A FUNCTIONAL THEORY OF INTERNATIONAL REGIMES


Review : A Functional Theory of International Regimes by Robert O Keohane

“A Functional Theory of International Regimes”

Artikel Robert Keohane: A Functional Theory of International Regimes, menyatakan rezim internasional sangat fungsional untuk memfasilitasi terjadinya tawar menawar serta mengantarkan terjadinya negosiasi kepentingan-kepentingan dimana rezim merupakan effective tool supaya perjanjian antaraktor state lebih mudah diciptakan melalui adanya koordinasi kolektif dan kerjasama yang efektif. Dalam koordinasi dan kerjasama tersebut, tentunya, tidak ada member suatu rezim yang diuntungkan sepenuhnya, begitupun sebaliknya tidak ada yang benar-benar dirugikan karena selalu tersedia alternatif yang pada tingkat minimum, tidak mengakibatkan terlalu banyak kerugian/ keuntungan bagi salah satu pihak. Karena itu rezim berfungsi mengurangi kerugian dan ketidakpastian legitimate transaksi sekaligus meningkatkan keuntungan illegitimate transaksi sehingga dicapai kesepakatan yang pada tingkat paling minimum terdapat mutual benefit. Hal ini sejalan dengan pernyataan Coase: “actors do not bear the full costs or receive the full benefits of their own actions.” Dengan demikian, rezim dapat dijelaskan dengan bantuan pendekatan Coase (Coase Theorem) yang berbunyi: permasalahan dalam politik internasional dapat diatasi melalui tawar-menawar dan penyesuaian mutual. Hal ini mengarah pada penciptaan beberapa kondisi tertentu, yang paling crucial antara lain government authority, perfect information dan zero transaction costs[1]. Meski demikian, dalam beberapa kondisional Coase theorem mengarah pada simpulan bahwa tidak sebegitu mudahnya menerapkan Coase theorem pada situasi politik dunia.[2] Coase theorem menarasi beberapa isu yang berkaitan dengan fungsional rezim internasional, isu-isu tersebut antara lain legal liability, transaction costs, uncertainty & information dengan beberapa kesulitan yang mengikutinya yaitu asymmetrical information[3], moral hazard[4] dan irresponsibility[5]. Legal liability tidak diciptakan oleh government authority, tapi hal ini tidak menghalangi rezim berkembang meskipun pada kenyataannya bahkan legal liability dibelokkan oleh aksi sovereign states. Rezim memberikan alternatif transaction cost dari suatu kerjasama yang ditawarkan apakah membuatnya jadi lebih sulit atau lebih mudah dalam menghubungkan isu-isu dalam politik internasional. Rezim mengurangi uncertainty & memberi information dalam menjalin kesepakatan internasional. Uncertainty bersifat merugikan,  disebabkan karena perbedaan distribusi informasi yang tidak seimbang, biasanya terjadi dishonest possible behavior; irresponsibilty: member rezim bisa berperilaku inkonsisten dengan komitmen yang tidak mampu mereka beban. Oleh karena itu, diperlukan satu kekuatan dominan untuk membuat member-member tunduk pada prinsip, norma dan rules. Gagalnya sistem pasar merupakan akumulasi dari ketidakseimbangan distribusi informasi termasuk teknologi di dalamnya, rezim dalam hal ini berposisi untuk membuat ketidakseimbangan tersebut berkurang. Idealnya, rezim internasional merupakan government assistant untuk meraih keuntungan yang semula mustahil, karena itu dalam hal ini rezim menjadi important values untuk government. Jelas ini merupakan penjelasan bahwa rezim berfungsi secara fungsional untuk memfasilitasi dan memberi solusi dalam mengatasinya penyimpangan—deviant behavior—yang bisa menyebabkan kondisi ideal berdirinya rezim bisa sama sekali berubah dengan kondisi kontemporer. Dalam hal ini, rezim internasional mutlak diperlukan dan mengandung beberapa nilai dalam dunia internasional antara lain: mengurangi hambatan-hambatan yang disebabkan oleh transaksi internasional dan ketidakpastian di dalamnya, rezim lebih mudah dipelihara daripada diciptakan oleh sebab itu ketika rezim kali pertama diciptakan memberikan keuntungan-keuntungan—yang secara ideal, berlevel simetris[6]. Problem dalam konflik politik internasioal merupakan hal yang tidak dapat dihindarkan begitu pula dalam rezim itu sendiri. Namun, dalam posisi demikian rezim selalu ditempatkan sebagai penengah , dibuatlah berbagai macam rezim yang mengatur sangsi serta peraturan antarmembernya dimana setiap rezim dan rezim yang lainnya merupakan korelasi yang utuh sehingga dapat menciptakan iklim kerjasama yang  kolektif  dan mutual beneficial.

