Pembangunan Ekonomi Berkelanjutan


Tulisan ini adalah bagian dari materi yang diberikan pada mata kuliah teori-teori pembangunan. silakan disimak. Sumber:

Puspitarini, Renny. 2020. Pengantar Teori Pembangunan. Probolinggo: Universitas Panca Marga

Hanya dalam beberapa dekade; istilah sustainability (keberlanjutan) telah menjadi sorotan. Mulai dari suatu ide kecil menjadi pengarusutamaan yang menjadi fitur paling menentukan dalam realitas abad ke-21. Saat ini istilah keberlanjutan melingkupi pergeseran paradigma dalam memahami dunia dan tempat tinggal kita. Paradigma ini diatur untuk memiliki dampak fundamental dan masif dalam bagaimana kita mengatur dan mendesain sistem pada abad ke-21. Sebagaimana dapat memengaruhi seluruh aspek ekonomi.

Lingkungan mewakili ekosistem keseluruhan yang mana masyarakat bergantung pada banyak hal seperti air, materi, pangan dan energi. ketika kita bicara tentang lingkungan, sebenarnya kita sedang membahas kombinasi ekosistem alam dan ekonomi manusia. Apa yang disebut “sistem ekologi sosial”. Sifat alami sistem ekologi sosial telah berubah secara mendasar selama perjalanan sejarah manusia. Sejalan dengan perkembangan teknologi, lembaga, dan sumber energi baru. Perkembangan praktik pertanian tahunan ribu yang lalu mewakili perubahan dasar awal dalam dinamika ini. Bersamaan dengan kita menciptakan proses sistematis mengolah sumber daya alam berbasis teknologi pangan. Dalam perjalanan ini, manusia menyebar di seluruh penjuru benua.

Bentuk awal sistem pengelolaan pertanian berasal dari kegiatan berburu dan mengupumpulkan serta bermukim menetap. Kemudian tumbuh menjadi kelas sosial yang did dalamnya kehidupan urban berjalan. Pada akhirnya, terbangun apa yang yang disebut dengan peradaban besar. Sebelum era modern, orang-orang cukup sadar akan batasan-batasan yang dimiliki lingkungan. Interaksinya dengan sistem ekologi sosial, maka itu, berjalan dengan sangat lokal (dalam wilayah terbatas) dan alami. Mayoritas masyarakat tradisional adalah hasil dari proses panjang antara kebaikan dan lingkungan alam yang hidup berdampingan. yang telah menciptakan hubungan kuat keterbatasan apa yang secara fisik dan biologis berpeluang dan tidak. Mayoritas orang-orang menjalankan sistem bertani skala kecil. Sebagian besar produksi pertanian diperuntukan untuk keperluan rumah tangga. Intinya, Teknik bertani diadaptasikan dengan kondisi lingkungan dan lokal.

Kebangkitan era modern,selama 5000 tahun lalu membentuk dinamika dalam konteks hubungan antara manusia dan lingkungannya. tapi pergeseran dari dominansi pandangan modern religius ke pandangan ilmiah saintifik. datang sebagai sudut pandang baru dalam melihat alam dan lingkungannya.

Pengetahuan saintifik baru ini secara langsung diterapkan pada teknik dan lingkungan, yang berdampak pada kemunculan revolusi industri. Revolusi industri dimulai pada akhir abad ke-19 mewakili seluruh perubahan radikal antara masyarakat dan ekosistem. Pertanian eropa berubah pada era revolusi industri yang membuat mesin sangat potensial digunakan daripada menggunakan tenaga kerja dan ternak untuk pekerjaan pertanian seperti mengolah lahan dan panen. dimulai dari otomatisasi, serangkaian perubahan dapat ditelusuri dari kemampuan petani mengolah lahan yang lebih luas. Luas lahan dan produktivitas pertanian naik drastis akibat otomatisasi dikenalkan dalam sistem pertanian pada skala luas. Masyarakat luas telah berpindah dari bekerja di lahan menjadi pekerja sektor industri, Yang mana pasar barang dan tenaga kerja berasal dari struktur organisasi baru setiap harinya dan gaya hidup baru yang terpisahkan dari ekosistem lokal. Bagian terbesar dari perubahan dinamis ini adalah memanfaatkan sumber energi baru yang lebih powerful dari apapun yang pernah manusia gunakan untuk menjalankan perekoomian. Skala besar sumber energi batubara dan gas alam dialihkan ke proses produksi massal sebagaimana terjadi transisi dari proses kerja manual ke proses kerja menggunakan mesin. Perubahan awal teknologi dan ekonomi dalam masyarakat dan ekologi menempatkan perubahan serius seperti peningkatan skala ekonomi, komodifikasi organisasi melalui feedback yang saling terkoneksi terus menerus terjadi pada banyak negara di seluruh dunia. Meskipun nampak jelas bahwa revolusi industri seharusnya dapat mengakhiri dampak global terhadap bumi, menjadi kerdil di tengah pertumbuhan aktivitas ekonomi manusia baru terasa di tengah abad ke-20.. Banyak proses telah berubah, dimulai dari revolusi industri dimulai di tengah abad ke-19 telah mengarah pada perubahan pada populasi, ruang, dan konsumsi energi. Percepatan perubahan aktivitas ekonomi ini telah melahirkan era geologis baru yang banyak ilmuwan menamainya entropesin saat manusia dan aktivitas industri. telah menjadi pendorong utama perubahan dalam sistem.

Entropesin mewakili bentuk sistem ekologi sosial. Salah satu yang mengglobal di alam dalam skala yang belum pernah ada sebelumnya. Setelah 1950-an, perubahan pada sistem bumi menjadi terkait langsung dengan sistem ekonomi global. Ini adalah fenomena baru. Perubahan nyata dalam sistem ekologi sosial. salah satu yang masih belum kita pahami konsekuensinya. Hanya dalam beberapa dekade saja, kita telah bergeser dari tinggal dalam dunia yang sempit pada planet yang luas menjadi “tinggal dalam dunia yang terlalu besar dalam planet yang terlalu kecil”. Dan itu adalah perubahan yang luar biasa. Perubahan dari otomatisasi mesin, intervensi terbatas pada ekosistem menjadi dorongan perubahan utama dalam lingkungan biofisik di seluruh planet. Perubahan ini dan dampak ke depannya,tampak nyata  dari perubahan iklim yang saat ini kita saksikan. Melalui intervensi industri manusia, keseimbangan yang selama ini menjaga planet telah berkurang. baik di tingkat ekosistem lokal maupun di tingkat ekosistem global. keseimbangan yang rusak ini, membuat sistem menjadi lebih tidak stabil. dan akhirnya menghasilkan peristiwa ekstrim, yang ilmuwan menyebutnya “pemanasan global”. Entropesin adalah bukti bahwa era kestabilan geologis telah berakhir. bahwa intervensi manusia gagal untuk menstabilkan diri di tengah keseimbangan alam yang ada yang telah menguntungkan manusia. ekonomi global saat ini menjadi pendorong utama perubahan dalam ekosistem. “Proses pembangunan jembatan sebagai salah satu ikon meningkatnya interkoneksi dan aktivitas ekonomi manusia” dan “Proses penambangan yang merusak geologi bumi dan keseimbangan lingkungan di sekitarnya. Mengakibatkan lingkungan kehilangan daya dukungnya” menjadi intisari perubahan tersebut.

Proses pengerukan tanah untuk diambil mineralnya. proses perusakan keseimbangan alam yang berlangsung terus menerus guna memenuhi kebutuhan industri dan manusia”. Bentuk nyata dampaknya, perubahan iklim yang ditandai dengan semakin banyak badai dan tornado yang terbentuk. istilah keberlanjutan berasal dari bahasa latin sustainatel: menjaga dan maintain: memelihara Keberlanjutan mengandung arti kemampuan dari suatu sistem untuk bertahan dalam waktu tertentu.

Sesuatu disebut berkelanjutan dapat dipahami dari efisiensi terus menerus dalam arti sejauh mana efektif suatu organisasi beroperasi dalam lingkungannya. Ketika suatu sistem tidak berjalan efisien, maka ia akan mengkonsumsi lebih banyak sumber daya yang ada dan memproduksi lebih banyak entropi/ sampah/ buangan. sehingga disebut tidak lagi berkelanjutan atau “unsustainable”.

Keberlanjutan adalah apa yang kita sebut kehadiran fitur dalam seluruh sistem yang utuh. tentang semua hal bekerja bersamaan agar dapat berfungsi secara efektif menghasilkan suatu luaran/ outcome/ hasil. Contohnya pada mobil listrik tidak cukup berkelanjutan jika daya yang diperlukan berasal dari batu bara. sebaliknya, jika kita bangun pemukiman yang mana penghuninya harus berkendara jauh untuk dapat menjangkau tujuannya, maka tidak dapat disebut cukup berkelanjutan. Karena kita hanya memaksimalkan keuntungan kita sendiri tanpa memaksimalkan keseluruhan lainnya. Hal ini dikarenakan, keberlanjutan adalah seputar hubungan antara seluruh sistem dan lingkungannya yang mana tidak dapat dicapai jika hanya memaksimalkan satu fungsi secara individual. sebaliknya, membutuhkan pengamatan bagaimana sistem keseluruhan bekerja. Bagaimana seluruh bagian terikat satu sama lain, untuk dapat menghasilkan suatu sistem yang berjalan dan berkelanjutan. Hal ini yang menyebabkan sustainability hadir sebagai tantangan pada kerangka lembaga kita saat ini. Pendekatan tradisional yang diambil dalam manajemen diurai dalam beberapa bagian. Menganalisa bagian-bagiannya dan menimbang jika semua bagian berjalan dengan baik. Maka ecara keseluruhan juga akan berfungsi dengan baik. Dalam sistem, pendekata reduksi ini dapat berjalan. tetapi ada sejumlah hal yang lebih rumit dalam skala ekonomi dan rantai pasok global yang artinya menimbang bagaimana seluruh bagian saling terkait.

