THE DYNAMIC OF INTERNATIONAL REGIMES


Review : Regime dynamic: the rise and fall of int’l regimes by Oran Young

“Regime Dynamic: the rise and fall of int’l regimes”

Dalam artikel Oran Young: Regime Dynamic: The Rise & Fall of Int’l Regimes, dinyatakan bahwa rezim merupakan institusi sosial sekaligus bentuk struktur sosial yang bergerak berdasarkan spesifik kegiatan tertentu. Karena berupa institusi sosial maka dapat dikenali dengan menganalisa pattern of behavior-nya. Namun demikian istilah rezim tidak terlalu sering digunjingkan dalam sistem dan dunia internasional dan tidak berdiri karena ada perjanjian tertulis tertentu sepertihalnya PBB yang lahir dari Piagam Atlantik, bahkan dalam sistem internasional rezim merupakan bentuk akumulasi kepentingan-kepentingan anggotanya. Oleh karena itu, rezim memiliki bentuk sebagai struktur sosial. Sepertihalnya organisasi internasional memiliki peraturan yang mesti ditaati oleh anggotanya, rezim juga memiliki order, rules, norms, principles dalam pembuatan keputusannya yang disepakati bersama. Seperangkat order tersebut, oleh O Young diistilahkan dengan types of order; terdiri dari spontaneous order[1], negotiated order[2] & imposed order[3] dimana setiap order memiliki karakteristik yang membedakan satu sama lain. Hal ini memberi kontribusi pada penjelasan selanjutnya yakni tentang formasi rezim’. Selain mengalami formasi, rezim juga mengalami transformasi, ditekankan disini bahwasanya rezim bersifat fleksibel artinya berubah secara dinamis menyesuaikan dengan perubahan kepentingan aktor-aktor di dalamnya serta mengikut pengaruh perubahan pada situasi politik, ekonomi dan sosial; sedangkan norma dan asas-asasnya tidak mengalami perubahan adapun jika berubah hal itu berdasarkan kondisi/ syarat-syarat tertentu. Berdasarkan uraian di atas dapat diambil garis besar bahwa rezim bersifat fleksibel karena perubahan-perubahan internal.

Outline dalam artikel Oran Young terdiri dari dua hal utama: regimes as human artifacts, regime formation & regime transformation. Berikut review singkat:

Pengertian regime as human artifacts: bahwa rezim memiliki arti erat dengan perilaku kelompok individual yang ada di dalamnya; berfungsi sebagai insitusi sosial, rezim merupakan konvergensi antara harapan-harapan dan pola perilaku dan praktik anggotanya. Oleh karena itu, kelompok individual tersebut  cenderung merupakan bagian dari sistem sosial daripada sistem natural, menyebabkan rezim memiliki penyimpangan[4] sebagaimana intitusi sosial pada umumnya. Oleh karena tidak ada yang sesuatu yang sempurna, maka dapat dikatakan bahwasanya rezim itu mirip dengan perilaku manusia, dalam hal ini disebut dengan istilah human artifacts.

Pengertian regime dalam regime formation: bahwa rezim dibentuk oleh types of orders. Pertanyaan berikutnya: order mana yang paling signifikan di atas yang lain? Order mana yang mesti dianut lebih dulu dalam rezim? Baik spontaneous order mengarah pada batasan-batasan formal pada kebebasan aktor-aktor individual, meskipun di sisi lain memberikan  dorongan pada bentuk tekanan-tekanan sosial yang effektif. Sebaliknya, negotiated order identik dengan kerugian dan pengenalan yang progresif terhadap pembatasan pada kebebasan individual. Sedangkan imposed orders dibuat untuk keuntungan kekuatan hegemoni yang dominan, menghasilkan output pada kondisi yang berangsur-angsur mengarah pada outcome yang tidak efisien, misalnya kelahiran merkantilis, sistem guild pada feodalisme, kolonialis dan lainnya. Berdasarkan uraian di atas, simpulanny: types of order bisa saling berbenturan satu sama lain. Setiap order memberikan option berbeda bagi setiap kelompok individual, maka manakah yang paling effektif untuk diterapkan adalah tergantung pada keputusan setiap kelompok individu. Oleh karena itu, tidak membuat perbedaan order manakah yang mesti dianut.

