Hegemonic Stability Theory and the Incomplete Decline of Hegemonic Regimes


“Hegemonic Stability Theory & The Incomplete Decline of Hegemonic Regimes”

Pada awal perkenalan rezim internasional dikemukakan teori yang merupakan kontribusi terpenting pada awal kelahiran rezim internasional, salah satunya ialah “Teori Hegemonic Stability-Neorealis” yang berbicara tentang eksistensi kekuatan aktor dominan yang menentukan dan mempengaruhi norms, principles, dan rules struktur internal suatu rezim sekaligus memaksa—impose anggotanya patuh pada peraturan dengan penyesuaian-penyesuaian dari kekuatan hegemoni tersebut. Dalam beberapa rezim yang sangat tergantung pada kekuatan hegemoni misalnya rezim moneter (e.g.IMF), rezim perdagangan (e.g.GAAT&EEC), dan rezim minyak (e.g.OPEC&IEA), aktor hegemoni cenderung mendapat maximum profit dengan menginduksi rezim yang ada meskipun pada kondisi tertentu kekuatan hegemoni dituntut berperan besar untuk menyediakan public good bagi semua member dengan konsekuensi adanya free riders. Sebagai akibatnya, jika aktor hegemoni tadi mengalami penurunan—decline, tentu saja membawa perubahan dan dampak signifikan, baik dalam hegemonic system yang telah berjalan maupun dalam hegemonik rezim international. Satu-satunya hegemoni dunia utamanya dalam ekonomi global adalah Amerika, dengan kapabilitas ekonomi dan politiknya membentuk ekonomi politik internasional yang cenderung kapitalis dan menyediakan insentif bagi negara pengikut kapitalisme globalnya; dominansi kapitalisme yang mengglobal membuat Amerika menjadi satu-satunya negara yang berpotensi menjadi hegemon dunia internasional, khususnya dalam ekonomi politik internasional. Sebagai respon Amerika telah melakukan peran hegemoninya selama beberapa dekade yang tentu saja pada waktu berjalan mempengaruhi sekaligus mengakibatkan perubahan pada rezim-rezim yang dibentuknya—sebagaimana penjelasan teori hegemonic stability mengenai peranan fungsional hegemon pada rezim internasional: perubahan pada rezim moneter internasional mengarah pada pembentukan IMF berdasarkan naskah Bretton Woods, berimplikasi pada penumpukan dollar hingga terjadi rush dollar pada akhirnya kesepakatan Bretton Woods pun terpaksa ditinggalkan; penurunan tarif dan less strict rules pada GATT memicu pasar bebas dan industri berkembang pesat; dan berbeda dengan rezim moneter dan rezim perdagangan yang dirumuskan dengan kesepakatan konferensi internasional, rezim minyak tetap eksis karena ada harapan-harapan dan asymmetries information di antara produsen minyak Timur Tengah. Kegagalan Amerika menggunakan hegemoninya dalam menstabilkan dollarnya serta mengatasi krisis minyak di tahun 1970, menjustifikasi bahwa hegemoni Amerika tidak lagi sufficient membuat penyesuaian-penyesuaian yang diperlukan masyarakat dunia seperti awal pembentukan rezim di tahun 1940-1950an, utamanya dalam konteks ekonomi politik internasional. Hal ini mengakibatkan hegemoni Amerika pelan-pelan melemah—menurun—dalam ekonomi politik internasional, sehingga rezim internasional  pun harus bekerja keras menggantikan fungsi fundamental (milik) hegemoni. Sebagian fungsi fundamental hegemoni mungkin bisa digantikan—replaceble, tapi beberapa fungsi fundamental hegemoni yang lain mungkin tidak dapat digantikan, hal inilah yang membuat hegemonik rezim menjadi incomplete disamping mengalami penurunan karena ia harus independen tanpa hegemoni yang tadinya ada. Walaupun demikian, kooperasi internasional masih mungkin terjadi[1] meskipun tidak semudah pada awal ketika hegemoni masih ada, ini tidak sesuai dengan teori hegemonic stability karena berdasarkan teori tersebut rezim akan runtuh sepeninggal hegemoni dan fungsi fundamentalnya dalam mempertahankan rezim. Sehingga dari uraian di atas dapat ditarik garis besar bahwa teori hegemonic stability menjadi partially correct-partially wrong.

SIMPULAN

Pada masa postwar, Amerika dikenal sebagai aktor hegemoni yang memegang peran dan kontribusi besar bagi pengikut kapitalisme globalnya: Jepang dan Inggris (Eropa). Dari ide Amerika, muncul dan berkembang berbagai rezim internasional yang secara signifikan diciptakan guna mendukung kepentingannya karena di dalamnya secara tidak langsung Amerika membuat penyesuaian-penyesuain tertentu dan memaksa yang lain mengikutinya. Jika pada suatu kondisi Amerika unable untuk menciptakan penyesuaian dalam rezim guna mendukung ekonomi politik internasional, maka hegemoni Amerika tidak lagi essential. Kegagalan Amerika melakukan fungsi hegemon membawa perubahan kompleks pada hegemonic regime (IMF, GATT-EEC, OPEC-IEA) menyebabkan pergeseran—shifting—pada rezim minyak, rezim moneter, dan perdagangan & tariff—komponen utama International Political Economy. Penurunan pada rezim yang telah dibuat pada tahun 1940-1950an disebabkan incapabilities to replace the hegemonic role provided by US. Tetapi, hal tersebut tidak sepenuhnya didukung bukti bahwa kooperasi internasional menjadi tidak mungkin dipertahankan dan dibentuk karena sebaliknya pada era 1970 ketika hegemoni turun justru muncul rezim baru—IEA—meskipun tidak sefungsional GATT dan IMF saat itu[2]. Ini yang meleset dari penjelasan oleh teori hegemonic stability.

OPINI

Amerika merupakan simbol dari old regime yakni ketidakmampuan Amerika dalam menyusun penyesuaian dalam rezim minyak—rezim minyak berpengaruh pada dua rezim internasional yang lain karena kebutuhan minyak berhubungan langsung dengan kegiatan perdagangan dan keuangan—sehingga berakibat krisis. Teori hegemonic stability yang merupakan kombinasi natural dari kooperasi dan kontrol dalam usaha untuk menciptakan kooperasi tanpa hegemoni sebenarnya merupakan pandangan yang idealistik[3] karena mempunyai beberapa kegagalan. Kelemahan pada teori hegemonic stability adalah ia gagal menjelaskan mengapa rezim internasional minyak tidak didirikan sebelum tahun 1974 sebagaimana gagal menyediakan cukup penjelasan tentang perubahan pada rezim moneter internasional[4] dan munculnya rezim baru IEA.


[1] Keohane. After Hegemony: Cooperation and Discord on World Political Economy. p. 183.

[2] Idem.

[3] Fred Hirsch andf Michael Doyle, Alternatives to Monetary Disorder, New York: McGraw Hill for the Council of Foreign Relations, 1977, p.2

[4] SUMBER

Keohane, Robert. 2004. After Hegemony: Cooperation and Discord in World Political Economy. New Jersey: Princeton University Press. Chapter 9.

Andreas Hasenclever, Peter Mayer, and Volker Rittberger. 1997. Theories of International Regimes. Cambridge: Cambridge University Press.

About JurnalPhobia

Graduate of International Relations of Airlangga University currently master candidate in Gadjah Mada University

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s