Jika kita ingin mencoba membuat rantai pasok lebih efisien, sejauh kita dapat menempatkan bisnis/ industri secara terpisah-pisah.koordinasi yang terpisah-pisah. Jika kita fokus pada bagian terkecilnya, kita hanya bergeser dari persoalan pada keseluruhan organisasi dan kita mendapatkan hasil yang tidak efektif. yakni hasil yang tidak sustainable. manajemen era industri, metode, dan struktur lembaga yang kita warisi saat ini sangat analitis. mengurai persoalan, menemukan jalan keluar dan menyusunnya kembali dengan utuh. Sustainability merupakan pendekatan kompleks dan holistik (menyeluruh) yang tidak cocok dengan metode terdahulu.

Meskipun mengoptimalkan seluruh bagian, terlihat penting dalam banyak kondisi. Didesain untuk dapat mengelola seluruh sistem yang diperlukan untuk mendapatkan hasil keseluruhan yang lebih berkelanjutan. Baik kita tengah membicarakan ttg keberlanjutan dengan ttp memperhatikan kondisi alami lingkungan maupun institusinya. Sustainability yg tadinya menjadi nilai dan intisari dari keseluruhan sistem menjadi secara sistematis langka.

Review “The Clash of Civilization?” Samuel Huntington (1993), “the Clash of Civilization”, Foreign Affairs, Vol. 72, No. 3. H. 22-49


GQ: Are we running in a clash of civilization? Can civilizations clash? If not civilizations, then what?

Secara singkat Samuel Huntington menyatakan politik dunia memasuki fase baru yang mana persaingan tidak lagi terjadi antara bangsa-negara maupun empires. Sebaliknya, persaingan maupun perang dihasilkan dari benturan peradaban. Sumber konflik tidak lagi meperebutkan wilayah maupun sumber daya alam, tetapi sumber konflik terletak pada persinggungan peradaban di daerah yang Huntington sebut fault lines.

Yang disebut peradaban oleh Samuel Huntington ialah persamaan umum yang dimiliki oleh kelompok kultur. Hal ini meletakkan peradaban lebih tinggi dari kultur. Menurut Huntington, partisipan peradaban dapat mencakup beberapa negara. Peradaban ini bersifat dinamis.[1] Artinya, peradaban juga mengalami fase jatuh dan bangkit, terbagi dan bersatu.

Huntington menyebutkan beberapa faktor yang menentukan peradaban di dunia. Perbedaan yang diciptakan oleh sejarah dan proses yang panjang menyebabkan peradaban terbagi-bagi berdasarkan bahasa, kultur, tradisi, dan yang paling penting agama.[2] Faktor kedua ialah interaksi antarperadaban makin intensif yang menciptakan kesadaran atas peradaban asal dan kesadaran perbedaan antarperadaban satu dan lainnya.[3]

Faktor ketiga ialah modernisasi ekonomi dan perubahan sosial terjadi di seluruh dunia. Dua hal ini mencerabut individu dari identitas lokal masing-masing. Sementara identitas ini dicabut dan modernisasi menyebabkan esensi negara berkurang, terdapat kekosongan identitas. Kekosongan ini kemudian diisi oleh gerakan untuk mengembalikan individu pada kesadaran paling fundamental. Fundamental paling dasar yang mengikat individu ialah agama. Oleh karena itu, makin banyak gerakan serupa di banyak negara yang hendak menciptakan identitas persatuan antarindividu.[4] Faktor keempat, kelima, dan keenam masing-masing ialah reaksi terhadap supremasi peradaban Barat dalam politik internasional, karakter kultural tidak bisa dirubah atau immutable, dan regionalisme ekonomi yang makin meningkat.[5]

Apakah peradaban bisa saling berbenturan? Huntington mengiyakan peradaban dapat berbenturan dalam dua level. Dalam level mikro, peradaban berbenturan di garis-garis persinggungan—fault lines.dalam level makro, negara dengan peradaban yang berbeda saling bertarung kekuasaan, kekuatan, kapabilitas militer dan ekonomi, bertarung pengaruh dan kontrol dalam organisasi internasional dan pihak tiga, maupun secara komptitif mempromosikan nilai maupun agenda politik dan agama masing-masing.[6]

Fault lines menggantikan perang pengaruh dan lokasi sumber konflik pada era Perang Dingin. Konflik di daerah fault lines[7] misalnya antara peradaban Barat dan peradaban Islam telah berlangsung lebih dari 1300 tahun.[8] Konflik antarperadaban menjadi semakin intensif  sehingga selalu identik dengan kekerasan.

Pertanyaan selanjutnya, apakah sekarang individu dan negara bangsa sedang berada di era benturan peradaban? Jawaban dari pertanyaan ini akan sangat bervariasi tergantung dari dua hal: definisi konseptual antara kelompok kultural dan peradaban, dan bukti-bukti yang dijadikan unit eksplanasi. Sampai sekarang belum ada kesepakatan terkait topik “benturan peradaban” yang dimaksud oleh S Huntington. Adapun tulisan Huntington ini mengundang banyak reaksi yang berbeda, salah satunya ialah Jack Jr. Matlock (1999) yang membantah dengan sejumlah peristiwa yang “dalam versinya” tidak mencerminkan benturan peradaban, tetapi hanya konsekuensi dari persoalan internal.[9]

Samuel Huntington menjawab pertanyaan tersebut dengan beberapa contoh benturan antara negara di salah satu peradaban. Misalnya, kebijakan Amerika Serikat untuk menggelar War on Terrorism yang secara langsung membidik militan, pelaku jihad dari Timur Tengah. Hal ini membangkitkan banyak persepsi bahwa bukan teorrisme yang menjadi target, tetapi Islam. Dugaan ini belum pernah dibuktikan, dan belum ada penjelasan tertulis. Semua hanya dugaan dan prasangka. (tentu saja dalam hubungan internasional, yang disebut diplomatis ialah dapat menyamarkan maksud dan mengemasnya seindah dan semenarik mungkin). Saya menyebutnya sebagai “menipu dengan terhormat”.

Samuel Huntington teliti dalam menyajikan fakta2 yang terjadi. dan inilah yangmenjadi kekuatan dasar argumen fault lines. Sedangkan Matlock, a George F Kennan Professor Institute of Advanced Study, sendiri menyatakan fakta2 tersebut kurang kuat dan perbenturan peradaban tidak selalu pasti terjadi. lebih jauh baca tulisan Matlock (di google), JAck F Matlock, Jr, Can Civilization Clash? Tulisan Matlock meneliti dan menyangsikan konseptualisasi milik Huntington dan celah dalam argumentasi Huntington.

berangkat dari konseptualisasi kultur ke peradaban, Matlock meyakini bahwa belum terdapat kesepakatan dari para konseptualis yang dipakai oleh Huntington, mulai dari E DUrkheim, Marx, dan lainnya, terkait dengan siapa dan apa yang menyusun peradaban itu sendiri. MAtlock juga menyebutkan konseptualisasi peradaban versi Huntington disanggah oleh beberapa pemikir budaya lainnya. Huntington mengatakan bahwa peradaban itu memiliki hierarki, dan dikelompokkan dalam beberapa negara. Sementara itu, Matlock meyakini pengelompokan negara oleh Huntington ini diragukan. karena peneliti budaya lain juga memiliki versi sendiri sendiri. Matlock menyebut argumentasi Huntington tersebut tidak cukup kuat untuk membuktikan ada benturan peradaban.


[1] Samuel Huntington (1993), “the Clash of Civilization”, Foreign Affairs, Vol. 72, No. 3. H. 22-49

[2] Ibid., h. 25

[3] Ibid.

[4] Ibid., h. 26

[5] Ibid., h. 27

[6] Ibid., h. 29

[7] Lebih lengkap liat S Huntington, Op. Cit., h. 30

[8] Ibid., h. 31

[9] Jack Jr Matlock (1999), Can Civilizations Clash? Proceedings of the American Political Philosophy, Vol 143, No. 3, h. 428-439.

Geoekonomi & Geokultural: Introduction


Saya tidak pernah berhasil mengenali secara benar posisi saya setelah atau ketika mempelajari konsep geoekonomi dan geokultural. Jika dibaca dan dipelajari secara baik-baik, mata kuliah ini lebih banyak memberi kita pengetahuan tentang proyeksi (perkiraan) konsep negara yang saling bertetangga misalnya bagaimana negara lain melihat negara tetangga sebagai peluang (positif) atau sebagai ancaman (negatif). Namun banyak pelajaran dan pengetahuan berharga bisa diperoleh melalui konsep ini. Setelah mempelajari konsep ini, kita diberi ruang lebih banyak untuk menggali lebih banyak penjelasan mengenai bagaimana negara memandang negara lain. Pengetahuan yang cukup bermanfaat. Pada akhirnya, setidaknya anda bisa memilih/ mengambil posisi apakah anda akan menggunakan penjelasan imajiner “Clash of Civilization” yang dibuat oleh Huntington ataukah penjelasan yang lebih realistis yang dikeluarkan oleh pemikir geopolitik lainnya. Ini hanyalah pengenalan awal bagi kawan-kawan HI sekalian yang merasa atau seringkali mempertanyakan, kenapa sih perlu mempelajari geopolitik.

