Latest Post

Komunitas dan Materi: dari Pendekatan Sosiologi Marxis ke Emile Durkheim


Pernahkah kita menemui saudara kita memiliki kegemaran kumpul dengan teman-teman nya setiap malam minggu di trotoar jalan. Mereka umumnya berkumpul dan menjalin pertemanan bahkan tak jarang menjalin persahabatan. Umumnya kelompok ini berkumpul karena kesamaan sekolah, kesamaan hobi, dan berbagi kesamaan lainnya. Namun ada hal yang menarik untuk dicermati bahwa hal ini ternyata membentuk struktur sosial yang belum banyak disinggung dalam penelitian sosial. Yakni, mereka berkumpul karena kesamaan kendaraan roda dua yang mereka miliki.
Menjadi remaja adalah persoalan mengenal diri sendiri melalui interaksi dengan teman sebaya. Interaksi ini dapat berbentuk banyak hal. Mereka dapat membicarakan topik kesukaan seperti bola.
Teori yang dapat menjelaskan tentang budaya interaksi sosial atas dasar materi yang dimiliki. Proses terbentukan komunitas motor karena kesamaan kendaraan yang dimiliki sejatinya sama dengan proses terbentuknya kelompok lainnya. Arisan adalah salah satunya. Arisan ialah bentuk interaksi sosial yang berangkat dari kesamaan akan pandangan terhadap mater yakni uang.
Materi memiliki pengertian segala harta yang dimiliki oleh individu yang diperoleh dari usaha yang dilakukannya.
Materi pernah disinggung oleh Marx dalam bukunya das kapital. Marx menyebut perburuan materi menjadi salah safu karakter masyarakat industrialis dalam suatu sistem kapitalisme. Masyarakat berburu untuk menjadi orang kaya dengan menanamkan modal terud menurus dan berinvestasi. Pada hakikatnya, yang menderita adalah kelompok orang yang justru tertinggal dari kepemilikan materi. Marx menyebut kelompok yang selalu mengejar akumulasi materi sebagai kelompok borjuis. Dan kelompok yang tertinggal dalam akumukasi materi ialah kelompok proletar. Pada hakikatnya sistem kapitalis cenderung menyuburkan kelompok masyarakat yang borjuis sehingga terjadi perbedaan menonjol antara mereka yang dekat dengan materi dan jauh dengan materi.
Dalam teori sosiologi modern, Emile Durkheim melihat materi adalah salah satu fakta sosial yang membentuk karakter masyarakat industrialis. Masyarakat industrialis terlalu sibuk dengan diri dan pekerjaan mereka sendiri sehingga tidak punya waktu untuk interaksi sosial yang lebih berkualitas. Sebagai gantinya, mereka akan melengkapi interaksi sosial mereka dari orang-orang yang menurut mereka memiliki kesamaan yang sama. Kesamaan ini busa berangkat dari kesamaan pekerjaan, kesamaan topik yang dibicarakan, kesamaan rumah, kesamaan bepergian ke satu tempat tertentu (touring), bahkan hingga kesamaan materi. Salah satu bentuk kesamaan materi misalnya yang mudah ditemukan adalah kesamaan cinta pada kendaraan kuno, cinta pada kendaraan besar, cinta pada kendaraan unik, dan lainnya. Pada prosesnya, interaksi ini memungkinkan proses terbentuknya suatu komunitas berdasarkan kesamaan materi. Di satu sisi, tingkat kohesi berdasarkan kesamaan materi ini akan semakin mengental. Akan tetapi, Durkheim berpendapat masyarakat yang seperti ini pada hakikatnya justru semakin jauh dari kekerabatan dengan lebih banyak orang di sekitarnya yang tidak berbagi kesamaan materi. Lebih jauh, kedekatan pada materi akan berakibat pada terbentuknya masyarakat yang semakin homogen dan semakin renggangnya kohesi masyarakat heterogen.