapa negara. Peradaban ini bersifat dinamis.[1] Artinya, peradaban juga mengalami fase jatuh dan bangkit, terbagi dan bersatu.

Huntington menyebutkan beberapa faktor yang menentukan peradaban di dunia. Perbedaan yang diciptakan oleh sejarah dan proses yang panjang menyebabkan peradaban terbagi-bagi berdasarkan bahasa, kultur, tradisi, dan yang paling penting agama.[2] Faktor kedua ialah interaksi antarperadaban makin intensif yang menciptakan kesadaran atas peradaban asal dan kesadaran perbedaan antarperadaban satu dan lainnya.[3]

Faktor ketiga ialah modernisasi ekonomi dan perubahan sosial terjadi di seluruh dunia. Dua hal ini mencerabut individu dari identitas lokal masing-masing. Sementara identitas ini dicabut dan modernisasi menyebabkan esensi negara berkurang, terdapat kekosongan identitas. Kekosongan ini kemudian diisi oleh gerakan untuk mengembalikan individu pada kesadaran paling fundamental. Fundamental paling dasar yang mengikat individu ialah agama. Oleh karena itu, makin banyak gerakan serupa di banyak negara yang hendak menciptakan identitas persatuan antarindividu.[4] Faktor keempat, kelima, dan keenam masing-masing ialah reaksi terhadap supremasi peradaban Barat dalam politik internasional, karakter kultural tidak bisa dirubah atau immutable, dan regionalisme ekonomi yang makin meningkat.[5]

Apakah peradaban bisa saling berbenturan? Huntington mengiyakan peradaban dapat berbenturan dalam dua level. Dalam level mikro, peradaban berbenturan di garis-garis persinggungan—fault lines.dalam level makro, negara dengan peradaban yang berbeda saling bertarung kekuasaan, kekuatan, kapabilitas militer dan ekonomi, bertarung pengaruh dan kontrol dalam organisasi internasional dan pihak tiga, maupun secara komptitif mempromosikan nilai maupun agenda politik dan agama masing-masing.[6]

Fault lines menggantikan perang pengaruh dan lokasi sumber konflik pada era Perang Dingin. Konflik di daerah fault lines[7] misalnya antara peradaban Barat dan peradaban Islam telah berlangsung lebih dari 1300 tahun.[8] Konflik antarperadaban menjadi semakin intensif  sehingga selalu identik dengan kekerasan.

Pertanyaan selanjutnya, apakah sekarang individu dan negara bangsa sedang berada di era benturan peradaban? Jawaban dari pertanyaan ini akan sangat bervariasi tergantung dari dua hal: definisi konseptual antara kelompok kultural dan peradaban, dan bukti-bukti yang dijadikan unit eksplanasi. Sampai sekarang belum ada kesepakatan terkait topik “benturan peradaban” yang dimaksud oleh S Huntington. Adapun tulisan Huntington ini mengundang banyak reaksi yang berbeda, salah satunya ialah Jack Jr. Matlock (1999) yang membantah dengan sejumlah peristiwa yang “dalam versinya” tidak mencerminkan benturan peradaban, tetapi hanya konsekuensi dari persoalan internal.[9]

Samuel Huntington menjawab pertanyaan tersebut dengan beberapa contoh benturan antara negara di salah satu peradaban. Misalnya, kebijakan Amerika Serikat untuk menggelar War on Terrorism yang secara langsung membidik militan, pelaku jihad dari Timur Tengah. Hal ini membangkitkan banyak persepsi bahwa bukan teorrisme yang menjadi target, tetapi Islam. Dugaan ini belum pernah dibuktikan, dan belum ada penjelasan tertulis. Semua hanya dugaan dan prasangka. (tentu saja dalam hubungan internasional, yang disebut diplomatis ialah dapat menyamarkan maksud dan mengemasnya seindah dan semenarik mungkin). Saya menyebutnya sebagai “menipu dengan terhormat”.

Samuel Huntington teliti dalam menyajikan fakta2 yang terjadi. dan inilah yangmenjadi kekuatan dasar argumen fault lines. Sedangkan Matlock, a George F Kennan Professor Institute of Advanced Study, sendiri menyatakan fakta2 tersebut kurang kuat dan perbenturan peradaban tidak selalu pasti terjadi. lebih jauh baca tulisan Matlock (di google), JAck F Matlock, Jr, Can Civilization Clash? Tulisan Matlock meneliti dan menyangsikan konseptualisasi milik Huntington dan celah dalam argumentasi Huntington.

berangkat dari konseptualisasi kultur ke peradaban, Matlock meyakini bahwa belum terdapat kesepakatan dari para konseptualis yang dipakai oleh Huntington, mulai dari E DUrkheim, Marx, dan lainnya, terkait dengan siapa dan apa yang menyusun peradaban itu sendiri. MAtlock juga menyebutkan konseptualisasi peradaban versi Huntington disanggah oleh beberapa pemikir budaya lainnya. Huntington mengatakan bahwa peradaban itu memiliki hierarki, dan dikelompokkan dalam beberapa negara. Sementara itu, Matlock meyakini pengelompokan negara oleh Huntington ini diragukan. karena peneliti budaya lain juga memiliki versi sendiri sendiri. Matlock menyebut argumentasi Huntington tersebut tidak cukup kuat untuk membuktikan ada benturan peradaban.