Kenapa kita mempelajari Geoekonomi dan Geokultural?
[penjelasan lebih rumit and sounding smart and brilliant]
Dalam geoekonomi dan geokultural, kau akan mempelajari sifat alami (anak HI sering menyebutnya dengan kata “the nature”) atau sifat lahiriah/ sifat khas/ atau dasar-dasar yang melekat pada proses transformasi, perkembangan, key milestones, seputar geopolitik dan aspek-aspek yang melingkupi/ mempengaruhinya seperti ekonomi dan kultural.
Prinsip sederhana dari “geopolitik” adalah how geography matters and helps reshaping the politics within it. Ada banyak konsep yang dipelajari dalam geoekonomi dan geokultural, misalnya konsep coevolution dari Kondratieff’s Wave, Modelski’s Long Cycle, Peter Dicken’s Global Shift, the old geoeconomy of oil, dan geopolitik neoliberal. Saran saya sih, pahami satu persatu konsep tersebut secara terpisah, lalu jika ingin mengelaborasi lebih, kamu bisa mengenali kelemahan dan keunggulan masing-masing dalam menilai konsep geoekonomi dan geokultural suatu negara. Dalam menerapkan pengetahuan yang diperoleh dari konsep-konsep tersebut, kau bisa mengenali penerapannya dalam beberapa kasus tertentu seperti the raise of China dan the raise of India (contoh ini diambil dalam studi hubungan internasional Universitas Airlangga). Agar lebih mudah, anda dapat menanyakan di awal, apakah China saat ini sedang raising ataukah sedang declining? Kenali kenapa anda menilai China saat ini sedang raising? Anda bisa menggunakan model2 yang sudah disebutkan di atas. Atau, jika anda bosan, anda bisa mengintegrasikan model2 di atas. Atau jika anda lebih bosan lagi, anda bisa menemukan model2 di luar yang saya sebutkan di atas (ini malah lebih baik lagi). Intinya, harus lebih banyak buku yang dibaca supaya elaborasi anda lebih luas dan lengkap atau komprehensif.
Bagian kedua ialah geokultural, geokultural memberi informasi anda bahwa kultur (dan atau elemen2 yang membangun kultur itu sendiri) saat ini menjadi hal yang strategis untuk menjelaskan bagaimana negara satu memandang negara di sekitarnya (bertetangga) semakin strategis, ancaman (negatif) atau berpeluang (positif). Apa saja yang membuat kultur itu semakin strategis? Anda bisa menemukannya dengan memahami bagaimana pemikiran beberapa expertis seperti Huntington dan para pengikutnya dan atau para anti-huntington tentang kultur. Intinya itu saja sih. Anda dapat memperdalam pengetahuan tentang geokultur dengan mengaplikasikannya dan membandingkannya dengan menggunakan beberapa kasus multiethnic atau etnopolitics. Banyak sih contohnya.
Itu saja singkat pengenalan tentang geoekonomi dan geokultur dalam bahasa yang paling sederhana. Sebentar lagi saya ingin membuat pendalamannya satu persatu.

Bandwagoning or Balancing: References from Amitav Acharya


Do Asian states bandwagoning and balancing against China?

Whether or not that China is currently in the state to rising power nor declining its power; it requires long disputed arguments. It will depend on your own argument taking some variables into account to say whether China’s power is declining or rising. This is where a good start to enter the explanation where Asian states are bandwagoning or balancing against China. Furthermore, we can analyze why do they need to do so? What advantages do they get and disadvantage they get as the consequence.

A very precise and fruitful explanation has been revealed by Amitav Acharya in “Will Asia’s Past be Its Future?”. There are plenty fruitful references of what bandwagoning is and balancing is.

Understanding what balancing is, we can borrow explanation from neorealist view. Neorrealist define two types of balancing, the first one is internal balancing, that is so called a national self help. This type includes military buildup against a rising power. The second type is external balancing, which involves strengthening of old alliances or creating a new one that is directed to stand against the rising power.

There are many evidences that the Asian state is balancing China. We could take a simple example of India, rising against China by externally and internally balancing. From this point of view, we can broaden our minds that India is currently building up its military resource and naval capabilities. Politically, we can name several examples where India stood against China for some cases like nuclear case, Tibet dispute, and else; externally we could see that India inclines to forge better alliance either politically and military with United States.

Bandwagoning, there’s plenty resource to name whether a state is bandwagoning against a rising power. But we can only know it by studying its behavior. A reasonable of Asian bandwagoning behavior can be dig whether they align itself military with China. You could name its behavior is similar to North Korea is bandwagoning to China in certain cases like nuclear power in six party talks. Some references of what is bandwagoning, what variables can be taken into account, we could aske Kenneth Waltz. Kenneth Waltz identifies the possibility of a hierarchical order that allowing bandwagoning to be possible. The hierarchical order occurs when political actors are formally differentiated according to degrees of their authority. For Barry Buzan and Richard Littel, hierarchy is a political structure in which units relate in a subordinate-superordinate relationship. David Lake distinguishes between four types of hierarchical institutions, such as spheres of influences, protectorates, informal empires and empires. We could broaden our explanation by exploring those variables.

Amitav is giving two explanatory explanation that are worth building arguments. The arguments are taken from Aaron Friedberg, David Kang. In the end Amitav is creating conclusion for himself to make him clear his standpoint. Friedberg’s opinion that Asian states are balancing against china by forming regionalism, performing economic integration, and joining military organization is deemed necessary in maintaining peace in Asia. David Kang also points important points that some states (not all Asian states) are bandwagoning China. The other point of view states that rather than bandwagoning, the existence of China as the greatest in economy and military also contribute in maintaning peace in Asia. Amitav believe the situation in the absence of China’s power as the great, sends uncertainties and unstability across the Asia regions. Amitav purely relies its argument from historical situation when China was and had been in the past.

 

See more:

Amitav Acharya, “Will Asia’s Past Be Asia’s Future”. International Security, Vol. 28, No. 3 (Winter 2003/04), pp. 149-164 ? 2004 by the President and Fellows of Harvard College and the Massachusetts Institute of Technology.

David C. Kang, “Getting Asia Wrong: The Need for New Analytical Frameworks,” International Security, Vol. 27, No. 4 (Spring 2003), pp. 57-85;

Aaron L. Friedberg, “Ripe for Rivalry: Prospects for Peace in a Multipolar Asia,” International Security, Vol. 18, No. 3 (Winter 1993/94), pp. 5-33.

Huru Hara di Ukraina November 2013 – Februari 2014


“Revolutions are much easier to make than to recover from.” – George Friedman, 2014

ditulis oleh Renny Candradewi P | JurnalPhobia | see here for download

Turmoil in Ukraine 2014 – Journal Issue Vol 1- No 01- 6 March 2014

Huru hara yang telah berlangsung sejak November 2013 di Ukraina akhirnya menemui titik terang di awal tahun 2014 ini. Namun ini bukan berarti berakhir, banyak persoalan yang masih harus diatasi oleh pemerintah sementara (interim government) yang dipimpin oleh Oleksandr Turchynov. Persoalan menjadi tidak mudah saat publik Ukraina dihadapkan pada ancaman separatisme jika pemerintah mengambil langkah yang tidak sanggup mengakomodasi dua pengaruh besar (sphere of influence) Uni Eropa (UE)– United States (US) vis a vis Russia. Berikut penjabaran apa yang telah terjadi di Ukraina, semoga tulisan ini bisa dijadikan manfaat agar aksi demonstrasi dapat dilakukan untuk hal-hal yang benar-benar dan pertimbangan yang bermanfaat sekaligus mengakomodasi seluruh suara yang ada. Bukan sebaliknya, yakni menuntun negara pada hal yang lebih buruk dari keadaan sebelumnya, yakni uncertainties.


Latar Belakang Aksi Demonstrasi

Kerusuhan yang sudah berlangsung selama tiga bulan di Ukraina akhirnya menemukan titik terang, tapi belum benar-benar berakhir. Gelombang demonstran ini merupakan wujud protes yang menuntut Presiden Ukraina Viktor Yanukovych lengser pasca pembatalan UE Association Agreement pada 21 November 2013.

Demonstrasi yang tadinya berjalan damai menjadi demonstrasi berdarah akibat kekerasan yang berujung aksi brutal aparat keamanan. Nasib 45 juta rakyat Ukraina sedang dipertaruhkan oleh segelintir orang yang berdemo menduduki Independence Square dan gedung-gedung pemerintahan vital di sekitarnya di Ibukota Ukraina, Kiev.

Kerusuhan ini berakar pada persaingan sengit dua kubu yang mempengaruhi jalannya pemerintahan dan kebijakan politik luar negeri Ukraina. Orientasi luar negeri Ukraina pun bercabang pada Barat, yakni UE dan US; dan Russia – Moskow. Parlemen sebagai dewan legislatif dan pemerintah sebagai lembaga eksekutif memiliki sifat yang bertolak belakang dan tidak dapat berjalan seiring. Parlemen cenderung condong pada kepentingan UE dan US, sementara pemerintah yang dipimpin oleh Presiden Yanukovych cenderung sejalan dengan kepentingan Russia. Puncaknya, Presiden Ukraina Viktor Yanukovych secara mengejutkan menolak bantuan yang diprakarsai oleh Uni Eropa pada November 2013 lalu, mengakibatkan mahasiswa Kiev turun ke jalan menuntut presiden mundur (BBC, Why is Ukraine in Turmoil, 2014).

Aksi demonstrasi ini tidak lepas dari geokultur penduduk Ukraina yang terbagi menjadi dua. Penduduk yang menempati Ukraina Barat berbatasan dengan Russia memiliki latar belakang sejarah dan bahasa yang secara kultural lekat dengan Russia. Oleh karena itu, penduduk Ukraina Barat menyangsikan langkah demonstran di Kiev yang mengatasnamakan suara bulat seluruh Ukraina.