SIMPULAN

Rezim dianalogikan sebagai suatu institusional sosial yang terdesentralisasi[7], memiliki fungsional sebagai tempat tawar-menawar—bargaining—antaraktor state. Dalam kegiatan tersebut, rezim diposisikan untuk memberikan equilibrium balance yang fair dimana tidak terjadi ketimpangan distribusi informasi, ketimpangan moral serta ketidaktanggungjawaban di antara membernya. Rezim lebih dari sekedar merupakan government assistant, rezim juga memiliki nilai-nilai fungsional untuk mempermudah terjadinya agreement yang pada tingkat minimum disepakati oleh kedua pihak[8].

PENDAPAT

Keohane membuat jelas bahwasanya rezim bergerak dan beroperasi di bawah prekondisi situasi yang spesifik: state yang memiliki kepentingan hampir serupa dalam spesifik isu tertentu, selayaknya aktif secara sadar dalam suatu cooperation. Dalam beberapa kondisi, state memang memiliki mutual interest, artinya politik internasional bukan lagi praktik zero-sum game. Namun juga tidak menutup kemungkinan, meskipun state memiliki mutual interest masihkah akan bekerjasama? State berperilaku independen, meskipun keberadaan dari mutual interest tersebut adalah esensial, namun tidak cukup untuk menjadi fondasi pondasi menjalin kooperasi.[9]


[1] Namun, dalam konteks politik internasional yang real dan anarkis, kondisi ini sulit dijelaskan dalam perspektif tersebut.

[2] Karena Coase theorem gagal menjelaskan dasar game theory dengan lebih dari dua aktor dan oleh karena itu tidak menjamin stable condition yang berlangsung terus menerus karena pada dasarnya akan selalu timbul konflik yang bersumber pada dilemmas of colective actions

[3] Ketidakseimbangan distribusi informasi yang sangat potensial untuk menciptakan kooperasi yang cenderung tidak fair

[4] Kecendurungan untuk berperilku menyimpang dari set of rules yang ada

[5] Kecenderungan untuk tidak konsisten dengan komitmen yang disepakati bersama

[6] tidak sepihak/ sepenuhnya menguntungkan maupun merugikan

[7] Meski cenderung independent, berdiri sendiri, fleksibel dan spesifik; tetapi merupakan suatu kolektivitas yang utuh antara rezim yang satu dan yang lainnya. Sehingga dapat gabungan rezim dapat memberikan solusi bagi konflik kepentingan antaranggotanya

[8] Sesuai dengan Coase theorem

[9] Artikel:

Keohane, Robert. 2005. After Hegemony—Cooperation and Discord in the World Political Economy. New Jersey: Cambridge University Press. Ch. VI.

Buku:

Andreas Hasenclever, Peter Mayer, and Volker Rittberger. 1997. Theories of International Regimes. Cambridge: Cambridge University Press.

Nincic, Miroslav. 2005. Renegade Regimes: Confronting Deviant Behavior in World Politics.New York: Columbia University Press

Young, Oran R and Marc A Levy. 1999. The Effectiveness International Environmental Regimes. Massachusetts: Massachusetts Institute of Technology.

About JurnalPhobia

Graduate of International Relations of Airlangga University currently master candidate in Gadjah Mada University

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s