THE DEMAND OF INTERNATIONAL REGIMES


Review : The Demand of International Regimes by Robert O Keohane

“The Demand of The International Regimes”

Dalam artikel: The Demand of The International Regimes, Robert Keohane menarasikan bahwa rezim dianggap efektif selama  demand—permintaan adanya rezim dalam politik internasional—diperlukan. Namun, hal itu bukan merupakan hal yang mutlak karena disamping itu juga terdapat beragam perbedaan kondisi di mana demand rezim semakin berkurang sebagaimana juga eksis kondisi lain dimana rezim menjadi lebih signifikan meski tanpa kekuatan aktor dominan. Rezim lebih dari suatu yang independen dalam politik internasional yang berperan sebagai fasilitator terciptanya agreement dengan cara menyediakan seperangkat norma, peraturan dan prinsip sekaligus menyediakan informasi yang sufficient, mengurangi aymmetris information, mencakup moral hazzard serta mengurangi ketidakpastian—uncertainties. Rezim lahir guna menciptakan solusi tersebut untuk menyelesaikan masalah di dalam kompleksitas perilaku anggotanya yang spesifik. Rezim lahir ketika ada kekuatan aktor dominan di dalamnya (teori Hegemonic Stability—yang diisukan oleh teori internasional rezim oleh Neorealism[1]), hal ini sesuai dengan pernyataan seorang pakar ekonomi, Charles Kingleberger dalam Great Depression 1929-1939, “for the world economy to be stabilized, there has to be a stabilizer, one stabilizer“.  Selanjutnya ketika kekuatan aktor dominan rezim tersebut berkurang atau berangsur menghilang, maka terdapat demand for regime yang berperan untuk menjaga agar rezim terpelihara. Demand for regime tersebut dapat dijelaskan menggunakan beberapa pendekatan, antara lain:

  1. Systemic constraint-choice analysis—sistem (selalu ada) pilihan-(namun dengan) batasan: menjelaskan perilaku anggota rezim yang tetap bergabung (mereka menganggap hal demikian merupakan minimum rational choice yang dapat mereka dapatkan dalam membership regime) dalam suatu rezim dimana setiap aktor baik yang kuat maupun yang lemah selalu memiliki pilihan meskipun mereka sedikit sekali diuntungkan (istilah ‘sedikit sekali diuntungkan’ inilah yang dimaksud adanya sejumlah batasan tertentu—constraints:constrains dapat didikte dari banyak pengaruh lingkungan baik geografi, keterpaksaan oleh yang lebih kuat) ;
  2. 2. Function of international regimes[2]

Fungsional rezim internasional antara lain: information-providing, reducing transaction cost, dapat memaksakan restriksi sekaligus mengurangi ketimpangan informasi—information-asymmetries sehingga rezim mengijinkan anggotanya untuk saling kontrol perilaku member yang lain. Regime merupakan subtitute jika hegemon dominan mulai decline dalam beberapa fungsinya (mengurangi ketidakpastian, mengurangi transaction cost, dan menyediakan principles—aturan , asas kerjasama dll);

  1. 3. Elements[3] of demand of international regimes

Agreement bisa terbentuk dengan atau ‘tanpa’ adanya rezim internasional, maka agreement yang lahir karena rezim internasional sebenarnya merupakan produk dan konsekuensi kooperasi yang harmoni: zero transaction cost, perfect symmetries information, certainties. Sehingga jika keadaan harmoni tersebut terpenuhi, keberadaan rezimpun tidak lagi dibutuhkan  karena rezim menjadi hal yang tidak efektif[4];

  1. 4. Information and openness

Adanya ketidakseimbangan informasi antara aktor satu dengan yang lain akan menyebabkan unfair bargaining. Selain itu, studi behavioral aktor-aktor rezim mungkin menghasilkan bahwasanya salah satu aktor bisa saling tidak loyal satu sama lain sekaligus tidak berkenan untuk bersikap kooperatif—moral hazzard, sehingga rezim menjadi tidak efektif dan efisien. Adapun nilai moral yang mesti atau sering dianut biasanya adalah realitas. Selain itu, rezim bukan hanya sebagai instrumen yang mengurangi transaction cost, melainkan pula merupakan principles untuk menciptakan responsibility;

  1. 5. Coping with uncertainties: memanajemen ketidakpastian

yang tersebut di atas merupakan ketidakpastian-ketidakpastian yang menyebabkan suatu rezim menjadi efektif sekaligus hampir mutlak diperlukan. Jika rezim dapat mengendalikan (memanage) ketidakpastian yang lain tentu rezim akan terpelihara meskipun keadaan-keadaan yang favorable seperti pada awal pembentukan rezim tidak lagi ada.