Sementara itu, para demonstran yang mayoritas adalah mahasiswa di Kiev turun ke jalan mewakili banyak penduduk yang memilih untuk bergabung dengan Uni Eropa. Mereka sebagian besar bermukim di wilayah yang berbatasan langsung dengan negara anggota UE seperti Polandia.

Pemukulan dan penculikan demonstran pro-UE atau pro-oposisi membuat protes semakin berlanjut dan memanas. Pada 20 Februari 2014 tercatat sebagai demonstrasi paling berdarah di Ukraina. Kementerian Kesehatan melaporkan sekurang-kurangnya 77 orang tewas dalam demonstrasi tersebut dan 600 lainnya terluka dan beberapa lainnya ditemukan meninggal dunia akibat luka tembak dan menghilang.

Meskipun gelombang demonstran sudah usai dan perekonomian kembali lancar pasca penggulingan Presiden Ukraina Viktor Yanukovych, kini Ukraina menghadapi tekanan baru dari Russia yang kabarnya membatalkan dana talangan senilai 15 milliar AS. Selama ini Russia telah mengguyurkan pinjaman sebesar 3 miliar AS. Russia juga membatalkan diskon 30% harga gas yang dijual ke Ukraina. Akibatnya Ukraina harus membayar utang sebesar 1,8 milliar dollar AS per bulan untuk gas yang diimpor dari Russia. Tak hanya itu, Russia juga akan mengancam menaikkan pajak ekspor Ukraina. Perlu diketahui, sejak lepas dari Uni Soviet pada 1991, hampir setengah perdagangan Ukraina mengalir ke Russia, terutama produk-produk baja dan alat-alat berat  (BBC, Why is Ukraine in Turmoil, 2014).

Respon Barat

Melihat perkembangan politik Ukraina yang menuai berbagai ancaman dari Russia, sekutunya seperti Amerika Serikat dan Inggris segera merespon. Presiden Amerika Serikat Barrack Obama segera mengutus Wakil Menteri Luar Negeri Williams Burns terbang ke Kiev. Inggris juga mengutus Menlunya William Hague yang dijadwalkan untuk bertemu peimpimpan baru dan perwakilan IMF di kota yang sama (BBC, Why is Ukraine in Turmoil, 2014). Pertemuan ini tidak lain akan membahas bagaimana negara-negara Barat akan menyelematkan Ukraina dari Russia. Akan tetapi, banyak yang berspekulasi bahwa Ukraina akan mengalami kesulitan untuk menerima prasyarat yang diberikan oleh IMF. Beberapa analis seperti George Friedman dan Paul Craig Roberts yakin Ukraina tidak dapat memenuhi prasyarat yang diberikan.

Konsekuensi

Melunaknya demonstrasi di Kiev yang mendukung pemecatan mantan presiden Viktor, harus dibayar sama mahalnya dengan munculnya demonstrasi di semenanjung Crimea. Semenanjung Crimea dihuni oleh penduduknya yang mayoritas, hampir 60%, berbahasa Rusia. Mereka menentang pemerintahan baru Turchynov dan meneriakkan gerakan pro-Russia. Bahkan di beberapa tempat mereka mengganti bendera Ukraina dengan bendera Russia. Benturan pendukung Russia dan pro-UE pun terjadi,s tidaknya seorang dilaporkan tewas. Pemerintah setempat pun mengajak tokoh berpengaruh untuk membujuk warga di semenanjung Crimea untuk kembali ke rumah masing-masing dan tidak melakukan aksi demonstrasi lanjutan (Anonym, Ukraine crisis: Turchynov warns of ‘separatism’ risk, 2014). Sejauh ini mantan presiden Viktor Yanukovych masih belum diketahui kabarnya ia tengah berlindung di pangkalan Angkatan Laut Russia di Sevastopol (BBC, Why is Ukraine in Turmoil, 2014).

Kronologi

  • 21 November 2013           : Pemerintah mengumumkan pembatalan EU Association Agreement yang memicu ribuan orang turun ke jalan di Kiev,
  • 30 November 2013           : Polisi secara brutal melakukan penggerebekan dan penculikan sejumlah aktivis pro oposisi,
  • 17 desember      : Presiden Rusia Vladimir Putin menawarkan bantuan pinjaman senilai 15 milliar dollar AS ke Ukraina sekaligus pemotongan pembelian impor gas dari Russia. Para demonstran menilai aksi ini sebagai usaha Russia untuk membeli Presiden Yanukovych,
  • 16 Januari 2014 : Parlemen mengesahkan undang-undang anti protes yang oleh oposisi disebut sebagai peraturan yang sangat brutal atau “draconian”. Pada akhirnya peraturan ini dicabut dari konstitusi,
  • 19-20 Januari      : benturan antara aparat dan demonstran,
  • 22 Januari                            : dua orang demonstran ditemukan meninggal dunia karena luka tembak. Sehari kemudian, seorang aktivis ditemukan meninggal dunia diduga korban penculikan yang dilakukan oleh aparat,
  • 23-24 Januari      : para demonstran menduduki gedung-gedung pemerintahan di kota Lviv, Ivano-Frankivsk, dan kota lain di Ukraina. Para demonstran juga mulai menyebar dan bergerak ke Timur,
  • 28 Januari            : Perdana Menteri Mykola Azarov dan administrasinya meletakkan jabatannya atau “resign”,
  • 14-16 Februari    : amnesti diberikan kepada demonstrasi yang menduduki gedung pemerintahan dan tuduhan terhadap demonstran yang ditahan dihilangkan,
  • 18 Februari          : parlemen menolak perubahan konstitusi yang mengembalikan kekuasaan parlemen lebih besar daripada presiden. Akibatnya demonstrasi semakin memuncak,
  • 20 Februari          : para demonstran menduduki Independence Square. Benturan antara aparat dan para demonstran tidak terelakkan, mengakibatkan 77 orang meninggal dunia dan 600 lainnya terluka (BBC, Why is Ukraine in Turmoil, 2014).

Konstitusi yang dilanggar

Gejolak politik di Ukraina menuai babak baru. Presiden Yanukovych berhasil digulingkan oleh aksi demonstrasi, bukannya oleh pemakzulan melalui rapat parlemen. Hal ini sudah tidak sesuai dengan konstitusi awal Ukraina yang mana konstitusi justru dilanggar oleh sekelompok “Kiev Students”. Sebagaimana George Freidman berpendapat dalam tulisannya,

“… to the extent that Ukraine had a constitutional democracy, that is now broken by people who said their intention was to create one.” (Freidman, 2014)

Hal kedua yang tidak sesuai dengan konstitusi adalah Menteri Luar Negeri Polandia, Perancis dan Jerman yang berhasil menegosiasikan solusi politik untuk Ukraina. Untuk pertama kalinya dalam dua dekade terakhir, menteri luar negeri dari negara lain (berkepentingan) untuk merumuskan nasib suatu negara.

Bagaimana dengan ide Ukraina untuk gabung dengan  Uni Eropa? Uni Eropa tentu saja harus mempertimbangkan ulang ide ini. Betapa tidak, Uni Eropa saat ini tengah menanggung beban beberapa negara yang secara ekonomi sedang sakit seperti Yunani, Spanyol, Irlandia dan negara lain yang ekonominya masih terseok-seok di tengah-tengah krisis ekonomi Uni Eropa yang belum sepenuhnya pulih. Jika Ukraina bergabung dengan Uni Eropa, Uni Eropa akan menerima beban yang lebih. Maka dari itu Uni Eropa sengaja menggunakan tangan IMF untuk menopang beban ekonomi Ukraina.

Meskipun ketiga negara tersebut diboncengi oleh kepentingan Barat, melalui Uni Eropa, untuk menggandeng Ukraina, nasib Ukraina ke depannya juga belum akan jelas. Jika Ukraina yang  menyetujui proposal pinjaman Barat, maka Ukraina harus menerima prasyarat yang diajukan oleh IMF-sebagai alat untuk mempertahankan Ukraina agar tetap setia dengannya.

IMF mengajukan prasyarat pinjaman supaya keuangan Ukraina dapat direstrukturisasi ulang. Hal ini mengandung arti bahwa Ukraina harus bersedia menyerahkan otoritas keuangannya pada IMF. Belajar dari pengalaman beberapa negara yang menerima kondisi ini, maka saya simpulkan hal ini tidak akan berhasil pada Ukraina. George Friedman menyebutnya,

“Good intentions notwithstanding, the Ukrainians will not like the IMF deal.” (Freidman, 2014)

Apabila Ukraina memilih untuk bersikap neutral tidak memihak manapun, maka kurang lebih pemerintahan sementara ini akan melakukan kebijakan di tengah-tengah keadaan yang tidak ada bedanya semasa Viktor Yanukovych memerintah.