[1] Samuel Huntington (1993), “the Clash of Civilization”, Foreign Affairs, Vol. 72, No. 3. H. 22-49

[2] Ibid., h. 25

[3] Ibid.

[4] Ibid., h. 26

[5] Ibid., h. 27

[6] Ibid., h. 29

[7] Lebih lengkap liat S Huntington, Op. Cit., h. 30

[8] Ibid., h. 31

[9] Jack Jr Matlock (1999), Can Civilizations Clash? Proceedings of the American Political Philosophy, Vol 143, No. 3, h. 428-439.

Geoekonomi & Geokultural: Introduction


Saya tidak pernah berhasil mengenali secara benar posisi saya setelah atau ketika mempelajari konsep geoekonomi dan geokultural. Jika dibaca dan dipelajari secara baik-baik, mata kuliah ini lebih banyak memberi kita pengetahuan tentang proyeksi (perkiraan) konsep negara yang saling bertetangga misalnya bagaimana negara lain melihat negara tetangga sebagai peluang (positif) atau sebagai ancaman (negatif). Namun banyak pelajaran dan pengetahuan berharga bisa diperoleh melalui konsep ini. Setelah mempelajari konsep ini, kita diberi ruang lebih banyak untuk menggali lebih banyak penjelasan mengenai bagaimana negara memandang negara lain. Pengetahuan yang cukup bermanfaat. Pada akhirnya, setidaknya anda bisa memilih/ mengambil posisi apakah anda akan menggunakan penjelasan imajiner “Clash of Civilization” yang dibuat oleh Huntington ataukah penjelasan yang lebih realistis yang dikeluarkan oleh pemikir geopolitik lainnya. Ini hanyalah pengenalan awal bagi kawan-kawan HI sekalian yang merasa atau seringkali mempertanyakan, kenapa sih perlu mempelajari geopolitik.

Kenapa kita mempelajari Geoekonomi dan Geokultural?
[penjelasan lebih rumit and sounding smart and brilliant]
Dalam geoekonomi dan geokultural, kau akan mempelajari sifat alami (anak HI sering menyebutnya dengan kata “the nature”) atau sifat lahiriah/ sifat khas/ atau dasar-dasar yang melekat pada proses transformasi, perkembangan, key milestones, seputar geopolitik dan aspek-aspek yang melingkupi/ mempengaruhinya seperti ekonomi dan kultural.
Prinsip sederhana dari “geopolitik” adalah how geography matters and helps reshaping the politics within it. Ada banyak konsep yang dipelajari dalam geoekonomi dan geokultural, misalnya konsep coevolution dari Kondratieff’s Wave, Modelski’s Long Cycle, Peter Dicken’s Global Shift, the old geoeconomy of oil, dan geopolitik neoliberal. Saran saya sih, pahami satu persatu konsep tersebut secara terpisah, lalu jika ingin mengelaborasi lebih, kamu bisa mengenali kelemahan dan keunggulan masing-masing dalam menilai konsep geoekonomi dan geokultural suatu negara. Dalam menerapkan pengetahuan yang diperoleh dari konsep-konsep tersebut, kau bisa mengenali penerapannya dalam beberapa kasus tertentu seperti the raise of China dan the raise of India (contoh ini diambil dalam studi hubungan internasional Universitas Airlangga). Agar lebih mudah, anda dapat menanyakan di awal, apakah China saat ini sedang raising ataukah sedang declining? Kenali kenapa anda menilai China saat ini sedang raising? Anda bisa menggunakan model2 yang sudah disebutkan di atas. Atau, jika anda bosan, anda bisa mengintegrasikan model2 di atas. Atau jika anda lebih bosan lagi, anda bisa menemukan model2 di luar yang saya sebutkan di atas (ini malah lebih baik lagi). Intinya, harus lebih banyak buku yang dibaca supaya elaborasi anda lebih luas dan lengkap atau komprehensif.
Bagian kedua ialah geokultural, geokultural memberi informasi anda bahwa kultur (dan atau elemen2 yang membangun kultur itu sendiri) saat ini menjadi hal yang strategis untuk menjelaskan bagaimana negara satu memandang negara di sekitarnya (bertetangga) semakin strategis, ancaman (negatif) atau berpeluang (positif). Apa saja yang membuat kultur itu semakin strategis? Anda bisa menemukannya dengan memahami bagaimana pemikiran beberapa expertis seperti Huntington dan para pengikutnya dan atau para anti-huntington tentang kultur. Intinya itu saja sih. Anda dapat memperdalam pengetahuan tentang geokultur dengan mengaplikasikannya dan membandingkannya dengan menggunakan beberapa kasus multiethnic atau etnopolitics. Banyak sih contohnya.
Itu saja singkat pengenalan tentang geoekonomi dan geokultur dalam bahasa yang paling sederhana. Sebentar lagi saya ingin membuat pendalamannya satu persatu.

