Review singkat sejarah diplomasi: Balance of Power and Napoleon War (1806)


Praktik diplomasi di awal abad dua puluh memiliki sejarah panjang. Perang dunia I disnyalir sebagai salah satu akibat gagalnya diplomasi. Tentu saja, terlalu dini untuk mengatakan demikian. Berangkat dari proposisi “diplomasi yang gagal” telah mengakibatkan perang, kita juga gagal untuk mengelak dari asumsi yang mengatakan diplomat saat itu kompeten, cerdas, dan cukup bodoh. Sehingga diplomat saat itu dinilai gagal melakukan fungsi dan tugasnya.

Berbagai pertanyaan muncul untuk menjawab: apa yang melatarbelakangi peperangan antarnegara di Eropa? Mengapa dampak yang ditimbulkan mendunia sementara yang berperang hanya beberapa negara saja? Sejauh mana diplomasi dilaksanakan pada abad dua puluh? Bagaimana peran  aktor-aktor diplomasi dan sejauh mana dampaknya dalam usaha mencegah perang?

Untuk menjawab pertanyaan di atas, mari kita mulai dengan mengulang review sejarah Eropa secara singkat.

Peperangan yang terjadi di mana-mana tidak lepas dari banyak sebab. Manusia akan terus menerus mencari ruang gerak yang lebih. Perluasan teritori menentang status quo yang ada membuat gemetar tetangga terdekatnya. Aliansi dibentuk berdasarkan kesamaan musuh yang dibalut dengan keinginan bekerjasama dan ikatan kultural yang kuat.

Perang bertahun-tahun membuat prajurit lelah bertarung, diplomat mati berargumen, dan raja turun tahta. Perang tiga puluh tahun diakhiri di Westphalia, untuk pertama kalinya perjanjian tertulis dan teritori diakui secara de facto. Norma tertulis Westphalia diakui mampu menjaga kestabilan politik eropa saat itu selama empat puluh tahun. Westphalia terbukti mengakhiri perang tetapi tidak terbukti secara efektif menciptakan perdamaian.

Ekspansi wilayah Napoleon Perancis, menggoyah status quo yang pelihara Westphalia, menciptakan perang Napoleon Perancis melawan Empat Kekuatan Besar yakni Russia, Prussia, Austria-Habsburg, Inggris. Perang sekali lagi diakhiri dalam kongres Vienna yang mengakibatkan Napoleon diasingkan dan Alsace dan Loraine diberikan pada Austria-Habsburg. Status quo kembali dipertahankan dengan sisa-sisa kekuatan yang menjadi hegemoni Eropa.

About JurnalPhobia

Graduate of International Relations of Airlangga University currently master candidate in Gadjah Mada University

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s