Asean dan Hubungan Internasional dengan negara tetangga


HUBUNGAN INDONESIA DAN AMERIKA SERIKAT

Hubungan antara AS dengan Indonesia terbentuk pada saat revolusi ketika Indonesia masih berjuang mendapatkan kemerdekaan. Dukungan kuar AS diberikan kepada Indonesia hanya pada saat Peristiwa Madiun 1948, ketika pemerintah Indonesia  di bawah ancaman komunis.

Pada saat periode parlementer, ketika Masyumi sedang berkuasa, hubungan antara Indonesia dengan AS dapat dikatakan baik. Suatu prejanjian aliansi militer dengan AS dilaksanakan, akan tetapi tidak bertahan lama. Ketika pemerintahan Indonesia lebih condong ke kiri dan lebih bersifat militant dan nasionalistik, hubungan antara Indonesia dengan AS memburuk. Kelompok-kelompok kepentingan dalam pemerintahan Indonesia yang anti-Soekarno dan anti-komunis mendapatkan bantuan dari AS untuk merobohkan pemerintahan pusat. Namun usaha tersebut gagal dan semakin memperburuk hubungan antara Indonesia dengan AS.

Ketika kudeta pada tahun 1965 gagal dan militer muncul sebagai pemenang. Hubungan antara Indonesia dengan AS membaik. Keadaan ekonomi Indonesia pada saat itu merosot drastis karena percobaan kudeta yang dilakukan. Pada saat itu Indonesia diatafsir mengalami inflasi sampai dengan 900%. Pemerintahan yang baru pada saat itu yang dipimpin oleh Soeharto mempunyai tugas yang berat untuk mendtabilkan perekonomian domestic. Usaha pertama Soeharto pada saat itu adalah dengan meninggalkan politik berdikari Soekarno dan mulai membuka diri untuk dunia luar. Promosi untuk berinvestasi di Indonesia dikeluarkan oleh Soeharto. Indonesia berharap bahwa investasi asing terutama Negara-negara barat akan memperbaiki perekonomian nasional. Pada tahun 1967 Indonesia mengeluarkan undang-undang tentang investasi yang banyak memberikan kemudahan bagi barat. Soeharto juga sangat berharap menerima bantuan dana dari barat. Sehingga pada tahun 1967 dibentuk Inter Governmental Group for Indonesia (IGGI) yang terdiri dari Australia, Jepang, Jerman, Belanda. Inggris, AS. Sampai pada tahun 1973, AS merupakan penyumbang dana terbesar dalam IGGI. Sampai kemudian pada tahun 1998 digantikan oleh Jepang. Selama pemerintahan Soeharto, kerjasama ekonomi antara Indonesia dengan AS berjalan dengan baik dan progresif di samping kerjasama Indonesia dan Jepang. Ini dikarenakan Amerika kemudian memiliki kepercayaan pada Indonesia seketika ia berhasil mengatasi kudeta komunisme PKI tahun 1965.

Hubungan yang baik antara Indonesia-AS tidak dapat dikatakan sebagai suatu aliansi. Karena Indonesia masih mengadakan hubungan diplomatic dengan Hanoi dan Indonesia tidak pernah setuju dengan penempatan pangkalan militer asing di Asia Tenggara. Contohnya, Indonesia tidak pernah setuju dengan keberadaan pangkalan militer AS di Filipina. Namun, Indonesia juga tidak bias mengusir Negara adidaya itu dari Asia Tenggara. Pada taun 1971, Indonesia menerima konsep Zona Perdamaian, Kebebasan, dan Netralitas (ZOPFAN) yang mengingatkan Negara adidaya untuk menghargai kemerdekaan dan netralitas Negara-negara Asia Tenggara. Kemuidan pada tahun 1987 dalam pertemuan ASEAN, Indonesia mengusulkan Zona Bebas Nuklir di Asia Tenggara (SEANWFZ). Hal ini langsung ditolak oleh AS karena akan merusak kepentingan AS dalam hubungannya denga USSR. Tapi, Indonesia mempunyai tujuan tersendiri yaitu untuk memperbesar perannya di Asia Tenggara.