Bandwagoning or Balancing: References from Amitav Acharya


Do Asian states bandwagoning and balancing against China?

Whether or not that China is currently in the state to rising power nor declining its power; it requires long disputed arguments. It will depend on your own argument taking some variables into account to say whether China’s power is declining or rising. This is where a good start to enter the explanation where Asian states are bandwagoning or balancing against China. Furthermore, we can analyze why do they need to do so? What advantages do they get and disadvantage they get as the consequence.

A very precise and fruitful explanation has been revealed by Amitav Acharya in “Will Asia’s Past be Its Future?”. There are plenty fruitful references of what bandwagoning is and balancing is.

Understanding what balancing is, we can borrow explanation from neorealist view. Neorrealist define two types of balancing, the first one is internal balancing, that is so called a national self help. This type includes military buildup against a rising power. The second type is external balancing, which involves strengthening of old alliances or creating a new one that is directed to stand against the rising power.

There are many evidences that the Asian state is balancing China. We could take a simple example of India, rising against China by externally and internally balancing. From this point of view, we can broaden our minds that India is currently building up its military resource and naval capabilities. Politically, we can name several examples where India stood against China for some cases like nuclear case, Tibet dispute, and else; externally we could see that India inclines to forge better alliance either politically and military with United States.

Bandwagoning, there’s plenty resource to name whether a state is bandwagoning against a rising power. But we can only know it by studying its behavior. A reasonable of Asian bandwagoning behavior can be dig whether they align itself military with China. You could name its behavior is similar to North Korea is bandwagoning to China in certain cases like nuclear power in six party talks. Some references of what is bandwagoning, what variables can be taken into account, we could aske Kenneth Waltz. Kenneth Waltz identifies the possibility of a hierarchical order that allowing bandwagoning to be possible. The hierarchical order occurs when political actors are formally differentiated according to degrees of their authority. For Barry Buzan and Richard Littel, hierarchy is a political structure in which units relate in a subordinate-superordinate relationship. David Lake distinguishes between four types of hierarchical institutions, such as spheres of influences, protectorates, informal empires and empires. We could broaden our explanation by exploring those variables.

Amitav is giving two explanatory explanation that are worth building arguments. The arguments are taken from Aaron Friedberg, David Kang. In the end Amitav is creating conclusion for himself to make him clear his standpoint. Friedberg’s opinion that Asian states are balancing against china by forming regionalism, performing economic integration, and joining military organization is deemed necessary in maintaining peace in Asia. David Kang also points important points that some states (not all Asian states) are bandwagoning China. The other point of view states that rather than bandwagoning, the existence of China as the greatest in economy and military also contribute in maintaning peace in Asia. Amitav believe the situation in the absence of China’s power as the great, sends uncertainties and unstability across the Asia regions. Amitav purely relies its argument from historical situation when China was and had been in the past.

 

See more:

Amitav Acharya, “Will Asia’s Past Be Asia’s Future”. International Security, Vol. 28, No. 3 (Winter 2003/04), pp. 149-164 ? 2004 by the President and Fellows of Harvard College and the Massachusetts Institute of Technology.

David C. Kang, “Getting Asia Wrong: The Need for New Analytical Frameworks,” International Security, Vol. 27, No. 4 (Spring 2003), pp. 57-85;

Aaron L. Friedberg, “Ripe for Rivalry: Prospects for Peace in a Multipolar Asia,” International Security, Vol. 18, No. 3 (Winter 1993/94), pp. 5-33.