Russia tampak santai menyikapi gejolak demonstrasi di Ukraina. Menggunakan pendekatan berbeda yang pernah Russia lakukan terhadap Georgia, Russia menawarkan pinjaman sebsar 15 milliar AS, diskon harga impor gas dari Russia ke Ukraina, dan keringanan pajak ekspor Ukraina ke Russia. Sejak Viktor Yanukovych dilengserkan, kini Russia mulai hati-hati namun tetap terkendali dalam menyikapi Ukraina. Meskipun bentuk pinjaman di atas telah ditarik diganti dengan beragam ancaman ekonomi, kini Russia melihat langkah UE dan US dalam menyelamatkan Ukraina. Russia melihat kemungkinan parlemen akan menolak resep pemulihan ekonomi dari IMF dan meminta Russia untuk dana segar karena Ukraina akan mengalami default jika gagal bayar utang obligasi negara yang akan jatuh tempo dalam 2 pekan mendatang. Sebagaimana Presiden baru Ukraina Turchynov menyampaikan dengan tegas seperti dikutip oleh Kompas,

“negaranya tidak punya pilihan lain selain ‘mengemplang’ utang 13 miliar dollar AS jika negara Barat dan Dana Moneter Internasional (IMF) tidak turun tangan.” (Anonym, Ukraina Butuh Tunai 35 Miliar, 2014)

Di bawah tekanan yang diberikan Russia, jika Ukraina berpaling pada negara UE dan US maka Ukraina akan menjadi beban ekonomi dengan segala ketentuan yang diberikan oleh Barat. Sementara, jika Ukraina berpaling pada Russia, maka Ukraina mengakui nasibnya yang tidak bisa memisahkan diri dari pengaruh Moskwo. Sebagaimana Menteri Luar Negeri Russia, Sergei Lavrov, meyakinkan dunia internasional dengan tegas,

“We want Ukraine to be part of the European family in every sense of the word” (Anonym, Ukraine crisis: Turchynov warns of ‘separatism’ risk, 2014).

Kesimpulan

Cukup mengesankan bagaimana sekelompok demonstrasi di ibukota Ukraina, Kiev, mampu menggulingkan Viktor Yanukovych. Ini adalah masa tersingkat bagi suatu demonstrasi untuk benar-benar berhasil menggulingkan pemerintah yang tengah berkuasa, pemerintah sah yang dipilih dari pemilihan umum. Padahal ini bukan demonstrasi yang mewakili keseluruhan suara nasional yang ada di Ukraina –lihat apa yang sekarang terjadi di semenanjung Crimea. Aksi demonstrasi antara pendukung pemerintahan sementara dengan mengibarkan bendera Ukraina dan demonstrasi yang mendukung Russia–mereka mengibarkan bendera Russia. Padahal Suriah masih bergejolak dengan peperangan antara pemberontak dan militer pemerintah Suriah.

Ada dua kepentingan besar di Ukraina yang tidak bisa dielakkan. Bagi Uni Eropa, Ukraina merupakan hal penting. Di sisi lain, Russia merasa Ukraina tidak akan menjadi “lebih penting” jika bergabung dengan UE atau mendukung kebijakan US. Sebaliknya, Russia beranggapan bahwa seluruh negara pecahan Uni Soviet merupakan satu kesatuan dengan Russia dan oleh karena itu haram hukumnya bagi salah satu bila hendak keluar dari pengaruh Russia.

Ada banyak penjelasan kenapa Ukraina begitu penting bagi Russia, secara geopolitik maupun geostrategic Ukraina berada berdekatan dengan Moskow secara geokkultur, sebagian penduduk Ukraina terutama bagian Barat (hampir 60% diantaranya) yang berdekatan dengan Russia merupakan penduduk dengan mayoritas berbahasa dan keturunan Russia. Mereka bekerja di sektor industri berat yang menjual hasilnya ke Russia. Tidak heran jika mereka mendukung Russia karena kesamaan tersebut dan nasib mereka ke depannya.

Sedangkan penduduk yang pro UE adalah penduduk yang berada di sebelah Timur dan sebagian wilayah kota Kiev. Dapat disimpulkan bahwa hanya separuh suara yang ada dalam demonstran yang berhasil (unexpectedly) menggulingkan presiden. Hal ini bisa dikatakan sangat tidak konstitutisional karena desmontrasi berhasil menggulingkan presiden yang dipilih melalui pemilu tanpa harus melakukan pemilihan umum. Presiden Yanukovych sendiri telah mengajukan solusi untuk mempercepat pemilu ke parlemen, sayangnya parlemen menolak ide ini. Kedua, aksi demonstrasi juga berhasil menuntut agar tahanan politik Yulia Tymoshenko dibebaskan. Hal ini adalah hal tidak konstitutional kedua yang berhasil dilakukan tanpa melalui perdebatan yang panjang.

Karena hal itulah, ada sekelompok tentara bersenjata yang mengatasnamakan sebagai Right’s Sector (Sektor Kanan) untuk angkat senjata. Melalui juru bicaranya, mereka mengatakan ketiga tindakan itu tidak konstitusional. Sektor Kanan tidakmemihak baik Russia maupun UE dan US. Salah seorang pemimpin sektor kanan yakni Aleksandr Muzychko, menegaskan kenetralannya,

“Jews and Russians until I die.” (Roberts, 2014)

Mereka menghendaki suatu negara yang utuh tanpa pengaruh dari negara-negara besar di sekitarnya. Bahkan ada juru bicara sektor kanan yang mengatakan, presiden selanjutnya akan berasal dari Sektor Kanan. Sebagaimana Muzychko mengatakan,

“The next president of Ukraine will be from Right Sector.” (Roberts, 2014)

Mereka juga menunjukkan kekecewaan mereka terhadap Yanukovych dan menuntut partai regional yang mendukung Yanukovych dibubarkan.

Ada banyak masalah di dalam negara Ukraina yang tidak bisa diselelesaikan melalui secara one solution fits all. Ukraina merupakan negara muda yang terjebak di antara dua pengaruh besar wilayah di sekitarnya yakni Uni Eropa dan Russia. Secara ideologi, pemimpin Ukraina memiliki pikiran yang berbeda ada yang menggolongkan mereka sebagai neo-Nazis, liberals, dan Russia. Hal ini yang membuat keadaan politik di dalam negerinya kurang stabil karena perpecahan atau orientasi politik luar negeri yang gagal.

Daftar Pustaka

Anonym. (2014). Ukraina Butuh Tunai 35 Miliar. Jakarta: Koran Kompas.

Anonym. (2014, February 25). Ukraine crisis: Turchynov warns of ‘separatism’ risk. Retrieved February 27, 2014, from BBC NEWS: http://www.bbc.com/news/world-europe-26333587

BBC. (2014, Februari 22). Ukraine crisis: Opposition asserts authority in Kiev. Retrieved Februari 26, 2014, from BBC NEWS: http://www.bbc.co.uk/news/world-europe-26299670

BBC. (2014, February 22). Why is Ukraine in Turmoil. Retrieved February 26, 2014, from BBC NEWS: http://www.bbc.co.uk/news/world-europe-25182823

Freidman, G. (2014, February 24). Geopolitical Weekly : Ukraine Turns From Revolution to Recovery. Retrieved February 27, 2014, from Stratfor Global Intelligence: http://www.stratfor.com/weekly/ukraine-turns-revolution-recovery?utm_source=freelist-f&utm_medium=email&utm_campaign=20140225&utm_term=Gweekly&utm_content=readmore

Roberts, P. C. (2014, Januari 24). Democracy Murdered By Protest — Ukraine. Retrieved Februari 26, 2014, from OEN Opednews.com: http://www.opednews.com/articles/Democracy-Murdered-By-Prot-by-Paul-Craig-Roberts-Obama_Political_Protest_Revolution-140224-927.html

Please address the appropriate and constructive comment into our comment box in JurnalPhobia (frenndw.wordpress.com)

What Russia wants for Ukraine, is to consider its Interest



Abstract

Memahami transisi politik yang terjadi di Ukraina pada bulan Februari 2014 ini, banyak analisis multi interpretatif dikeluarkan oleh sejumlah pemikir. Hal tersebut dikarenakan apa yang terjadi pada Ukraina akan berdampak langsung terhadap struktur geopolitik dan perdamaian di dunia pada umumnya dan Eropa Timur pada khususnya. Huru hara yang terjadi di Ukraina berdampak besar terhadap transisi pengaruh politik antara Uni Eropa – US dan Russia yang berpengaruh besar dalam menentukan orientasi politik luar negeri dan dalam negeri Ukraina. Russia sendiri memiliki sejumlah kepentingan nasional di Ukraina terkait penduduk berbahasa Russia yang menghuni semenanjung Crimea – berbatasan sebelah Timur dengan Russia. Akibatnya, perubahan politik yang cepat di Ukraina dan konstelasi kepentingan yang mempengaruhinya menjadi wacana menarik yang berkembang pesat di media cetak. Adanya kepentingan Russia terkait keamanan di perbatasan dan pentingnya kawasan Black Sea Fleet mengakibatkan Russia mengintervensi Ukraina.

Kata-kata kunci : transition, foreign policy, peace border, the black sea fleet, sphere of influence

Understanding the political transition in Ukraine during February 2014 , many multi-interpretative and critical analysis are issued by a number of thinkers. That is because what is happening in Ukraine will have a direct impact on the structure of geopolitics and peace in the world in general and Eastern Europe in particular . Riots that occurred in Ukraine have a major impact on the transition between the EU  – the U.S political influence against Russia as core determining variable in Ukrainian foreign policy and domestic orientation. Russia itself has a number of national interests in Ukraine related to the Russian -speaking population which inhabit the Crimean peninsula – the eastern borders with Russia . As a result , the rapid political changes in Ukraine and the constellation of interests that influence attract rapid media attention. The presence of Russia -related interests and the importance of security in the border area of ​​the Black Sea Fleet Ukraine is belived to have generated Russia policy of intervention.