Meskipun politik luar negeri Indonesia bersifat independent, tetapi secara ekonomi kelihatan bahwa Indonesia sangat bergantung pada AS. Terlihat dari jumlah ekspor Indonesia yang terus naik dari tahun ketahun. Kemudian bantuan yang diberikan AS mencapai US$ 885 juta. Hal ini menyebabkan Indonesia tidak dapat memusuhi AS. Sehingga terkadang Indonesia mengalah terhadap permintaan AS. Contohnya, pada tahun 1978 Indonesia membebaskan tahanan politk kudeta 1965 yang merupakan usulan dari AS mengenai hak asasi manusia dan perumusan hak cipta intelektual yang melarang beredarnya kaset bajakan. AS tidak bias terlalu keras menekan Indonesia karena hal tersebut akan mempengaruhi hubungan. AS juga berhati-hati dlam mengaitkan bantuan dengan isu-isu HAM. Contohnya, peristiwa penembakan Dili Nopember 1991, AS tidak senang dengan isu terhadap isu tersebut dari segia HAM, tapi juga harus berhati- hati dalam menaggapinya.

Dalam isu HAM ini, Negara-negara Eropa khususnya Belanda meminta Indonesia segera menyelidiki dan menyelesaikan masalah ini. Kemudian dilakukan dan hasilnya perwira-perwira militer yang bersalah atas pelanggaran HAM dimutasikan. Hal ini tidak memuaskan belanda. Indonesia marah dan akhirnya membubarkan IGGI yang diketuai Belanda dengan persetujuan dari AS dan jepang sebagai Negara pendonor terbesar.

Terlihat jelas bahwa pengaruh AS terhadap Indonesia sangat besar. Ini dikarenakan ekonomi Indonesia bergantung pada AS. Dalam masa pemerintahan Clinton, AS selalu menekan Indonesia untuk menyelesaikan kasus pelanggaran HAM, kasus Timor Timur dan kondisi kerja yang buruk dari Indonesia. Indonesia mau tak mau menuruti permintaan tersebut karena apabila tidak kemudahan-kemudahan ekspor Indonesia ke AS atau Generalized System of Preference (GSP) akan dicabut oleh AS.

Hubungan antara AS dengan Indonesia menjadi penting bagi Indonesia karena pertama, AS mampu menjamin stabilitas dan keamanan di kawasan Asia Pasifik. Kedua, dengan terjaminnya keamanan, maka Indonesia dapat fokus pada kepentingan lainnya seperti ekonomi. Ketiga, dengan adanya hubungan yang baik dengan AS maka Indonesia dan ASEAN dapat memengaruhi keputusan AS. Tujuan Indonesia dan ASEAN adalah untuk perkembangan regional mereka. Contoh bidang ekonomi, peranan ASEAN dalam APEC sangat penting karena AS sangat fokus dan perhatian terhadap kawasan Asia Tenggara. Keempat, kehadiran AS akan mengimbangi kekuatan politik ekonomi yang dimiliki Jepang. Kelima, investasi dari AS mendorong perekonomian lokal. Keenam, keuntungan dari segi pendidikan.

Setalah terjadi reformasi di Indonesia 1998, hubungan antara Indonesia denga AS yang utama masih tentang kerjasama di bidang ekonomi, Indonesia mengalami krisis ekonomi pada saat itu. Kemudian pada tahun 2000an hubungan diantara keduanya lebih fokus pada keamanan bersama atau dunia dikarenakan deklarasi AS tentang ‘war on terrorism’. Hal ini terjadi terkait dengan bangkitnya aksi-aksi terorisme, AS menerima serangan teroris pada tahun 2001 yang menghancurkan WTC. Isu-isu utama dalam hubungan diantara Indonesia dengan AS selalu berubah sesuai dengan periode pemerintahan dan kondisi dunia saat itu. Tapi, bargaining position dari AS lebih besar dari Indonesia. Indonesia selalu mendpat tekanan dari AS untuk mengikuti apa yang dilakukan dan diminta oleh AS. Karena dengan cara itulah Indonesia dapat memenuhi kepentingannya yang mempunyai sifat interdependen dengan AS.

Secara garis besar hubungan Indonesia dan Amerika dikelompokkan ke dalam beberapa era yakni hubungan di masa perang kemerdekaan, hubungan ketika perang dingin, pada masa sekarang. Fluktuasi hubungan Indonesia-Amerika terus menerus terjadi pada dua masa pertama, sementara hubungan di masa sekarang lebih banyak mengarah pada kestabilan dan kerjasama yang didasarkan pada persamaan pandangan politik terhadap isu tertentu. Meskipun dalam beberapa hal keduanya memiliki perbedaan pandangan yang sangat fundamental berkaitan dengan isu konflik timur tengah[1].

HUBUNGAN INDONESIA-CHINA

Secara formal hubungan indonesia China telah dirilis sejak 13 April 1950. Melalui penandatanganan Joint Declaration antara Indonesia dan China melalui kemitraan strategis pada 25 April 2005, dimulailah kerjasama di segala bidang meliputi berbagai sektor politik dan keamanan. Berbagai kunjungan kenegaraan presiden Hu Jintao dan sebaliknya menjadi simbolisasi hubungan Indonesia dan China yang berkembang progresif.

