Review : coordination and collaboration: regime in anarchic world by Arthur Stein “Coordination and Collaboration: Regime in Anarchic World”


Review : coordination and collaboration: regime in anarchic world by Arthur Stein

“Coordination and Collaboration: Regime in Anarchic World”

Artikel Arthur Stein: Coordination and Collaboration: Regime in Anarchic World, menyatakan bahwa dalam patterns of orders dunia internasional politik, istilah rezim digunakan seolah-olah sebagai nama lain untuk organisasi internasional; dimana state of nature bersifat anarkis, rezim berfungsi sebagai effective tool untuk menjelaskan state behavior dalam politik internasional yang demikian. Sebagaimana suatu internasional institution, rezim lebih banyak dipengaruhi dan digerakkan oleh faktor struktural internal sehingga berpotensi sebagai sumber konflik atau nonkonflik, sangat bergantung pada aktor-aktornya, apakah mereka sanggup atau tidak menciptakan equilibrium—keseimbangan yang stabil. Istilah equilibrium ini mengandung banyak arti yang menjelaskan berbagai kondisi hubungan atau interaksi antarnegara dalam perspektif politik internasional yang selalu anarkis dan terus menerus terbentuk karena self-interested decision making. Kondisi tersebuat antara lain: pertama, equilibrium tercipta karena kedua aktor sama-sama sepakat pada satu outcome dimana kedua aktor memiliki dominant power yang sama, dalam hal ini suatu rezim tidak mutlak dibutuhkan; hal ini berlaku juga pada kondisi kedua meskipun kedua aktor tidak memiliki dominant power; ketiga, equilibrium tercipta oleh individualistic self-interestesd decision making yang menyebabkan salah satu aktor diuntungkan diatas aktor lain yang dirugikan meskipun keduanya memiliki dominant power yang sama, dalam hal ini suatu rezim kemudian dibutuhkan. Akibatnya, kondisi ketiga menghasilkan dilemmas of common interests dan aversion. Pertama, dilemmas of common interests timbul ketika pembuatan keputusan independen mengakibatkan hasil equilibrium yang bersifat PARETO—yakni outcome dimana aktor-aktornya memilih satu-satunya equilibrium yang ada—dilemma of common interests meyediakan satu equilibrium alternatif, sebagai contoh adalah prisoner dilemma. Solusinya adalah koordinasi antaraktor rezim mutlak diperlukan. Kedua, dilemma of aversions timbul ketika aktor-aktornya sepakat bahwa meskipun mereka tidak memilih outcome yang sama namun setidaknya mereka percaya bahwa ada outcome tertentu—secara kolektif—yang mesti dihindari. Hal ini berangkat dari pengertian dasar bahwasanya dilemmas of common aversions menyediakan equilibrium ganda. Solusinya adalah kolaborasi antaraktor rezim mutlak dibutuhkan. Dimana keduanya—koordinasi dan kolaborasi—merupakan fasilitas untuk menetapkan peraturan yang menyatukan manakala permasalahan muncul. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya kemunculan rezim dapat dipahami karena aktor menjalankan independent decision making dengan tujuan untuk memanage dilemmas of common interest dan common aversions. Lebih jauh, rezim sesungguhnya berdasarkan pada kepentingan—interests sehingga dalam konteks politik internasional rezim diidentikkan sebagai seperangkat tools yang berisi peraturan internasional—international orders. Sebagaimana suatu institusi internasional, rezim lebih banyak dipengaruhi dan digerakkan oleh faktor struktural dasar yang internal maupun ekternal, antara lain: perkembangan pengetahuan, penemuan teknologi dan kemajuan pemahaman dan pemikiran manusia, yang kesemuanya dapat juga mempengaruhi perubahan kepentingan yang memberikan arah pada berbagai bentuk kerjasama internasional dalam suatu rezim. Faktor yang sama, juga dapat menjelaskan bagaimana suatu rezim kemudian dipelihara, berubah sampai akhirnya pudar.

SIMPULAN

Rezim merupakan kompleksitas yang rumit dari suatu institusi internasional sangat bervariasi disebabkan oleh faktor strukturalnya. Karena perkembangan teknologi dan pengetahuan serta kemajuan berpikir manusia dapat sangat bervariasi, mau tidak mau rezim juga mesti bervariasi dengan seperangkat international orders yang dimaksudkan untuk menciptakan kolaborasi dan koordinasi diantara aktor-aktornya. Menganalisa bagaimana rezim kemudian dipelihara sampai akhirnya pudar, tidak dapat hanya berdasarkan pada faktor internal dan eksternal saja karena pattern of behavior juga exist dalam rezim. Dalam pattern behavior, equilibrium menjadi hal yang penting baik equilibrium tersebut stabil atau tidak. Dillemmas of common interests dan common aversions merupakan outcome sumber konflik, dalam hal ini rezim merupakan tool yang menjadi solusi permasalahan konflik tersebut.

PENDAPAT

Dari uraian di atas, pokok utamanya adalah rezim merupakan tool yang menciptakan kerjasama: koordinasi dan kolaborasi; yang merupakan solusi dari permasalahan dilemmas of common interest dan common aversions dalam politik internasional yang bersifat anarkis dalam usaha untuk menciptakan keseimbangan. Menurut saya, keseimbangan tersebut bukan hal yang mutlak: keseimbangan dalam figure 1,2 &3 tidak benar-benar kasat mata. Keseimbangan tidak lebih dari sebuah ide yang spontaneous terjadi begitu saja ketika aktor-aktornya sepakat untuk menjalin agreement. Oleh karena itu, saya mengatakan bahwasanya tidak ada suatu rezim yang benar-benar berhasil menyediakan solusi yang decisive dan cepat dalam anarkisme politik internasional. Hal itu disebabkan bahwasanya dunia tidak sepenuhnya bebas—free. International order dalam rezim merupakan idealisme untuk menegaskan seolah-olah aktor-aktor negara dapat diatur, padahal sebenarnya tidak. Aktor-aktor state bergerak semau kepentingan mereka: yang saling  dominan cenderung menentukan peraturan mereka sendiri sedangkan yang lemah dipaksa mengikuti. Dalam situasi yang demikian, pelanggaran dan penyimpangan menjadi hal yang tidak dapat dielakkan. Sepertihalnya kedudukan indonesia dalam OPEC, terus menerus Indonesia harus mengikuti kebijakan OPEC yang sebenarnya lebih banyak merugikan Indonesia, sedangkan jika Indonesia keluar dari member OPEC tentu saja Indonesia akan kehilangan jaringan dengan distributor dan produsen minyak dunia; hal ini bahkan lebih merugikan.[1]


[1] Artikel:

Krasner, Stephen. 1982. International Regimes. Cornell University Press: Arthur Stein. 1982. Collabration and Coordinantion: Regime in  the Anarchic World. Massachusetts: Massachusetts Institute of Technology

Buku:

Andreas Hasenclever, Peter Mayer, and Volker Rittberger. 1997. Theories of International Regimes. Cambridge: Cambridge University Press.

Young, Oran R and Marc A. Levy. 1999. The Effectiveness International Environmental Regimes. Massachusetts: Massachusetts Institute of Technology.

About JurnalPhobia

Graduate of International Relations of Airlangga University currently master candidate in Gadjah Mada University

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s