Huru Hara di Ukraina November 2013 – Februari 2014


“Revolutions are much easier to make than to recover from.” – George Friedman, 2014

ditulis oleh Renny Candradewi P | JurnalPhobia | see here for download

Turmoil in Ukraine 2014 – Journal Issue Vol 1- No 01- 6 March 2014

Huru hara yang telah berlangsung sejak November 2013 di Ukraina akhirnya menemui titik terang di awal tahun 2014 ini. Namun ini bukan berarti berakhir, banyak persoalan yang masih harus diatasi oleh pemerintah sementara (interim government) yang dipimpin oleh Oleksandr Turchynov. Persoalan menjadi tidak mudah saat publik Ukraina dihadapkan pada ancaman separatisme jika pemerintah mengambil langkah yang tidak sanggup mengakomodasi dua pengaruh besar (sphere of influence) Uni Eropa (UE)– United States (US) vis a vis Russia. Berikut penjabaran apa yang telah terjadi di Ukraina, semoga tulisan ini bisa dijadikan manfaat agar aksi demonstrasi dapat dilakukan untuk hal-hal yang benar-benar dan pertimbangan yang bermanfaat sekaligus mengakomodasi seluruh suara yang ada. Bukan sebaliknya, yakni menuntun negara pada hal yang lebih buruk dari keadaan sebelumnya, yakni uncertainties.


Latar Belakang Aksi Demonstrasi

Kerusuhan yang sudah berlangsung selama tiga bulan di Ukraina akhirnya menemukan titik terang, tapi belum benar-benar berakhir. Gelombang demonstran ini merupakan wujud protes yang menuntut Presiden Ukraina Viktor Yanukovych lengser pasca pembatalan UE Association Agreement pada 21 November 2013.

Demonstrasi yang tadinya berjalan damai menjadi demonstrasi berdarah akibat kekerasan yang berujung aksi brutal aparat keamanan. Nasib 45 juta rakyat Ukraina sedang dipertaruhkan oleh segelintir orang yang berdemo menduduki Independence Square dan gedung-gedung pemerintahan vital di sekitarnya di Ibukota Ukraina, Kiev.

Kerusuhan ini berakar pada persaingan sengit dua kubu yang mempengaruhi jalannya pemerintahan dan kebijakan politik luar negeri Ukraina. Orientasi luar negeri Ukraina pun bercabang pada Barat, yakni UE dan US; dan Russia – Moskow. Parlemen sebagai dewan legislatif dan pemerintah sebagai lembaga eksekutif memiliki sifat yang bertolak belakang dan tidak dapat berjalan seiring. Parlemen cenderung condong pada kepentingan UE dan US, sementara pemerintah yang dipimpin oleh Presiden Yanukovych cenderung sejalan dengan kepentingan Russia. Puncaknya, Presiden Ukraina Viktor Yanukovych secara mengejutkan menolak bantuan yang diprakarsai oleh Uni Eropa pada November 2013 lalu, mengakibatkan mahasiswa Kiev turun ke jalan menuntut presiden mundur (BBC, Why is Ukraine in Turmoil, 2014).

Aksi demonstrasi ini tidak lepas dari geokultur penduduk Ukraina yang terbagi menjadi dua. Penduduk yang menempati Ukraina Barat berbatasan dengan Russia memiliki latar belakang sejarah dan bahasa yang secara kultural lekat dengan Russia. Oleh karena itu, penduduk Ukraina Barat menyangsikan langkah demonstran di Kiev yang mengatasnamakan suara bulat seluruh Ukraina.

Sementara itu, para demonstran yang mayoritas adalah mahasiswa di Kiev turun ke jalan mewakili banyak penduduk yang memilih untuk bergabung dengan Uni Eropa. Mereka sebagian besar bermukim di wilayah yang berbatasan langsung dengan negara anggota UE seperti Polandia.

Pemukulan dan penculikan demonstran pro-UE atau pro-oposisi membuat protes semakin berlanjut dan memanas. Pada 20 Februari 2014 tercatat sebagai demonstrasi paling berdarah di Ukraina. Kementerian Kesehatan melaporkan sekurang-kurangnya 77 orang tewas dalam demonstrasi tersebut dan 600 lainnya terluka dan beberapa lainnya ditemukan meninggal dunia akibat luka tembak dan menghilang.

Meskipun gelombang demonstran sudah usai dan perekonomian kembali lancar pasca penggulingan Presiden Ukraina Viktor Yanukovych, kini Ukraina menghadapi tekanan baru dari Russia yang kabarnya membatalkan dana talangan senilai 15 milliar AS. Selama ini Russia telah mengguyurkan pinjaman sebesar 3 miliar AS. Russia juga membatalkan diskon 30% harga gas yang dijual ke Ukraina. Akibatnya Ukraina harus membayar utang sebesar 1,8 milliar dollar AS per bulan untuk gas yang diimpor dari Russia. Tak hanya itu, Russia juga akan mengancam menaikkan pajak ekspor Ukraina. Perlu diketahui, sejak lepas dari Uni Soviet pada 1991, hampir setengah perdagangan Ukraina mengalir ke Russia, terutama produk-produk baja dan alat-alat berat  (BBC, Why is Ukraine in Turmoil, 2014).