Bentuk mutual trust kedua negara tertuang dalam serangkaian perjanjian seperti MoU antara lain bidang kelautan dengan membentuk Joint Technical Committee RI-RRT untuk membahas program-program konkret di bidang kelautan, terutama terkait dengan capacity-building dan joint research; penanganan Ilegal Logging dalam Cooperation in Combating Illegal Trade of  Forest Products[2]. Secara singkat hubungan kerjasama Indonesia China mendatangkan potensi besar perkembangan Ekonomi melalui investasi-investasi utamanya.

Hubungan Indonesia China mengalami fluktuasi tajam. Peningkatan hubungan dalam perspektif historis terjadi semasa konflik G30S PKI, mengingat kedekatan mereka satu sama lain disertai pandangan politik yang kompetitf terhadap dunia barat. Sebaliknya, semasa orde baru, hubungan diplomatik Indonesia dan China terputus sama sekali dikarenakan pengalaman kudeta politik oleh Partai Komunis Indonesia.

China membuka peluang sebesarnya-besarnya dalam kooperasi budaya, ekonomi, dan militer sejak pemerintahan Presiden Megawati. Semenjak beliau diundang untuk berkunjung ke China dan menjadikan keduanya sebagai mitra strategis. Akan tetapi, sekarang dalam usaha mengembangkan hubungan kerjasama tersebut, Indonesia tidak semata-mata dan sepenuhnya melandaskan kerjasamanya tanpa perasaan waspada. Secara ekonomi, Indonesia masih belum siap besaing dengan laju produksi ekonomi China tanpa proteksi dan screening.

SUMBER

>>Hubungan Indonesia dan Amerika

Suryadinata, Leo, 1998. “Hubungan Indonesia-Vietnam dan Isu Kamboja: Faktor Keamanan”, dalam Politik Luar Negeri Indonesia di Bawah Suharto, [terj.], Jakarta, LP3ES, hlm. 155-174.

Wanandi, Jusuf, 1994, “Hubungan Amerika Serikat-Indonesia Selama Orde Baru: Suatu Tinjauan Singkat dan Pribadi”, dalam Bantarto Bandoro [ed], Hubungan Luar Negeri Indonesia Selama Orde Baru, Jakarta, CSIS, hlm. 12-50

Kompas, 2004. Hubungan Indonesia-Amerika Serikat. Hari selasa, bulan November, halaman 4.

>>Pemecahan Permasalahan China

http://www.indonesiaembassy-china.org diakses tanggal 17 november 2009 pukul 9.01 WIB.

Suryadinata, Leo, 1998. “Hubungan Indonesia dengan Negara-negara Adidaya: Faktor Ekonomi dan Nonekonomi”, dalam Politik Luar Negeri Indonesia di Bawah Soeharto, [terj.], Jakarta, LP3ES, hlm. 175-200.

Kahin, Audrey R & George McT, 1997, “Pemerintah Kolonial, Revolusi, dan Awal Keterlibatan Amerika Serikat”, dalam Subversi sebagai Politik Luar Negeri: Menyingkap Keterlibatan CIA di Indonesia, [terj.]Jakarta, Pustaka Utama Grafiti, 23-43

Wanandi, Jusuf, 1994, “Hubungan Amerika Serikat-Indonesia Selama Orde Baru: Suatu Tinjauan Singkat dan Pribadi”, dalam Bantarto Bandoro [ed], Hubungan Luar Negeri Indonesia Selama Orde Baru, Jakarta, CSIS, hlm. 12-50

Federspiel, Howard M, 2002, “Indonesia, Islam, and US Policy”, The Brown Journal of World Affairs, Spriing 2002, Volume IX, Issue 1, hlm. 107-126.

Sukma, Rizal, 1994, “Hubungan Indonesia-Cina : Jalan Panjang Menuju Normalisasi”, dalam Bantarto Bandoro [ed], Hubungan Luar Negeri Indonesia Selama Orde Baru, Jakarta, CSIS, hlm. 57-92.


[1] Kompas, 2004. p.4. kolom 3-6.

[2] http://www.indonesianembassy-china.org di akses tanggal 17 November 2009 pukul 9.01.

About JurnalPhobia

Graduate of International Relations of Airlangga University currently master candidate in Gadjah Mada University

3 thoughts on “Asean dan Hubungan Internasional dengan negara tetangga

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s