International regimes: lessons from inductive analysis by D Puchala and R Hopkins “Int’l Regimes: lessons from inductive analysis”


Review : International regimes: lessons from inductive analysis by D Puchala and R Hopkins

“Int’l Regimes: lessons from inductive analysis”

Berdasarkan artikel-artikel sebelumnya—“Words can hurt you: or, who said what to whom about regime”& “Int’l regimes as intervening variables”: Krasner & Haas, mempelajari rezim dilakukan dengan mengambil pengertian umum yang telah disetujui oleh hampir banyak sarjana hubungan internasional; rezim sebagai seperangkat set yang di dalamnya terdapat norma-norma, asas-asas, peraturan serta decision making prosedure. Keempatnya mutlak diperlukan guna bisa menjelaskan apakah suatu hal bisa disebut sebagai rezim atau tidak. Misalnya, dalam menganalisa ada tidaknya sebuah rezim dalam suatu badan internasional (sebut organisasi internasional), maka ada dua perspektif  yang jelas berbeda digunakan: organisasi internasional dilihat dari kegiatannya, serta organisasi internasional yang dilihat dari sudut pandang sebagai sebuah rezim. Berbicara demikian, rezim sering identik dengan hal yang spesifik, maka dalam mengenali suatu rezim dan mempelajarinya adalah dua hal yang berbeda. Dalam analasis deduktif, mengidentifikasikan sebuah rezim hampir mirip dengan identifikasi “sistem” sebagai bagian dalam hubungan internasional, dimana kemudian kita mengenal sistem dari aktor-aktornya, dampak yang diakibatkannya, perilakunya serta institusi-institusi yang dibentuknya. Oleh karena itu, mengenali rezim disertai dengan kemampuan untuk meramalkan, kemudian merumuskan norma apa yang mendominasi decision making procedures dalam rezim, asas-asas apa yang menjadi karakter (ciri-ciri) rezim tersebut. Tidak kalah penting, mengenali suatu rezim juga dilakukan dengan mengenali aktor-aktornya, menganggap rezim sebagai suatu tool, serta yang terakhir adalah mengenali regime behavior. Kemudian dijelaskan bahwa beberapa rezim berada di bawah institusi internasional, organisasi non-government dan diawasi oleh birokrasi tertentu: baik pemerintah maupun institusi lebih tinggi; oleh karena itu disebut formal regime. Sedangkan rezim yang berada didalam suatu perkumpulan secara kolektif; disebut rezim informal. Di bawah institusi-institusi tersebut, rezim ikut berubah jika salah satu perangkatnya utamanya berubah: norms atau principles. Adapun rezim berkembang dengan dua cara: evolutionary&revolutionary[1].

Lebih lanjut, jika D Puchala & R Hopkins menggunakan term colonialism untuk menjelaskan praktik rezim dan menguraikan norma-norma yang menjadi religion of colonial, maka saya mengambil kutipan lain. Berdasarkan buku oleh Oran Young&Marc A Levy: The Effectiveness of Int’l Environmental Regimes, mengambil contoh suatu rezim yang dinilai paling sukses daripada rezim-rezim yang lain adalah rezim tentang lingkungan (international environmental regimes). Dikarenakan rezim lingkungan membawa dampak lebih besar pada anggota-anggotanya daripada rezim-rezim yang lain;  begitupula, rezim lingkungan lebih banyak mencetuskan kegiatan-kegiatan (actions & behavior) sehingga lebih mudah mempelajari dan mengenali rezim tersebut. Beberapa hal yang menjadi karakter rezim lingkungan ialah, adanya standarisasi yang mesti ditaati bersama oleh anggota-anggotanya. Misalnya, ada kesepakatan bersama bahwasanya state harus mendukung konservasi lingkungan hidup dengan menggalakkan perekonomian dan perindustrian berbasis lingkungan di mana industri-industri yang berkembang harus memiliki standar internasional (ISO 14000-14001) dalam proses poduksinya: artinya harus ramah lingkungan. Dengan demikian, rezim pada umumnya memiliki sifat spesifik, hal ini selaras dengan kutipan dari D Puchala & R Hopkins: “No international regimes command universal adherence.” Lalu muncul pertanyaan, apakah rezim bisa disebut juga sebagai suatu institusi sosial? Menurut saya, rezim tidak bisa disebut juga sebagai institusi sosial (social institution), melainkan dalam social institution terdapat rezim yang berisikan norma dan asas-asas dasarnya. Hal ini selaras dengan kutipan O. Young: “(even) social institution consisting of agreed upon principles, norms, rules, procedures and programs that govern the interactions of actors in specific issue areas.”