KESIMPULAN

Demand rezim akan selalu eksis; jika bersandar pada moral rezim yang berdasar pada realitas, maka kondisi terciptanya kooperasi  yang harmoni adalah jarang. Kondisi yang banyak mempengaruhi sehingga rezim selalu diperlukan dalam politik internasional adalah : supply demand yang inadequate. Sebaliknya, politik internasional tidak lagi membutuhkan rezim jika terjadi pemerataan informasi serta absenny uncertainties yang diikuti oleh distribusi sumber power secara adil pada sesama member rezim.

PENDAPAT

Uraian di atas  menjelaskan sedikit dari sekian banyak variabel-variable penting yang mempengaruhi efektivitas rezim dalam politik internasional. Namun, satu hal yang belum disentuh dalam artikel adalah tentang distribution of power: rezim menjadi perihal yang tidak efektif lagi jika terjadi distribution of power resources equally among its members. Hal ini merupakan analysis dari Olsen’S Collective Action Theory: ‘Hegemonic stability dapat menjadi enhancer terjadinya kooperasi, tetapi terjadinya cooperation tidak selalu memerlukan peran satu kekuatan aktor dominan dalam International regime’. Rezim internasional idealnya mesti memiliki fondasi moral serta nilai-nilai—regime values yang tidak terbatas pada keinginan dan kepentingan aktor yang lebih kuat.

SUMBER

Keohane, Robert. 2004. The Demand of International Regime. New Jersey: Cambridge University Press. Ch. VI.

Keohane, Robert. 2004. After Hegemoni: Cooperation and Discord in World Political Economy. New Jersey: Princeton University Press


[1] OPINI: Pada akhirnya dibantah Keohane (lihat After Hegemony: Cooperation and Discord in The World Political Economy): Keohane tidak megingkari peran penting kekuatan aktor dominan dalam pembentukan rezim, walaupun demikian dijelaskan pula bahwa rezim bisa tumbuh dan berkembang tanpa kekuatan hegemoni. Bahkan suatu contoh rezim bisa diciptakan tanpa kekuatan hegemoni yang dominan: terciptanya rezim International Energy Agency pada tahun 1973 setelah kiris minyak dimana pada rentang waktu 1960-70, Amerika telah pelan-pelan mengurangi perannya sebagai hegemoni politik internasional

[2] OPINI: Selain itu rezim memiliki peran fungsional yang lain: (1) Regime as an Utility Modifier: bagaimana suatu rezim membuat aktor dalam membernya untuk kemudian terpaksa melakukan modifikasi pada beberapa kebijakannya agar sesuai dengan kesepakatan bersama atau pun sesuai dengan common aversions yang diyakini bersama;(2) Regime as a Learning facilitators: rezim gives rise to individual actor khususnya sebagai social institution;(3) Regime as a Bestower of Authority: rezim memiliki otoritas untuk menetapkan peraturan yang menuntut ditaati oleh membernya;(4) Regimes as Enhancers of Cooperation: rezim membuat membernya sepakat untuk menjalin kerjasama pada tingkat minimum keduanya mendapat keuntungan dan tidak dirugikan atas keuntungan dari pihak lain–kondisi pareto optima–sepakat untuk menciptakan equilibrium yang ditawarkan atau yang menjadi alternatif yang diberikan oleh rezim (SUMBER: Young, Oran R and Marc A Levy. 1999. The Effectiveness International Environmental Regimes. Massachusetts: Massachusetts Institute of Technology.)

[3] Elements of international regimes: supply&demand of International regimes; transaction cost—which highly depends on the dense of issues—as has been said the denserà the higher of interdependence and result is the high demand of agreement. The less dense of issueàless interdependence and then less on agreement, or adequate; demand on norms&principles and demand on specific information become less. It is therefore the demand of aggreement is reverse against demand on international regimes.

[4] Oleh karena itu, ketika supply for aggreement, meningkat maka demand for international regime menjadi berkurang—zero level. Begitupun sebaliknya jika kondisi kooperasi harmoni tidak tercapai: highly transaction cost, assymmetries information and uncertainties, maka demand for regime meningkat karena supply aggreement tidak memenuhi–inadequate;

About JurnalPhobia

Graduate of International Relations of Airlangga University currently master candidate in Gadjah Mada University

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s