Respon Barat

Melihat perkembangan politik Ukraina yang menuai berbagai ancaman dari Russia, sekutunya seperti Amerika Serikat dan Inggris segera merespon. Presiden Amerika Serikat Barrack Obama segera mengutus Wakil Menteri Luar Negeri Williams Burns terbang ke Kiev. Inggris juga mengutus Menlunya William Hague yang dijadwalkan untuk bertemu peimpimpan baru dan perwakilan IMF di kota yang sama (BBC, Why is Ukraine in Turmoil, 2014). Pertemuan ini tidak lain akan membahas bagaimana negara-negara Barat akan menyelematkan Ukraina dari Russia. Akan tetapi, banyak yang berspekulasi bahwa Ukraina akan mengalami kesulitan untuk menerima prasyarat yang diberikan oleh IMF. Beberapa analis seperti George Friedman dan Paul Craig Roberts yakin Ukraina tidak dapat memenuhi prasyarat yang diberikan.

Konsekuensi

Melunaknya demonstrasi di Kiev yang mendukung pemecatan mantan presiden Viktor, harus dibayar sama mahalnya dengan munculnya demonstrasi di semenanjung Crimea. Semenanjung Crimea dihuni oleh penduduknya yang mayoritas, hampir 60%, berbahasa Rusia. Mereka menentang pemerintahan baru Turchynov dan meneriakkan gerakan pro-Russia. Bahkan di beberapa tempat mereka mengganti bendera Ukraina dengan bendera Russia. Benturan pendukung Russia dan pro-UE pun terjadi,s tidaknya seorang dilaporkan tewas. Pemerintah setempat pun mengajak tokoh berpengaruh untuk membujuk warga di semenanjung Crimea untuk kembali ke rumah masing-masing dan tidak melakukan aksi demonstrasi lanjutan (Anonym, Ukraine crisis: Turchynov warns of ‘separatism’ risk, 2014). Sejauh ini mantan presiden Viktor Yanukovych masih belum diketahui kabarnya ia tengah berlindung di pangkalan Angkatan Laut Russia di Sevastopol (BBC, Why is Ukraine in Turmoil, 2014).

Kronologi

  • 21 November 2013           : Pemerintah mengumumkan pembatalan EU Association Agreement yang memicu ribuan orang turun ke jalan di Kiev,
  • 30 November 2013           : Polisi secara brutal melakukan penggerebekan dan penculikan sejumlah aktivis pro oposisi,
  • 17 desember      : Presiden Rusia Vladimir Putin menawarkan bantuan pinjaman senilai 15 milliar dollar AS ke Ukraina sekaligus pemotongan pembelian impor gas dari Russia. Para demonstran menilai aksi ini sebagai usaha Russia untuk membeli Presiden Yanukovych,
  • 16 Januari 2014 : Parlemen mengesahkan undang-undang anti protes yang oleh oposisi disebut sebagai peraturan yang sangat brutal atau “draconian”. Pada akhirnya peraturan ini dicabut dari konstitusi,
  • 19-20 Januari      : benturan antara aparat dan demonstran,
  • 22 Januari                            : dua orang demonstran ditemukan meninggal dunia karena luka tembak. Sehari kemudian, seorang aktivis ditemukan meninggal dunia diduga korban penculikan yang dilakukan oleh aparat,
  • 23-24 Januari      : para demonstran menduduki gedung-gedung pemerintahan di kota Lviv, Ivano-Frankivsk, dan kota lain di Ukraina. Para demonstran juga mulai menyebar dan bergerak ke Timur,
  • 28 Januari            : Perdana Menteri Mykola Azarov dan administrasinya meletakkan jabatannya atau “resign”,
  • 14-16 Februari    : amnesti diberikan kepada demonstrasi yang menduduki gedung pemerintahan dan tuduhan terhadap demonstran yang ditahan dihilangkan,
  • 18 Februari          : parlemen menolak perubahan konstitusi yang mengembalikan kekuasaan parlemen lebih besar daripada presiden. Akibatnya demonstrasi semakin memuncak,
  • 20 Februari          : para demonstran menduduki Independence Square. Benturan antara aparat dan para demonstran tidak terelakkan, mengakibatkan 77 orang meninggal dunia dan 600 lainnya terluka (BBC, Why is Ukraine in Turmoil, 2014).

Konstitusi yang dilanggar

Gejolak politik di Ukraina menuai babak baru. Presiden Yanukovych berhasil digulingkan oleh aksi demonstrasi, bukannya oleh pemakzulan melalui rapat parlemen. Hal ini sudah tidak sesuai dengan konstitusi awal Ukraina yang mana konstitusi justru dilanggar oleh sekelompok “Kiev Students”. Sebagaimana George Freidman berpendapat dalam tulisannya,

“… to the extent that Ukraine had a constitutional democracy, that is now broken by people who said their intention was to create one.” (Freidman, 2014)

Hal kedua yang tidak sesuai dengan konstitusi adalah Menteri Luar Negeri Polandia, Perancis dan Jerman yang berhasil menegosiasikan solusi politik untuk Ukraina. Untuk pertama kalinya dalam dua dekade terakhir, menteri luar negeri dari negara lain (berkepentingan) untuk merumuskan nasib suatu negara.