Thank you for waiting the update, here is the link download for overall review.

please see : https://frenndw.wordpress.com/2014/03/06/journal-issue-vol-1-no-01-6-march-2014/

Regards,

JurnalPhobia team

Smart Voters, Rational Voters


by Rizca Putri

Pemilihan umum tidak hanya dimaknai sebagai agenda periodik tetap untuk melakukan suksesi terhadap pemerintahan eksekutif dan legislatif di dalam suatu negara melalui mekanisme konversi suara menjadi kursi, pemaknaan pemilihan umum juga harus melihat sisi warga negara sebagai voters yaitu sebagai ajang untuk sirkulasi elit guna melakukan perubahan pola kebijakan ke arah yang lebih baik. Untuk mewujudkan hal tersebut, warga negara yang berkedudukan sebagai voters haruslah cerdas dalam memilih dan menentukan pilihannya secara rasional. Rasional pada pertimbangan untung rugi dan jangka panjang potensi kebijakan yang akan dihasilkan oleh para calon wakilnya di kursi legislatif.

Kata-kata kunci: rational behavior, rational voters, election

please refer to our volume :

Vol.1 / No.02/ 13 March 2014

Regards,

JurnalPhobia team

Journal Issue Vol 1- No 02- 13 March 2014


Thank you for staying with us, we try as best as we can to accommodate you with recent writing and article, we collect data and compose simple articles that might fuel your insight. We would be happy if you could name us what topics to be discussed in the future edition. Please contact us for more information, ideas, and comments.

For the time being we present you the first issue of JurnalPhobia *give applause to our extraordinary contributor — Rizca Putri.

Smart voter – Rational Voters – Journal Issue Vol 1- No 02- 13 March 2014

Desain Pemilu untuk Menciptakan Pemilih yang Rasional – Journal Issue Vol 1- No 02- 13 March 2014

Best Regards,

JurnalPhobia team

Kebakaran Hutan dan Kabut Asap di Riau dalam Perspektif Hubungan Internasional


Renny Candradewi

Memahami peristiwa kebakaran di hutan Riau membangkitkan rasa keprihatinan kita. Kabut asap diduga dihasilkan dari aktivitas perusahaan yang dengan sengaja membuka lahan dengan membakar hutan. Karakteristik lahan di Riau yang terbakar mayoritas merupakan tanah gambut sehingga pemadaman titik api menuai sejumlah kendala baik secara teknis, operasional dan topografi lapangan. Bahkan kini akibatnya semakin meluas, selama dua bulan penduduk di beberapa kota Riau terkena dampaknya. Jarak pandang menjadi hanya beberapa meter saja sementara itu banyak balita dan orang dewasa menderita gangguan pernapasan akut. Tidak hanya pemerintah daerah yang bertanggung jawab, pemerintah pusat seharusnya memiliki urgensi tinggi untuk menemukan solusi strategis untuk menyelesaikan permasalahan yang telah berlangsung selama dua bulan ini. Melalui pendekatan securitization, diharapkan pemerintah mampu membawa perusahaan terduga ke mahkamah internasional untuk beberapa tuntutan serius. Tulisan ini dibuat untuk mengkaji pilihan-pilihan pemerintah bagaimana persoalan tersebut dapat diatasi dari kacamata ilmu hubungan internasional.

Kata-kata kunci : haze, international court justice, securitization, policy, environment, sustainable development

 

Latar Belakang

Kebakaran hutan di Sumatra sudah menjadi persoalan tahunan bagi Indonesia di tengah-tengah musim kemarau. Pada awal Juni lalu, kebakaran hutan terjadi di Jambi memicu pemberitaan di sejumlah media nasional Pemerintah pusat saat itu belum melakukan koordinasi langsung dengan pemerintah daerah karena menganggap persoalan kabut asap di Jambi merupakan tanggung jawab pemerintah daerah setempat. Tidak lama kemudian, pemberitaan media nasional bergeser pada negara tetangga, Singapura dan Malaysia. Kebakaran hutan Riau yang menyebabkan asap tebal juga menyelimuti negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia sejak 17 Juni 2013 (Maharani, Ini Sebab Kabut Asap Hutan Riau Selimuti Singapura, 2013). Pemerintah Indonesia baru terlihat bereaksi setelah ada protes dari Singapura (Utomo, 2013).

Kabut asap akibat pembakaran hutan di Jambi juga turut meresahkan negara tetangga. Misalnya kabut asap mulai mengganggu aktivitas warga Singapura dan Malaysia. Indeks kabut asap di Singapura mencapai level kritis 400 pada Jumat, 21 Juni 2013. Pemerintah Singapura pun menghimbau semua anak, orang tua dan orang yang menderita sakit untuk tinggal di rumah dan menghindari aktivitas luar sebanyak mungkin (Patnistik E. , Kabut Asap Singapura Catat rekor, Jadi Makin Berbahaya, 2013).

Persoalan kabut asap ini juga telah memicu ketegangan antara dua negara. Pemerintah Indonesia dinilai lamban dalam menangani persoalan kabut asap (Patnistik E. , 2013). Tidak hanya itu banyak wisatawan manca negara (wisman) menunda kunjungan ke Batam (Asdiana, 2013).

Peristiwa kabut asap menjadi ranah internasional sejak dampaknya juga terasa ke negara tetangga yang mengakibatkan persoalan ini menjadi isu kawasan dan membutuhkan penanganan darurat. Dalam hal ini utusan pemerintah Singapura telah menggelar pembicaraan darurat dengan pemerintah Indonesia (Patnistik E. , 2013). Bahkan Singapura sendiri telah melakukan protes keras ke pemerintah Indonesia dan menyiapkan sanksi bagi perusahaan Singapura jika terbukti memiliki keterlibatan terhadap pembakaran hutan di Indonesia (Patnistik E. , Singapura Janji Beri Sanksi Perusahaan yang Terlibat Kebakaran Hutan, 2013).

Berbagai tekanan muncul dari negara tetangga, yakni Malaysi. Melalui Menteri Lingkungna Hidup Malaysia, G Palanivel, mendesak Indonesia untuk meratifikasi perjanjian penting Asia Tenggara yang bertujuan untuk mengatasi kabut asap. Sebuah pernjanjian Perhimpunan Bangsa Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) itu bertujuan untuk mengatasi kabut asap tahunan dengan meningkatkan kerja sama regional. Melihat urgensi penanganan kabut asap ini, Palanivel mengatakan pertemuan antara lima anggota ASEAN tentang kabut asap dijadwalkan pada Agustus akan dimajukan ke 17 Juni akibat krisi saat ini (Patnistik E. , 2013).

Berdasarkan latar belakang tersebut, menarik untuk melihat bagaimana usaha pemerintah Indonesia sebagai securitizing actor untuk mengatasi persoalan internal ini yang telah menjadi isu kawasan. Pemerintah Indonesia dinilai bertanggung jawab terkait penanganan kabut asap. Namun, pemerintah Indonesia juga memiliki pilihan untuk menuntut perusahaan-perusahaan pemegang HTI  yang sebagian besar merupakan perusahaan asing tak lain milik Malaysia dan Singapura untuk ikut bertanggung jawab. Membawa mereka ke ranah di luar normal politik dan jika perlu untuk mengganti rugi atas perusakan nama baik Indonesia di ranah internasional dan mengabaikan prinsip-prinsip pengelolaan hutan yang ramah lingkungan dan berkelanjutan. Tujuan tulisan ini adalah untuk mengetahui bagaimana perspektif hubungan internasional dalam melihat isu domestik tersebut dan membawanya ke ranah internasional.

Dampak Kabut Asap

Kabut tebal yang menyelimuti Kota Riau dan beberapa daerah disekitarnya menimbulkan dampak serius pada kesehatan dan ekonomi.

Dampak kabut asap paling rentan terjadi pada anak-anak dan manula. Menurut dr. Nastiti Kaswandani, spesialis anak dari departemen Ilmu kesehatan Anak FKUI, anak-anak sangat rentan karena saluran napas mereka belum sempurna. Kuman yang terbawa oleh kabut asap dapat meningkatkan resiko pneumonia (radang paru). Sedangkan menurut dr. Agus Dwisusanto, spesialis paru, kondisi udara yang buruk akibat kabut asap jika terjadi selama berminggu-minggu dapat menurunkan fungsi paru (Anna, 2013).

Kabut asap juga mengganggu aktivitas penerbangan di bandara. Beberapa penerbangan di Bandara Internasional Minangkabau (BIM), Padang, Sumatra Barat, terpaksa dibatalkan karena jarak pandang merosot menjadi 700 meter. Selain Bandara Minangkabau, seluruh kedatangan dan keberangkatan penerbangan di Sultan Syarif Kasim II Bandara Internasional Pekanbaru, Riau, juga dibatalkan pada Kamis (Parlina, 2014). Gangguan penerbangan ini mengirim kerugian ekonomi yang cukup signifikan, para wisatawan banyak yang membatalkan perjalanan mereka ke Riau sambil menunggu kondisi membaik.

Proses Hukum

Persoalan kabut asap ini telah muncul sejak ada titik api di sejumlah kawasan hutan di provinsi Jambi. Melihat tidak ada penanganan secara serius dari pemerintah daerah. Aksi pelaku ini dengan berani ditiru oleh perusahaan pengelolaan hutan di Riau. Akibatnya kebakaran hutan pun semakin meluas. Sekurang-kurangnya terdapat 3.700 hektar lahan di Riau terbakar (Rangkuti, 2013).

Dampak kebakaran hutan ini sangat massive. Anak-anak, orang tua dan masyarakat pada umumnya terkena dampak kesehatan. Kondisi kesehatan mereka memburuk. Ribuan orang memenuhi rumah sakit karena sesak napas dan gangguan pernapasan akut. Tidak hanya itu asap yang semakin pekat, mengakibatkan jarak pandang merosot dari 10.000 meter menjadi 1.000 meter saja sehingga mengganggu aktivitas maskapai di bandara (Mada, 2013). Akibatnya aktivitas di bandara berkurang drastis. Akhirnya kerugian ekonomi pun tidak dapat dihindari.

