HEGEMONY AFTER WAR


“HEGEMONY AFTER WAR: US’S ROLE ON INTERNATIONAL POLITIC”

Pembentukan awal rezim internasional mulanya lahir karena keberadaan kekuatan hegemoni yang merupakan faktor dominan penting dalam menciptakan iklim supaya rezim dipatuhi oleh anggotanya sebab dilengkapi oleh seperangkat norms, principles, dan rules dalam decision making yang mengijinkan tiap anggota rezim untuk mengontrol perilaku anggota yang lain. Mengingat pentingnya hegemoni dalam rezim yakni memberi kontribusi positif bagi terciptanya lebih banyak agreement yang dipayungi oleh rezim internasional, adanya kekuatan hegemoni juga menjadi sumber konflik dalam politik internasional yang cenderung anarkis dan didasarkan pada self-egoistic individuals karena adanya hegemoni justru menciptakan penyimpangan sehingga membuat rezim menjadi bias. Salah satu kekuatan hegemoni yang momentous ialah peranan Amerika dalam politik internasional sekaligus hubungan internasional, salah satu studi kasus penting adalah usaha Amerika dalam memenuhi kebutuhan minyak industrinya adalah dengan menciptakan rezim internasional baru[1] dengan mengumpulkan anggotanya yang terdiri dari produsen minyak dunia sekaligus melakukan kontrol terhadap harga minyak agar selalu stabil dan menguntungkan pihak dominan sekaligus mengurangi uncertainties sekaligus mendorong lebih banyak kooperasi yang menguntungkan partner Amerika dan mengurangi transaction costs. Rentang tahun 1977, Amerika saat itu memiliki peran penting di daerah Atlantik Utara; menjaga kestabilan kapitalisme internasional merupakan norm yang dianut Amerika sehingga ketika Amerika membuat rezim sekaligus memaksakan ideologi hegemoni Amerika maka dari itu Amerika cenderung menanamkan sumberdaya dalam mendirikan international arrangement—penyusunan internasional dengan peraturan yang telah disepakati dan diketahui sebelumnya sekaligus formasi dari rezim internasional menjamin legitimasi adanya perilaku standard yang dimainkan oleh aktor hegemoni dalam menjaga efektivitas rezim. Tentu saja masuk akal bagi Amerika jika kemudian Amerika mengikatkan diri dalam rezim sekaligus mendorong weaker states untuk menyetujui dan mengikuti kepemimpinan Amerika. Setelah perang dunia II Amerika memantapkan perannya sebagai kekuatan dominan utama dalam ekonomi politik dunia untuk menciptakan hegemoni yakni mendapatkan influence effect[2] dalam memasok bahan baku dari negara-negara lain: (1) sistem moneter internasional yang stabil—untuk memfasilitasi perdagangan internasional yang liberal, (2) menyediakan povisi pasar terbuka, (3) kemudahan akses minyak pada harga yang stabil—perusahaan amerika berusaha untuk menyediakan minyak ke Eropa, Jepang serta Timur Tengah.

Studi Kasus

Studi kasus penanaman hegemoni Amerika Serikat pada lapangan perdagangan meliputi empat hal yaitu: usaha amerika untuk mengontrol minyak Arab antara 1943-1948, yang meliputi Anglo-American Petroleum Agreement di 1943-45; the sterlingdollar oil problem of 1949-50; British dan intervensi Amerika di Iran antara 1951-1954, termasuk pembentukan Iranian Consortium di tahun berikutnya; Emergency Oil Lift Program yang merupakan implementasi United States terhadap invasi Anglo-French pada Mesir di 1956. Beberapa kasus di atas secara langsung maupun tidak telah menunjukkan dominasi Amerika dalam minyak internasional yang diyakini merupakan produk dari pemerintah amerika bekerja sama dengan pihak perusahaan besar yang berkepentingan yang biasanya pemerintahlah yang memegang kendali. lebih jauh, pengawasan kontrol minyak merupakan sumber politik bagi Amerika bekerjasama dengan Eropa sebagai mitra utama Amerika dalam politik internasional.

SIMPULAN

Barangkali jelas jika Amerika serikat sebenarnya memainkan peran kepemimpinan hegemoni selama tahun 1950 meskipun Amerika belum sepenuhnya mendikte arah—utamanya dalam rezim perdagangan dan perjanjian—politik internasional. Walaupun demikian secara tidak langsung Amerika mempunyai beragam cara dalam menyediakan insentif  perdangan dan moneter utamanya dalam kasus fenomenal dimana Amerika berusaha untuk menanamkan dominasi pada pasar minyak di Timur Tengah dan beberapa negara lain di dunia. Adanya rezim merupakan wadah utama bagi pemerintah Amerika untuk memfasilitasi perusahaan besarnya untuk berkembang dan mendapatkan pasar liberal yang bebas dan kapitalis dalam politik internasional.

OPINI

Meski pada awal pembentukan rezim mutlak selalu didasari adanya kekuatan hegemoni dominan yang mempermudah rezim untuk menerapkan beragam peraturan supaya ditaati oleh member-membernya. Adanya kepentingan hegemoni dalam rezim merupakan hal yang tidak bisa diabaikan, namun pada dasarnya kekuatan hegemoni bukan merupakan fundamental utama dalam menjaga eksistensinya karena absennya hegemonic stability tidak menyebabkan suatu internasional regimes runtuh dikarenakan absennya hegemoni bisa digantikan oleh functional rezim antara lain: menyediakan symmetries information, reducing transaction cost, providing certaintisi dan regime as problem solving to create agreements  that would give benefit at the lowest level.

SUMBER

Keohane, Robert. 2004. After Hegemoni: Cooperation and Discord in World Political Economy. New Jersey: Princeton University Press


[1] Pada waktu sebelumnya, rezim tentang minyak belum diciptakan

[2] dengan menggunakan tiga hal penting: produktivitas dalam manufaktur dan kontrol terhadap sumberdaya modal, pasar dan bahan baku

About JurnalPhobia

Graduate of International Relations of Airlangga University currently master candidate in Gadjah Mada University

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s