Bagaimana dengan ide Ukraina untuk gabung dengan  Uni Eropa? Uni Eropa tentu saja harus mempertimbangkan ulang ide ini. Betapa tidak, Uni Eropa saat ini tengah menanggung beban beberapa negara yang secara ekonomi sedang sakit seperti Yunani, Spanyol, Irlandia dan negara lain yang ekonominya masih terseok-seok di tengah-tengah krisis ekonomi Uni Eropa yang belum sepenuhnya pulih. Jika Ukraina bergabung dengan Uni Eropa, Uni Eropa akan menerima beban yang lebih. Maka dari itu Uni Eropa sengaja menggunakan tangan IMF untuk menopang beban ekonomi Ukraina.

Meskipun ketiga negara tersebut diboncengi oleh kepentingan Barat, melalui Uni Eropa, untuk menggandeng Ukraina, nasib Ukraina ke depannya juga belum akan jelas. Jika Ukraina yang  menyetujui proposal pinjaman Barat, maka Ukraina harus menerima prasyarat yang diajukan oleh IMF-sebagai alat untuk mempertahankan Ukraina agar tetap setia dengannya.

IMF mengajukan prasyarat pinjaman supaya keuangan Ukraina dapat direstrukturisasi ulang. Hal ini mengandung arti bahwa Ukraina harus bersedia menyerahkan otoritas keuangannya pada IMF. Belajar dari pengalaman beberapa negara yang menerima kondisi ini, maka saya simpulkan hal ini tidak akan berhasil pada Ukraina. George Friedman menyebutnya,

“Good intentions notwithstanding, the Ukrainians will not like the IMF deal.” (Freidman, 2014)

Apabila Ukraina memilih untuk bersikap neutral tidak memihak manapun, maka kurang lebih pemerintahan sementara ini akan melakukan kebijakan di tengah-tengah keadaan yang tidak ada bedanya semasa Viktor Yanukovych memerintah.

Russia tampak santai menyikapi gejolak demonstrasi di Ukraina. Menggunakan pendekatan berbeda yang pernah Russia lakukan terhadap Georgia, Russia menawarkan pinjaman sebsar 15 milliar AS, diskon harga impor gas dari Russia ke Ukraina, dan keringanan pajak ekspor Ukraina ke Russia. Sejak Viktor Yanukovych dilengserkan, kini Russia mulai hati-hati namun tetap terkendali dalam menyikapi Ukraina. Meskipun bentuk pinjaman di atas telah ditarik diganti dengan beragam ancaman ekonomi, kini Russia melihat langkah UE dan US dalam menyelamatkan Ukraina. Russia melihat kemungkinan parlemen akan menolak resep pemulihan ekonomi dari IMF dan meminta Russia untuk dana segar karena Ukraina akan mengalami default jika gagal bayar utang obligasi negara yang akan jatuh tempo dalam 2 pekan mendatang. Sebagaimana Presiden baru Ukraina Turchynov menyampaikan dengan tegas seperti dikutip oleh Kompas,

“negaranya tidak punya pilihan lain selain ‘mengemplang’ utang 13 miliar dollar AS jika negara Barat dan Dana Moneter Internasional (IMF) tidak turun tangan.” (Anonym, Ukraina Butuh Tunai 35 Miliar, 2014)

Di bawah tekanan yang diberikan Russia, jika Ukraina berpaling pada negara UE dan US maka Ukraina akan menjadi beban ekonomi dengan segala ketentuan yang diberikan oleh Barat. Sementara, jika Ukraina berpaling pada Russia, maka Ukraina mengakui nasibnya yang tidak bisa memisahkan diri dari pengaruh Moskwo. Sebagaimana Menteri Luar Negeri Russia, Sergei Lavrov, meyakinkan dunia internasional dengan tegas,

“We want Ukraine to be part of the European family in every sense of the word” (Anonym, Ukraine crisis: Turchynov warns of ‘separatism’ risk, 2014).

Kesimpulan

Cukup mengesankan bagaimana sekelompok demonstrasi di ibukota Ukraina, Kiev, mampu menggulingkan Viktor Yanukovych. Ini adalah masa tersingkat bagi suatu demonstrasi untuk benar-benar berhasil menggulingkan pemerintah yang tengah berkuasa, pemerintah sah yang dipilih dari pemilihan umum. Padahal ini bukan demonstrasi yang mewakili keseluruhan suara nasional yang ada di Ukraina –lihat apa yang sekarang terjadi di semenanjung Crimea. Aksi demonstrasi antara pendukung pemerintahan sementara dengan mengibarkan bendera Ukraina dan demonstrasi yang mendukung Russia–mereka mengibarkan bendera Russia. Padahal Suriah masih bergejolak dengan peperangan antara pemberontak dan militer pemerintah Suriah.