Kabut asap juga mempengaruhi daerah-daerah di sekitar Riau seperti Batam dan Palembang (Asdiana, 2013). Konsentrasi partikel asap dan debu naik hingga 10 kali lipat dari rata-rata, Pengukuran kualitas udara oleh Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah (Bapedalda) Batam sejak Kamis (20/6/2013) sampai Jumat (21/06/2013) menunjukkan, rata-rata konsentrasi partikel mencapai 670 mikrogram dalam tiap meter kubik udara. Padahal ambang batas bahaya 230 mikrogram per meter kubik. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMK G) Stasiun Batam, Philip Mustamu, mengungkapkan pada awal pekan masih terdapat 184 titik api, pada Kamis (20/06/2013) tercatat ada 1.403 titik api (Mada, 2013).

Penanganan Kabut Asap

Penanganan kabut asap terus dilakukan dengan mengkoordinasikan seluruh sumber daya yang dimiliki. Kabut asap di Riau telah berlangsung selama dua bulan belum juga menemukan titik terang. Presiden melalui kunjungan singkatnya ke Riau menginstruksikan dengan tegas deadline selama tiga minggu (Asril, Presiden: Api di Riau Harus Padam dalam Tiga Minggu, 2014).

Hujan buatan koordinasi antara TNI, BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana), BPPT (Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi). Langkah pemadaman dilakukan dengan tiga cara yakni pemadaman dilakukan dari darat, dari udara melalui water bombing, dan penegakan hukum bagi pelaku yang terbukti melakukan perusakan dan pembakaran hutan. Titik api meningkat sejak bulan 15 Juni 2013, diperkirakan 200 hektar lahan gambut masih terbakar (Maharani, 2013). Untuk menindaklanjuti deadline yang diinstruksikan presiden, TNI pun segera mengerahkan sepuluh pesawat amfibi dari Rusia untuk atasi kebakaran hutan di Riau (Asril, 10 Pesawat Amfibi dari Rusia Dikerahkan untuk Atasi Kebakaran Hutan, 2014).

Persoalan kabut asap ini tidak bisa lepas dari pengelolaan ijin perusahaan kelapa sawit. Indonesia menyumbang 24 juta ton kelapa sawit di tahun 2012, namun pengembangan kelapa sawit ini dilakukan dengan cara yang tidak berkelanjutan (tidak ramah lingkungan). Industri kelapa sawit Indonesia dilakukan dengan menambah area kebun yang konsekuensinya adalah pembukaan hutan besar-besaran (Utomo, 2013).

Untuk mendapatkan izin itu sangat mudah. Pola politik transaksional di Indonesia mendukung praktik tersebut. Kepala daerah juga bisa mengeluarkan izin dan hal ini sangat lekat dengan praktik dugaan suap dan korupsi. Karenanya, para pengusaha juga lebih memilih untuk membuka lahan, ujar Zenzi Suhadi, Pengampanye Hutan dan Perkebunan Skala Besar Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi). Zenzi juga menambahkan, berdasarkan catatan Walhi, hutan yang dibuka dengan pengusulan secara langsung sudah sebanyak 6,2 juta hektar. Sementara hutan yang dibuka secara kolektif dan transaksional antara tahun 2009 hingga 2013 mencapai 12,35 juta hektar (Utomo, 2013).

Banyak pengeluaran ijin dilakukan dengan curang. Pengeluaran izin tidak berdasarkan kajian yang memadai dan kalaupun mempunyai kajian lingkungan, penerapan kaidah lingkungan dalam praktik industri HTI dan Perkebunan masih jauh dari sikap bertanggung jawab. Misalnya untuk memperoleh izin, perusahaan dengan sengaja melakukan perusakan hutan yakni mengubahnya menjadi lahan kritis sehingga bisa disusulkan sebagai lahan yang bisa dikelola. Kasus ini pernah terjadi di Bengkulu (Utomo, 2013)

Untuk itu, tindakan tegas telah mulai dilakukan. NGO World Resources Institute mengeluarkan laporan perusahaan-perusahaan yang diduga memiliki titik api terbanyak (Djumena, 2013). Tidak menutuup kemungkinan bahwa daftar tersebut masih akan bertambah seiring dengan investigasi yang terus berjalan.

Berdasarkan temuan Bareskrim polri, saat itu dipegang oleh Komisaris Jenderal Sutarman mengungkapkan sudah ada satu perusahaan yang dicurigai dan modus yang digunakan. Satu perusahaan yang berinisial AP diindikasi membayar koperasi berinsial TS untuk membayar warga untuk membakar lahan mereka (Gatra, 2013).

Dalam perkembangannya satu perusahaan yakni berinisial PT AP telah ditetapkan Polda Riau sebagai tersangka kasus pembakaran kawasan hutan dan lahan di Riau. Menteri Lingkungan Hidup Balthasar Kambuaya juga mengatakan ada 8 perusahaan Malaysia yang diduga melakukan pembakaran lahan dan hutan di Riau. Saat ini sudah sudah ada 17 kasus dan 24 tersangka yang ditangani. Kasus tersebut tersebar di sejumlah wilayah yang terdapat titik api (Maharani, 1 Perusahaan Jadi Tersangka Pembakaran Lahan riau, 2013).

Ranah Hubungan Internasional

Kajian hubungan internasional cukup aplikatif dalam melihat persoalan kabut asap ini. Hal ini disebabkan oleh beberapa proses yang melekat di dalamnya antara lain: pertama, kabut asap menjadi isu internasional karena dampaknya yang lintas negara. Singapura dan Malaysia sebagai negara tetangga merasakan dampak kabut asap yang mana aktivitas warga mereka terganggu.

Sulit sekali bagi Indonesia dalam hal ini pemerintah Indonesia untuk mengabaikan persoalan ini dengan tidak bereaksi langsung ketika, yang membawa kita pada alasan kedua yaitu, Singapura dan Malaysia melakukan protes secara diplomatik. Baik Singapura maupun Malaysia sama-sama menilai Indonesia tidak cukup serius menangani persoalan ini sehingga kabut asap dan kebakaran hutan menjadi momok tahunan yang terjadi setiap musim kemarau.

Ketiga, dampak kerusakan ekosistem dan lingkungan yang pada akhirnya akan menyumbang konsentrasi CO2 dan pemanasan global. Secara matematik, 3.700 hektar lahan yang terbakar di Riau akan menyumbang sejumlah konsentrasi CO2 di udara dan berpotensi mempengaruhi iklim global. Tiga hal di atas yang menjelaskan urgensi masalah tersebut dapat dikaji dalam ranah hubungan internasional.

Pertanyaan berikutnya adalah, bagaimana pemerintah Indonesia dapat mengatasi persoalan yang telah berkembang secara internasional ini. Ada beberapa teori yang dapat dikemukakan yang dapat memberi beragam pilihan bagi kita untuk melihat teori hubungan internasional menjadi applicable salah satunya ialah securitization.

Securitization

Securitization pertama kali dicetuskan oleh pemikir dari Copenhagen School yakni Barry Buzan, Ole Waever dan Jaap de Wilde (Septanti, 2013). Securitization menawarkan pendekatan kajian keamanan di luar wacana negara dan militer sebagaimana dipahami oleh realpolitik. Kerangka teori ini mengungkapkan dua proses yang : pertama mencitrakan isu tertentu sebagai ancaman eksistensial terhadap referent objects – suatu yang dipandang terancam dan memiliki tuntutan sah untuk dilindungi. Proses kedua, melibatkan aktor (lebih lanjut disebut securitizing actor) yang mensekurutisasi  isu dengan mendeklarasikan sesuatu, referent object, yang secara eksistensial terancam (Buzan, Waever, & de Wilde, 1998). Menurut teori ini, proses penyelesaian umumnya dibawa ke ranah di luar normal politik, yakni tidak melalui mekanisme arbitrase internasional jika berkaitan dengan perusahaan multinasional sebelum maju ke tindakan hukum (Septanti, 2013, p. 188).

Peristiwa kebakaran hutan yang mengakibatkan kabut asap Sumatra pada umumnya, dan Riau pada khususnya tidak lepas dari pengelolaan lingkungan yang tidak berkelanjutan (tidak bertanggung jawab). Sebagaimana penjelasan di atas, perusahaan kelapa sawit cenderung melakukan pembukaan lahan secara konvensional dan tradisional. Pembukaan lahan ini tidak mencerminkan sense of responsibility sehingga dampak seriusnya dirasakan oleh sebagian besar masyarakat. Tak hanya itu, perusahaan rela melakukan segala cara demi meningkatkan produktivitas kelapa sawitnya. Dalam hal ini lingkungan tempat hidup masyarakat dan utamanya warga Riau, terancam. Dalam hal ini, Indonesia dapat secara sah menuntut perusahaan yang terbukti terlibat dengan tuduhan sebagai usaha untuk melanggar hukum tata kelola lingkungan hidup Indonesia (Septanti, 2013, p. 189).

Patut disayangkan, bahwa respon pemerintah pusat (pemerintah Indonesia) dalam hal ini Presiden baru keluar setelah ada protes diplomatik dari Singapura dan Malaysia serta pemberitaan negatif seputar hubungan kedua negara yang sempat tegang. Presiden dalam kunjungannya kemudian menghimbau seluruh elemen seperti TNI, POLRI, BNPB, dan BPPT agar bekerja sama untuk turut memadamkan titik api yang tersebar di hutan Riau (Maharani, 2 CASA, 1 Hercules, dan 2 Helikopter Dikerahkan Untuk Atasi Kebakaran Hutan Riau, 2013).