Pengertian tentang regime transformation: bahwa transformasi rezim ditentukan oleh perubahan pada tiap-tiap order daripada perubahan pada struktur sistem internasional itu sendiri.

SIMPULAN

Rezim lebih cenderung dilihat merupakan intitusi sosial yang meskipun berdiri dan bergerak secara independen,tetapi harus tetap berada dalam area yang diawasi oleh intitusi di atasnya, misal organisasi internasional. Berbeda dengan organisasi internasional pada umumnya yang didirikan berdasarkan perjanjian tertulis dihadiri oleh sejumlah negara-negara dunia, tidak demikiannya dengan rezim: rezim tidak lahir dari perjanjian besar; oleh karena itu, hal ini pula menyebabkan rezim bertindak secara spesifik. Perilaku suatu rezim membentuk rezim; ditentukan oleh adanya set of orders. Types of order tersebut, merupakan sumber dari transformasi yang terjadi secara internal di dalam rezim itu sendiri. Tranformasi inilah yang menciptakan konflik dan permasalahan sehingga terkadang rezim itu harus bersifat fleksibel: berubah secara dinamis supaya tetap bertahan. Bagi rezim yang tidak dapat melakukan penyesuaian dengan iklim politik, ekonomi dan sosial yang dinamis, mesti harus ditanggalkan karena sudah tidak dibutuhkan.

opini: melakukan analisa terhadap bagaimana rezim itu lahir dan kemudian runtuh, tidak hanya diperlukan satu sudut pandang. Jika organisasi internasional dapat dipandang sebagai sebuah rezim, maka tidak demikian halnya dengan rezim: rezim tidak bisa dipandang sebagai sebuah organisasi internasional. Hal ini yang membuat rezim berbeda dengan rezim, dikarenakan rezim identik dengan institusi sosial yang independen tapi tetap berada dalam area konvensi-konvensi sosial. Hal ini selaras dengan kutipan: “(its) conventionalized behavior or behavior  based on recognizable social conventions”. Menurut saya lebih mudah memberikan pengertian bahwasanya rezim tidak bisa dicampuradukkan dengan bentuk organisasi internasional dikarenakan ruang gerak rezim yang cenderung masih terbatas pada restriksi-restriksi internal yang dibuat dan disepakati bersama. Oleh karena itu, akan lebih mudah memahaminya dengan memandang rezim merupakan bentuk institusi sosial yang bersifat fleksibel dan dinamis, dimana gerakannya dapat disesuaikan dengan perubahan (pengaruh) iklim politik, ekonomi dan sosial faktor-faktor lingkungannya.[5]


[1] Spontaneous order:order yang terjadi begitu saja karena koordinasi yang tidak direncanakan antarpelakunya; muncul karena semakin intensenya interaksi yang terjadi di antara pelakunya

[2] Negotiated order: order dibuat karena direncanakan untuk mendukung provisi mayoritas

[3] Imposed order: (biasanya) dibuat oleh kekuatan dominan; membuat pelaku lain mengikuti melalui keterpaksaan disebabkan karena tidak ada opsi lain kecuali tunduk, koersi, kooptasi dll

[4] Penyimpangan yang dimaksud: bahwa tidak ada sesuatu yang sempurna; disebabkan oleh adanya konflik dan problem antarkepentingan anggota-anggotanya sehingga sering kali rezim memberikan keuntungan pada kelompok individual yang dominan dan sebaliknya membawa disadvantage pada sisa anggota yang lainnya: yang tidak dominan

[5] SOURCE

Artikel:

Krasner, Stephen. 1982. International Regimes. Cornell University Press: Oran Young. 1982. The Regime Dynamic. Massachusetts: Massachusetts Institute of Technology

Buku:

Andreas Hasenclever, Peter Mayer, and Volker Rittberger. 1997. Theories of International Regimes. Cambridge: Cambridge University Press.

Young, Oran R and Marc A. Levy. 1999. The Effectiveness International Environmental Regimes. Massachusetts: Massachusetts Institute of Technology.

About JurnalPhobia

Graduate of International Relations of Airlangga University currently master candidate in Gadjah Mada University

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s