Ada dua kepentingan besar di Ukraina yang tidak bisa dielakkan. Bagi Uni Eropa, Ukraina merupakan hal penting. Di sisi lain, Russia merasa Ukraina tidak akan menjadi “lebih penting” jika bergabung dengan UE atau mendukung kebijakan US. Sebaliknya, Russia beranggapan bahwa seluruh negara pecahan Uni Soviet merupakan satu kesatuan dengan Russia dan oleh karena itu haram hukumnya bagi salah satu bila hendak keluar dari pengaruh Russia.

Ada banyak penjelasan kenapa Ukraina begitu penting bagi Russia, secara geopolitik maupun geostrategic Ukraina berada berdekatan dengan Moskow secara geokkultur, sebagian penduduk Ukraina terutama bagian Barat (hampir 60% diantaranya) yang berdekatan dengan Russia merupakan penduduk dengan mayoritas berbahasa dan keturunan Russia. Mereka bekerja di sektor industri berat yang menjual hasilnya ke Russia. Tidak heran jika mereka mendukung Russia karena kesamaan tersebut dan nasib mereka ke depannya.

Sedangkan penduduk yang pro UE adalah penduduk yang berada di sebelah Timur dan sebagian wilayah kota Kiev. Dapat disimpulkan bahwa hanya separuh suara yang ada dalam demonstran yang berhasil (unexpectedly) menggulingkan presiden. Hal ini bisa dikatakan sangat tidak konstitutisional karena desmontrasi berhasil menggulingkan presiden yang dipilih melalui pemilu tanpa harus melakukan pemilihan umum. Presiden Yanukovych sendiri telah mengajukan solusi untuk mempercepat pemilu ke parlemen, sayangnya parlemen menolak ide ini. Kedua, aksi demonstrasi juga berhasil menuntut agar tahanan politik Yulia Tymoshenko dibebaskan. Hal ini adalah hal tidak konstitutional kedua yang berhasil dilakukan tanpa melalui perdebatan yang panjang.

Karena hal itulah, ada sekelompok tentara bersenjata yang mengatasnamakan sebagai Right’s Sector (Sektor Kanan) untuk angkat senjata. Melalui juru bicaranya, mereka mengatakan ketiga tindakan itu tidak konstitusional. Sektor Kanan tidakmemihak baik Russia maupun UE dan US. Salah seorang pemimpin sektor kanan yakni Aleksandr Muzychko, menegaskan kenetralannya,

“Jews and Russians until I die.” (Roberts, 2014)

Mereka menghendaki suatu negara yang utuh tanpa pengaruh dari negara-negara besar di sekitarnya. Bahkan ada juru bicara sektor kanan yang mengatakan, presiden selanjutnya akan berasal dari Sektor Kanan. Sebagaimana Muzychko mengatakan,

“The next president of Ukraine will be from Right Sector.” (Roberts, 2014)

Mereka juga menunjukkan kekecewaan mereka terhadap Yanukovych dan menuntut partai regional yang mendukung Yanukovych dibubarkan.

Ada banyak masalah di dalam negara Ukraina yang tidak bisa diselelesaikan melalui secara one solution fits all. Ukraina merupakan negara muda yang terjebak di antara dua pengaruh besar wilayah di sekitarnya yakni Uni Eropa dan Russia. Secara ideologi, pemimpin Ukraina memiliki pikiran yang berbeda ada yang menggolongkan mereka sebagai neo-Nazis, liberals, dan Russia. Hal ini yang membuat keadaan politik di dalam negerinya kurang stabil karena perpecahan atau orientasi politik luar negeri yang gagal.

Daftar Pustaka

Anonym. (2014). Ukraina Butuh Tunai 35 Miliar. Jakarta: Koran Kompas.