MENGENALI NORMA DAN ASAS-ASAS SUATU REZIM

Tidak mudah mengidentifikasi norma apa saja yang dianut dalam suatu rezim, begitupula dengan asas-asas dasarnya, layaknya mencari jarum di tumpukan jerami dimana norma dan asas rezim bisa hampir mirip dan mungkin tertukar satu sama lain. Hal ini, menyulitkan untuk dilakukan dan membutuhkan lebih dari sekedar ketelitian maka diperlukan pemahaman kuat tentang apa itu norma dan apa itu asas-asas (principles). Norma ialah standar perilaku yang menjelaskan adanya keharusan dan kewajiban. Sedangkan principles ialah suatu standar yang didalamnya terkandung fakta, penyebab dan rectitude yang diyakini secara kolektif. (Krasner 1982: 186). Kemudian, apakah norma dan principles bisa dijadikan indikator kuat atau lemahnya suatu rezim? Dikutip dari A Hasenclever dkk, bahwa rezim dianggap kuat jika memiliki dua hal yakni: effektifitas dan barometer loyalitas anggota-anggotanya untuk menaati semua norma dan tidak melanggar prinsip-prinsip dasar yang telah disepakati bersama. Contoh prinsip-prinsip dasar yang (telah/pernah) dianut dunia internasional: konsep balance of power, konsep kejayaan suatu state yang diukur dengan kuantitas teritori jajahannya (expansion), konsep kejayaan diukur dari kuantitias emas, konsep kedaulatan (sovereign & self determination), tidak ada campur tangan internasional dalam urusan dalam negeri suatu state dan banyak lainnya. Dalam artikel D Puchala& R Hopkins, menyebutkan beberapa norma yang seakan-akan disama artikan dengan principles, dimana seharusnya dua hal tersebut benar-benar berbeda. Menurut hemat saya, norma kolonialisme adalah memenuhi kebutuhan ekonomi&industri negara merkantilis, sedangkan prinsip yang dianut adalah konsep balance of power dan barometer kejayaan yang diukur berdasarkan kuantitas emas.

KESIMPULAN

Berdasarkan uraian diatas, saya berkesimpulan bahwasanya: rezim tidak semata-mata berbentuk badan internasional besar dan mendunia, misalnya UN, NATO, dan CIS (Commonwealth of Independent State milik Rusia), juga tidak semata-mata organisasi regional: European Union & ASEAN. Namun demikian, menurut saya juga tidak melepas kemungkinan bahwasanya dalam suatu badan internasional dunia menganut beberapa rezim yang menyusun sistem yang terdapat dalam badan tersebut. Rezim akan lebih mudah dikenali pada suatu badan lingkungan yang menjelaskan sifat rezim yang spesifik, utamanya, sebagai contoh: Greenpeace dan ISO. Contoh riil sebuah rezim yang sukses (baca: rezim kuat) beberapa lama pada masanya ialah: The Antartic Treaty (menekan eksploitasi, tapi membuka akses untuk penelitian dan penyelidikan ilmiah di kutub Selatan)&The Ozone Regime (berusaha untuk menekan produksi dan konsumsi chlorofluorocarbons—CFCs). Melakukan analisa pada suatu rezim, harus teliti dan paham betul dalam meletakkan bahwasanya norma dan principles adalah dua hal yang berbeda, oleh karena itu jangan sampai tertukar satu sama lain.

SOURCE

Artikel:

Krasner, Stephen. 1982. International Regimes. Cornell University Press

Buku:

Andreas Hasenclever, Peter Mayer, and Volker Rittberger. 1997. Theories of International Regimes. Cambridge: Cambridge University Press.

Young, Oran R and Marc A. Levy. 1999. The Effectiveness International Environmental Regimes. Massachusetts: Massachusetts Institute of Technology.


[1] Evolutionary: jika members sepakat untuk merubah interests&rules karena ada pengetahuan dan informasi baru; Revolutionary: jika memberi yang merasa dirugikan akan berusaha merubah norma&principles di dalam rezim supaya menguntungkan mereka, hal ini menyebabkan power transition dan biasanya terjadi pada diffuse regime

About JurnalPhobia

Graduate of International Relations of Airlangga University currently master candidate in Gadjah Mada University

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s