Copenhagen Accord: Climate Change Issue


Pendahuluan
Berangkat dari isu lingkungan sebagai tempat tinggal manusia dan bumi sebagai sumber daya alam terbesar maka bukan hanya Indonesia, tapi juga seluruh negara di dunia lebih memberikan perhatian mereka terhadap pemeliharaan lingkungan hidup berkaca dari banyaknya bencana alam yang muncul karena ulah manusia, utamanya yang berkaitan dengan efek rumah kaca dan deforestation.
Copenhagen Accord adalah serangkaian agreement dibuat baik oleh negara kecil (merujuk pada negara berkembang) maupun besar (merujuk pada negara maju) dalam rangka membatasi emisi karbon dioksida sekaligus menggantikan Protocol Kyoto (1997) yang akan berakhir pada 2012 mendatang—perumusan poinnya terangkum dalam COP 15—hasil dari konferensi di Bali, dikenal dengan Bali Roadmap (2009). Copenhagen Accord dibrokeri oleh lima negara yakni China, Brazil, India, Afrika selatan dengan Amerika sebagai pemimpinnya.

Copenhagen Accord adalah salah satu janji yang dibuat oleh negara-negara kecil atau negara-negara besar untuk membatasi emisi karbon dioksida yang dihasilkan oleh mereka. Ini berarti mereka harus membuat komitmen utama untuk pengurangan gas rumah kaca dan tunduk pada konsultasi internasional dan analisis. Kesepakatan itu ditengahi oleh lima negara, Cina, Brasil, Afrika Selatan, India, dan dipimpin oleh Amerika Serikat dan sebelumnya telah dirangkum ke dalam United Nations Climate Change Conference di Bali (2009) yang menghasilkan COP 15. COP 15 inilah yang menjadi perihal penting untuk diajukan dalam negosiasi dengan mengumpulkan lebih kurang 115 negara di dunia.
Akan tetapi, kesepakatan dalam Copenhagen Accord tidak diakhiri dengan dukungan suara bulat, di tengah kemarahan dari beberapa negara berkembang yang mengatakan Copenhagen Accord yang sudah memiliki target spesifik untuk mengurangi emisi karbon. Hasil – keputusan untuk “mencatat” kesepakatan yang disusun oleh kelompok inti yang terdiri dari kepala negara pada Jumat malam – adalah jauh dari perjanjian yang mengikat secara hukum yang mana banyak orang harapkan. Kesepakatan yang tertuang dalam Copenhagen Accord antara lain mencakup pengakuan untuk membatasi peningkatan suhu menjadi kurang dari 2C dan menjanjikan kenaikan bantuan dana sebesar $ 30bn (£ 18.5bn) untuk negara-negara berkembang selama tiga tahun guna memerangi permasalahan yang diyakini menyumbang perubahan iklim selama ini, seperti ilegal logging, pemeliharaan hutan, pengembangan industri dengan teknologi yang ramah lingkungan dan lainnya. Ini menguraikan tujuan menyediakan $ 100 milyar per tahun pada tahun 2020 untuk membantu negara-negara miskin mengatasi dampak perubahan iklim tersebut.
Signifikasi dalam Copenhagen Accord:
• “110 pemimpin dunia hadir dan satu masalah pada agenda”; menunjukkan tidak pernah ada pertemuan seperti ini sebelumnya. Negara-negara yang menegahi Copenhagen Accord, Amerika Serikat, Cina, India, Afrika Selatan, Brasil dan Uni Eropa, juga mencerminkan suatu dunia di mana Balance of Power secara signifikan telah berubah dalam 20 tahun terakhir.
• Pada tingkat dasar, konferensi tersebut menunjukkan perdebatan antara negara-negara dalam hal kesadaran untuk memberi dukungan dan bertindak menyikapi persoalan perubahan iklim. Secara eksplisit, kesadaran ini menyimbolkan bahwa perubahan iklim merupakan pusat dari pemikiran politik dari setiap negara (saat ini).
• Kesadaran masyarakat juga meningkat secara besar-besaran. Terlihat dari berbagai kampanye yang luas dilakukan di seluruh dunia dalam run-up ke Kopenhagen oleh agensi non-pemerintah, LSM dan media bisnis. Sehingga secara menunjukkan bahwa isu perubahan iklim telah dipahami dan dibahas secara luas oleh seluruh lapisan masyarakat.
• perubahan lain yang sangat penting adalah konsep ramah lingkungan sekarang menjadi model ekonomi terbaru yang sekarang berlaku bagi setiap negara. Gagasan bisnis tanpa konsep “ramah lingkungan” adalah ide buruk. Dalam Kopenhagen, negara-negara berkembang dan dunia sepakat untuk mengumumkan ekonomi berkonsep emisi karbon rendah merupakan rencana ke depan yang progressif.
Sebab Copenhagen Accord merupakan suatu kegagalan (kombinasi yang alot):
• kombinasi kemauan politik, tekanan dari publik dan bantuan ekonomi dirasa kurang cukup untuk membuat banyak negara mau mengikuti apa yang telah ditetapkan dalam Copenhagen Accord.
• Negosiasi yang terjadi dalam kesepakatan kemungkinan besar merupakan posisi terendah tawar menawar yang diberikan oleh sebagian besar negara karena Copenhagen Accord tidak menyebutkan secara transparan jumlah emisi yang wajib dikurangi.
• tidak ada tindakan verifikasi dilakukan di negara berkembang, kecuali jika mereka dibayar oleh negara maju.
• Meskipun kesepakatan ini menargetkan batas pemanasan global hingga 2C berdasarkan batas temperatur negara-negara pre-industri sebagaimana kebutuhan akan aksi kuantitatif dari negara-negara berkembanga maupun negara maju—tapi masih belum jelas bagaimana target tersebut dicapai.

SUMBE:
news.bbc.co.uk/COPENHAGEN/8426036.stm.html [diakses pada 19 Desember 2009]
news.bbc.co.uk/copenhagen/8424522.stm [diakses pada 19 Desember 2009]
http://news.bbc.co.uk/2/mobile/science/nature/8426835.stm [diakses pada 19 Desember 2009]
http://news.bbc.co.uk/2/mobile/science/nature/8426835.stm [diakses pada 19 Desember 2009]
http://news.bbc.co.uk/2/mobile/science/nature/8422133.stm [Pada 19 Desember 2009]

Indonesia version: Devania Annesya

About JurnalPhobia

Graduate of International Relations of Airlangga University currently master candidate in Gadjah Mada University

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s