Anonym. (2014, February 25). Ukraine crisis: Turchynov warns of ‘separatism’ risk. Retrieved February 27, 2014, from BBC NEWS: http://www.bbc.com/news/world-europe-26333587

BBC. (2014, Februari 22). Ukraine crisis: Opposition asserts authority in Kiev. Retrieved Februari 26, 2014, from BBC NEWS: http://www.bbc.co.uk/news/world-europe-26299670

BBC. (2014, February 22). Why is Ukraine in Turmoil. Retrieved February 26, 2014, from BBC NEWS: http://www.bbc.co.uk/news/world-europe-25182823

Freidman, G. (2014, February 24). Geopolitical Weekly : Ukraine Turns From Revolution to Recovery. Retrieved February 27, 2014, from Stratfor Global Intelligence: http://www.stratfor.com/weekly/ukraine-turns-revolution-recovery?utm_source=freelist-f&utm_medium=email&utm_campaign=20140225&utm_term=Gweekly&utm_content=readmore

Roberts, P. C. (2014, Januari 24). Democracy Murdered By Protest — Ukraine. Retrieved Februari 26, 2014, from OEN Opednews.com: http://www.opednews.com/articles/Democracy-Murdered-By-Prot-by-Paul-Craig-Roberts-Obama_Political_Protest_Revolution-140224-927.html

Please address the appropriate and constructive comment into our comment box in JurnalPhobia (frenndw.wordpress.com)

What Russia wants for Ukraine, is to consider its Interest



Abstract

Memahami transisi politik yang terjadi di Ukraina pada bulan Februari 2014 ini, banyak analisis multi interpretatif dikeluarkan oleh sejumlah pemikir. Hal tersebut dikarenakan apa yang terjadi pada Ukraina akan berdampak langsung terhadap struktur geopolitik dan perdamaian di dunia pada umumnya dan Eropa Timur pada khususnya. Huru hara yang terjadi di Ukraina berdampak besar terhadap transisi pengaruh politik antara Uni Eropa – US dan Russia yang berpengaruh besar dalam menentukan orientasi politik luar negeri dan dalam negeri Ukraina. Russia sendiri memiliki sejumlah kepentingan nasional di Ukraina terkait penduduk berbahasa Russia yang menghuni semenanjung Crimea – berbatasan sebelah Timur dengan Russia. Akibatnya, perubahan politik yang cepat di Ukraina dan konstelasi kepentingan yang mempengaruhinya menjadi wacana menarik yang berkembang pesat di media cetak. Adanya kepentingan Russia terkait keamanan di perbatasan dan pentingnya kawasan Black Sea Fleet mengakibatkan Russia mengintervensi Ukraina.

Kata-kata kunci : transition, foreign policy, peace border, the black sea fleet, sphere of influence

Understanding the political transition in Ukraine during February 2014 , many multi-interpretative and critical analysis are issued by a number of thinkers. That is because what is happening in Ukraine will have a direct impact on the structure of geopolitics and peace in the world in general and Eastern Europe in particular . Riots that occurred in Ukraine have a major impact on the transition between the EU  – the U.S political influence against Russia as core determining variable in Ukrainian foreign policy and domestic orientation. Russia itself has a number of national interests in Ukraine related to the Russian -speaking population which inhabit the Crimean peninsula – the eastern borders with Russia . As a result , the rapid political changes in Ukraine and the constellation of interests that influence attract rapid media attention. The presence of Russia -related interests and the importance of security in the border area of ​​the Black Sea Fleet Ukraine is belived to have generated Russia policy of intervention.

Thank you for waiting the update, here is the link download for overall review.

please see : https://frenndw.wordpress.com/2014/03/06/journal-issue-vol-1-no-01-6-march-2014/

Regards,

JurnalPhobia team

Smart Voters, Rational Voters


by Rizca Putri

Pemilihan umum tidak hanya dimaknai sebagai agenda periodik tetap untuk melakukan suksesi terhadap pemerintahan eksekutif dan legislatif di dalam suatu negara melalui mekanisme konversi suara menjadi kursi, pemaknaan pemilihan umum juga harus melihat sisi warga negara sebagai voters yaitu sebagai ajang untuk sirkulasi elit guna melakukan perubahan pola kebijakan ke arah yang lebih baik. Untuk mewujudkan hal tersebut, warga negara yang berkedudukan sebagai voters haruslah cerdas dalam memilih dan menentukan pilihannya secara rasional. Rasional pada pertimbangan untung rugi dan jangka panjang potensi kebijakan yang akan dihasilkan oleh para calon wakilnya di kursi legislatif.

Kata-kata kunci: rational behavior, rational voters, election

please refer to our volume :

Vol.1 / No.02/ 13 March 2014

Regards,

JurnalPhobia team

Journal Issue Vol 1- No 02- 13 March 2014


Thank you for staying with us, we try as best as we can to accommodate you with recent writing and article, we collect data and compose simple articles that might fuel your insight. We would be happy if you could name us what topics to be discussed in the future edition. Please contact us for more information, ideas, and comments.

For the time being we present you the first issue of JurnalPhobia *give applause to our extraordinary contributor — Rizca Putri.

Smart voter – Rational Voters – Journal Issue Vol 1- No 02- 13 March 2014

Desain Pemilu untuk Menciptakan Pemilih yang Rasional – Journal Issue Vol 1- No 02- 13 March 2014

Best Regards,

JurnalPhobia team