Masyarakat lokal juga turut andil dalam melakukan pembukaan lahan secara tradisional. Hal ini yang belum dipahami baik-baik oleh orang yang hidupnya dekat dengan hutan.  Prinsip pengelolaan hutan secara berkelanjutan juga belum mendapat animo yang positif baik dari pemerintah daerah dan perusahaan-perusahaan perkebunan. Akhirnya, hutan dieksploitasi secara berlebihan. Eksploitasi hutan yang tidak terkendali akan memeberi dampak mengerikan.

Kedua dimensi ini merupakan dimensi non-politik namun menjadi sangat penting apabila dikaitkan dengan eksistensi kehidupan manusia dan habitat tempat manusia hidup, maka kedua variabel diatas mutlak harus dilindungi.

Pemerintah sebagai securitizing actor lalu mendeklarasikan urgensi penanggulangan dan posisi negara atas isu dimaksud. Dalam kunjungannya ke Pekanbaru dalam rangka memantau proses penanganan kabut asap, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menetapkan tenggang waktu selama tiga minggu (Asril, Presiden: Api di Riau Harus Padam dalam Tiga Minggu, 2014).

Opsi yang dimiliki Indonesia ialah mengetahui perusahaan yang terbukti terlibat aksi pembakaran hutan. Sayangnya belum banyak NGO yang mengangkat urgensi isu ini, menjadikan sekuritisasi tidak sepenuhnya dilakukan. NGO yang memberikan perhatian terhadap penanganan kebakaran hutan masih terbatas pada WALHI semata (Utomo, 2013).

Proses hukum yang berjalan masih dalam tahap mengumpulkan bukti dan berkas yang telah lengkap baru akan diajukan ke pengadilan. Belajar dari pengalaman Indonesia berhadapan dengan suatu perusahaan multinasional yang bermarkas di Denver, US, yakni PT Newmont Minahasa Raya; pemerintah memiliki kesempatan untuk menuntut perusahaan yang terbukti melakukan pembakaran hutan dengan tuntutan perusakan reputasi Indonesia di dunia internasional sekaligus ganti rugi atas dampak negatif ke seluruh warga Riau.

Kesimpulan

Dinamika pengelolaan lingkungan hidup dengan negara berkembang masih menuai sejumlah persoalan di tingkat grass root. Pemerintah daerah sebagai pihak yang mengeluarkan izin melakukan kelalaian dalam mengawasi pengelolaan hutan secara lebih bertanggung jawab dan ramah lingkungan. Edukasi terhadap masyarakat di Riau pun belum cukup memberikan dampak signifikan dalam menekan angka pembukaan lahan dengan cara tradisional. Di sisi lain pemerintah pusat belum sepenuhnya memiliki langkah preventif dalam mencegah dan mengawasi ijin penggunaan hutan. Akibatnya adalah kasus kebakaran hutan selalu menjadi persoalan rutin pemerintah Indonesia. Dampaknya semakin meluas ke negara-negara tetangga sehingga permasalahan ini menjadi permasalahan kawasan yang menuntut penyelesaian dan kesepakatan bersama antara negara host dan negara home dari perusahaan multinasional. Meskipun demikian, penegakan hukum harus tetap berjalan. Perusahaan yang terbukti melakukan perusakan hutan harus mengganti rugi dampak negatif yang diderita oleh masyarakat Riau secara keseluruhan, sementara oknum yang terbukti bersalah harus segera diproses secara hukum. Bukan hal yang mudah bagi suatu Indonesia untuk mengatasi masalah ini di tengah-tengah kendala yang ditemui di lapangan seperti topografi dan sumber air yang sulit ditemukan di lokasi. Namun apabila pada pemerintahan sebelumnya, era sebelum 1997, Indonesia terbukti berhasil menekan angka kebakaran hutan, mengapa sekarang tidak bisa. Padahal teknologi dan informasi seyogyanya mempermudah manusia untuk mengatasi masalah kabut asap tersebut.

Bibliography

Anna, K. K. (2013, Juni 25). Bahaya Kabut Asap Paling rentan pada Anak. Retrieved Maret 20, 2014, from Kompas.com: http://health.kompas.com/read/2013/06/25/1428131/Bahaya.Kabut.Asap.Paling.Rentan.pada.Anak

Asdiana, M. (2013, Juni 21). Gara-gara Asap, Wisman Tunda Kunjungan ke Batam. Retrieved Maret 20, 2014, from Kompas.com: http://travel.kompas.com/read/2013/06/21/1445022/Gara-gara.Asap.Wisman.Tunda.Kunjungan.ke.Batam

Asril, S. (2014, Maret 19). 10 Pesawat Amfibi dari Rusia Dikerahkan untuk Atasi Kebakaran Hutan. Retrieved Maret 20, 2014, from Kompas.com: http://nasional.komps.com/read/2014/03/19/1944165/10.pesawat.Amfibi.dari.Rusia.Dikerahkan.untuk.Atasi.Kebakaran.Hutan

Asril, S. (2014, Maret 19). Presiden: Api di Riau Harus Padam dalam Tiga Minggu. Retrieved Maret 20, 2014, from Kompas.com: http://nasional.kompas.com/read/2014/03/19/1703171/Presiden.Api.di.Riau.Harus.Padam.dalam.Tiga.Minggu

Buzan, B., Waever, O., & de Wilde, J. (1998). Security: A New Framework for Analysis. London: Lynne Rienner Publishers, Inc.

Djumena, E. (2013, Juni 27). Ini Perusahaan yang Lahannya Mempunyai Titik Api Terbanyak. Retrieved Maret 20, 2014, from Kompas.com: http://bisniskueangan.kokmpas.com/read/2013/06/27/1217180/Ini.Perusahaan.yang.Lahannya.Mempunyai.Titik.Api.Terbanyak

Gatra, S. (2013, Juli 1). Kabareskrim: Satu Perusahaan Diindikasi Bayar Warga untuk Bakar Lahan riau. Retrieved Maret 20, 2014, from Kompas.com: http://nasional.kompas.com/read/2013/07/01/1231079/Kabareksrim.Satu.Perusahaan.Diindikasi.Bayar.Warga.untuk.Bakar.Lahan.Riau

Mada, K. R. (2013, Juni 21). Kabut Asap di Batam Semakin Tebal. Retrieved Maret 20, 2014, from Kompas.com: http://regional.kompas.com/read/21/06/2013/1615347/Kabut. Asap.di.Batam.Semakin.Tebal

Maharani, D. (2013, Juli 2). 1 Perusahaan Jadi Tersangka Pembakaran Lahan riau. Retrieved Maret 20, 2014, from Kompas.com: http://nasional.kompas.com/read/2013/07/02/2054171/1.Perusahaan.Jadi.tersangka.Pembakaran.Lahan.Riau

Maharani, D. (2013, Juni 21). 2 CASA, 1 Hercules, dan 2 Helokopter Dikerahkan Untuk Atasi Kebakaran Hutan Riau. Retrieved Maret 20, 2014, from Kompas.com: http://nasional.kompas.com/read/2013/06/21/0223535/2.CASA.1.Hercules.dan.2.Helikopter.Dikerahkan.untuk.Atasi.Kebakaran.Hutan.Riau

Maharani, D. (2013, juni 21). Ini Sebab Kabut Asap Hutan Riau Selimuti Singapura. Retrieved Maret 20, 2014, from Kompas.com: http://sains.kompas.com/read/2013/06/21/174577/Ini.Sebab.Kabut.Asap.Hutan.Riau.Selimuti.Singapura

Parlina, I. (2014, Maret 14). Haze halts flights in Sumatra, 3 men nabbed. Retrieved Maret 20, 2014, from The Jakarta Post: http://www.thejakartapost.com/news/2014/03/14/haze-halts-flights-sumatra-3-men-nabbed.html

Patnistik, E. (2013, Juni 21). Kabut Asap Singapura Catat rekor, Jadi Makin Berbahaya. Retrieved Maret 20, 2014, from Kompas.com: http://internasional.kompas.com/read/2013/06/21/1132335/Kabut.Asap.Singapura.Catat.Rekor.Jadi.Makin.Berbahaya

Patnistik, E. (2013, Juni 27). Malaysia tekan Indonesia Atasi Krisis Asap. Retrieved Maret 20, 2014, from kompas.com: http://internasional.kompas.com/read/2013/06/27/1432599/Malalysia.tekan.indonesia.Atasi.Krisis.Asap

Patnistik, E. (2013, Juni 21). Singapura Janji Beri Sanksi Perusahaan yang Terlibat Kebakaran Hutan. Retrieved Maret 20, 2014, from Kompas.com: http://internasional.kompas.com/read/2013/06/21/0907444/Singapura.Janji.Beri.Sanksi.Perusahaan.yang.Terlibat.Kebakaran.Hutan

Rangkuti, S. (2013, Juni 21). 3.700 Hektar Lahan dan Hutan di Riau Terbakar. Retrieved Maret 20, 2014, from Kompas.com: http://regional.kompas.com/read/2013/06/21/1646479/3.700.Hektar.Lahan.dan.Hutan.di.Riau.terbakar

Septanti, d. (2013). Straddling between Environmental seciritzation and Desecuritization. Global & Strategies July – December 2013, 183-192.

Utomo, Y. W. (2013, Juni 21). Kabut Asap, Ironi Kejayaan Sawit Indonesia. Retrieved Maret 20, 2014, from Kompas.com: http://sains.kompas.com/read/2013/06/21/1518308/Kabut.Asap.Ironi.Kejayaan.Sawit.Indonesia

 Terms and condition applied

Please address the appropriate and constructive comment into our comment box in JurnalPhobia or contact us as follows:

interested to read more, please refer to our Volume 01/ No. 03/ 20 March 2013 with its download link

Best regards,

JurnalPhobia Team